MELODY CINTA DEA DAN MARVEL

MELODY CINTA DEA DAN MARVEL
KESALAPAHAMAN LASTRI (POV AUTHOR)


__ADS_3

Malam semakin larut dan karena kelelahan Marvel memutuskan untuk tidur, Dea sendiri sudah tidur setelah meminum obat yang di berikan oleh perawat padanya.


Pagi menjelang, tepat pukul 8 pagi Dea terbangun dari tidurnya, saat ia membuka mata tak ia dapati Marvel disana.


''Pak, pak Marvel'' panggilnya namun tak ada jawaban hanya suara angin bertiup melalui jendela yang terbuka membuat Dea merasa sedikit khawatir.


Ingin rasanya ia bangun untuk mencari Marvel namun kepalanya terasa sakit.


''Sayang'' ujar Marvel melihat Dea yang sedang melamun di atas tempat tidurnya.


''Pak'' ujar Dea dengan mata berkaca-kaca.


Ia sempat berfikir jika Marvel meninggalkannya di rumah sakit sendirian.


''Ada apa sayang? Ada yang sakit?''


Dea menggeleng lemah dan air matanya menetes membuat Marvel khawatir.


''Kenapa sayang?''


Marvel mendekati Dea dan menggengam tangannya.


''Ada apa sayang ayo katakan?''


''Aku kira bapak ninggalin aku sendirian'' ujarnya lirih.


''Aku ngak akan ninggalin kamu sayang, nah minum air dulu'' Marvel memberikan Dea air minum yang di berikan oleh perawat tadi saat membawa sarapan buat Dea. Kata perawat air itu juga sudah di beri vitamin.


''Terimakasih pak''


''Sekarang kamu makan ya sayang, sebentar lagi dokter akan periksa''


Marvel mulai menyuapi Dea sambil sesekali mengajak Dea bercanda, setelah separuh bagian habis Dea sudah tak mau makan lagi.


''Saya sudah kenyang pak''


''Baiklah, sekarang minum airnya sayang'' ujar Marvel.


Setelah makan dan minum obat Dea kemudian kembali tertidur karena obat yang di berikan padanya memiliki kandungan yang membuatnya terus mengantuk.


Di tempat lain Devina terus merayakan keberhasilannya karena berpikir jika Dea masih kritis sampai saat ini. Ia tidak tahu jika Dea sudah sadar, Lastri yang juga ada di tempat itu tak tahu jika Dea sudah sadar saat ini.


''Apa kamu tahu kabar mengenai Dea?'' Tanya Devina pada Lastri.


''Aku tidak tahu Dev, kata bibinya sih masih kritis dan masih di ICU'' ujar Lastri.


Bi Tina memang tak memberitahu Lastri lagi mengenai keadaan Dea yang sebenarnya, karena bi Tina tahu jika Lastri juga bekerja sama dengan orang-orang yang ingin Dea dan Marvel berpisah.


Sejak saat ia mendengar perbincangan antara Lastri dan bu Weni, ia menjadi sangat khawatit akan keselamatan Dea.


''Baguslah kakau dia masih di ICU, aku harap dia segera pergi dari dunia ini sehingga tak ada lagi yang menghalangi aku untuk bahagai bersama Marvel'' ujar Devina meneguk minuman beralkohol yang memang sejak kemarin ia minum setelah berhasil menabrak Dea.


''Apa kamu ngak pusing minum sejak kemarin?'' Tanya Lastri.


''Ngak koq, aku justru sangat bahagia, oh iya jangan sampai ayah ku tahu jika aku minum minuman ini'' uhar Devina sembari mengangkat sebotol bir kemudian meneguk isinya hingga tandas.


Lastri hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan sang sahabat yang tak berubah sejak zaman mereka kuliah hingga sekarang.

__ADS_1


''Aku balik dulu ya Dev, soalnya aku mau nganter suami ku ke rumah sakit dulu''


''Ok, hati-hati. Jangan lupa kabari aku gimana kondisi Dea''


''Iya, aku pulang ya''


Setelahnya Lastri berada di luar rumah Devina, ia segera memesan taksi dan pulang ke rumah.


Di tengah perjalanan ia melihat suaminya sedang bersama seorang perempuan yang sedang hamil. Mereka terlihat sedang memilih buah-buahan, dengan napas yang memburu Lastri meminta supir taksi untuk berhenti.


Ia geram melihat sang suami merangkul si wanita dengan penuh kasih sayang.


Setelah membayar ongkos taksi, Lastri segera menghampiri sang suami dan langsung menampar wanita hamil yang bersama suaminya itu.


Plak


Bunyi tamparan yang cukup keras hingga membuat bebrapa orang yang sedang berbelanja disitu terdiam sesaat. Karena tamparan Lastri yang cukup keras membuat si wanita hamil itu hampir saja jatuh jika saja suami Lastri tak sigap menangkapnya.


''Lastri, apa-apaan kamu?'' Tanya Roy suaminya.


''Aku yang apa-apaan? Ngak nyadar kamu? Siapa perempuan bunting ini mas?'' Tanya Lastri dengan nada penuh amarah.


''Nyadar soal apa Lastri? Kamu ini kenapa datang-datang langsung nampar Gita'' ujar Roy kesal.


''Oh jadi nama wanita murahan ini Gita''


Plak


Satu tamparan sukses melayang di pipi Lastri dan membuatnya tercengang, sebab belum pernah sang suami menyentuhnya dengan kasar apa lagi sampai menyakitinya.


''Kamu nampar aku mas, demi wanita ini?'' Tanya Lastri dengan tatapan nyalang dan menunjuk tepat di wajah Gita.


''Maaf kan aku Lastri, aku hanya tidak suka kau memanggil Gita dengan panggilan seperti itu''


''Lalu panggilan apa yang cocok untuknya? Apa aku harus memanggilnya ******?''


''Berhenti Lastri, jangan ucapkan kata-kata buruk lagi'' bentak Roy.


''Tuh mas, kamu bentak aku lagi demi dia. Dengar semuanya wanita ini sudah merebut suami saya, sebutan apa yang pantas untuknya selain ******, hah??'' Lastri berteriak kesetanan hingga mengundang perhatian orang-orang yang ada disana.


''Huuuu.....'' orang-orang yang di dominasi oleh kaum ibu-ibu itu menyoraki Gita.


''Pelakor''


''Perempuan murahan''


Gita yang merasa takut bersembunyi di belakang Roy, menyadari Gita ketakutan Roy segera memeluknya.


''Tenang Dek tidak apa-apa'' ujar Roy menenangkan Gita yang mulai terisak.


Ditengah suara riuh ibu-ibu yang sedang mengolok-olok Gita, mereka di kejutkan dengan kedatangan seorang wnaita paruh baya yang tak lain adalah ibu dari Roy mertua Lastri.


''Mama Dewi'' ujar Lastri terkejut.


''Ada apa nak?'' Tanyanya melihat Gita yang terisak di dalam pekukan Roy.


''Mama tahu dia? Kenapa mama bersikap baik pada perempuan ****** sepertinya'' ujar Lastri yang membuat emosi bu Dewi tak terkendali.

__ADS_1


Plak


Satu tamparan kembali melayang di pipi Lastri membuatnya merasa sangat terkejut. Ibu mertuanya yang sangat menyayanginya selama ini, baru kali ini ibu mertuanya mendaratkan tangannya di tubuhnya.


''Ibu'' ujar Lastri lirih dengan mata yang berkaca-kaca.


''Mah'' Roy memeluk sang istri.


''Ngapain kamu peluk-peluk aku'' Lastri mendorong tubuh Roy menjauh darinya.


''Kamu salah paham sayang'' ujar Roy mendekati Lastri.


''Jangan dekat-dekat, aku benci kalian semua. Ibu juga sama melindungi anaknya bersama ****** ini'' ujar Lastri.


''Lastri jangan pernah kamu hina anak saya, harusnya kamu itu cari tahu kebenarannya dulu sebelum melakukan sesuatu'' ujar ibu mertua Lastri.


''Kebenaran apa bu? Kebenaran bahwa anak ibu ini punya selingkuhan, sampai hamil besar begitu. Dan kamu, tahu ngak kalau anak yang kamu kandung itu anak haram'' Lastri kembali menunjuk wajah Gita.


''Cukup Lastri jangan uji kesabaran aku, ayo pergi dari sini''


''Tidak mas, aku belum puas jika ****** itu tidak malu''


''Sudah aku bilang kamu salah paham, ayo kita pergi nanti mas jelaskan''


''Ngak, aku mau kamu pilih sekarang aku atau dia?'' Ujar Lastri dengan nada penuh amarah.


''Ngomong apa kamu? Aku ngak mungkin bisa memilih satu diantara kalian. Kalian berdua sama berharganya buat aku'' ujar Roy.


''Tidak bisa, aku mau kamu memilih''


''Ngak Lastri, aku ngak bisa memilih''


''Mbak jangan salah paham sama bang Roy'' ujar Gita.


''Kamu ngak usah ikut campur dasar perusak rumah tangga orang'' ujar Lastri.


''Tapi mbak saya bukan istri bang Roy, saya...''


''Iya kamu memang bukan istrinya tapi selingkuhannya, dasar ******'' ujar Lastri memotobg ucapan Gita.


''Diam kamu Lastri, sekali lagi kamu mengatai Gita ******, saya pastikan kamu tak akan bersama Roy lagi''


''Memang kenyataannya begitu kan bu? Buat apa ibu malu''


''Kamu dengar Lastri, Gita ini anak saya, adiknya Roy bukan simpanan Roy seperti pikiran kamu. Roy ayo kita pergi biarkan dia intropeksi diri''


''Maaf ibu-ibu sudah membuat kegaduhan. Gita ini anak bungsu saya, suaminya seorang prajurit TNI, dan sedang keluar daerah untuk bertugas jadi saya meminta kakaknya untuk menemaninya tadi berbelanja'' ujar bu Dewi pada pemilik toko dan pembeli yang ada di sana.


''Tidak apa-apa bu. Lagi pula ibu itu tak bertanya lebih dulu, malahan datang-datang langsung menampar bu Gita ini''


''Apa? Kamu di tampar nak?''


Gita hanya mengangguk kenanggapi ucapan sang ibu.


''Roy, ayo kita pulang sekarang. Ingat kandungan adikmu kurang baik jadi kita harus ekstra menjaganya, jika terjadi hal buruk dengan cucu ibu, aku pastikan istri tersayangmu itu akan membusuk di penjara'' ujar bu Dewi menunjuk ke arah Lastri.


Lastri yang menyadari kesalahannya bukannya minta maaf, ia malah melengos begitu saja.

__ADS_1


''Lihatlah Roy kelakuan istrimu, kurang apa ibu selama ini padanya. Apa kasih sayang yang ibu berikan untuknya masih kurang?'' Tanya bu Dewi. Ia benar-benar geram dengan dengan tingkah Lastri, ia sudah menganggap Lastri sebagai anaknya dan kasih sayangnya sudah seperti ibu pada anaknya.


__ADS_2