MELODY CINTA DEA DAN MARVEL

MELODY CINTA DEA DAN MARVEL
BERTEMU MARVEL (POV AUTHOR)


__ADS_3

Kegiatan sehari-hari yang Dea lakukan hanya itu-itu saja, tapi Dea bersyukur karena kebun kecil belakang rumah yang ia kelolah kini sudah memeberikan hasil yang cukup memuaskan. Dari hasil kebun itu, Dea bisa menabung untuk bekal saat melahirkan nanti.


Jessy juga terlihat sangat bahagia, sebab uang dari hasil kebun ia gunakan untuk uang jajan dan membeli keperluan sekolahnya. Kini ia tak perlu lagi memikirkan ibunya yang harus memberikannya jajan setiap hari.


''Kak Dea, besok kan cabai yang kita tanam itu udah mau panen, gimana kalau aku promosiin di pasar sama di media sosial kali aja ada yang mau beli biar kita bisa panen satu kali jadi cabainya ngak rusak''


''Boleh tuh Jes, apa lagi semua cabainya sudah merah tuh, kalau banyak yang beli kita bisa panen satu kali. Kira-kira berapa banyak ya cabai kita Jes, solanya kalau kakak liat buahnya itu cukup lebat''


''Kalau kata ibu sih, mungkin bisa sekitar 200 kiloan kak, soalnya cabainya juga besar-besar dan bagus''


''Kalau sebanyak itu kita bisa panggil yu Ati buat bantuin panen Jes, nanti kita kasih upah''


''Iya kak, yu Ati pasti senang'' ujar Jessy.


''Jes, hari ini kamu sibuk ngak?''


''Ngak kak, kenapa?''


''Temani kakak periksa ya''


''Ke dokter cantik?''


''Iya Jes, mau ya''


''Pasti mau dong, tapi sekalian kita bawa ibu periksa juga ya kak''


''Ok''


Dea dan Jessy sama-sama bersiap untuk melakukan pemeriksaan ke dokter, selama ini Dea rutin memeriksakan kandungannya ke dokter. Ia sangat bahagia mengetahui jika bayi yanga ada di dalam kandungannya tumbuh dengan sangat baik. Usia kandungan Dea kini sudah memasuki usia 33 minggu.


''Kak Dea, kita naik apa kesana?''


''Kita naik taksi online aja Jes biar ngak desak-desakan di angkutan umum''


''Iya kak, apa sudah siap?''


''Sudah Jes, ibu mana?''


''Ada di depan kak''


''Ya sudah kalau begitu, ayo kita tunggu di depan taksinya juga udah ekat''


''Gimana bu, apa sudah lebih baik?'' Tanya Dea pada mbok Namu yang duduk di atas kursi roda.


Ya, mbok Namu kini sedang sakit karena syok setelah dua kios miliknya di pasar hangus terbakar. Kios yang selama ini jadi mata pencaharian mbok Namu di bakar oleh mantan suaminya yang tidak suka melihat kesuksesan mbok Namu.

__ADS_1


''Ibu sudah lebih baik nak, maaf ya ibu jadi ngerepotin kalian'' ujar mbok Namu yang duduk di kursi roda.


Dea dan Jessy membelikan mbok Namu kursi roda agar mbok Namu bisa tetap aman saat bepergian karena beliau sudah mudah lelah.


''Ngak bu, aku dan Jessy sangat senang bisa merawat ibu'' ujar Dea. Ia sangat menyayangi mbok Namu bahkan ia sudah menganggap jika mbok Namu dan Jesdy adalah keluarganya.


''Ayo bu, taksinya sudah datang'' ujar Dea membantu mbok Namu naik ke atas taksi, sementara Jessy melipat kursi roda dan memasukkannya kedalam taksi.


''Ke rumah sakit Pertiwi ya pak''


''Siap bu'' ujar sopir taksi.


Mobil mulai berjalan menyusuri jalannan kota yang sudah tak terlalau padat karena semua orang sudah sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


''Terimakaish pak'' ujar Dea setelah membayar ongkos taksi mereka.


Dea mendorong kursi roda mbok Namu sedangkan Jessy mendaftarkan mbok Namu di bagian poli klinik.


Setelah mendapat nomor antrian mereka bertiga segera menunggu nama mbok Namu di panggil oleh dokter.


''Katanya kamu juga mau periksa nak?''


''Iya bu, tapi nanti aja kalau ibu sudah selesai periksa''


''Kakak pergi aja, ada aku koq yang jagain ibu, nanti pasti lama antri kalau lambat daftar kak'' ujar Jessy.


''Sudah pergilah nak, nanti kakau kami selesai duluan kami tunggu di depan''


''Baiklah bu'' ujar Dea berdiri dan menuju ke ruang dimana ia harus mendaftar terlebih dahulu agar bisa di periksa oleh dokter.


''Pagi bu Dea'' ujar dokter Renaya saat bertemu dengannya di lorong rumah sakit.


''Pagi dokter, apa masih banyak pasien?''


''Hari ini tidak banyak yang periksa kandungan, kemarin sudah banyak yang periksa. Ayo kamu langsung masuk saja ngak ada pasien koq''


''Baik dok''


''Ayo silahkan berbaring kita periksa keadaan si dedek ya'' ujar dokter Renata mengoleskan jel pada perut Dea sebelum meletakkan alat untuk memeriksa keadaan si dedek.


Dea tersenyum begitu juga dengan dokter Renata, ''keadaan janinnya sangat sehat dan berkembang dengan baik, mau tahu jenis kelaminnya?'' Tanya dokter Renata.


''Boleh dokter''


''Jenis kelaminnya laki-laki bu'' ujar Dokter Renata yang di balas senyuman oleh Dea.

__ADS_1


''Semua hasil pemeriksaanya bagus, jika tak ada kendala bayi akan lahir sekitar 5 minggu lagi. Banyak-banyak jalan pagi tapi jangan kelelahan''


''Baik dokter terimakasih banyak. Kalau saya mau lahiran boleh kan saya lahiran disini dok?''


''Tentu saja, jika ibu sudah merasakan jika ada tanda-tanda akan melahirkan ibu langsung hubungi saya. Saya resepkan vitamin ya biar si dede tambah sehat''


''Iya dokter''


Setelah menerima resep obat dari dokter, Dea segera menuju ke apotik untuk menebus obat, di tengah perjalanan ia melihat sorang laki-laki yang sangat ia kenal turun dari tangga sambil membawa buku pink khas milik ibu hamil.


''Apa itu kak Marvel? Ternyata benar pak Marvel sudah menikah dan istrinya pasti sedang hamil juga'' ujar Dea. Ad perasaan bahagia dan juga sedih yang ia rasakan, ia bahagia karena melihat Marvel sudah menikah dan juga mungkin istrinya sedang hamil, namun ia juga merasa sedih karena apa yang mereka dulu rencanakan tak terjadi. Hari-hari indah yang pernah terbayang olehnya kini hanya angan-angan semata.


''Semoga bahagia kak Marvel, maafkan aku'' ujar Dea kemudian bergegas pergi dari tempat itu, ia tak ingin jika Marvel sampai melihatnya.


Tanpa Dea sadari jika Marvel sudah melihatnya, dengan segera Dea menebus obatnya ke apotik dan berjalan menuju ke ruangan dimana mbok Namu di periksa.


''Kak Dea, aku sama ibu mau duluan ke parkiran ya, katanya ibu mual nyium bau obat. Tolong ambil buku ibu buat kontrol lagi''


''Iya Jes, nanti biar kakak yang ambil kertas kontrol ibu'' ujar Dea duduk di kursi yang ada di depan ruangan dokter Geri yang tak jauh dari apotik.


Saat tengah membaca-baca hasil pemeriksaannya, sayup-sayup ia mendengar namanya di panggil.


'Kayak ada manggil aku, tapi siapa? Apa Jessy, tapi ngak mungkin bukan suara Jessy, tapi suaranya jiga ngak asing'' ujar Dea menutup buku pink miliknya. Saat merasa jika namanya kembali di panggil Dea segera menoleh ke sumber suara dan betapa terkejutnya ia saat melihat Marvel duduk di depan apotik.


Matanya membulat sempurna saat bertatapan dengan mata Marvel, saat Marvel hendak berdiri, Dea segera berdiri dari duduknya dengan tergesa-gesa, ia sangat takut jika Marvel sampai menghampirinya.


Setelah berdiri cukup seimbang Dea segera berlari-lari kecil ke arah parkiran rumah sakit, namun karena perutnya yang sudah lumayan besar ia tak bisa lari terlalu jauh, ia akhirnya bersembunyi di sebuah pohon kecil yang di tanam di dalam pot.


Ia tak bisa lari terlalu jauh karena perutnya yang sudah membuncit membuat Dea terkadang sangat ceoat lelah.


Dengan perasaan campur aduk, ia terus menatap Marvel dari balik pot dimana ia sedang bersembunyi.


''Tolong Tuhan jangan sampai kak Marvel melihat ku, aku belum siap bertemu dengannya'' ujar Dea.


Setelah melihat Marvel kembali ke dalam rumah sakit Dea segera keluar dari tempatnya bersembunyi dan mencari dimana mbok Namu dan Jessy berada.


''Kak Dea'' ujar Jessy melambaikan tangan.


Dea segera menghampiri keduanya dengan napas yang ngos-ngosan.


''Ada apa kak, kenapa kakak tadi sembunyi disana?''


''Panjang ceritanya Jes, nanti aku cerita di rumah oh iya aku belum ambil buku ibu. Kamu saja ya yang pergi ambil aku jaga ibu disini''


''Ok kak'' ujar Jessy, meski ia tak tahu apa yang membuat Dea seperti itu, tapi ia tahu jika sesuatu di dalam rumah sakit itu sudah membuat kakaknya tak nyaman.

__ADS_1


Setelah mengambil buku untuk kontrol selanjutnya milik mbok Namu ketiganya pulang ke rumah.


Dea terus melamun sepanjang jalan membuat Jessy dan mbok Namu khawatir padanya. Mereka berdua yakin jika sesuatu yang buruk telah terjadi pada Dea.


__ADS_2