MELODY CINTA DEA DAN MARVEL

MELODY CINTA DEA DAN MARVEL
PERMINTAAN MAAF PAK HARIS (POV AUTHOR)


__ADS_3

Beberapa kali pak Haris menggedor pintu kamar sang anak namun tak ada respon sama sekali. Pak Haris menjadi sangat khawatir, jangan-jangan sang anak sudah kabur karena mengetahui jika ada polisi yang sedang mencarinya.


''Pak polisi tolong dobrak saja pintunya'' ujar pak Haris.


Ronald mulai mendobrak pintu, pada percobaan pertama dan kedua gagal, pada percobaan ketiga kalinya, akhirnya pintu itu tebuka namun betapa terkejutnya mereka saat pintu itu berhasil terbuka dengan lebar.


Didalam kamar Devina bungkus-bungkus snack bertebaran dimana-mana, juga ada begitu banyak botol miras mulai dari yang memiliki kadar alkohol rendah hingga yang hampir 40 persen kadar alkoholnya.


Bau alkohol terasa sangat menyengat di dalam kamar Devina, bau alkohol yang bercampur dengan bau sampah bekas makanan membuat siapun merasa mual tak terkecuali petugas polisi.


Pak Haris terduduk lemas di pintu kamar sang putri, ia tak tahu harus berbuat apa. Ia tak menyangka jika kelakuan sang putri yang terlihat baik di depannya ternyata memiliki kelakuan yang sangat buruk di belakangnya.


''Devina dimana kamu?'' Ujar pak Haris.


''Pak polisi silahkan geledah kamar ini'' ujar Marvel yang di angguki oleh pak Haris.


Mereka mulai menggeledah kamar Devina namun tak mereka temui Devina di dalam kamar itu. Marvel melihat ada sebuah foto di dinding yang terlihat mencurigakan. Saat ia memegang foto itu, tiba-tiba saja ranjang bergeser dan di bagian bawah ranjang ada sebuah pintu.


''Ini pintu apa pak?'' Tanya Ronald pada pak Haris.


''Saya tidak tahu pak, saya juga baru melihatnya. Sudah hampir setahun saya tak pernah masuk ke ruangan ini. Devina melarang saya masuk ke kamarnya dan saya hanya mengikuti saja karena saya berpikir bahwa ini adalah privasinya sebab dia sudah dewasa'' ujar pak Haris.


''Apa kami boleh membukanya?''


''Tentu saja pak''


Beberapa petugas polisi mulai membuka pintu yang dimaksud karena ternyata pintu itu terkunci, namun baru saja pintunya hampir terbuka rerdengar suara gaduh di halaman yang membuat Marvel segera berlari ke balkon dan melihat apa yang terjadi di bawah sana.


''Pak polisi, itu Devina ada di halaman rumah dan sedang di tahan oleh security'' ujar Marvel mulai berlari keluar dari kamar da menuruni anak tangga di susul oleh Ronald dan yang lainnya.


''Devina, tunggu mau kemana kamu'' teriak Marvel setelah melihat Devina yang terus mencoba melarikan diri pegangngan satpam.


''Ma-Marvel'' Devina tergagap. Ia terkejut melihat Marvel berada di sana sebab yang ia tahu hanya ada polisi yang mencarinya.


''Pak satpam bawa dia masuk'' ujar pak Haris.


''Pa-papa, papa'' Devina merasa sangat ketakutan karena bukan hanya Marvel yang ada di sana tetapi juga sang ayah.


Devina tak berani lagi mengangkat kepalanya dan dengan pasrah mengikuti apa yang ayahnya katakan. Jika sudah sang ayah yang berbicara maka ia tak akan bisa melawan lagi.


Setelah di dudukkan di ruang tamu, pak Haris mendekati putrinya kemudian melayangkan satu tamparan tepat di pipi sang anak.


''Papa'' ujar Devina lirih, ia tak tahu berani menatap mata sang ayah. Baru kali ini sang ayah memukulnya, bahkan dengan menggunakan tangannya sendiri. Devina menjadi semakin ketakutan, karena ia tahu sang ayah tak akan pernah mendaratkan tangannya pada seseorang jika orang itu tak berbuat keslahan yang besar.


Devina yakin jika sang ayah sudah tahu jika ia yang sudah menabrak Dea.


''Silahkan pak polisi bawa dia, proses sesuai dengan hukum yang berlaku''


''Baik pak, borgol dia'' uajr Aswer.


Dengan sigap Ronald memasang borgol pada kedua tangan Devina, Devina yang takut akan kemarahan sang ayah hanya bisa diam dan pasrah ketika polisi membawanya keluar dari rumah.


Setelah kepergian polisi yang membawa Devina, kini tinggal Marvel dan pak Haris yang berada di rumah itu. Pak Haris kembali terduduk lesu dengan derai air mata di pipinya. Ia tak menyangka anak satu-satunya yang selalu ia bangga-banggakan di hadapan seluruh keluarga dan rekan-rekan bisnisnya, ternyata memiliki perbuatan buruk yang bahkan ia tak tahu sama sekali.


''Om tidak tahu apa yang om harus lakukan nak Marvel, om benar-benar tidak menyangka jika Devina akan berbuat seperti ini'' ujar pak Haris sembari memijat pelipisnya. Kepalanya terasa sangat pusing ditambah lagi istrinya juga tak bisa di hubungi.

__ADS_1


''Saya juga tidak menyangka om''


''Bagaimana kamu bisa datang bersama polisi-polisi itu nak? Apa kamu tahu siapa korban yang ditabrak oleh Devina?''


''Saya tahu om'' ujar Marvel tenang. Ia tak merasa marah sama sekali pada pak Haris karena ia tahu jika itu bukanlah kesalahan pak Haris tapi murni karena kesalahan Devina sendiri.


''Bagaimana keadaannya?''


''Sekarang sudah jauh lebih baik om, hanya tinggal rasa sakit bekas jahitan di kepala dan luka bekas oprasinya yang masih sering terasa sakit''


''Oprasi? Apa separah itu?''


''Iya om. Ada pembekuan darah di dada korban dan dokter melakukan oprasi untuk membersihkan darah itu'' ujar Marvel.


''Apakah kamu bisa mengantarkan saya menemuinya dan keluarganya? Saya ingin minta maaf juga untuk bertanggung ajawab atas perbuatan anak saya. Om akan berusaha untuk membiayai semua biaya rumah sakitnya'' ujar pak Haris.


''Baiklah nanti setelah perasaan om cukup tenang saya akan mengantar om bertemu dengannya''


''Terimakasih nak Marvel''


Setelah merasa cukup tenang, Marvel dan pak Haris menuju ke rumah sakit untuk menemui Dea. Marvel belum memberitahu pak Haris jika yang di tabrak oleh Devina adalah Dea tunangannya.


''Di rawat di rumah sakit mana nak Marvel?''


''Di rumah sakit Mutiara pak'' ujar Marvel.


Pak Haris mengangguk kemudian mulai menjalankan mobilnya ke arah rumah sakit tempat Dea dirawat, Marvel mengikuti dari belakang dengan menggunakan sepeda motor.


Tak butuh waktu lama keduanya tiba di rumah sakit Mutiara, setelah memarkirkan kendaraan masing-masing Marvel dan pak Haris berjalan beriringam masuk ke rumah sakit.


''Om ikut saya saja, kebetulan saya tahu om'' ujar Marvel berjalan mendahului pak Haris.


Pak Haris terkejut kala Marvel berjalan ke bangunan dimana Dea dirawat, pak Haris tahu betul jika yang di rawat di tempat itu hanya keluarga pemilik rumah sakit yang tak lain adalah Marvel dan keluarganya.


''Nak Marvel apa yang jadi korban adalah keluarga nak Marvel''


''Iya om'' ujar Marvel tenang.


Pak Haris yang mendengarnya tiba-tiba berhenti berjalan, ia merasa takut untuk bertemu setelah tahu jika yang jadi korban atas kelalaian putrinya adalah keluarga Marvel.


''Ayo om, jangan khawatir kami tak marah pada om karena semua ini bukanlah kesalahan om''


''Tapi nak Marvel''


''Tak apa om, ayo'' Marvel merangkul bahu pak Haris guna menenangkan pak Haris yang sedang ketakutan.


Setelah mengetuk pintu ruangan, Marvel dan pak Haris segera masuk ke ruangan dimana Dea dirawat.


''Pak Marvel'' ujar Dea tersenyum melihat kedatangan sang kekasih yang memang ia tunggu-tunggu sejak tadi.


''Iya sayang. Terimakasih sus, sudah menjaga Dea seharian ini'' ujar Marvel pada perawat yang berada di ruangan Dea.


''Sama-sama pak, sudah tugas saya, saya permisi''


''Silahkan sus''

__ADS_1


Setelah perawat itu keluar Marvel meminta pak Haris untuk duduk dan menenangkan diri, tak lupa ia memberikan air minum padanya.


Setelah merasa jika pak Haris sudah cukup tenang, Marvel ikut duduk disana bersama pak Haris.


''Ini Dea pak, korban yang sudah di tabrak oleh Devina'' ujar Marvel.


Pak Haris mulai mendekat ke ranjang Dea kemudian menangis dan membuat Dea merasa heran, ia menatap ke arah Marvel yang berdiri di samping pak Haris.


''Dia ayah dari orang yang nabrak kamu'' ujar Marvel.


''Maafkan anak saya nak Dea, karena anak saya kamu harus merasakan sakit seperti ini''


''Tidak apa-apa pak, itu bukan keslahan bapak, lagi pula ini sudah menjadi takdir Dea pak''


''Saya benar-benar minta maaf nak Dea''


''Tidak apa pak, ini semua sudah jadi jalan takdir Dea''


''Jangan minta maaf terus om, aku dan Dea tidak marah pada om Haris'' ujar Marvel.


''Om Haris ini ayahnya Devina sayang, orang yang nabrak kamu waktu itu Devina'' ujar Marvel.


''Bu Devina?''


''Iya nak, maafkan anak bapak''


''Saya sudah memaafkannya pak, bapak tak perlu meminta maaf seperti itu'' ujar Dea. Ia merasa kasihan melihat ayah Devina yang terus menerus meminta maaf kepadanya.


Setelah cukup lama berbincang-bincang dengan Dea pak Haris memutuskan untuk pulang karena ia tak ingin mengganggu waktu istirahat Dea yang memang masih butuh banyak waktu istirahat.


''Marvel bisa ikut om sebentar, kita bicara di luar''


''Boleh om, Dea juga sudah tidur lagi'' ujar Marvel mengikuti langkah pak Harus menuju ke taman rumah sakit.


''Ada apa om?''


''Dea itu siapa nak? Om belum pernah melihatnya di keluarga kamu''


''Oh iya sampai lupa kasih tahu om. Dea itu tunangan aku om''


''Jadi waktu kamu undang om hari itu, kamu lamar Dea?''


''Iya om''


''Maaf ya nak, waktu itu om sedang di luar negeri jadi tak bisa pulang''


''Tidak apa-apa om saya tahu kesibukan om, doakan saja kami terus bersama''


''Amin, om akan selalu doain kalian. Om pamit pulang dulu ya, om mau mencari bibi kamu entah menghilang kemana dia dikala ada masalah seperti ini''


''Iya om hati-hati di jalan''


''Iya terimakasih nak''


Setelah kepulangan pak Haris Marvel bergegas kembaki ke ruang rawat Dea, ia khawatir Dea terbangun dan tak mendapatinya disana.

__ADS_1


__ADS_2