
Tiga hari setelah kejadian aku pingsan, aku mulai menjauh dari pak Marvel, karena pernah suatu waktu saat melewati koridor sekolah yang berada di dekat kelas dua belas, aku mendengar beberapa murid sedang membicarakan kejadian saat aku dan pak Marvel sedang makan mie ayam.
''Tahu ngak, benerapa waktu yang lalu kami makan di kedai mie ayam yang dekat lapangan, aku liat pak Marvel makan sama cewek'' ujar seorang siswi.
''Yang benar kamu Jes, siapa cewek yang sama pak Marvel?''
''Aku ngak tahu Gres soalnya mereka duduknya di pojokan, tapi yang pasti cewek itu siswi di sekolah ini soalnya aku liat di pakaian seragamnya kayak kita''
''Yang benar?''
''Iya, terus tahu ngak waktu ada siswa dari sekolah lain yang kenal pak Marvel tanya cewek itu siapanya pak Marvel, pak Marvel ngakuin tuh cewek sebagai pacarnya. Kira-kira siapa ya siswi yang beruntung itu?''
''Wahhhh... seriusan kamu Jes, bisa patah hati berjamaah satu sekolah kalau pak Marvel punya pacar. Secara dia kan idola sekolah, ngak guru ngak siswa semuanya fans pak Marvel''
''Serius Ge, kalau ngak percaya kamu tanya aja sama Femi dan Rasni dia juga ikut kemarin''
''Siapa ya cewek yang beruntung itu, aku jadi penasaran? Oh iya Jes, beberapa hari yang lalu ada anak kelas sepuluh yang pingsan, terus pak Marvel gendong dia sampai ke klinik selolah. Anak-anak yang liat pada histeris karena pak Marvel gendong dia ala-ala adegan drakor, jadinya banyak yang baper, aku aja sampai senyum-senyum liatnya''
''Jangan-jangan itu cewek yang sama dengan yang ada di kedai waktu itu. Ngak pernah kan kita liat pak Marvel gendong murid yang ada di sekolah ini saat dia pingsan, biasanya kan anak-anak yang tugas di klinik hari itu''
''Mungkin iya, mungkin juga ngak. Tapi benar juga sih ngak pernah loh pak Marvel perhatian begitu sama siswa selama kita sekolah disini. Kalau ada murid yang pingsan pasti dia panggil petugas piket''
''Benar, pasti itu pacarnya pak Marvel, tapi masa iya pak Marvel pacaran sama anak kelas sepuluh? Bukannya pak Marvel itu dekat sama si Yolanda anak kelas sebelah?''
''Kan cuma dekat aja ngak pacaran, lagian waktu Yolanda pingsan ngak di gendong tuh sama pak Marvel justru di panggilin petugas piket, tapi pas siswa kelas sepuluh itu pak Marvel langsung gendong''
Aku segera berlalu dari tempat itu, aku tak ingin mereka melihat ku menguping pembicaraan mereka.
''Gara-gara pak Marvel nih, satu sekolah jadikan aku bahan gosip. Siapa juga yang pacaran sama pak Marvel? Kalau Gema, Darmi dan Sukma tau kalau pak Marvel bilang kami pacaran, bisa di ledekin sepanjang hari aku padahal itu ngak benar'' gerutu ku sepanjang jalan sampai di dalam kelas.
''Kamu kenapa De?'' Tanya Darmi.
''Ngak apa-apa Mi, lagi kesal saja''
''Tumben, kesal sama siapa?''
''Ngak tahu juga kesal sama siapa'' ujar ku yang membuat Darmi tertawa terpingkal-pingkal.
''Dea... Dea kesal koq ngak tahu kesal sama siapa? By the way kamu sudah dengar belum berita terhangat beberapa hari ini?''
''Berita apa?'' ujar ku kemudian mengambil botol air dan meminumnya.
''Berita soal pacar pak Marvel, kata...''
Uhukk....uhuk....uhukk...
__ADS_1
Aku terbatuk-batuk mendengar ucapan Darmi, kenapa semua orang terus membahas masalah itu.
''Kamu kenapa De, minum itu mbok ya pelan-pelan''
''Iya.. iya''
''Aku lanjutin cerita tadi ya, katanya pak Marvel pernah kedapatan sedang makan mie ayam sama seorang cewek di mie ayam langganan kita yang dekat lapangan. Banyak yang liat tapi mereka ngak tahu siapa cewek itu karena mereka duduk di pojokan jadi ia tertutupi oleh tubuh pak Marvel, waktu anak-anak tanya cewek itu siapa, pak Marvel bilang itu pacarnya''
''Syukurlah'' ujar ku spontan.
''Eh... ngomong apa kamu? Syukur apa?''
''En...ngak ada apa-apa, aku cuma bilang syukurlah kalau pak Marvel sudah punya pacar jadi kalian ngak akan mikir kalau pak Marvel suka sama aku''
''Oh gitu, kira-kira siapa ya pacar pak Marvel? Nanti aku tanya sama pak Boy deh''
'Mudah-mudahan aja pak Boy ngak tahu' batin ku.
''Kira-kira pak Marvel bakalan bilang ngak ya sama pak Boy siapa yang ia temani makan mie?''
''Pasti De, mereka kan udah sahabatan dari jaman SMA''
''Aduh''
''Kenapa lagi kamu?''
''Aku jadi curiga sama kamu''
''Curiga soal apa Mi?''
''Aku curiga jangan-jangan kamu yang aku maksud tadi?''
''Bu..bukanlah''
''Aku akan cari tahu siapa cewek itu, karena yang aku dengar dari pak Boy, pak Marvel itu jatuh cinta sama kamu''
''Hahahaha ngak mungkin Mi, jangan ngaur ah''
''Serius De, pak Boy sendiri yang bilang. Oh iya waktu kalian habis dari kantor Dinas kalian kemana dulu?'' Goda Darmi.
''Ngak kemana-mana Mi, langsung pulang''
''Yang benar, ngak jalan-jalan dulu gitu sama yayang''
''Apa sih yayang-yayang? Ngak kemana-mana lagi kami langsung pulang''
__ADS_1
''Iya..iya percaya'' ujar Darmi sambil tertawa.
Sepanjang pelajaran Darmi terus menggoda ku hingga akhirnya kami pulang.
''Sampai jumpa hari senin Dea'' ujar Darmi saat kami berpisah di gerbang sekolah.
Darmi tinggal di sebuah indekost dekat sekolah, ia memutuskan untuk menyewa kost dekat sekolah di karenkan ia tak kuat jika harus pulang pergi setiap hari ke sekolah dengan menggunakan mobil angkutan. Ia mengatakan jika uang untuk transportasinya setiap hari lebih banyak jika di bandingkan dengan uang yang ia keluarkan saat menyewa kost.
''Sampai jumpa Mi'' ujar ku melambaikan tangan padanya.
Saat aku berbalik badan aku terkejut karena menabrak sesuatu.
Brughh...
''Aduh, ma..maaf''
''Maaf juga'' ujar orang yang aku tabrak dengan suara yang aku kenali.
''Pak.. maaf saya ngak liat bapak''
''Ngak apa-apa De, oh iya sudah mau pulang ya''
''Iya pak, ini mau pulang''
''Ya udah bareng saya saja''
''Tidak usah, terimakasih pak. Lagi pula kita tak se arah pak''
''Tapi hati kita searah'' ujar pak Marvel membuat ku malu.
''Hati-hati di jalan Dea'' ujar Darmi kemudian berjalan menuju arah rumahnya sambil tertawa.
''Gimana Dea?''
''Maaf pak saya tidak bisa, terimakasih tawarannya. Saya duluan pak''
Aku berlalu dari hadapan pak Marvel tak ingin lama-lama berada di dekatnya. Entah kenapa akhir-akhir ini aku selalu merasa aneh jika berada di dekat pak Marvel.
''Ya sudah kalau begitu, hati-hati di jalan Dea'' aku menganguk kemudian dengan tergesa-gesa pergi dari sana.
Aku menyadari jika sedari tadi banyak murid lain dan guru-guru yang melihat aku bersama pak Marvel. Aku tak ingin jika itu di jadikan bahan omongan lagi di sekolah. Untuk Darmi aku sudah pasrah jika ia akan meledek ku hari senin karena dia pasti melihat dan mendengar pembicaraan aku dan pak Marvel tadi.
''Pake nolak ajakan pak Marvel dia pikir dia siapa?'' ujar seorang kakak kelas yang berjalan melewati ku.
''Benar, ngak bersyukur'' ujar yang lain.
__ADS_1
Aku hanya bisa menarik nafas pelan dan berusaha untuk tak mendengarkan omongan mereka.