
Dea tertidur hingga pagi menjelang, rasanya badannya sangat lelah padahal ia tak melakukan apapun sejak kemarin.
''Bu, apa semua orang hamil muda, selalu merasa mudah lelah?'' Tanya Dea pada bu Marsih saat mereka kembali dari mengambil jatah sarapan pagi yang memang di sediakan untuk penumpang kapal.
''Tidak semua nak, setiap orang hamil berbeda-beda'' ujar bu Marsih yang membuat Dea mengangguk-ngangguk mengerti.
''Nanti tengah malam atau besok pagi mungkin kita sudah tiba di pulau nak, setelah turun dari kapal kamu ingin kemana?''
''Saya akan ke terminal bis bu, saya harus naik bis lagi untuk bisa sampai di kampung'' ujar Dea.
''Nanti ibu temani kamu ya ke terminal, ibu khawatir nak karena kamu berpergian sendiri"
''Terimakasih bu, apa tidak merepotkan bagi ibu, karena saya akan naik bis yang ada di terminal Kencana bu dan itu jauh dari pelabuhan'' ujar Dea, ia tak ingin merepotkan bu Marsih terus-menerus, meski sebenarnya ia tak yakin jika ia tahu arah dari pelabuhan ke terminal.
''Ibu tidak akan repot nak, kebetulan rumah ibu juga searah dengan arah terminal kencana. Tapi kita singgah di rumah ibu dulu antar Dewa dan Dewi''
''Terimakasih bu'' ujar Dea, karena ia memang butuh bantuan, karena ia tak pernah bepergian sendirian seperti ini terlebih dia dalam keadaan hamil sekarang. Ia khawatir akan keselamatannya dan janin yang ada di kandungannya, mengingat di kota-kota rawan bagi wanita bepergian sendirian.
*
Di sebuah kamar kos ada tiga orang sahabat yang sedang duduk sambil berbincang-bincang mereka sedang berunding tentang apa yang akan mereka lakukan untuk menemukan sahabat mereka yang tiba-tiba saja menghilang berbulan-bulan tanpa kabar berita.
''Jadi bagaimana sekarang? Kita tak mungkin bisa berharap lagi sama pak Marvel, terlebih sekarang beliau sudah menikah dan juga sedang menunggu kelahiran anaknya''
''Kita tak mungkin membuat laporan orang hilang ke kantor polisi karena ibu Dea sudah melarangnya. Aku yakin jika ibu Dea ada di balik semua ini, tak mungkin Dea hilang begitu saja dan tak ada keluarga yang mencarinya selain bi Tina''
''Kamu benar Gem, terus kita harus apa sekang? Kamu punya ide ngak Darmi?''
''Aku juga bingung Ma, gimana lagi kita harus mencari Dea. Aku yakin sesuatu yang buruk sudah terjadi, semoga saja Dea baik-baik saja'' ujar Darmi yang sedang sibuk mencari informasi dari teman-teman mereka siapa tahu ada yang melihat Dea.
''Kamu sedang apa Darmi?'' Tanya Gema.
''Aku lagi nyari informasi di aplikasi biru Gem, siapa tahu teman-teman kita ada yang pernah liat Dea''
''Oh gitu, koq aku ngak kepikiran ya'' ujar Gema juga mulai mengotak-atik ponselnya.
Sukma juga melakukan hal yang sama, mereka bertiga selaku berkumpul seperti ini saat mereka tak sibuk dengan kegiatan mereka sebagai mahasiswa.
''Gem, Mi'' teriak Sukma dengan suara yang cukup keras membuat Darmi dan Gema mendelik kesal.
''Apa sih Ma, kamu ngagetin aja'' ujar Darmi.
''Liat nih'' ujar Sukma menunjukkan ponselnya yang sedang memutar sebuah video kapal yang sedang berlayar dengan penumpang yang berlalu lalang menikmati indahnya lautan.
''Itu kan video penumpang kapal lagi liat laut Ma, kamu koq heboh sekali kayak ngak pernah naik kapal saja'' ujar Gema.
''Ish, kalian ini, coba perhatikan baik-baik, nih aku pelankan videonya'' ujar Sukma mulai mengatur videonya dalam mode lambat.
Ketiga pasang mata mereka berbinar kala melihat salah satu penumpang kapal yang sedang duduk sambil melihat-lihat lautan.
''Apakah dia Dea kita?'' Ujar Sukma.
''Entahlah Ma, tapi aku rasa dia Dea kita meski badaannya agak berisi tapi aku yakin dia Dea'' ujar Gema.
''Cepat kamu komen dan minta sama yang bikin video buat nyari tahu apa itu Dea atau bukan'' usul Darmi.
__ADS_1
''Ok'' ujar Sukma dengan penuh semangat, ia sangat berharap jika itu adalah Dea sahabatnya.
Mereka menunggu balasan dari sang pembuat video namun terlihat sang pembuat video sedang tidak aktif.
''Ya... ngak aktif yang posting videonya'' ujar Sukma.
''Kita tunggu saja pasti dia balas koq kalau udah liat komentar kamu. Yang pasti kita sudah tahu kalau Dea baik-baik saja'' ujar Darmi.
*
''Permisi nona, apa saya boleh duduk disini?'' Tanya seorang pemuda pada Dea.
''Iya silahkan, ada yang bisa saya bantu? Sepertinya tuan ingin menanyakan sesuatu?'' Ujar Dea yang sedang duduk di atas kursi sambil memandang lautan luas yang seperti tak berujung.
''Maaf nona tadi saat saya buat video tak sengaja nona ada di dalam video itu dan ketika saya upload ke media sosial ada dua akun yang menanyakan nona. Apa nona bernama Dealova Melody?''
''Iya tuan, apa saya boleh melihat siapa yang berkomentar?'' Tanya Dea.
''Boleh nona'' ujar pemuda itu smabil menunjukkan komentar Sukma dan Marvel.
Dea sangat terkejut melihat komentar mereka terlebih komentar Marvel yang banyak memdapatkan like dan balasan komentar dari orang-orang.
(Aku tahu kamu baik-baik saja sayang, segeralah kembali masih ada janji yang belum terpenuhi) tulis Marvel di kolom komentar.
''Maaf tuan tolong jangan katakan pada mereka jika itu saya. Saya tidak ingin merepotkan mereka, katakan saja jika mereka salah orang'' ujar Dea yang membuat pemuda itu kebingungan.
''Baiklah nona, terimaksih sudah meluangkan waktunya'' ujar pemuda itu.
''Sama-sama tuan, maaf telah merepotkan tuan sampai mencari saya kemari''
''Nama saya Dea tuan'' ujar Dea menyambut uluran tangan pemuda bernama Rendy itu.
''Panggil saja Rendy, tidak usah panggil tuan saya bukan tuan kamu'' ujarnya kemudian tertawa yang membuat Dea ikut tersenyum.
''Nak, pakailah jaket tak baik kamu terlalu kena angin bisa mual-mual nanti'' ujar bu Marsih menghampiri Dea.
''Terimaksih bu. Tuan Rendy kenalkan ini bu Marsih''
''Rendy bu'' ujar Rendy mengulurkan tangan dan di sambut hangat oleh bu Marsih.
''Nak, ibu mau lihat Dewa dan Dewi dulu, kamu masih mau disini?''
''Iya bu, Dea msih ingin lihat-lihat laut. Mungkin Dea ngak akan liat lautan luas lagi dalam waktu Dekat'' ujar Dea.
''Baiklah ibu kesana dulu ya Dea, nak Rendy''
''Iya bu'' ujar Dea.
''Maaf sebelumnya kenapa saya tak boleh memberitahu orang-orang di komentar itu jika itu benar nona?'' Tanya Rendy.
''Dea menatap Rendy sejenak sebelum berbicara yang membuat Rendy merasa bersalah.
''Saya hanya tak mau merepotkan mereka tuan Rendy, pemilik akun Marvel Geraldi itu sudah menikah dan saya tidak mau di anggap mengganggu hubungan orang lain. Sedangkan yang memiliki akun atas nama Sukmawati itu sahabat saya yang sedang sibuk dengan kuliahnya saya tidak ingin merepotkannya'' ujar Dea.
''Baiklah nona saya akan mengatakan saja jika saya tidak bertemu nona lagi sampai kapal ini sandar'' ujar Rendy.
__ADS_1
''Terimakasih tuan Rendy, maaf sudah membjat anda berbohong''
''Sama-sama nona, saya permisi dulu'' ujar Rendy berlalu dari tempatnya duduk.
''Nak'' panggil seseorang yang membaut langkah Rendy terhenti.
''Iya mah'' ujarnya menghampiri wanita yang baru saja memanggilnya.
''Kamu sedang apa disini? Dari tadi mama nyariin''
''Aku lagi jalan-jalan aja mah cari angin. Mama sendiri ngapain disini?''
''Nyari angin apa nyari jodoh? Siapa gadis manis yang duduk di samping kamu tadi?''
''Itu penumpang kapal ini juga mah, kebetulan tadi kita ketemu terus ngobrol-ngobrol''
''Yakin kamu, itu bukan pacar kamu?''
''Bukanlah hahahaha, orang baru ketemu juga''
''Oh gitu, ya sudah mama mau kenalan dulu sama calon mantu'' ujarnya berjalan menghampir Dea.
''Eh mah'' ujar Rendy hendak menghentikan langkah sang ibu namun sudah terlambat.
''Permisi nak, apa boleh ibu duduk disini?'' Tanya ibu Rendy.
''Silahkan bu'' ujar Dea bergeser agar ada cukup ruang untuk orang lain.
''Terimakasih, nama saya bu Wati ibunya Rendy''
''Saya Dea bu''
''Kamu sendirian saja di kapal nak?''
''Tidak bu, ada bu ada bu Marsih dan anak-anaknya''
''Oh gitu, kamu kenal dengan anak saya?'' Tunjuk bu Wati pada Rendy yang berdiri tak jauh dari mereka.
''Iya bu, kami kenalan tadi. Tuan Rendy anak ibu?''
''Iya nak Dea. Kamu sudah punya pacar belum? Kalau belum saya jodohkan dengan Rendy mau?'' Ujar bu Wati yang membuat Rendy jadi salah tingkah karena sesunghuhnya ia terpesona oleh Dea yang sederhana tapi tetap cantik.
''Maaf bu, tapi saya tidak bisa bu''
''Kenapa? Apa kamu sudah punya pacar? Ibu minta maaf ya kalau ibu salah bicara''
''Tidak bu, saya tidak punya pacar. Tapi saya baru bertemu dengan taun Rendy dan juga di hati saya ada nama lain bu. Dan juga saya tidak pantas untuk tuan Rendy'' ujar Dea membuat bu Wati tersenyum.
''Pantas atau tidaknya itu yang atur Tuhan nak bukan kita, jodoh tak akan tertukar''
''Maaf bu saya tidak bisa, terlebih sekarang ini saya baru saja bercerai dan juga sedang mengandung'' ujar Dea yang membuat bu Wati terkejut.
''Kalau kamu mengandung kenapa bercerai nak?''
''Karena suami saya mencintai wanita lain dan juga sedang mengandung bu, sedangkan saya hanya wanita yang di jodohkan dengannya'' ujar Dea yang membuat bu Wati menjadi simpati pada Dea.
__ADS_1