MELODY CINTA DEA DAN MARVEL

MELODY CINTA DEA DAN MARVEL
PRIA ASING (POV AUTHOR)


__ADS_3

Setelah pertemuannya dengan Imelda, Dea memutuskan untuk segera keluar dari rumah sakit hari itu juga meski ia baru saja melahirkan.


''Dokter Renata, saya bisa bicara sebentar?'' Ujar Dea ketika dokter Renata masik ke ruangannya untuk memeriksa kondisinya.


''Tentu saja bu Dea, ada apa?''


''Saya ingin keluar hari ini dok, apa boleh?'' Ujar Dea membuat dokter Renata bingungg.


''Tapi bu Dea baru saja melahairkan,bagaimana kalau terjadi hal yang tidak di inginkan jika bu Dea pulang'' ujar Dokter Renata membuat Dea kembali berpikir.


''Apa dokter punya klinik di rumah?''


''Iya bu Dea''


''Apa saya bisa disana saja dok, sepertinyaj saya tidak bisa berada di rumah sakit ini lagi. Mungkin saya bisa dirawat disana saja''


''Tentu saja boleh, silahkan urus dulu kepulangan bu Dea, setelah itu kita ke klinik saya''


''Baik bu dokter terimakasih'' ujar Dea merasa lega..


'Maafkan aku kak Imel, bukan aku t.ak sayang pada kakak tapi aku sudah bukan bagian keluarga kakak lagi dan aku juga tidak ingin membuat hubungan kak Marvel dan istrinya menjadi buruk sebelab kehadiran ku' batin Dea.


Setelah mengurus administrasi dan segala hal yang di perlukan, Dea segera dipindahkan ke klinik milik dokter Renata.


''Maaf ya dokter saya sudah membuat dokter kerepotan'' ujar Dea tak enak hati pada dokter Renata.


''Tidak apa-apa bu Dea, ini sudah tugas saya.Lagi pula kenyamanan bu Dea lebih penting agar bu Dea tidak stres pasca melahirkan dan menjalani masa nifas'' ujar dokter Renata.


'Apa ini ada hubungannya dengan tuan Marvel yang meminta informasi tentang bu Dea waktu itu? Apa mereka saling kenal?'' Batin dokter Renata bertanya-tanya.


Kurang lebih 45 menit lamanya perjalanan dari rumah sakit akhirnya mereka tiba di klinik bersalin milik dokter Renata. Dea segera di pindahkan ke ruang perawatan bersama bayinya.


''Terimakasih dokter, oh iya dokter jika ada seseorang yang berusaha mencari informasi tentang saya tolong jangan di beritahu saya dimana'' pinta Dea.


''Baik bu Dea'' ujar dokter Renata.


'Maaf tuan Marvel kali ini saya tak bisa memberikan informasi pada tuan, sebab kesehatan bu Dea lebih penting' batin dokter Renata.


''Silahkan istirahat bu Dea, saya akan istirahat juga. Jika butuh sesuatu bisa langsung hubungi saya atau bidan-bidan yang berjaga'' ujar dokter Renata sebelum meninggalkan ruangan Dea.


Setelah kepergian dokter Renata, mbok Namu menghampiri Dea yang sedang duduk di atas ranjang.


''Nak, kenapa kamu pindah kemari? Apa ada sesuatu yang mengganggumu disana?'' Tanya mbok Namu.


''Iya bu'' jawab Dea singkat membuat mbok Namu mengangguk tanda mengerti.

__ADS_1


''Jika kamu sudah siap bercerita, bilang sama mbok, mbok siap mendengarkan nak''


''Iya bu'' ujar Dea memeluk lengan mbok Namu.


Dea tertidur setelah berbincang-bincang dengan mbok Namu, ia merasa masih mengantuk dan juga kepalanya terasa pusing.


Ternyata cukup lama Dea tertidur dan ketika bangun ia tak mendapati siapapun di ruangan itu.


''Kemana semua orang? Kemana bayi ku?'' Ujar Dea cemas.


Saat hendak turun dari tempat tidur, pintu ruangan terbuka dan nampaklah Jessy beserta mbok Namu yang menggendong bayi Dea.


''Kamu sudah bangun nak?''


''Iya bu, ibu habis dari mana?''


''Kami habis nganter dedek buat di mandiin kak, bagaimana keadaan kak Dea?''


''Kakak baik-baik saja, cuma kepala kakak terasa agak sedikit pusing'' ujar Dea memegangi kepalanya yang terasa agak berat.


''Dek, kamu kasi tahu bidan ya'' ujar mbok Namu pada Jessy.


''Iya bu''


Jessy menuju ke ruangan bidan kemudian memberitahu keadaan Dea, tak lama setelahnya ia kembali keruangan Dea bersama dua orang bidan.


''Saya baik-baik saja bu bidan, hanya saja kepala saya terasa agak pusing''


''Apa bu Dea sedang memikirkan sesuatu yang membuat ibu merasa cemas?''


''Sepertinya tidak bu bidan, tapi memang ada sesuatu yang membuat saya terus kepikiran'' ujar Dea.


''Jangan terlalu berpikir bu Dea sebab itu dapat berpengaruh pada kesehatan ibu juga pada produksi ASI. Lupakan hal yang membuat bu Dea cemas, fokuslah pada bayi bu Dea. Lihatlah betapa lucunya dia'' ujar bidan mencoba mengalihkan perhatian Dea.


''Iya bu bidan, terimakasih sudah mengingatkan saya'' ujar Dea mengusap pipi putranya yang kini tertidur lelap di sampingnya.


''Sama-sama bu, jika butuh sesuatu panggil saja kami'' ujar bidan Yeni sebelum meninggalkan ruang perawatan Dea.


''Jiak ada yang menjadi beban pikiran kamu, katakan pada ibu nak. Ibu sudah pernah bilang, bagilah bebanmu pada kami nak'' ujar mbok Namu menggenggam tangan Dea.


''Iya mbok. Sebenarnya.....'' Dea menceritakan apa yang terjadi di rumah sakit membuat mbok Namu dan Jessy terkejut sekaligus bingung bagaimana cara menanggapi ucapan Dea. Mbok Namu sangat sedih melihat keadaan Dea namun ia juga tak tahu harus berbuat apa.


'Semoga tidak ada yang berniat jahat pada kalian nak' doa mbok Namu.


Setelah bercerita pada mbok Namu perasaan Dea agak lega bahkan ia merasa jika beban yang ada di pikirannya sejak tadi hilang menguap entah kemana.

__ADS_1


Di rumah sakit, Marvel kebingungan mencari Dea. Sebab saat ia mengunjungi ruangan dimana Dea di rawat tadi, ruangan itu sudah kosong dan kata perawatnya jika Dea sudah pulang.


''Kamu kemana sayang?'' Gumam Marvel lirih, ia menangis sesegukan di depan ruangan dimana Dea dirawat tadi.


Ia menangis hingga ia tak menyadarai jika seseorang sedang memperhatikannya, orang itu mendekat ke arah Marvel. Ia menyentuh bahu Marvel yang berguncang sebab ia masih terus menangis.


''K-ka-kak, kak Imel'' ujar Marvel terbata-bata.


Ia terkejut melihat ternyaya Imelda yang menyentuh bahunya, tangisnya semakin pecah membuat Imelda merasa sangat kasihan pada adiknya.


''Sudah Dek, jangan seperti ini. Ingat istrimu baru saja melahirkan, kasian dia dan anakmu'' ujar Imelda, ia mengatakannya sebab ia tak tahu apa yang harus ia katakan pada adiknya.


''Kak, aku.. aku..''


''Kakak tahu Vel, tadi kakak juga bertemu dengannya'' ujar Imleda membuat Marvel menatap ke arah kakaknya.


''Kakak bertemu dengan Dea?'' Tanya Marvel dan Imelda mengangguk.


''Bagaimana keadaannya kak? Apa dia baik-baik saja? Apa dia kesakitan? Aku.. aku tak bisa melindunginya kak'' ujar Marvel kemudian memeluk kakaknya dan kembali menangis.


Imelda ikut meneteskan air matanya mendengar tangisan Marvel, ia tahu seberapa rapuhnya hati adiknya itu. Ia bahkan tahu jika Marvel masih menyimpan cinta yang cukup besar untuk Dea, begitupun dengannya ia masih sangat menyayangi Dea seperti dulu, karena ia tahu semua yang terjadi bukanlah kesalahan Dea.


''Sudah, jangan menangis lagi, ayo bangun kita lihat kondisi anakmu. Doktet bilang kondisinya semakin menurun'' ujar Imelda membuat Marvel terdiam seketika.


''Maksud kakak apa?''


''Kata dokter anak kamu kondisinya semakin buruk Vel, ayo''


Marvel melangkah mengikuti Imelda yang berjalan di depannya dengan terus mengutak-atik ponsel yang berada di tangannya.


Imelda berniat mencari informasi mengenai Dea berbekal alamat rumah yang di berikan oleh seorang temannya yang bekerja di rumah sakit.


'Kakak akan mencarimu Dea' batin Imelda.


Imelda dan Marvel sampai di ruangan dimana Regina sedang menangisi bayi mungil yang berada dalam dekapannya. Ia menatap sendu ke arah sang suami yang baru saja masuk ke dalam ruangan.


''Mas, anak kita...'' ujar Regiana kemudian menangis.


Marvel masih membeku di temaptnya, ia masih berusaha mencerna apa yang Regina ucapakan. Pikirannya masih melayang entah kemana, semua orang menatap ke arahnya, ibu Valencia yang melihat tatapan kosong putranya menghampiri dan berusaha menguatkan Marvel.


''Kamu harus kuat nak, Tuhan lebih sayang pada anakmu'' ujar bu Valencia.


Perlahan Marvel mengambil bayi mungil itu dari pangkuan Regina, berkali-kali ia menciumi pipi sang anak.


''Kenapa kamu juga ninggalin papa nak, kenapa semua yang papa cintai selalu pergi meninggalkan papa?'' Marvel menangis sambil memeluk bayi mungil yang baru mengenal dunia selama beberapa jam itu, namun ia sudahh kembali lagi kepelukan penciptanya.

__ADS_1


Di saat Marvel tengah sesegukan karena meratapi kepergian sang anak, seorang pria asing masuk ke dalam ruangan itu dan megambil bayi mungil itu dari tangan Marvel.


Ia memeluk bayi mungil itu sembari menangis meraung-raung, semua orang terkejut melihatnya tak terkecuali Regina yang kini wajahnya sudah pucat pasi.


__ADS_2