
''Malam mah'' ujar Marvel yang baru saja tiba di rumahnya.
''Ada masalah apa tadi Vel sampai kamu buru-buru pergi?'' Tanya bu Velencia.
''Ada masalah yang gawat mah, untung saja ada yang kasi tahu aku''
''Masalah apa sih Vel, jangan bikin mama penasaran deh''
''Tadi Devina sama ibunya datang ke rumah Dea mah, mereka bayar orang buat merusak kios nenek''
''Astaga terus Dea sama bu Diah ngak apa-apa kan?''
''Iya tidak apa-apa mah, hanya saja barang dagangan nenek terhambur''
''Benar-benar ya si Devina itu, mama ngak habis pikir sama dia. Seperti orang yang tak pernah sekolah saja, lagi pula mereka tahu rumah Dea dari mana?''
''Aku juga ngak tahu mah, aku rasa Devina bayar orang buat cari tahu mah. Itu kan calon mantu pilihan mama''
''Itu kan dulu Vel, setelah kejadian di pesta Bram, mama ngak terlalu suka lagi sama dia. Lagi pula sudah ada Dea, mama tidak mau kehilangan menantu seperti Dea''
''Mama benar, mama tahu, Dea dan nenek maafin bu Desi dan Devina udah gitu nolak uang ganti rugi yang di berikan bu Desi. Tapi Marvel tetap maksa buat ngambil uang itu, biar jadi pelajaran buat Devina dan mamanya. Mama tahu uang yang diberikan bu Desi di pake apa sama nenek dam Dea?''
''Mana mama tahu Vel''
''Uang itu Dea dan nenek berikan ke orang yang sudah merusak kiosnya. Kata Dea, sebenarnya orang itu baik hanya saja memang sangat butuh uang makanya menerima tawaran bu Desi. Saat bu Desi menyuruh kedua orang bayarannya untuk melukai Dea dan nenek, mereka tak melakukannya hanya terus menghambur-hamburkan dagangan nenek. Jadi Dea berpikir jika mereka sebenarnya orang yang baik''
''Yang benar kamu Vel?''
''Iya mah, aku mau masuk mandi dulu ya mah''
''Iya, mandi gih kamu bau keringat''
'Sungguh baik hatimu nak' batin bu Valencia menatap foto Dea yang ada di ruang keluarga.
.
Mentari perlahan menampakkan dirinya, pertanda Dea harus segera bersiap untuk berangkat ke sekolah. Setelah sarapan pagi Dea segera berangkat ke sekolah hari ini mereka akan mengadakan perlombaan seni tari di sekolah. Dea terus tersenum sepanjang jalan, ia tak sadar jika sedari tadi ada yang mengikutinya.
Ia merasa begitu bahagia, entah apa penyebabnya. Orang yang mengikutinya dari belakang tiba-tiba mendekat dan meraih tangannya. Hal itu sontak membuat Dea terkejut bahkan hampir berteriak namun mulutnya di tutup oleh tangan seseorang.
Jalan yang Dea lalui memang masih cukup sepi, dikarenakan belum banyak rumah yang ada di sekitar tempat itu.
''Ehmp...'' ujar Dea tertahan karena mulutnya masih tertutup. Ia terus berontak untuk melepaskan diri karena kali ini bukan hanya mulutnya yang di tutup melainkan orang itu berani memeluknya.
__ADS_1
''Pagi sayang'' bisik orang itu membuat Dea berhenti berontak.
''Pagi sayang'' ucap orang itu lagi sambil membalik badan Dea.
Dea tersenyum pada orang itu yang ternyata adalah Marvel. Sebenarnya ia berniat menjemput Dea untuk berangkat ke sekolah bersama, namun saat sampai di rumah Dea, bi Tina mengatakan jika Dea baru saja berangkat. Ia meninggalkan motornya di rumah Dea dan bergegas mengikuti Dea.
''Pagi juga pak'' ujarnya dengan senyum khasnya yang mampu membuat siapapun yang melihatnya ikut tersenyum.
''Koq masih panggil pak? Kita ngak lagi di sekolah loh''
''Terus aku harus panggil apa?''
''Panggil apa ya? Gimana kalau kamu panggil aku sayang juga''
''Eh.... ngak aneh gitu panggil bapak sayang?''
''Ya ngak dong sayang, coba deh''
''Iya pak, eh... iya sa..sayang''
''Nah, gitu bagus. Makasih sayang'' ujar Marvel menggandeng tangan Dea.
''Ngapain gandeng-gandeng pak, malu tahu di liat orang-orang''
''Oh iya lupa'' ujarnya menggenggam tangan Dea.
''Biarin''
''Tunggu dulu, bapak koq ada disini? Motor bapak mana?''
''Motor ada di rumah, tadi mau jemput kamu, tapi sampai sana aku cuma ketemu nenek dan bi Tina, mereka bilang kalau kamu udah berangkat jadi aku nyusul aja jalan. Pengen juga sekali-kali kita benar-benar jalan berdua begini, suasananya terasa lebih romantis gitu'' ujar Marvel membuat pipi Dea perlahan berubah merah.
''Kamu tiap pagi jalan ke sekolah sayang?''
''Iya pak, iya sayang. Aduh ribet amat panggil pak aja ya?''
''No, panggil sayang''
''Iya sayang'' ujar Dea dengan pipi yang memerah.
''Nah kan enak, ayo kita jalan lagi. Ternyata banyak ya anak-anak yang jalan kaki juga ya ke sekolah.''
''Iya pak, kan ngak semua orang punya kendaraan pak''
__ADS_1
''Tuh kan pak lagi''
''Maaf sayang''
''Murid di sekolah kita banyak juga yang tinggal di sekitar sini ya sayang?''
''Iya sayang''
''Pagi pak Marvel'' ujar beberapa siswa yang mengenal pak Marvel. Sebagian dari mereka bahkan ada yang tak bersekolah di sekolah tempat mereka.
''Pagi juga'' ujar Marvel.
Murid yang menyapa Marvel terfokus pada genggaman tangan keduanya, sedangkan mereka berdua tak terlalu memperdulikan. Mereka terus berjalan sambil sesekali bercanda, beberapa siswa yang melihat keduanya berjalan bergandengan tangan menjadi tak suka pada Dea. Bagaimana tidak, mereka juga menyukai pak Marvel, namun sayang pak Marvel tak membalas apa yang mereka rasakan.
''Nanti aku ke kelas jam terakhir ya sayang, bilang sama teman-teman kalau jadwalku di tukar dengan pak Boy''
''Baik pak'' ujar Dea yang membuat Marvel memanyunkan bibirnya persis seperti anak-anak yang sedang merajuk.
''Iya sayang'' ujar Dea mencubit pipi Marvel dan berlari menuju kelasnya.
Dengan nafas yang masih tak teratur karena lelah berlari, Dea segera menyampaikan pada teman-temannya jika jadwal pak Boy dan pak Marvel di tukar.
''Baguslah, jadi jam pelajaran pertama dan kedua kita ngak belajar dong'' ujar Leni.
''Huuu... dasar kamu Len, suka banget kalau ada jam kosong'' ujar Darmi, Leni hanya tertawa menanggapinya.
''Selamat pagi, disampaikan kepada seluruh siswa yang ikut dalam lomba seni tari agar segera berkumpul di halaman sekolah. Ada beberapa hal yang ahrus di sampaikan oleh panitia lomba sehubungan dengan lomba yang akan kita adakan hari ini.'' Terdengar pengumuman dari salah satu guru melalui pengeras suara yang terpasang di dalam ruang kelas.
''Ayo kita ke lapangan'' ujar Dea dan diikuti oleh Rosa, Leni, Darmi dan Oliv.
Dari setiap kelas memiliki perwakilan masing-masing, saat tiba di halaman sekolah Dea terkejut saat melihat bu Devina menjadi salah satu dari panitia lomba.
Dea mencari keberadaan Marvel dan ia tersenyum ketika melihat Marvel berada tak jauh dari barisannya. Marvel juga terlihat memberikan acungan jempol dan senyum untuk menyemangati Dea.
Setelah mendapat pengarahan dari panitia lomba mereka di persilahkan masuk ke dalam aula dan memulai perlombaan. Dea dan teman-temannya mendapatkan nomor urut yang ke-5 untuk tampil.
Sebelum tampil Dea dan teman-temannya berlatih sebentar agar bisa tampil dengan sempurna.
Sudah tiga peserta yang tampil, hanya tinggal satu lagi kemudian Dea dan teman-temannya yang akan tampil. Dea mulai mencari keberadaan Marvel, entah mengapa ia ingin sekali jika Marvel ada di ruangan itu.
Dea sangat berharap Marvel ada di situ, ia tak tahu mengapa ia merasa khawatir setelah melihat Devina.
''Cari siapa De? Ayo siap-siap habis ini giliran kita loh'' ujar Darmi
__ADS_1
''Eh, iya ayo''
Kini tibalah giliran Dea dan teman-temannya untuk maju ke depan, meski sudah biasa tampil di depan banyak orang, namun Dea tetap merasa gugup.