
(POV DEA)
Nenek dan bibi datang sekitar pukul 5 sore, pak Marvel yang menjemput mereka.
''Gimana keadaan kamu Dea?'' ujar nenek yang terlihat sangat khawatir. Untung saja selang oksigen sudah di lepas oleh perawat tadi, jika tidak nenek akan semakin khawatir.
''Dea baik-baik aja nek''
''Syukurlah kalau begitu, nenek dan bibi sangat khawatir waktu nak Marvel datang ke rumah dan bilang kamu masuk rumah sakit. Terimakasih nak Marvel sudah memberi tahu nenek''
''Sama-sama nek'' ujar pak Marvel.
''Sore nenek, bibi'' ujar Sukma, Gema dan Darmi bergantian menyalami tangan nenek dan bibi.
''Oh ada teman-teman Dea, maaf ya nenek sampai tidak memperhatikan ada kalian disini''
''Ngak apa-apa nek''
''Kalian dari tadi disini?''
''Mereka dari pagi disini temani Dea nek'' jawab pak Marvel sebelum aku berbicara.
''Terimakasih ya sudah menemani Dea, jika kalian lelah pulanglah, nenek akan jaga Dea disini''
''Kami tidak lelah nek, Dea itu sahabat kami sudah tugas kami buat ada di saat Dea sedang sakit'' ujar Darmi yang di angguki oleh Gema dan sukma.
Darmi, Sukma dan Gema pamit pulang untuk berganti pakaian, nenek dan bibi yang menjaga ku. Pak Marvel sendiri juga pulang untuk berganti pakaian, entahlah dia akan kembali atau tidak. Tadi aku sudah memintanya untuk istirahat saja di rumah namun dia tetap kekeh ingin menjaga ku di rumah sakit.
''De, kepala nenek agak pusing'' ujar nenek menghampiri ku yang sedang berbaring di atas ranjang.
Aku segera memencet tombol yang ada di ranjang di bagian kepala, aku khawatir melihat keadaan nenek.
Tak lama berselang dua petugas medis datang ke ruangan ku.
''Ada apa nona Dea?''
''Sus tolongin nenek saya beliau merasa pusing'' ujar ku melihat raut wajah nenek yang sedang menahan sakit.
''Seorang dari mereka berjalan ke luar ruangan, tak lama berselang ia kembali dengan sebuah kursi roda.
''Tolong bawa nenek ke UGD sus, boleh?''
''Tentu saja itu sudah tugas kami, jika nona Dea butuh sesuatu masih ada teman kami yang bertugas'' ujar salah satu perawat, keduanya berlalu mendorong kursi roda menuju UGD.
Tak lama setelah kepergian mereka, bi Tina yang tadinya pulang mengambil pakaian ku dan nenek kembali.
''Nenek mana De?''
''Nenek di bawa suster ke UGD bi, tadi nenek bilang kepalanya pusing. Lebih baik bibi ke UGD sekarang, aku ngak apa-apa sendiri disini, kasian nenek tidak ada yang temani'' ujar ku.
''Bibi tinggal ya De''
''Iya bi''
Bibi bergegas menuju ke ruang UGD, aku berdoa agar nenek baik-baik saja.
(POV MARVEL)
Aku kembali ke rumah dan berganti pakaian saat nenek dan bibi Dea sudah berada di rumah sakit untuk menjaga Dea. Aku pulang hanya untuk berganti pakaian saja, rencananya malam ini aku akan bermalam di rumah sakit menjaga Dea.
Setelah memakirkan sepeda motor ku di parkiran rumah sakit, aku segera menuju ke ruangan di mana Dea dirawat. Namun belum sampai di sana aku melihat nenek Dea berada di atas kursi roda yang di dorong seorang perawat.
''Ibu ini kenapa sus?'' Tanya ku.
''Beliau merasa pusing pak, kami mau membawanya ke UGD'' ujar salah satu perawat kemudian melanjutkan mendorong kursi roda.
__ADS_1
Aku mengikuti mereka masuk ke ruangan UGD, disana aku bertemu Nico sahabat ku saat kuliah. Dia bekerja di rumah sakit ini sebagai dokter umum.
''Hy Nico''
''Hy Vel, ngapain disini?''
''Dok ada pasien'' ujar seorang perawat memanggil Nico.
Nico bergegas menuju ke arah perawat yang memanggilnya tadi, aku mengikuti mereka. Ternyata itu nenek Diah, yang sedang di periksa oleh Nico.
''Keluarganya mana sus?''
''Kami tidak tahu dok, nenek ini merasa pusing di ruangan cucunya sedang di rawat dok. Ibu ini menjaga cucunya yang sedang sakit''
''Saya keluarganya sus'' ujar ku yang membuat Nico menatap ku dengan ekspresi heran.
''Pasien harus dirawat inap karena kondisi beliau cukup lemah'' ujar Nico.
''Baiklah dok, lakukan yang terbaik, saya minta ibu ini dirawat di kamar VIP yang ada di gedung belakang'' ujar ku.
Aku melihat Nico yang mengerutkan dahinya mendengar ucapan ku.
''Baik pak'' ujar seorang perawat.
Para perawat terlihat sibuk memasang selang infus pada tangan nek Diah, Nico memanggil ku untuk duduk di kursi yang berada di sebelahnya.
''Ada apa Nic?''
''Itu tadi keluarga kamu?''
''Iya nik, anggap saja seperti itu, beliau calon nenek mertua ku'' ujar ku yang membuat mata Nico membulat sempurna.
''Nenek mertua?''
''Iya Nic''
''Oliv siapa?''
''Perawat tadi, cucu nenek itu dirawat di sini?''
''Iya Nic''
''Emang sakit apa?''
''Sakit karena aku'' Nico kembali mengerutkan dahinya mendengar ucapan ku.
''Maksudnya gimana Vel?''
''Jadi seperti ini ceritanya, di sekolah............'' aku menceritakan pada Nico yang terjadi di sekolah dan penyebab Dea bisa masuk rumah sakit. Nico terlihat geram ketika aku mengatakan bahwa Selvy yang sudah mencelakai Dea.
''Wah parah tuh si Selvy, lagian kenapa sih tuh orang ngak tahu malu, udah ninggalin kamu eh pas kamunya bahagia dengan yang lain dia malah datang jadi perusuh'' ujar Nico.
''Entahlah Nic, aku juga bingung'' ujar ku.
''Jadi sekarang kamu pacaran sama anak-anak nih'' ledek Nico.
''Bukan anak-anak Nic''
''Iya.. iya.. yang lagi jatuh cinta sensi amat. Oh iya siapa namanya? Coba mana liat fotonya'' ujar Nico.
Aku mengeluarkan ponsel dari saku tas kemudian memperlihatkan foto ku dan Dea padanya.
''Kalian sudah menikah? Koq ngak ngundang aku?''
''Belum Nic, doakan saja''
__ADS_1
''Terus kenapa kalian pake baju pengantin dan duduk di pelaminan?''
''Itu waktu kami jadi pengiring pengantin di acara pernikahan Bram'' ujar ku.
''Kirain, sapa tahu kamu juga sudah....''
''Sudah apa? Jangan mikir macam-macam kamu''
''Iya... iya.....''
''Dasar otak mesum'' ujar ku menyentil dahinya.
''Awwww.., ngak berubah ya suka nyentil dahi gue''
Aku terkekeh mendengar ucapannya, tak banyak pasien hari ini jadi aku dan Nico bisa berbincang-bincang sambil menunggu nek Diah dipindahkan ke ruang perawatan.
Saat tengah asik berbincang dengan Nico, aku melihat bi Tina masuk ke ruang UGD dengan raut wajah panik.
''Bibi'' panggil ku dan membuat bi Tina menoleh.
''Pak Marvel, saya cari ibu saya pak''
''Nenek ada di sana bi sedang istirahat tak lama lagi di pindah ke ruang perawatan'' ujar ku menunjuk salah satu tempat tidur di ruang UGD.
''Dea bagaimana bi?''
''Dea ada di kamarnya pak, bapak tidak pulang?''
''Saya sudah dari rumah bi, saya cuma pulang ganti pakaian tadi terus balik lagi kesini. Tadi mau ke ruangan Dea tapi liat nenek di bawa suster jadi saya ikuti saja kemari'' ujar ku.
''Terimakasih pak Marvel''
''Sama-sama bi, saya ingin ke kamar Dea. Apa bibi ngak apa-apa saya tinggal?''
''Tidak apa-apa pak, sekali lagi terimakasih''
Aku berjalan menuju ke ruangan dimana Dea di rawat, saat ingin membuka pintu ruangan aku mendengar seseorang menangis di dalam sana tapi tak terdengar seperti suara Dea.
''Sudah bu, ibu jangan menangis seperti ini. Dea memaklumi apa yang ibu lakukan, saya tahu ibu sangat mencintai pak Marvel, tapi perasaan tak bisa kita paksakan bu. Jika pak Marvel memang di takdirkan untuk menjadi jodoh buat bu Selvy, sekuat dan sedalam apapun cinta yang ada di antara kami, pak Marvel akan tetap bersama bu Selvy''
Ternyata Dea sedang berbicara dengan Selvy, aku menunggu dengan cemas di luar pintu, berjaga-jaga jika Selvy kembali berniat buruk pada Dea.
''Maafkan saya Dea, saya sudah sangat salah sama kamu. Saya hanya tidak bisa terlepas dari masa lalu, maaf saya sudah menyakiti kamu berkali-kali. Saya akan mengundurkan diri dari sekolah, agar saya tak menjadi penghalang hubungan kalian lagi, saya bahagia Marvel bisa mendapatkan wanita sebaik kamu, sekali lagi saya minta maaf Dea''
''Jangan minta maaf bu, tak ada yang perlu di maafkan. Seperti yang saya pernah bilang semua hanya kesalapahaman, ibu tak perlu sampai mengundurkan diri dari sekolah. Maafkan saya juga bu jika saya sudah menyakiti hati ibu dengan menjalin hubungan dengan pak Marvel''
''Itu bukan salah kamu Dea, hati orang kita memang tak bisa menebak. Saya turut bahagia untuk hubungan kalian, semoga kalian berjodoh. Ibu pamit ya Dea, semoga kamu cepat sembuh''
''Ini apa bu?''
''Anggap saja itu bentuk tanggung jawab saya, kamu pakailah untuk membayar biaya rumah sakit. Saya tidak mau jika kamu menolaknya, saya iklas memberikannya''
''Tapi bu''
''Terimalah Dea, mungkin kita tidak akan bertemu lagi. Semoga cepat sembuh dan semoga hubungan kalian langgeng, saya pamit ya Dea''
''Terimakasih bu'' ujar Dea.
Aku berpindah dan bersembunyi di balik salah satu pot tanaman yang ada di lorong itu ketika ada yang membuka pintu kamar Dea dari dalam.
''Kamu memang gadis yang baik Dea, tak salah Marvel memilih kamu sebagai pendampingnya, semoga kalian selalu bahagia'' ujar Selvy setelah menutup pintu ruangan Dea, ia berjalan meninggalkan ruangan Dea dengan menitikkan air mata. Aku melihat ketulusan di mata Selvy saat ia mengatakannya.
'Sebaik itukah hatimu Dea? Hingga orang yang sudah berkali-kali menyakitimu dengan mudahnya kamu maafkan, kamu bahkan bisa membuatnya menjadi pribadi yang lebih baik' batin ku.
Selama aku menjalin hubungan dengan Selvy dulu, tak pernah sekali pun aku melihatnya atau mendengarnya meminta maaf seperti tadi bahkan ia sampai menangis.
__ADS_1
''Kamu memang spesial sayang'' gumamku hendak melangkah masuk ke ruangan Dea.