MELODY CINTA DEA DAN MARVEL

MELODY CINTA DEA DAN MARVEL
SETOPLES ACAR (POV AUTHOR)


__ADS_3

Sekitar pukul 7 malam, Dea menuju ke terminal dengan di antar oleh bu Marsih dan anak-anaknya.


Dea tak jadi kembali ke kampung halamannya, dia memutuskan untuk bekerja pada bu Mery dengan menjaga rumah bu Mery yang berada di kota U.


''Terimakasih ya bu sudah sangat baik sama Dea, maaf jika Dea belum bisa membalas semua kebaikan ibu bersama keluarga ibu'' ujar Dea memeluk bu Marsih saat akan naik ke bis.


''Sama-sama nak, ibu bersyukur bisa bertemu dengan orang baik sepertimu, jaga kesehatan disana ya nak, jangan lupa untuk selalu kabari ibu kabar kamu. Besok pagi jika kamu sudah tiba, ada mbok Namu yang akan menjemput kamu di terminal, dia saudara ibu. Mbok Namu yang akan antar kamu kerumah, kamu tidak usah khawatir mbok Namu orang baik koq'' ujar bu Marsih.


''Terimakasih bu, ibu sangat baik'' ujar Dea memeluk erat bu Marsih.


''Jangan peluk erat-erat nak, kasian perut kamu'' ujar bu Marsih mengingatkan Dea.


''Maaf ya sayang'' ujar Dea mengusap perutnya.


Setelah berpamitan pada bu Marsih dan anak-anaknya, Dea segera naik ke bis karena bis akan segera berangkat.


''Pak tolong turunkan penumpang tadi di alamat ini ya, tolong jaga selama di perjalanan karena ia sedang hamil muda'' ujar bu Marsih sembari memberikan sebuah amplop coklat yang tentunya berisi uang kepada sopir bis yang akan membawa Dea sebelum meninggalkan area terminal.


''Baik bu, terimakasih'' ujar sopir itu dengan penuh senyuman. Ia sangat bersyukur karena mendapat rejeki malam ini.


Saat bis sudah mulai berjalan meninggalkan area stasiun, Dea melambaikan tangan kepada bu Marsih dan anak-anaknya. Kedua anak bu Marsih menangis setelah bis yang membawa Dea perlahan berjalan meninggalakan area terminal.


''Mah, kenapa kak Dea tidak tinggal dengan kita saja?'' Tanya Dewi saat mereka sudah dalam perjalanan pulang ke rumah.


''Karena kak Dea harus pulang ke kampungnya nak''


''Tapi kak Dea kan ke kampung oma, emang kak Dea sekampung dengan oma?''


''Tidak sayang, tapi kak Dea tinggal di rumah oma sekarang, kan kasian kalau rumah oma ngak ada yang tinggal''


''Jadi kita masih bisa bertemu kak Dea, kalau mau ketemu kak Dea langsung ke kampung oma?'' Tanya Dewa.


''Iya sayang, nanti kalau kalian libur sekolah kita jenguk kak Dea ya''


''Iya mah'' ujar Dewa dan Dewi serentak.


Keduanya dangat bahagia mendengar ucapan ibunya, mereka sangat senang karena mereka akan bertemu dengan Dea lagi.


'Kamu memang anak yang spesial Dea, anak-anak ibu saja bisa sesayang itu sama kamu. Semoga kamu dan janin yang ada di kandunganmu selalu sehat dan dilindungi oleh yang maha kuasa' batin bu Marsih.


Jarak yang harus di tempuh Dea untuk sampai ke kota U, sekitar 7 jam perjalanan, Dea berdoa agar ia tak muntah selama perjalanna karena ia merasa kasihan dengan janin yang ada di kandungannya jika ia muntah-muntah selama perjalanan.

__ADS_1


''Permisi pak, apa ada kantong plastik?'' Tanya Dea saat mereka singgah di sebuah warung kopi.


''Untuk apa nona?'' Tanya bapak penjual kopi.


''Saya ingin beli pak, biasanya saya muntah saat naik kendaraan jauh''


''Ada neng, mau sekalian antimonya neng biar ngak muntah di perjalanan'' ujar bapak itu menawarkan obat untuk mencegah muntah.


''Saya tidak bisa sembarang makan obat pak, saya sedang mengandung'' ujar Dea yang langsung di angguki oleh bapak penjual itu.


Ia memberikan 10 buah kantong plastik pada Dea, ''neng ini kantong plastiknya juga ada minyak angin'' ujar bapak itu memberikannya pada Dea.


''Terimaksih pak ini uangnya'' ujar Dea menyodorkan selembar uang berwarna biru.


''Tidak usah neng, itu bapak kasih buat kamu, ya kan bu?'' Ujar pemilik kedai sambil menoleh ke arah sang istri.


''Ambillah nak, jangan di tolak, dulu ibu juga selalu mabuk kalau perjalanan jauh dan tidak ada yang membantu ibu meski hanya sekedar memberi plastik untuk tempat ibu muntah atau minyak angin. Ibu harap itu bisa membantu kamu di perjalanan nak, jangan di tolak ya'' ujar istri pemilik kedai itu.


Karena pemilik kedai tak mau menerima uang Dea, alhasil Dea berpura-pura membeli beberapa botol air mineral dan cemilan dengan begitu pemilik kedai tak akan menolak uangnya.


''Terimaksih bu, pak, saya permisi'' ujar Dea segera naik ke bis setelah meletakkan selembar uang berwarna merah ke tangan istri pemilik kedai itu.


''Semoga tiba dengan selamat neng'' ujar sang istri pemilik kedai dan di aminkan oleh sang suami.


Beberapa penumpang turun untuk berbelanja sementara sebagian lainnya tertidur di dalam bis.


''Aku turun jugalah beli beberapa oleh-oleh buat Mbok Namu, kamu mau makan sesuatu sayang?'' Tanya Dea mengusap perutnya yang masih rata.


Dea berjalan menyusuri rak demi rak yang tersusun di kedai itu, ia membeli beberapa buah roti dan juga buah-buahn yang ada di kedai itu. Ia membeli apa yang ia lihat sebab ia tak tahu apa yang di sukai oleh mbok Namu.


Saat hendak membayar di kasir, mata Dea terpaku pada sebuah toples yang berisi acar yang terletak di atas rak di belakang kasir. Rasanya ia sangat ingin memakan acar itu walau hanya sedikit saja.


''Hanya ini neng?'' Tanya kasir.


''Mbak, apa acar yang di toples itu di jual?'' Tanya Dea membuat mbak penjaga kasir menoleh ke arah toples yang di tunjuk Dea.


''Acar?''


''Iya mbak, jika di jual boleh saya beli?''


''Maaf neng, itu tidak di jual'' ujar mbak penjaga kasir yang membuat raut wajah Dea menjadi muram.

__ADS_1


''Oh gitu, apa tidak bisa saya beli biar sedikit saja?'' Tanya Dea lagi, ia begitu tertarik dengan acar itu.


''Saya tanya pemilik kedai dulu ya mbak?'' Ujar mbak penjaga kasir meninggalkan Dea di depan meja kasir.


Penjaga kasir itu menemui bosnya dan menyampaikan apa yang Dea inginkan, ketika pemilik kedai melihat Dea masih berdiri di depan kasir ia tersenyum.


''Berikan apa yang dia inginkan, sepertinya ia sedang mengidam'' ujar pemilik kedai kemudian berjalan menghampiri Dea.


''Permisi nona, apa nona ingin acar itu?''


''Iya bu, apa saya boleh membelinya?''


''Maaf acar itu tidak di jual, tapi jika nona ingin saya akan memberikannya secara gratis'' ujar pemilik kedai yang membuat wajah Dea kembali ceria.


''Terimakasih bu'' ujar Dea.


Pemilik kedai meminta pegawainya untuk mengambilkan Dea toples yang bersisi acar itu, ''terimakasih bu'' ujar Dea.


Setelah membayar belanjaannya ia segera duduk di sebuah kursi dan langusng memakan acar yang di berikan oleh pemilik kedai.


Pemilik kedai tersenyum melibat Dea yang sangat bahagia menikmati acar, ''lihatlah betapa bahagianya dia memakan acar itu, semoga nona itu selalu sehat bersama calon bayinya'' ujar pemilik kedai kemudian kembali ke ruangannya.


Hampir separuh toples acar yang Dea habiskan sebelum mobil kembali berjalan, ia sangat bahagia bisa makan acar itu.


''Jika kamu ingin sesuatu katakan nak, mama akan mencoba untuk memenuhinya''


Sekitar pukul 5 pagi, bis yang Dea tumpangi tiba di kota U, bis itu juga mengantar Dea langsung ke tempat mbok Namu.


Saat turun dari bus, Dea tak tahu bagaimana ia harus mencari orang yang bernama mbok Namu. Karena ia lupa meminta foto mbok Namu pada bu Marsih.


''Permisi neng, apa neng namanya Dea?'' Tanya seorang ibu.


''Iya bu, maaf ibu siapa?''


''Saya mbok Namu neng, adiknya bu Marsih''


''Maaf bu, Dea ngak tahu kalau ini ibu'' ujar Dea langsung mencium tangan Mbok Namu.


''Panggil mbok saja neng ngak usah panggil ibu. Mana barang-barang neng Dea?''


''Dea cuma punya ransel ini saja bu, oh iya ini Dea beli oleh-oleh tapi Dea tidak tahu apa mbok suka atau tidak'' ujar Dea.

__ADS_1


''Semuanya mbok suka nak, yang penting bukan batu karena keras gigi mbok sudah habis ngak bisa makan yang keras-keras'' ujar mbok Namu kemudian tertawa, Dea ikut tertawa mendengar candaan mbok Namu.


__ADS_2