MELODY CINTA DEA DAN MARVEL

MELODY CINTA DEA DAN MARVEL
RUMAH BU MERY DI JUAL (POV AUTHOR)


__ADS_3

Pukul 8 tepat Dea terbangun dari tidurnya saat mendengar suara gaduh di depan rumah.


''Ada apa ya, kenpa banyak sekali suara orang-orang?'' Tanya Dea pada dirinya sendiri.


Segera Dea merapihkan rambutnya kemudian menuju ke pintu utama.


Ceklek


Semua mata memandang ke arah pintu yang terbuka dimana ada Dea berdiri, orang-orang yang ada disana terkejut melihat ada seorang wanita yang keluar dari rumah itu.


''Aaaaa.....'' teriak beberapa ibu-ibu yang membuat Dea bingung.


Mereka semua perlahan mundur saat melihat Dea, mereka mengira Dea adalah penunggu rumah itu.


''Pagi, maaf ada apa ini?'' Tanya Dea.


''Pa-pagi, apa nona manusia?'' Tanya seorang ibu-ibu.


''Iya bu, maaf ada apa ini berkumpul disini?'' Tanya Dea.


''Apa nona tinggal di rumah ini?''


''Iya bu saya baru tiba tadi subuh''


''Oh begitu, syukurlah kami kira rumah bu Mery kemalingan karena biasanya tak ada lampu menyala di rumah ini jika sudah pagi''


''Maaf bu, saya baru bangun jadi belum sempat matikan lampu'' ujar Dea melihat lampu teras yang masih menyala.


''Syukurlah jika semuanya baik-baik saja, ayo kita kembali ke rumah masing-masing'' ujar seorang bapak yang di angguki oleh warga yang lain.


''Kami permisi nona maaf mengganggu istirahat nona'' ujar seorang ibu.


Setelah warga pergi, Dea segera masuk ke dalam rumah dan mematikan semua lampu yang masih menyala.


Ia mencuci mukanya kemudian menuju ke dapur untuk sarapan karena ia mengingat jika mbok Namu sudah menyiapkan sarapan untuknya.


''Wah ada tumis kangkung sama ikan kering dan tempe goreng, terimakasih mbok'' ujar Dea kemudian mengambil piring dan langsung menyantap sarapan paginya.


''Masakan mbok Namu sangat enak'' pujinya setelah selesai makan.


Dea membereskan piring bekas makannya sekalian mencucinya, setelahnya ia menyapu rumah yang sebenarnya sudah bersih itu, sebab sebelum kedatangannya mbok Namu sudah membersihkan rumah itu.


''Loh, ngapain nak, kamu ngak istirahat?'' Tanya mbok Namu yang datang dari arah rumahnya.


''Ngak apa-apa mbok, habis Dea ngak tahu mau buat apa?''


''Kamu sudah sarapan nak?''


''Sudah mbok, masakan mbok sangat enak'' ujar Dea mengangkat kedua ibu jarinya membuat mbok Namu tertawa.


''Koq ketawa mbok?''


''Habis kamu mirip sama anak mbok, kalau habis makan tumis kangkung plus ikan kering gayanya persis gaya kamu tadi'' ujar mbok Namu kemudian kembali tertawa.

__ADS_1


Dea hanya terkekeh pelan menanggapi ucapan mbok Namu, ''kamu sudah siap ke kantor kelurahan?''


''Sudah mbok, apa kita berangkat sekarang?''


''Kalau kamu sudah siap ayo, kalau masih mau istirahat nanti saja nak''


''Kita pergi sekarang aja mbok takutnya banyak orang yang mengurus surat-surat juga''


''Ya sudah kamu ambil yang kamu perlu terus kita berangkat, jalan kaki ngak apa-apa kan? Mbok ngak punya kendaraan''


''Ngak apa-apa mbok''


''Lagi pula ngak jauh juga cuma 500 meter dari sini'' ujar mbok Namu.


Segera Dea masuk ke dalam rumah dan mengambil berkas-berkas yang ia butuhkan untuk mendaftar sebagai warga di daerah itu.


"Ayo mbok kita berangkat Dea sudah siap" ujar Dea kekuar dari rumah sambil membawa map di tangan kanannya.


"Ayo nak, kamu udah kunci pintu rumah?"


"Sudah mbok"


Keduanya berjalan beriringan menuju ke kantor kelurahan, mbok Namu dan Dea menyapa warga yang berpapasan dengan mereka di jalan.


"Sekamat pagi bu Susi" ujar mbok Namu pada seorang pegawai kelurahan.


"Pagi mbok, ada yang bisa saya bantu" ujar bu Susi ramah.


"Jadi nona ini yang akan tinggal di rumah bu Mery?" Tanya bu Susi.


"Iya bu" jawab Dea.


"Mari ikut saya untuk mengurus surat-suratnya" ujar bu Susi mengajak Dea dan mbok Namu masuk ke ruang kerjanya.


Dea menyerahkan semua berkas-berkas yang di minta oleh bu Susi, yaitu kartu tanda penduduk, kartu kekuarga juga akta cerainya.


"Jadi nona Dea ini janda?" Tanya bu Susi.


"Iya bu"


"Wah padahal masih muda sekali ya, sudah jadi janda" ujar bu Susi seperti sedang mengolok-olok Dea.


Beberapa pegawai kelurahan yang mendengar ucapan bu Susi berbisik-bisik sembari melihat ke arah Dea membuat Dea merasa agak risih.


Setelah pengurusan selesai, Dea dan Mbok Namu segera pulang karena hari juga sudah mulai siang.


"Mbok, disini pasar jauh ngak?"


"Ngak nak, pasarnya di depan jalan besar yang ada di belakang rumah nak. Cyma 50 meter masuk gang kalau udah nyebrang jalan besar. Kamu mau ke pasar nak?"


"Iya mbok, rasanya Dea pengen makan ikan kering seperti yang mbok masakan buat Dea tadi" ujar Dea sembari membayangkan kelezatan ikan kering yang ia makan sebagai menu sarapan tadi.


"Ya sudah nanti agak sorean kita kesana ya, kalau siang begini takutnya ramai orang nak, kasian kamu kalau desak-desakan sama pembeli lain"

__ADS_1


"Iya bu"


Sebelum pulang ke rumah mbok Namu dan Dea singgah ke sebuah kios untuk membeli telur dan mie instan. Sebagai persiapan jika Dea lapar saat malam tiba atau saat Dea ingin memakannya, sebab biasanya orang hamil ingin selalu makan di waktu yang tidak memungkinkan untuk keluar rumah terlebih Dea hanya tinggal sendiri.


Saat Dea tiba di rumah, ia melihat ada sebuah mobil yang terparkir di halaman rumah itu.


"Itu mobil siapa mbok?" Tanya Dea.


"Mbok juga tidak tahu nak, ayo kita kesana" ujar mbok Namu.


"Selamat siang, maaf anda cari siapa?" Tanya mbok Namu pada seorang pria yang sedang duduk di kap mobil.


"Apa benar ini rumah bu Mery yang di jual itu?" Tanya pria itu.


"Di jual?" Ujar mbkk Namu dan Dea.


"Iya bu, saya sudah membelinya dan ini sertifikat rumahnya sudah ada pada saya" ujar pria itu memberikan map yang berisi sertifikat tanah dan rumah.


"Maaf kalau boleh tahu siapa yang menjual rumah ini?" Tanya mbok Namu yang kebingungan, sedangkan Dea diam tak tahu harus berkata apa.


"Dari bu Sari yang tinggal di kota K" ujar pria itu.


"Sari.., boleh kita masuk dulu nak tak baik berbicara di luar seperti ini"


"Silahkan masuk tuan" ujar Dea mempersilahkan pria itu masuk.


Setelah ketiganya duduk di ruang tamu, mbok Namu kembali menanyakan perihal rumah yang sudah di beli oleh pria itu.


"Jadi bagaimana nak, apa bu Mery tahu jika rumah ini sudah kamu beli. Karena setahu saya bu Mery tidak mau menjual rumah ini karena rumah ini rumah pertamanya"


"Oh begitu bu, kalau begitu bisa saya bertemu dengan bu Mery langsung untuk menanyakan kejelasannya, karena saya sudah membayar lunas rumah ini"


"Maaf nak bu Mery tidak tinggal di kota ini lagi, oh iya nama kamu siapa nak?"


"Nama saya Robin bu"


"Silahakn diminum tuan, maaf hanya ada air putih" ujar Dea meletakkan segelas air putih di atas meja.


"Terimakasih" ujar Robin.


"Jadi bagaimana bu, apa ibu punya nomor ponsel bu Mery?"


"Ada nak, sebentar" ujar mbok Namu kemudian memberikan ponselnya pada Robin setelah menemukan nomor ponsel bu Mery.


"Saya hubungi ya bu"


"Silahkan nak"


Robin mulai melakukan panggilan pada nomor ponsel bu Mery, sedangkan Dea sibuk dengan pikirannya sendiri.


'Kemana aku harus pergi jika rumah ini benar-benar sudah di jual? Apa aku harus pulang ke rumah nenek saja, tapi apa kata orang jika melihat ku pulang dalam keadaan seperti ini' batin Dea.


Mbok Namu yang menyadari keresahan Dea segera menggenggam tangan Dea mencoba untuk membuat dea tak cemas agar tak berpengaruh pada kandungannya.

__ADS_1


__ADS_2