
Sudah hampir seminggu ini Marvel tak bertemu dengan Dea, seperti yang Marvel katakan beberapa hari yang lalu jika ia akan mengikuti bimbingan di sekolah lain di luar kota.
Dea merasa sepi tanpa ada Marvel namun hal itu tak membuatnya lupa untuk belajar dengan giat.
''Hy De'' ujar Sukma yang datang dari arah pintu kelas sambil membawa banyak buku di tangannya.
''Hy juga Ma, tumben bawa buku banyak amat''
''Iya, aku mau belajar di rumah kamu nanti. Bolehkan?''
''Pastinya boleh dong, kamu serius mau belajar?'' Tanya Dea yang heran melihat semangat Sukma untuk belajar yang terus meningkat akhir-akhir ini.
''Tentu saja, oh iya minggu depan kegiatan pramuka sudah di mulai, kamu ikutan juga ngak De?''
''Iya, tapi aku bagian bantu masak-masak aja ngak di bolehin ikut kegiatan sama pak Marvel, padahal aku ingin sekali ikut''
''Oh gitu''
''Iya Ma, kalau kamu ikut juga ngak?''
''Aku juga ikut koq De, di bagian kesehatan sama Darmi juga Gema''
''Baguslah kalau gitu, kita satu tenda aja gimana?''
''Ide bagus tuh, tapi kitakan ngak punya tenda sendiri'' ujar Sukma dengan raut wajah yang lesu.
''Aku punya koq di rumah, kemarin kakaknya pak Marvel nganter ke rumah. Katanya aku ngak bisa tidur sama anak-anak lain disana nanti, takutnya ada yang ngak bisa diam kalau tidur, trus kena bekas luka di kepala ku''
''Oh gitu, emang boleh pake tenda sendiri?''
''Kata pak Bimo sih boleh, tadi aku udah tanya. Oh iya Darmi koq ngak masuk hari ini, dia kemana?''
''Katanya dia mau ada urusan keluarga hari ini jadi kemarin ijin ngak masuk, kamu ngak tahu?''
''Ngak Ma'' ujar Dea.
Setelah sekolah berakhir Dea, Sukma dan Gema berjalan beriringan pulang ke rumah, di tengah perjalanan mereka berpapasan dengan pemuda yang mereka jumpai di gerbang sekolah beberapa hari yang lalu.
''De, bukannya itu orang yang pernah ketemu sama kita di gerbang ya?''
''Sepertinya iya'' ujar Dea.
''Aku merasa agak risih setiap ketemu orang itu De,aku merasa dia punya niat buruk buat kita. Oh iya, aku mau nanya tapi kamu jawab yang jujur De''
''Ok nanya apa?''
''Sebenarnya siapa yang nabrak kamu waktu itu De?''
''Emangnya kenapa Ma?''
''Aku kesal De, rasanya aku belum puas kalau tangan ku ini belum kena sama dia, pengen aku gebukin sampai babak belur tahu ngak''
''Udah ngak usah di pikirin lagi, lagi pula orangnya sudah di penjara kan?''
''Iya sih, tapi rasanya belum puas aja kalau aku belum mukulin dia, seenaknya aja dia main tabrak kamu''
''Udah ngak apa-apa, lagian dia udah di hukum disana''
Setelah mereka tiba di rumah Dea, ketiganya makan siang kemudian mulai mengerjakan tugas sekolah mereka.
''Siapa sih datang-datang gangguin orang aja'' ujar Sukma kesal ketika sebuah kertas jatuh tepat di buku tugas yang ada di depan merska.
Saat menoleh ke arah dari mana lemparan kertas berasal mereka tak melihat siapapun disana. Dea meraih kertas itu yang ternyata di dalamnya ada sebuah batu, mungkin sebagai pemberat agar kertasnya dapat jatuh tepat di tempat yang di inginkan.
''Siapa sih usil banget'' ujar Dea ingin membuang kertas itu.
''Tunggu dulu De, koq sepertinya ada tulisan di kertas itu'' ujar Sukma mengambil kertas dari tangan Dea.
__ADS_1
''Masa sih, coba buka''
Sukma membuka kertas itu dan mereka terkejut saat membaca tulisan yang ada di sana.
(Jika tak ingin di ganggu, segera bebaskan Devina dan jauhi Marvel) itulah pesan yang tertulis di atas selembar kertas yang di lempar seseorang tadi.
''Siapa sih? Terus mau di bebaskan karena apa bu Devina? Emang siapa yang nyulik bu Devina?'' Tanya Sukma.
''Ngak tahu''
''Emang bu Devina kenpaa koq minta di bebaskan?''
''Mungkin bu Devina sedang di tahan.... tunggu dulu, jangan-jangan....'' ujar Gema melirik ke arah Dea.
''Jangan-jangan apa Gem?''Tanya Sukman ikut melirik ke arah Gema.
''Apa bu Devina yang di tahan De? Apa bu Devina yang udah nabrak kamu?'' Tanya Gema.
Dea hanya mengangguk dan membuat Gema serta Sukma tak bisa berkata-kata lagi.
Dea kembali melihat kertas yang ada di tangannya, ia penasaran siapa yang sudah melemparkan kertas itu. Ia yakin jika yang melemparnya adalah keluarga dari Devina atau mungkin orang terdekat Devia, mungkin sahabatnya.
''Kira-kira siapa yang melempar kertas ini ya?''
''Dea, minta kertasnya dong'' ujar Gema mengambil kertas dari tangan Dea, dengan segera ia memotretnya.
''Mau kamu apain Gem, koq di foto segala''
''Buat laporan sama pak Bos'' ujarnya santai sembari mengotak-atik ponselnya.
''B-bos?'' Beo Dea.
''Iya yayang kamu'' ujar Gema.
''Nih'' Gema menunjukkan isi percakapan di ponselnya. Ternyata ia mengirimkan foto kertas itu kepada Marvel.
''Iya, itukan sudah tugas aku. Lagi pula ini sudah termasuk ancaman De. Kami ngak mau kalau kamu kenapa-kenapa lagi'' ujar Gema.
''Benar tuh De, aku juga setuju sama Gema'' ujar Sukma.
''Ya udah terserah saja, aku hanya tidak mau pak Marvel terganggu disana''
''Ngak akan Dea, pasti pak Marvel akan tetap fokus, ya meski pikirannya pasti juga mikirin kamu disini''
''Ya udalah kalau gitu, ayo lanjutkan kerja tugasnya lagi''
Cukup lama mereka mengerjakan tugas karena banyak yang mereka kurang mengerti. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 5 sore, namun tugas yang mereka kerjakan belum selesai padahal harus di kumpulkan besok.
''Duh gimana nih? Tugas kita masih banyak yang belum selesai mana harus di kumpulkan besok lagi'' ujar Sukma.
''Ya udah kita lanjutkan nanti saja, sekarang kita istirahat dulu. Oh ya Ma, kamu nginep aja di sini biar kita bisa kerjain sama-sama nanti malam'' ujar Gema.
''Betul tuh, aku setuju sama Gema. Gimana Sukma?''
''Ehm, gimana ya? Masalahnya aku belum ijin sama mama''
''Kamu telpon aja mama kamu Sukma, nanti aku coba ngomong kalau misal ngak di ijinkan'' ujar Dea.
''Ok lah kalau begitu''
Sukma mulai menghubungi orang tuanya, beberapa kali panggilan belum di terhubung, akhirnya pada panggilan yang ke sekian kalinya berhasil tersambung.
''Halo mah''
''Halo sayang, kamu belum pulang?''
''Belum mah tugas aku masih banyak, mana belum selesai semua dikerjakan''
__ADS_1
''Terus kamu mau pulang jam berapa nak?''
''Aku ngak tahu mah. Mah aku boleh ngak nginap di rumah Dea?''
''Nginap?''
''Iya mah. Aku mau ngerjain tugas bareng Dea dan Gema''
''Boleh-boleh aja sih, tapi seragam kamu sama buku-buku buat besok gimana?''
''Oh iya, aku lupa''
''Nanti aku kabari lagi ya mah, kalau tugasnya udah selesai, ngak apa-apa aku pulangnya malam kan mah?''
''Iya sayang, nanti mang Didit yang jemput''
''Ok mamah sayang''
''Belajar yang rajin ya sayang salam sama Dea dan Gema''
''Iya mah, Sukma tutup ya''
''Iya sayang''
Setelah panggilan terputus Sukma menatap kedua sahabatnya.
''Gimana Ma, boleh kamu nginap?''
''Boleh aja De, tapi kan aku ngak punya seragam sama buku-buku buat besok''
''Oh iya, koq aku ngak kepikiran ya'' ujar Dea menepuk jidatnya.
''Kamu kan cuma mikirin pak Marvel aja'' ujar Sukma yang mulai terus menggoda Dea.
''Apa sih Ma, oh iya kalau gitu kalian minum teh dulu ya aku mau nyari buku dulu'' ujar Dea meninggalkan Gema dan Sukma di pondok tempat mereka belajar tadi.
''Gem, kita telpon pak Marvel yuk'' ujar Sukma setelah mematiskan bahwa Dea benar-benar masuk ke dalam rumah.
''Ok'' Gema segera mencari nomor Marvel dan melakukan panggilan, tanpa menunggu lama panggilannya segera di jawab oleh Marvel.
''Halo Gem, bagaimana soal surat tadi?''
''Itu ada yang lempar ke pondok waktu kami belajar tadi pak''
''Siapa Gem?''
''Ngak tahu pak, tadi kami ngak liat siapa-siapa''
''Oh gitu, kalian hati-hati ya disitu, oh iya kertasnya jangan di buang nanti aku akan minta Ronald buat ngambil kertas itu, biar dia yang cari tahu siapa yang ngirim surat itu''
''Baik pak''
''Oh iya Dea mana?''
''Dea lagi kedalam rumah ngambil buku pak''
''Oh gitu, jadi kamu sama siapa?''
''Sama Sukma pak''
''Oh gitu, oh iya mungkin besok bapak sudah pulang karena kegiatan disini sudah selesai, tapi kamu jangan kasih tahu Dea dulu ya''
''Baik pak, kalau begitu saya tutup duku ya pak ada Dea''
''Ok, makasih ya Gema, Sukma''
''Iya pak sama-sama''
__ADS_1