
Pak Dodi suami bu Weni datang ke rumah nek Diah dengan terburu-buru, bahkan ia hanya mengenakan baju dalam dan celana kolor. Ia begitu khawatir saat anaknya mengatakan padanya jika sang istri babak belur karena di pukuli oleh teman Dea.
''Loh, koq banyak orang?'' Gumam pak Dodi memasuki ruang tamu di rumahh nek Diah.
''Eh, pak Dodi'' ujar bu Mira.
''Loh, istri saya kenapa koq tangannya di ikat? Kenapa pula mukanya babak belur begitu?'' Ujar pak Dodi yang khawatir terhadap keadaan sang istri.
''Silahkan duduk dulu pak Dodi biar saya yang jelaskan'' ujar pak rt.
Pak Dodi duduk di samping pak rt, ia memilih mendengarkan apa yang akan di katakan oleh pak rt.
''Ada apa pak rt? Kenapa istri saya bisa seperti ini?''
''Maaf sebelumnya pak Dodi, apa pak Dodi tahu jika istri bapak masuk ke rumah Dea jam 2 subuh?''
''Hah?? Jam 2 subuh pak rt?''
''Iya pak Dodi, istri bapak dan seorang lagi yang kami tak kenali mencoba untuk menculik Dea'' ujar pak rt.
''Tapi bagaimana mungkin pak, ketika saya bangun jam 1 dini hari, istri saya sudah lelap tidurnya pak''
''Jika istri pak Dodi sedang tidur lalu siapa yang datang ke rumah nek Diah. Maaf sebelumnya pak Dodi, mungkin bapak sudah di bohongi oleh istri bapak. Apa bapak kenal dengan pria ini?'' Tanya pak rt membuka topeng orang yang bersama bu Weni.
''Itu ponakan istri saya pak, namanya Dimas, semalam memang dia ijin untuk bermalam di rumah saya karena motornya sedang rusak'' ujar pak Dodi sambil mencoba membangunkan pria itu.
''Sebenarnya apa yang terjadi pak?'' Tanya pak Dodi.
''Biar nak Gema saja yang cerita pak, karena dialah yang tahu bagaimana kejadiannya''
''Nak Gema, ayo katakan apa yang terjadi, bapak tidak akan marah meski kamu yang sudah memukil istri saya''
''Maaf kan Gema pak, Gema tidak tahu kalau itu istri pak Dodi. Saya dan Sukma hanya mencoba menolong Dea dari orang-orang yang berniat jahat padanya. Waktu saya bangun buat buang air tak sengaja saya liat ada dua orang yang masuk ke rumah dan....'' Gema menceritakan semua yang terjadi tanpa ada yang ia tutup-tutupi.
''Maafkan saya pak, saya sudah memukul istri bapak, saya hanya mencoba untuk menyelamatkan Dea'' ujar Gema setelah ia selesai menceritakan apa yang terjadi.
''Tidak apa-apa nak Gema, saya tahu kamu hanya ingin menolong sahabatmu. Bapak juga akan melakukan hal yang sama jika ada di posisi kamu nak. Sekarang nak Dea dimana?''
''Dea ada di kamar pak, sama nenek dan Sukma. Sepertinya ia masih syok pak''
''Baiklah kalau negitu saya tidak akan menghalangi apapun yang akan kalian lakukan pada istri saya. Dia memang bersalah dan saya tidak akan membelanya meski dia istri saya. Apa kalian sudah lapor polisi?''
''Sudah pak, mungkin sebentar lagi mereka sampak kesini'' ujar Gema.
''Syukurlah kalau begitu, semoga saja semuanya cepat selesai. Saya akan pulang, saya mohon jangan katakan pada istri saya jika saya sudah tahu semuanya, saya tidak ingin dia berulah lagi. Semuanya saya serahkan pada pak rt dan petugas polisi nanti''
''Baik pak Dodi''
Pak Dodi pulang ke rumah dengan perasaan sedih bercampur malu, ia tak pernah membayangkan istrinya mampu melakukan hal seperti itu.
Tepat pukul 4 subuh, terdengar suara serine mobil polisi memasuki halaman rumah nek Diah. Bu Weni dan seorang lainnya berusaha dibangunkan, karena sampai saat ini mereka belum sadarkan diri.
Dea segera keluar dari kamar begitu mendengar suara serine mobil polisi, kali ini dia benar-benar merasa telah lega karena polisi sudah datang. Ia belum tahu jika yang mencoba untuk menculiknya adalah bu Weni.
Pak rt mempersilahakan tiga orang petugas polisi untuk masuk dan memborgol bu Weni dan Dimas. Ketiga petugas polisi itu terkejut melihat keadaan bu Weni yang sudah babak belur.
''Apa yang terjadi?'' ujar seorang petugas polisi melihat keadaan bu Weni.
__ADS_1
''Silahkan duduk pak, nanti korban yang akan menjelaskan kejadian rincinya''
''Nak Gema tolong panggilkan Dea''
''Baik pak'' ujar Gema segera bangkit berdiri dan menuju ke kamar Dea, namun sebelum sampai disana Dea sudah keluar terlebih dahulu dari dalam kamarnya.
''Bu-bu Weni'' ujar Dea terkejut kala melihat bu Weni terbaring di atas kursi dalam keadaan babak belur dan tak sadarkan diri.
''Dea, duduk nak'' ujar pak rt.
Dea mengambil tempat duduk di samping istri pak rt, ia masih merasa syok melihat bu Weni.
''Apa nak Dea punya masalah dengan bu Weni?'' Tanya pak rt.
''Tidak ada pak rt, seingat saya, saya tidak punya masalah dengan bu Weni''
''Kalau dengan pria yang ada di samping bu Weni, apa nak Dea kenal?''
''Tidak pak, tapi beberapa kali kami berpapasan di jalan'' ujar Dea.
''Mohon maaf pak rt, saya ada sesuatu yang mau saya tunjukkan mungkin ini penyebab bu Weni benci sama Dea'' ujar bi Tina mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya.
''Itu apa bi?'' Tnya Dea.
''Ini rekaman yang bibi ambil saat Lastri menginap di ruumah kita De'' ujar bi Tina mulai memutar rekaman itu.
Semua yang ada di sana terkejut mendengar pembicaaran antara bu Weni dan Lastri yang sempat di rekam oleh bi Tina saat itu.
''Jadi intinya bu Weni itu ingin balas dendam sama Dea pak, karena keinginanaya untuk menjodohkan Chelsy dengan pak Marvel gagal karena pak Marvel sudah bertunangna dengan Dea'' ujar bi Tina.
''Benar pak rt, saya dan ibu-ibu yang ada waktu acara lamaran Dea bisa jadi saksi kalau bu Weni itu benci sama Dea karena gagal menjodohkan Chelsy Dengan pak Marvel'' ujar bu Mira dan di angguki oleh ibu-ibu yang ada disana.
''Baiklah kalau begitu, silahkan pak polisi keduanya di bawa nanti saya dan suami pelaku akan ikut ke kantor polisi'' ujar pak rt setelah memasukkan bu Weni dan Dimas ke dalam mobil polisi dibantu oleh warga yang ada di sana.
''Baiklah tetimakasih atas bantuannya pak'' ujar seorang petugas polisi sebelum menjalankan mobilnya meninggalakan halaman rumah Dea.
Setelah mobil polisi berlalu Dea kembali ke dalam rumah, kali ini perasaannya sudah mulai lega karena bu Weni dan Dimas sudah di bawa ke kantor polisi. Rekaman pembicaraan antara Lastri dan bu Weni juga di bawa oleh petugas polisi.
Dea dan semua penghuni rumah tak ada yang tertidur sampai pagi menjelang, mereka menyibukkan diri dengan menyiapkan sarapan.
''De, maaf ya aku belum bisa jaga kalian semua'' ujar Gema.
''Jangan seperti itu Gem, kamu dan Sukma udah selamatkan aku dari bu Weni dan Dimas. Jika kalian tidak ada, aku tidak tahu nasib ku akan seperti apa''
Gema terdiam mendengar ucapan Dea, ia merasa bersalah karena Dea hampir saja di culik.
''Gem'' ujar Dea.
''Iya, ada apa De?''
''Jangan kasi tahu ini sama pak Marvel ya''
''Ehm, i-itu...''
''Kamu udah kaish tahu Gem?''
''I-iya hehehe'' ujar Gema.
__ADS_1
''Emang kenapa kalau pak Marvel tahu De?''
''Ya, aku ngak mau aja kalau pak Marvel disana kepikiran dan tak fokus pada kegiatannya''
Gema tersenyum mendengar ucapan Dea, sedangkan Dea merasa aneh dengan senyuman Gema.
''Gem, aku mau ngomong tapi kamu jangan ketawa ya''
''Iya ngomong apa?''
''Hy semua'' ujar Sukma ikut bergabung dengan Gema dan Dea yang berada di ruang makan.
''Hy Ma'' ujar Gema.
''De itu...'' ujar Sukma terhenti kala melihat isyarat tangan dari Gema yang menyuruhnya untuk Diam.
''Itu apa Ma?''
''Ngak apa-apa, aku lupa mau ngomong apa''
''Oh hehe, ayo kita sarapan'' uajr Dea mulai menyendokkan nasi kepiringnya di ikuti oleh Gema dan Sukma.
''De, kami udah bilang sama pak Marvel soal kejadian tadi'' ujar Sukma.
Dea menghela nafas kasar kemudian menatap Sukma.
''Ngak apa-apa, sebenarnya aku tak mau jika pak Marvel tahu, aku takut kalau dia kepikiran''
''Tapi Dia harus tahu De, biar bagaimanapun dia sudah jadi suami kamu secara adat''
''Iya sih, udah ah kita sarapan setelah itu kita berangkat'' ujar Dea mulai menyuap makanannya tapi tiba-tiba berhenti karena ia merasa mencium wangi parfum milik Marvel.
'Apa aku kangen ya sama pak Marvel? Koq aku ngerasain ada wangi parfumnya' batin Dea.
''Ada apa De?''
''Ngak apa-apa. Aku hanya merasa aku mencium bau parfum pak Marvel, pasti gara-gara kita bicarain pak Marvel terus dari tadi''
''Itu pasti karena kamu kangen sama pak Marvel''
''Hah? En-ngak koq. Emang kalian ngk nyium wanginya?'' Ujar Dea mulai kembali memakan makanannya.
''Ngak tuh, ia kan Ma?''
''Ho'oh''
''Masa sih? Tapi aku ngk kangen koq bener deh''
''Hahaha, ngak usah malu-malu De, kita tahu koq kamu kangen sama pak Marvel''
''Benar, aku ngak kangen koq'' ujar Dea yang tak berani menatap kedua sahabatnya ia pasti akan ketahuan berbohong jika ia berbicara sambil menatap sahabatnya.
''Tuh, pipi kamu aja udah merah gitu''
''Apa sih, tuh wangi parfumnya makin terasa. Udah ah berenti ngomongin pak Marvel, nanti dia tersedak air liurnya kalau kita omongin terus'' ujar Dea mulai menghirup udara di sekitarnya sambil menutup mata. Ia benar-benar merindukan Marvel.
Sukma dan Gema tersenyum melihat tingkah Dea, terlebih karena Marvel kini berada tepat di samping Dea. Ia menatap Dea dengan penuh cinta sementara Dea tak menyadarinya sama sekali.
__ADS_1