
Setelah merasa aman bi Tina menghampiri Dea yang ada di kebun.
''Sudah De?'' Tanya bi Tina.
''Belum bi, tadi bu Tiwi datang kesini mesan sayur sama cabe''
''Oh gitu, kalau untuk di kios sudah ada?''
''Sudah bi yang di keranjang biru''
''Bibi bawa dulu ya ke kios nanti bibi bantu kamu disini''
''Iya bi''
''Loh ibu juga ada disini?'' Tanya bi Tina melihat bu Valencia juga berada di kebun.
''Iya, saya suka di kebun'' ujarnya.
Bi Tina tersenyum kemudian mengangkat keranjang sayur, ''saya ke kios dulu bu'' ujarnya.
Bu Valencia tersenyum menanggapi ucapan bi Tina, ia melanjutkan kegiatannya mencabut sayur kangkung.
Marvel masih sibuk membantu Dea memetik cabe, bu Valencia tersenyum melihat anak dan menantunya yang terlihat akur.
'Semoga kalian benar-benar berjodoh' doanya dalam hati.
Setelah merasa jika cabe yang mereka petik sudah cukup, Dea segera mengikat sayur yang sudah di petik oleh bu Valencia.
''Sudah selesai sayang?''
''Ia mah, mama istirahat saja dulu pasti mama capek''
''Mama ngak capek sayang, justru mama sangat senang bisa ikut membantu kamu''
''Baik mah, tapi kalau capek mama istirahat ya''
''Iya sayang''
Dea mengikat sayur dengan cekatan, bu Valencia sampai terkesima melihatnya. Wanita sederhana yang di pilih oleh anaknya untuk menjadi pendampingnya ternyata wanita yang sangat sabar dan tak pernah mengeluh.
Setelah cukup lama mereka berkutat di kebun, akhirnya sayur pesanan bu Tiwi siap juga. Dea dan Marvel membawanya ke rumah bu Tiwi.
''Bu Tiwi'' panggil Dea setelah mengetuk pintu rumah bu Tiwi yang terbuka tapi tak ada orang terlihat.
''Iya sebentar'' suara seseorang dari dalam sana.
''Eh neng Dea, pak Marvel. Silahkan masuk neng, pak Marvel, silahkan duduk, saya panggilkan anak saya dulu''
''Kami duduk disini saja bu, kami habis dari kebun''
''Ngak apa-apa pak masuk saja''
''Terimakasih bu kami disini saja''
Dea dan Marvel akhirnya duduk di kursi yang berada di teras rumah bu Tiwi.
''Baiklah saya panggilakan Winda dulu''
Winda adalah nama dari anak bu Tiwi yang memesan sayuran pada Dea.
''Dea, gimana sudah siap semua?'' Tanya Winda.
''Sudah kak Winda, ini ada kangkung 25 ikat, sawi 25 ikat dan cabenya 5 kilogram kak''
''Loh sayurnya koq banyak De, kakak cuma pesan 20 ikat loh masing-masing''
''Iya kak Dea tahu, tapi Dea sengaja lebihin siapa tahu kurang nanti hehehe''
''Jangan sampai kamu rugi De''
''Ngak kak aku ngak akan rugi karena memberikan lebih''
''Terimakasih Dea, oh iya ini uangnya. Hitung dulu De siapa tahu kurang''
__ADS_1
''Ngak perlu kak, aku percaya sama kakak''
''Bisa tolong naikkan di mobil itu De'' tunjuk Winda ke mobil yang berada di samping rumahnya.
''Ok kak'' Dea dan Marvel menaikkan sayuran ke atas mobil kemudian pamit pada bu Tiwi dan Winda.
''Kami pamit dulu bu, kak Winda''
''Iya neng makasih ya''
''Makasih ya De''
''Sama-sama bu, kak Winda''
Dea dan Marvel kemudian bergegas untuk pulang, mereka akan bersih-bersih.
''Bapak mandilah lebih dahulu aku akan menyiapkan sarapan buat bapak dan mama''
''Baiklah sayang''
Sebelum menyiapkan sarapan Dea terlebih dahulu menyiapkan pakaian ganti untuk Marvel.
Setelah pakaian untuk Marvel sudah siap, dia segera segera menuju ke ruang makan dan menata sarapan untuk Marvel dan bu Valencia.
''Aku akan mandi setelah pak Marvel selesai mandi'' ujarnya sambil menata makanan di atas meja.
''Aku ke kamar dulu ambil pakaian ganti'' Dea berjalan ke kamarnya dengan santai, ia tak melihat jika pintu kamar mandi sudah terbuka.
Dengan santai ia masuk ke kamar dan tak menyadari keberadaan Marvel disana yang sedang berpakaian.
''Aaaaa''' teriaknya kala melihat Marvel yang akan memakai celananya. Dengan sigap ia menutup matanya dengan kedua tangan.
Marvel kembali menutup mulut Dea, sambil memeluknya, ''Diam sayang nanti orang-orang dengar, dikiranya kita lagi ngapa-ngapain'' ujar Marvel dan Dea mengangguk.
''Kamu mau ngapain ke sini, mau makein aku baju ya'' goda Marvel.
''Eh, ng-ngak aku mau ngambil baju ganti pak. Aku kira bapak masih di kamar mandi''
''I-iya pak habis ini bapak panggil mama buat sarapan''
''Iya sayang''
Dea terus menutup matanya karena handuk yang tadi Marvel pakai telah lepas dari badannya.
''Pak, bapak pake handuk lagi sana'' ujar Dea dengan tetap menutup matanya, ia yakin jika Marvel masih berdiri di depannya karena ia masih bisa merasakan hembusan nafas Marvel di wajahnya.
''Aku ngak mau sayang'' Marvel kembali menggoda Dea. Ia mengambil handuknya dari bawah lantai dan kembali melilitkannya di pinggangnya.
''Saya mau ambil baju pak, bapak pake lagi handuknya atau pake bajunya''
''Ambil saja baju kamu, ngak apa-apa koq''
''Bapak pake baju dulu'' ujar Dea masih menutup matanya.
''Aku ngak mau'' ujar Marvel yang sedang memakai bajunya diam-diam.
''Lagian kalau kamu lihat juga ngak apa-apa''
''Udah pak cepat pakai baju'' ujar Dea kesal karena terus di goda oleh Marvel.
''Iya sayang, sudah aku pake nih, sekarang kamu buka mata''
''Ngak bapak bohong, dari tadi bapak di depan aku koq''
''Aku ngak bohong sayang''
''Aku ngak percaya''
Marvel mendekat dan memeluk Dea, ''nah sekarang percaya kan kalau aku sudah pake baju''
''I-iya pak'' ujar Dea membuka matanya dengan pipi yang memerah karena di tatap oleh Marvel seperti itu.
''Sekarang kamu ambil baju kamu'' ujar Marvel melepaskan pelukannya pada Dea.
__ADS_1
''I-iya pak''
Dea berjalan menuju ke arah lemari bajunya dan mengambil pakaian sederhana yang biasa ia gunakan. Kaos kebesaran dan celana panjang, pakaian kesukaan Dea saat di rumah.
Setelah mandi Dea segera menuju ke ruang makan menemui Marvel dan bu Valencia.
''Loh koq ngak ada? Kemana pak Marvel dan mama?''
Dea melihat jika makanan yang ada di meja belum di sentuh sama sekali. Ia mencari bu Valencia dan Marvel hingga ke depan tapi ia tak menemukannya.
''Kemana ya mereka?''
''Sudah mandi sayang?''
''Sudah mah, mama dari mana?''
''Mama dari jalan-jalan di depan sayang''
''Ayo kita sarapan dulu mah''
''Ayo sayang'' ujar Marvel.
''Aku panggil mama bukan bapak''
''Biarin''
Marvel berjalan memdahului ibunya dan Dea, sedangkan Dea memanyunkan bibirnya, bu Valencia hanya tersenyum melihat tingkah keduanya.
''Ayo mah'' Dea menggandeng tangan sang mertua masuk ke ruang makan.
Marvel sudah duduk di tempat ia selalu duduk saat makan di rumah Dea.
Mereka mulai makan bertiga, dengan di selingi oleh canda tawa mereka menikmati sarapan pagi ini. Mereka hanya makan bertiga karena nek Diah dan bi Tina sudah sarapan tadi.
''Mama sudah mau pulang sayang, kasian papa kalau pulang ngak ada orang di rumah. Kamu mau pulang juga atau masih mau disini?'' Tanya bu Valencia pada Marvel saat keduanya duduk di samping kios nek Diah.
''Marvel juga mau pulang mah, baju Marvel ngak ada buat ganti''
''Ya udah bareng mama aja, motor kamu biar disini aja biar di pake sama Dea''
''Dea ngak bisa bawa motor mah'' ujar Dea kemudian tertawa.
''Yang benar sayang? Terus kalau kamu jualan sayur pake apa?''
''Dea naik sepeda mah'' ujar Dea menunjuk sepeda yang terparkir di samping rumah.
''Oh gitu''
''Iya mah, pak Marvel pake aja motornya pulang kalau disini juga ngak ada yang pake malah rusak nanti''
''Baiklah, aku ambil tas ku dulu ya mah''
''Iya sayang''
Marvel mulai menyalakan mesin motornya setelah mengambil tasnya di kamar Dea, sedangkan bu Valencia juga naik ke mobilnya.
''Hati-hati di jalan mah''
''Iya sayang, terimakasih. Bu Diah, bi Tina saya pamit'' ujar bu Valencia mulai melajukan kendaraannya.
''Saya juga pamit nek, bibi, Dea'' ujar Marvel.
''Iya nak hati-hati''
''Hati-hati pak''
Dea melambaikan tangannya membalas lambaian tangan bu Valencia.
Setelah mobil bu Valencia tak terlihat lagi, ada sebuah mobil pickup yang datang dengan mengangkut bahan pokok di bagian belakangnya.
''Itu mobil siapa?'' Tanya Nek Diah.
''Ngak tahu nek'' jawab Dea.
__ADS_1