MELODY CINTA DEA DAN MARVEL

MELODY CINTA DEA DAN MARVEL
AYAH GILANG (POV AUTHOR)


__ADS_3

Semenjak kejadian Ana di tampar oleh bu Tari, bu Tari tak pernah lagi menampakkan diri di rumah Dea. Ia yang biasanya datang paling awal untuk berbelanja, kini tak pernah lagi tampak batang hidungnya. Kejadian yang di alami Ana saat itu, Dea laporkan pada rt setempat sehingga bu Tari tak pernah lagi mau berbelanja di tempat Dea.


''Pagi kak'' ujar Ana yang kini sudah duduk di depan teras rumah Dea. Ia telah selesai membersihkan meja dan juga menata kursi untuk pelanggan mereka.


Warung makan milik Dea kini sudah ia buatkan tenda kecil di depan rumahnya sebab pelanggannya kian hari kian banyak bahkan jika saat makan siang tiba akan ada banyak orang yang mengantri untuk makan di tempatnya.


''Pagi dek, kamu pagi sekali datangnya''


''Iya kak, habis Hansen dan Yosen lagi ngak di rumah kak, semalam nenek datang jemput mereka, mumpung lagi libur jadi mereka semua ke rumah nenek''


''Oh gitu, jadi kamu sendrian di rumah?''


''Iya kak''


''Beberapa hari Hans dan Yos di rumah nenek?''


''Mungkin sekitar semingguan kak, kenapa?''


''Kamu bermalam disini saja sama kakak, dari pada kamu di rumah sendirian kalau malam''


''Baiklah kak'' ujar Ana setelah nerpikir beberapa saat.


''Ya udah, ayo masuk. Kamu sarapan dulu ya setelah itu baru kita siapin jualan di depan''


''Ok kak'' ujar Ana mengambil piring kemudian mengambil nasi dan lauk pauk sebagai menu sarapannya.


Dea masuk ke kamar melihat keadaan Sion yang kian hari kian aktif bergerak sehingga Dea harus selalu mengawasinya.


''Duh anak mama anteng mainnya tahu aja mama sama kakak lagi sibuk'' ujar Dea membelai rambut sang anak yang kini sedang duduk sembari memainkan boneka beruang.


Sion kini berusia 8 bulan dan sudah bisa duduk dengan baik, ia juga sudah tidak bisa diam di tempatnya jadi Dea membuat satu ruangan khusus untuk tempat Sion bermain.


Dea segera membereskan mainan Sion kemudian membawa Sion ke kamar mandi untuk diimandikan.

__ADS_1


"Halo sayangnya kakak" ujar Ana.


"Halo juga kakak Ana" ujar Dea dengan suara seperti anak-anak membuat Ana yang sedang makan tertawa.


Setelah makan Ana segera menuju ke teras untuk melayani pembeli yang sudah mulai ramai berdatangan. Dea juga ikut melayani pembeli setelah memandikan Sion dan memberinya makan.


"Kak Dea, sayurnya masih ada ngak?"


"Masih dek, apa sudah habis yang di panci?"


"Iya kak"


"Kamu ambil aja di dalam dek, ada di meja makan"


Ana bergegas masuk ke dalam rumah dan mengambil panci berisi sayuran, saat akan kembali ke teras ia melihat sebuah bayangan di kebun belakang rumah Dea.


"Ada apa dek?" Tanya Dea menghampiri Ana yang berdiri di depan pintu dapur.


"Eh, kak Dea. Tadi aku lihat seperti bayangan orang di kebun kak, coba kakak periksa"


"Oh gitu kak, aku sampai kaget karena ada bayangan di kebun hehehehe" ujar Ana kemudian bergegas membawa panci sayur ke teras dan kembali melayani pembeli.


*


Di kediamam keluarga Hamington, kini sedang terjadi perdebatan yang sangat panas. Rey dan Sofi sedang bertengkar hebat, mereka bahkan tak peduli pada bayi yang sedang menangis mendengar suara teriakan mereka.


"Rey, Sofi, apa yamg kalian lakukan?" Ujar bu Wayna menghampiri keduanya yang sedang beradu mulut.


"Ini mah, Sofi bilang dia mau pisah sama aku mah" ujar Rey membuat sang ibu terkejut.


"Apa itu benar nak?" Tanya bu Wayna lembut.


"Benar sekali bu, aku sudah muak hidup dengan anakmu yang sebentar lagi akan bangkrut itu, apa yang bisa aku dapatkan jika dia sudah bangkrut" ujar Sofi menunjuk tepat di depan wajah Rey membuat Rey tersulut emosi.

__ADS_1


"Maksud kamu apa Sofi?"


"Maksud aku sudah jelas kan, aku mau cerai sama kamu, apa yang aku harapakan lagi jika kamu nanti jatuh miskin. Aku tahu perusahaan kamu sedang bermasalah sekarang dan tidak lama lagi akan bangkrut. Aku tidak mau hidup kekurangan bersama anak ku, lagi pula ayahnya akan mengurus kami dengan baik" ujar Sofi enteng.


"Apa maksud kamu Sofi, ayahnya siapa?"


"Tentu saja ayahnya Gilang, apa kau pikir kau adalah ayahnya? Jangan bodoh Rey, kau bukanlah ayah biologis Gilang, dia anakku dan Hendra dan perlu kau tahu juga saat melahirkan Gilang usia kandungan ku bukanlah kurang bulan memang sudah cukup bulan yang berarti dia bukanlah anakmu Rey" ujar Sofi membuat Rey terdiam tak bisa berkata-kata lagi.


Ia masih berdiri dengan kaku di tempatnya mencerna setiap kata yang baru saja keluar dari mulut istrinya tanpa menyadari jika sang istri sudah berjalan ke luar rumah sembari menggendong sang anak kemudian memasuki sebuah mobil yang sudah terparkir di halaman rumah.


"Rey, Rey, istri kamu sudah pergi" ujar sang ibu mengingatkan Rey yang masih diam membeku namun tak ada tanggapan dari Rey.


Beberapa kali sang ibu menggoyang-goyangkan badannya barulah ia menyadari apa yang sedang terjadi, namun semuanya sudah terlambat, kini sang istri sudah pergi bersama seorang laki-laki.


"Mana Sofi dan Gilang mah?"


"Mereka sudah pergi Rey'' ujar bu Wayna yang membuat Rey segera berlari ke luar rumah namun ia tak menemukan lagi keberadaan sang istri.


''Sial kemana Regina membawa Gilang!!'' Ujar Rey kesal, ia meninju tiang lampu taman yang berada di sebelahnya.


Bu Wayna menghampiri sang anak kemudian memeluknya, ia tahu jika sang anak pasti sangat kacau saat ini. Rey berbalik dan memeluk sang ibu, ia merasa jika saat ini ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan saat ini untuk membawa kembali anak dan istrinya.


''Bu, Sofi bu'' rengek Rey pada sang ibu.


''Iya nak, kita masuk dulu kita obati tangan kamu'' ujar bu wayna melihat tangan putranya terluka tertusuk hiasan tiang lampu yang sudah agak rusak.


Untuk saat ini Rey hanya bisa menuruti apa kata sang ibu sebab ia juga tidak tahu harus apa sekarang pikirannya buntu.


Rey tak menyangka wanita yang selama ini selalu ia bela di hadapan semua orang bahkan ia juga berani melawan ibunya hanya demi Sofi, namun apa yang ia dapatkan sekarang, Sofi meninggalkannya hanya karena mendengar kabar jika perusahaannya sedang bermasalah.


Sungguh Rey tak bisa berpikir jernih untuk saat ini, rasanya ia begitu kesal namun tidak tahu pada siapa ia akan melampiaskan kekesalanya. Dulu saat Dea masih tinggal bersamanya, ia akan melampiaskan kekesalannya dengan memaki-maki Dea.


Entah kenapa saat ini Rey tiba-tiba teringat akan Dea, padahal selama ini sejak kepergian Dea ia tak mengingatnya sedikitpun bahkan terkesan jika Dea tidak pernah hadir dalam hidupnya.

__ADS_1


"Setelah ini kita cari Sofi dan Gilang nak''


''Iya mah'' ujar Rey.


__ADS_2