MELODY CINTA DEA DAN MARVEL

MELODY CINTA DEA DAN MARVEL
MELEPASKAN REGINA (POV AUTHOR)


__ADS_3

Setelah prosesi pemakaman Semesta selesai di laksanakan, semua orang kembali lagi ke rumah sakit. Semuanya kini sedang duduk di dalam ruang rawat Regina menunggu Regina sadar kembali.


Semua orang ingin mendengar langsung dari Regina apa yang ia inginkan dan juga mereka ingin agar Regina jujur dengan semua yang terjadi.


"Jadi pak Rudi, sudah berapa lama menikah dengan Regina?" Tanya bu Valencia.


"Sudah sekitar 5 tahun, namun kami belum menikah secara negara sebab Regina mengatakan jika kami harus mengadakan acara resepsi yang mewah, sedangkan aku belum mampu untuk memenuhinya"


Bu Valencia dan Imelda hanya geleng-grleng kepala mendengar ucapan Rudi, ia tak menyangka jika menantunya ternyata sudah memiliki anak dan suami.


''Jadi bagimana pak Marvel, apa pernikahan nak Rudi dan Regina harus kami putuskan?'' ujar ayah Regina.


''Tidak pak, saya yang akan memutuskan hubungan kami'' ujar Marvel membuat semua orang menoleh ke arahnya.


''Nak'' ujar bu Valencia.


''Maaf sebelumnya pak, sebenarnya saya dan Regina menikah sebab.......'' Marvel menceritakam semua yang terjadi, bagaimana awalnya sehingga ia bisa menikah dengan Regina dan apa saja yang sudah mereka lalui selama kurang lebih setahun berumah tangga.


''Maafkan saya pak, jika sikap saya pada Regina kurang berkenan. Maaf juga sebab saya harus melepaskan putri bapak, saya tidak akan sanggup jika harus kembali membina rumah tangga bersamanya setelah semua yang terjadi'' ujar Marvel meminta maaf pada ayah Regina.


''Tidak nak, kamu tidak bersalah. Ini semua kesalahan bapak sebab bapak tidak bisa mendidik istri dan anak bapak dengan baik sehingga merugikan kalian semua. Nak Rudi bagaimana keputusan kamu nak? Apa kamu juga akan melepaskan Regina?''


''Jika pak Marvel melepaskannya aku akan menerimanya kembali pak, meski ia sudah menorehkan banyak luka di hatiku tapi aku tetap mencintainya pak. Selain itu kami juga punya anak yang harus kami besarkan bersama-sama, aku tidak ingin anak ku tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu'' ujar Rudi.


''Baiklah nak, saya akan menunggu pak Marvel mengurus surat cerai. Apa boleh bapak yang menjaga putri bapak di rumah sakit?''


''Tentu saja pak, oh iya untuk biaya rumah sakit bapak tak perlu risau, semuanya saya yang akan menanggung biayanya sampai Regina sehat kembali.''


''Terimakasih nak''


''Sama-sama pak, kalau begitu kami permisi, jika Regina sudah sadarkan diri tolong sampaikan jika kami semua sudah pulang''


''Iya nak, terimakasih''


Marvel sekeluarga pulang ke rumah mereka yang berada di kota itu, mereka semua pulang dengan perasaan yang sangat sedih dan juga marah, namun mereka juga sangat kesal dan geram atas apa yang sudah Regina lakukan.


Setelah tiba di rumah, bu Valencia, Josep, Imelda dan juga Marvel masuk ke kamar masing-masjng untuk beristirahat.


Mia, asisten rumah tangga di rumah itu terkejut melihat semua majikannya pulang dalam keadaan muka yang tertekuk, ia bahkan tak menyapa siapa-siapa seperti biasa.


''Loh koq semua udah pada pulang? Bukannya bu Regina melahirkan? Jadi siapa yang menjaga bu Regina di rumah sakit dan kenapa wajah nyonya dan tuan seperti sedih begitu? Pasti sesuatu sudah terjadi, nanti aku tanyakan pada si Budi'' Mia bermonolog dalam hati.


Setelah menyelesaikan tugasnya di dapur, ia segera menemui Budi yang sedang mencuci mobil.

__ADS_1


''Budi'' panggil Mia.


''Iya Mia, ada apa?''


''Tadi habis dari mana sama tuan dan nyonya, kenapa muka mereka terlihat sedih, siapa orang menjaga nyonya di rumah sakit, kenapa nyonya Regina dan anaknya tak ikut pulang?'' Tanya Mia membuat Budi geleng-geleng kepala.


''Kamu itu Mia, kebiasaan nanyak itu ya mbok satu-satu gitu, kalau gini gimana aku mau jawab''


''Hehehe maaf Budi, habis aku ikutan sedih liat ekspresi tuan dan nyonya. Sebenarnya ada apa sih?''


''Ceriyanya panjang Mia, tapi memang nyonya tuan sekarang sedang sedih. Ada masalah yang sedang terjadi sebaiknya kamu jangan bahas tentang nyonya Regina di hadapan mereka''


''Ok'' ujar Mia.


Ia mengerti jika masalah yang di hadapi oleh majikannya pasti berhubungan dengan Regina.


*


Hari kedua setelah melahirkan, Dea sudah di ijinkan pulang oleh dokter Renata sebab ia dan bayinya dalam kondisi baik.


''Jika ada keluhan bu Dea bisa hubungi saya atau langsung saja datang ke sini'' ujar dokter Renata.


''Baik dokter, terimakasih atas semuanya. Kami mohon pamit dan maaf jika saya merepotkan dokter dan juga bidan-bidan sekalian selama saya disini''


''Sama-sama bu, sudah tugas kami'' ujar dokter Renata.


20 menit berada di atas kendaraan akhirnya Dea tiba di rumah dengan selamat. Setelah membayar ongkos taksi, ia segera menggendong bayi mungilnya masuk ke dalam rumah.


''Cucu si mbok sudah pulang'' ujar mbok Namu menyambut kedatangan Dea dan anaknya.


''Kak Dea istirahat gih di kamar biar adek bayi sama aku'' ujar Jessy. Ia sangat antusias pada bayi kecil yang sedang di gendong oleh mbok Namu.


''Kamu mandi dulu nak, jangan pegang-pegang adek, habis dari dapur loh kamu, bau asep tau'' ujar mbok Namu membuat Jessy cemberut.


''Iya bu'' ujar Jessy menuju ke kamarnya mengambil pakaian ganti kemudian bergegas ke kamar mandi.


''Kamu juga istirahatlah nak, biar dedek sama mbok dulu. Nanti kalau dedeknya sudah mau nyusu baru mbok bangunkan kamu''


''Baik mbok'' ujar Dea sebab ia juga merasa sangat lelah.


Setelah mandi Jessy segera menemui sang ibu yang sedang berbaring di kamarnya bersama bayi Dea.


''Bu, jadi besok syukurannya?''

__ADS_1


''Jadi nak, kamu sudah siapkan semuanya kan?''


''Sudah bu, gantengnya adek kakak'' ujar Jessy menciumi pipi bayi mungil yang sedang tertidur lelap itu.


''Jangan di gangguin Jes, biar dia tidur jadi mamanya juga istirahat. Jangan kamu ganggui kakak kamu ya nak, dia pasti lelah sebab semalam dia tak ada yang menemani''


''Iya bu, ibu juga istirahat saja, jika ibu lelah aku akan menjaga dedek''


''Ibu ngak lelah nak, oh iya ingat jika ada yang mencari informasi tentang kakakmu jangan kasih tahu, kasian kakakmu sepertinya banyak orang yang sedang ingin mengganggunya''


''Iya bu. Kenapa orang baik seperti kak Dea ada saja yang benci dan suka mengganggunya ya bu''


''Begitulah nak, semakin kita berusaha menjadi orang baik maka semakin banyak juga orang yang membenci kita dan ingin menjatuhkan kita. Makanya jika nanti kamu sudah besar, jadilah seperti Dea nak''


''Ia bu, aku bangga bisa bertemu dengan kak Dea. Ia sangat tegar menghadapi semua cobaan yang menghampirinya''


Mbok Namu dan Jessy terus berbincang-bincang hingga tak terasa hari sudah mulai siang. Mbok Namu menitipkan bayi Dea pada Jessy sedangkan dirinya menuju ke dapur untuk membuatkan sup untuk Dea.


''Jes'' ujar Dea dari arah pintu kamar Jessy.


''Eh kakak, sudah baikan kak? Ngak pusing lagi?''


''Udah baikan koq dek, ibu mana?''


''Tadi katanya mau buatain sup buat kakak, mungkin ada di dapur kak'' ujar Jessy membuat Dea merasa tak enak pada mbok Namu.


''Aku cari ibu dulu ya''


''Iya kak, aku masih mau baring-baring sama dedek''


Dea menuju ke dapur mencari mbok Namu, ia melihat mbok Namu sedang memotong wortel dan kentang.


''Bu''


''Sudah baikan nak?''


''Iya bu, ibu mau masak apa?''


''Ibu mau buat sup kacang merah nak''


''Aku bantuin ya bu?''


''Ngak usah nak, kamu istirahat saja atau kamu jagain anakmu saja nak''

__ADS_1


''Aku sudah istirahat loh bu, lagian si dedek juga masih anteng tidurnya''


Dea dan mbok Namu mulai memasak sop kacang merah dan sekitar 1 jam kemudian masakan mereka sudah matang. Mbok Namu segera mendinginkan semangkok sop kacang untuk ia berikan kepada Dea yang sedang menyusui anaknya.


__ADS_2