
Setelah Marvel tak terlihat lagi, beberapa tetangga datang menghampiri Dea, mereka penasaran dengan laki-laki yang mengantar Dea pulang.
''Neng Dea, yang tadi siapa?'' Tanya bu Desi tetangga sebelah rumah Dea.
''Itu guru saya bu'' jawab Dea.
''Oh tak kira pacarnya neng Dea, karena sering saya liat datang antar neng Dea pulang''
''Bukan bu, tadi saya menemani pak Marvel ke kantor Dinas Pendidikan mengantar berkas bu, jadinya saya di antar pulang''
''Oh gitu neng, guru neng Dea itu masih jomblo atau sudah punya pacar? Kalau jomblo kenalin sama anak saya ya''
''Saya tidak tahu bu''
''Oh gitu neng, semoga dia berjodoh dengan anak saya''
''Kalau saya masih jomblo, saya pasti mau jadi istrinya'' ujar bu Devi salah satu ibu muda disitu yang mendapat sorakan mengejek dari ibu-ibu lain.
''Saya masuk dulu ya ibu-ibu saya mau ganti baju''
''Iya neng silahkan''
Dea masuk ke dalam rumah dan mengganti pakaiannya kemudian menuju ke dapur untuk membuat teh.
Ibu-ibu tetangga Dea yang berkumpul di luar rumah Dea, masih sibuk mengagumi ketampanan seorang Marvel.
''Guru Dea tadi sangat tampan mirip aktor-aktor drama korea'' ujar bu Devi.
''Iya, aku pikir tadi pacar neng Dea, karena sudah sering aku melihat Dea di antar gurunya itu'' ujar bu Mira.
''Apa iya bu, atau mungkin memang mereka pacaran? Ngak mungkin kan gurunya sering datang kalau mereka ngak ada hubungan apa-apa'' ujar bu Mira.
''Iya bu, pasti itu pacar neng Dea, tapi kalau memang benar usia keduanya pasti beda jauh''
''Cinta tak memandang usia bu'' ujar bu Weni.
''Betul'' ujar bu Devi mengiyakan ucapan bu Weni.
.
Pagi berikutnya Dea bangun pagi-pagi sekali, ia membantu neneknya memasak dan mencuci piring sebelum berangkat ke sekolah. Setelah semua pekerjaan selesai ia segera sarapan kemudian bersiap ke sekolah.
Ia berangkat lebih awal dari biasanya karena hari ini adalah tugas dia untuk bersih-bersih kelas.
''Pagi sekali kamu berangkat De?''
''Iya nek, aku tugas piket hari ini, kemarin aku lupa bersihkan kelas sebelum pulang''
''Hati-hati Dea''
''Iya nek, Dea pamit'' ujar Dea mencium pipi sang nenek kemudian segera berangkat ke sekolah.
Dengan tergesa-gesa ia berjalan ke sekolah, di tengah jalan ia di kagetkan dengan seseorang yang menepuk pundaknya.
''Hy De''
''Hy Gema, bikin kaget aja''
''Ngapain sih buru-buru amat''
''Iya Gem, hari ini aku kebagian tugas piket tapi kemarin aku lupa bersihkan kelas sebelum pulang''
''Oh gitu, ayo kalau gitu nanti aku bantu''
''Ok Gem''
Setibanya di sekolah Dea dibantu oleh Gema mulai membersihkan kelas. Setelah kurang lebih 20 menit akhirnya mereka selesai membersihkan seluruh ruang kelas.
''Capek banget Gem''
''Iya De, aku ke kelas ku dulu ya'' ujar Gema meraih tasnya.
''Iya makasih ya Gem''
''Sama-sama De'' Gema berjalan keluar dari kelas Dea menuju ke kelasnya.
__ADS_1
''Masih ada waktu 1 jam, aku istrahat dulu deh sebelum belajar'' ujar Dea melihat jam di pergelangan tangannya.
Dea menutup mata dan membaringkan kepalanya di atas meja dengan alas tasnya, lama kelamaan matanya terasa berat.
''Dea'' sayup-sayup Dea mendengar namanya di panggil.
Ia pikir ia sedang bermimpi namun suara orang yang memanggilnya terdengar lagi, ia mulai membuka mata dan seketika ia kaget saat melihat Marvel ada di sampingnya dan ia sedang di ruang klinik sekolah.
''Kamu sudah sadar? Nih minum dulu'' Marvel memberikan minum pada Dea.
''Terimakasih pak''
''Gimana perasaan kamu sekarang? Apa sudah lebih baik?''
''Iya pak, kenapa saya bisa ada disini pak?''
''Tadi saya liat kamu sama Gema bersih-bersih, waktu Gema balik ke kelasnya saya mau bawain kalian air minum tapi saat saya dan Gema tiba disana kamu sudah pingsan''
''Jadi siapa yang bawa saya kesini?''
''Karena panik saya langsung gendong kamu kesini'' ujar Marvel yang mampu membuat kedua pipi Dea memerah.
''Maaf pak, saya sudah merepotkan bapak''
''Tidak apa-apa Dea, saya senang di repotkan sama kamu, lagi pula saya harus mulai membiasakan diri belajar menggendong mu agar nanti ketika kita sudah nikah sudah tak kaku lagi'' Dea semakin tertunduk malu mendengar godaan sang guru.
''Giman Dea, apa sudah baikan?'' Tanya bu Ega, guru sekaligus dokter yang bertugas berjaga di klinik sekolah.
''Sudah lebih baik bu, saya kenapa bisa pingsan bu?''
''Sepertinya kamu sedang kurang sehat Dea, tadi demam kamu sangat tinggi untung pak Marvel cepat nemuin waktu kamu pingsan jadi bisa cepat ditangani, kalau ngak mungkin kamu di bawa ke rumah sakit buat di rawat karena demam tinggi''
''Terimakasih bu Ega sudah merawat saya''
''Sama-sama Dea, tapi bukan saya yang jagain kamu tapi pak Marvel, dia yang udah setia ngompres sama gosok tangan dan kaki kamu''
Dea melihat ke arah pak Marvel sembari tersenyum, ''Terimakasih pak'' ujarnya.
''Sama-sama Dea, saya ada kelas bu Ega, saya boleh titip Dea'' ujar Marvel melihat jam yang menempel di dinding.
''Iya pak, sudah tugas saya''
Setelah kepergian Marvel bu Ega segera menghampiri Dea.
''Apa kamu terlalu lelah akhir-akhir ini? Atau kamu banyak pikiran?'' Tanya bu Ega.
''Banyak pikiran mungkin tidak bu, hanya saja memang beberapa hari ini saya kurang istirahat''
''Kondisi kamu tadi sangat drop Dea, kamu harus lebih perhatikan kesehatan kamu mulai sekarang, jangan terlalu lelah''
''Iya bu terimakasih''
''Ibu mau tanya Dea, kamu ada hubungan ya sama pak Marvel?''
''Hubungan gimana maksudnya bu?''
''Ya hubungan antara pria dan wanita Dea, pacaran gitu maksud ibu''
''Hahahaha ibu ada-ada saja, aku tidak ada hubungan apa-apa dengan pak Marvel selain hubungan guru dan murid''
''Tapi ibu melihatnya berbeda Dea, ibu rasa pak Marvel itu suka sama kamu. Tadi waktu kamu pingsan dengan panik dia datang menggendong kamu, waktu ibu periksa kamu dia terlihat sangat cemas, bahkan saat kamu demam dia yang setia jagain kamu disini sampai kamu siuman''
''Pak Marvel memang baik bu, mungkin perlakuannya kesemua murid juga begitu bu''
''Tidak Dea ibu melihat ada yang berbeda, apa pun itu ibu akan mendukung kalian''
Saat jam istirahat tiba Darmi, Sukma dan Ega mengunjungi Dea yang masih berada di ruang klinik sekolah
''Hy De, gimana keadaan kamu?'' Tanya Darmi yang datang dari arah pintu bersama Gema dan Sukma.
''Aku baik''
''Siang bu, kita mau jenguk Dea'' ujar Sukma.
''Masuklah anak-anak, Dea jangan kemana-mana dulu nanti jam pelajaran baru kamu keluar ok''
__ADS_1
''Baik bu, terimakasih''
''Iya sayang'' bu Ega mengusap pipi Dea sebelum meninggalkan ke empat sahabat itu.
''Hem...hem... kemana pak Marvel?''
''Pak Marvel ada kelas tadi''
''Oh gitu, gimana tuh rasanya di gendong sama pak Marvel, mana gendongnya ala-ala pengantin soo sweet ngak tuh'' goda Gema.
''Apa sih Gem''
''Ngak usah ngelak kita juga liat'' ujar Darmi.
''Iya..iya''
''Gimana kondisi kamu Dea? Apa masih demam? Mau di kompres lagi?'' Tanya pak Marvel datang membawa sebungkus bubur dan sebotol air mineral, ia tak menyadari kehadiran teman-teman Dea. Dengan spontan ia duduk di tepi ranjang tempat Dea terbaring
''Sudah lebih baik pak''
''Eh ada kalian maaf bapak ngak sadar'' ujar Marvel seraya berdiri dari duduknya. Ia salah tungkah melihat teman-teman Dea yang tersenyum melihat ulahnya.
''Ngak apa-apa pak, kita cuma jenguk Dea'' ujar Gema.
''Dea, ini saya ada beli bubur kamu makan ya habis itu minum obat baru ke kelas''
''Harus minum obat ya pak?"
"Iya Dea"
Marvel meraih mangkok bubur kemudian mengambil sesendok dan meniupnya, saat ia ingin menyuapi Dea tangannya di tahan oleh Dea.
Saat tangannya di sentuh oleh Dea ia langsung menatap Dea dan kebetulan saat itu Dea juga sedang melihat ke arahnya dan akhirnya tatapan mereka bertemu.
"Maaf pak saya bisa sendiri pak, terimakasih" ujar Dea menarik tangannya dan mengakhiri tatapan keduanya.
Marvel meletakkan mangkok bubur itu di nampan kemudian diberikan pada Dea setelahnya ia keluar dari ruangan itu.
"Cie..ciee" goda Darmi.
"Apa sih Mi?"
"Kayaknya sudah mulai ada rasa tuh"
"Enak" ujar Dea memakan bubur.
Saat habis separuhnya ia berhenti makan kemudian meminum obat yang di berikan oleh bu Ega tadi.
"Udah bisa ke kelas kan?" Tanyanya setelah meminum obatnya.
"Iya"
"Ayo pamit dulu sama bu Ega" ujar Dea berdiri hendak keluar dari ruangan itu.
"Sudah habis Dea?" Tanya Marvel.
"Tidak pak masih ada setengah tapi saya sudah kenyang"
"Oh gitu, saya makan ya"
"Tapi itu bekas saya pak''
''Ngak apa-apa, saya suka. Oh iya hati-hati jalannya''
''Iya pak, terimakasih sudah merawat dan temani saya pak'' ujar Dea malu-malu
''Sama-sama Dea''
''Kami permisi pak'' ujarnya berlalu meninggalkan ruangan dimana pak Marvel sedang sibuk memakan bubur yang tak di habiskan oleh Dea tadi.
"Jadi yang ngompres sama jagain kamu tadi bukan bu Ega tapi pak Marvel?''
''Kata bu Ega sih gitu, aku ngak tahu kan aku pingsan, tapi pas bangun memang cuma ada pak Marvel aja di sana. Kata bu Ega pak Marvel yang ngompres sama gosok tangan dan kaki ku''
''Apa????'' teriak ketiganya terkejut mendengar ucapan Dea.
__ADS_1
''Kamu ngak di apa-apain kan sama pak Marvel? Secara kalian cuma berduaan aja disana dengan kondisi kamu lagi pingsan'' ujar Sukma memutar-mutar tubuh Dea.
''Mikir apa sih kamu ini, ngak mungkin pak Marvel berbuat yang tidak-tidak, aku percaya dia orang baik'' ujar Dea sambil tersenyum membuat ketiga temannya ikut tersenyum penuh arti.