
Saat jam istirahat tiba Marvel menemui Dea di kelasnya.
''Say.., ehm.. Dea bisa bicara sebentar'' ujar Marvel saat menemui Dea di kelasnya.
''Iya pak'' ujar Dea.
''Aku tunggu di perpustakaan'' ujar Marvel berjalan mendahului Dea.
''Aku ke perpus dulu ya'' pamit Dea pada ketiga temannya.
''Iya sana temui calon suamimu'' ujar Darmi di ikuti tawa oleh Sukma dan Gema.
Dea bergegas menyusul Marvel ke perpustakaan, ia juga ingin membicarakan masalah mengenai pertemuannya dengan Devina.
''Dea'' ujar Marvel melambaikan tangannya agar Dea melihatnya.
Disinilah mereka duduk sekarang, di dalam ruang perpustakaan, mereka duduk saling berhadapan.
''Dea''
''Pak''
Ujar mereka bersamaan, mereka saling tatap kemudian tertawa.
''Silahkan bapak duluan'' ujar Dea.
''Kamu saja yang duluan sayang'' ujar Marvel.
''Baiklah pak, tadi aku ketemu sama bu Devina pak. Dia meminta ku untuk menjauhi bapak'' ujar Dea.
''Jadi kamu sudah tahu, aku baru saja ingin memberi tahumu. Aku jadi khawatir dia akan mengganggumu'' ujar Marvel menggenggam tangan Dea.
''Tidak akan pak, aku kan anak yang kuat'' ujar Dea, meski di sudut hatinya ia merasa khawatir.
''Aku tahu kamu khawatir sayang, tapi tenang saja aku akan berusaha untuk melindungi mu''
''Terimakasih pak''
Mereka terus saling menatap sampai sebuah suara mengagetkan mereka.
''Ehm... mesra amat'' ujar Devina yang berada di depan meja mereka.
''Ada masalah?'' Tanya Marvel.
''Tentu saja, ngapain kamu dekat-dekat sama anak kampung ini? Oh iya aku punya sesuatu buat kamu''
Marvel ingin marah pada Devina, namun di tahan oleh Dea, Dea memberi isyarat dengan gelengan kepala.
''Apa?'' Tanya marvel dingin.
''Ini'' Devina memperlihatkan foto Dea dan Bian yang ia ambil tadi pagi. Ia sangat berharap jika Marvel akan marah pada Dea karena hal itu.
Dea dan Marvel tertawa melihat foto yang di tunjukkan oleh Devina, bagaimana tidak tertawa, Marvel sudah tahu jika Bian itu saudara sepupu Dea dan Dea sangat akrab dengannya karena mereka seumur dan juga berbagi air susu ibu saat masih kecil.
''Kenapa kalian malah tertawa harusnya kamu marah Marvel, cewek yang kamu bangga-banggakan ternyata sangat murahan. Lihatlah, dia merangkul seorang murid laki-laki di depan umum'' ujar Devina yang membuat Marvel semakin tertawa geli.
''Kamu kenapa Devina? Kamu mencoba untuk membuat aku benci sama Dea? Maaf kamu salah orang, aku lebih percaya pada Dea dari pada foto ini. Lagi pula murid laki-laki itu saudara Dea, buat apa aku marah jika Dea merangkul saudaranya sendiri'' ujar Marvel yang membuat Devina merasa sangat malu. Niat hati membuat Dea malu di depan Marvel, malah dia yang malu sendiri.
''Kalau tidak ada yang perlu lagi, lebih baik kamu pergi saja ada yang ingin aku dan Dea bicarakan''
__ADS_1
Dengan wajah yang merah padam karena merasa malu, Devina pergi dari ruang perpustakaan itu. Ia merasa sangat malu di hadapan Marvel, ia tergesa-gesa keluar dari ruangan itu.
''Ada-ada saja Devina itu'' ujar Marvel.
''Fansnya bapak tuh'' ujar Dea.
''Sepertinya ujian baru untuk hubungan kita datang lagi sayang''
''Benar pak, semoga kita bisa melaluinya'' harap Dea.
Setelah perbincangan yang cukup lama, mereka memutuskan untuk ke luar dari ruangan itu.
''Habis ngapain bro?'' Tanya Boy melihat Dea dan Marvel berbarengan keluar dari ruang perpustakaan.
''Habis olahraga'' jawab Marvel.
''Olahraga apa tuh?'' Goda Boy.
''Ada aja, ayo De kamu balik ke kelas. Aku juga mau balik ke ruangan ku''
''Saya permisi pak Boy'' ujar Dea meninggalkan dua sahabat itu.
''Aku mau ngomong Vel tapi ngak disini'' ujar Boy melihat Devina ada di sana.
''Ya udah di ruangan ku saja'' ujar Marvel.
Boy dan Marvel masuk ke ruangan wakil kepala sekolah kemudian menutup pintu dari dalam.
''Ada apa sih Boy sampai kamu nutup pintu? Kayaknya berita penting?''
''Kamu udah ketemu Devina belum?''
''Terus, gimana? Kamu kan tahu kalau Devina itu sangat tergila-gila sama kamu, gimana kalau dia juga berusaha nyakitin Dea seperti yang si lakukan Selvy. Tapi Devina lebih parah sih dari Selvy, waktu jaman kuliah aja, dia selalu nempel kayak prangko sama kamu''
''Aku juga ngak tahu Boy, tapi aku harap dia ngak berniat buruk sama Dea. Tadi saja waktu aku sama Dea lagi ngobrol di perpus dia datang bawa foto Dea yang lagi merangkul Bian anak bahasa, dia pikir aku akan marah padahal dia tak tahu jika Dea dan Bian itu saudara'' ujar Marvel kemudian kembali tertawa mengingat apa yang di lakukan oleh Devina tadi.
''Emang ya ngak brubah dia, tetap malu-maluin hahaha'' ujar Boy ikut tertawa.
''Ya udah, kamu awasi saja Dea, jangan sampai terjadi hal yang tidak di inginkan karena ulah Devina'' ujar Boy kemudian meninggalkan ruangan Marvel.
Di ruangan kelas, Dea terus di goda oleh ketiga sahabatnya. Semenjak mengetahui jika Dea memiliki hubungan dengan Marvel mereka sangat senang menggoda Dea, apa lagi setelah Marvel resmi melamar Dea semakin menjadi pula mereka bertiga. Selalu saja ada bahan untuk menggoda sahabat mereka itu.
''Udah sana kalian balik ke kelas kalian, ngak lama lagi bel akan bunyi tuh'' ujar Dea, ia tak ingin terus di goda oleh Sukma dan Gema.
Tak lama setelah kepergian Gema dan Sukma bel tanda pelajaran di mulai berbunyi dan pak Marvel masuk ke kelas mereka.
''Siang pak'' ujar semua murid.
''Siang juga''
''Hari ini kita akan belajar lagi mengenai materi yang kita bahas pada pertemuan terakhir. Saya ada tugas untuk kalian, jika ada yang kalian rasa sulit, silahkan beryanya nanti akan bapak jelaskan. Ini latihan untuk ujian semester nanti, soal-soal yang bapak bagikan sebagian besar akan ada nanti di ujian semester. Rosa silahkan bagikan lembaran tugasnya''
''Baik pak'' Rosa membagikan kertas yang diberikan oleh Marvel.
''Tumben pak Marvel ngak nyuruh kamu De?'' Tanya Darmi.
''Mana aku tahu Mi, bagus juga sih'' ujar Dea mulai fokus pada lembaran soal yang dibagikan.
''De, aku pusing liat soalnya'' ujar Darmi.
__ADS_1
''Udah kerjain aja, nanti aku bantu''
''Hihihi tahu aja''
Dea terus fokus mengerjakan tugasnya, Marvel juga terlihat sedang membaca buku meski sebenarnya itu hanya alasannya saja karena matanya terus melirik ke arah Dea.
''De, pak Marvel liatin kamu tuh'' ujar Darmi.
''Udah biarin aja, kita lagi belajar''
''Iya...iya'' ujar Darmi mulai mengerjakan tugasnya.
Selama pelajaran tak ada interaksi antara Dea dan Marvel seperti biasanya dan hal itu membuat teman-teman Dea bertanya-tanya.
Setelah pelajaran selesai salah satu siswi mencoba bertanya pada Marvel.
''Pak saya mau bertanya?''
''Silahkan mau tanya apa?''
''Bapak sama Dea lagi berantem ya koq ngak kayak biasanya?''
''Ho'ooo'' ujar yang lain.
''Ngak'' ujar Dea dan Marvel bersamaan.
''Kami tidak ada masalah'' ujar Marvel.
''Oh gitu pak, habis tak biasanya diam-diaman''
''Tidak ada apa-apa, silahkan pulang'' ujar Marvel.
''Aku duluan ya De'' ujar Darmi berlalu meninggalkan Marvel dan Dea.
''Eh..''
''Bye....'' ujar Darmi berlari.
''Ayo pulang bersama''
''Tapi''
''Ayo ngak ada tapi-tapi, lagian satu sekolah sudah tahu kalau kita punya hubungan kan, jadi ngak perlu lagi sembunyi-sembunyi kalau mau jalan. Lagi pula kita sudah resmi secara adat jadi tak salah jika kita jalan-jalan berdua''
''Baik pak''
''Gimana kalau kita ke tempat mang Ardi? Kita makan mie ayam lagi''
''Ayo'' ujar Dea bersemangat hingga tak sadar langsung menarik tangan Marvel.
Marvel tersenyum melihat tingkah Dea, 'hanya karena mie ayam kamu bisa sebahagia ini sayang' batinnya.
''Maaf pak'' ujar Dea menyadari jika sedari tadi ia terus menggenggam tangan Marvel.
''Tak apa sayang, ayo kita berangkat'' ujar Marvel bergantian menggenggam tangan Dea.
''Ayo'' ujar Dea tersenyum bahagia.
'Terimakasih sudah mau memilih ku pak, padahal di luar sana banyak yang lebih baik dan lebih sempurna dari saya' batin Dea memandangi tangan Marvel yang menggenggam tangannya.
__ADS_1