MELODY CINTA DEA DAN MARVEL

MELODY CINTA DEA DAN MARVEL
TRAUMA (POV AUTHOR)


__ADS_3

Kini semua orang sudah berada di ruang makan tak terkecuali Dea dan Rey, keduanya duduk berdampingan. Dengan cekatan Dea mengambilkan nasi beserta lauk pauknya untuk sang suami, tak lupa juga segelas air.


''Duh yang pengantin baru, senang ya di layanin sama istri'' goda bu Wenda bibi Rey.


Yang lain terseyum mendengar ucapan bu Wenda terkecuali Rey, 'jika saja bukan di rumah ibu, ogah aku dilayani sama dia' batin Rey.


Semua menikmati makan malam dengan sangat lahap, bahkan Rey sangat menikmatinya.


''Mah, capcay sama sop tadi enak sekali, beli dimana?'' Tanya Rey pada sang ibu ketika mereka sedang duduk di ruang keluarga. Kini hanya tinggal oma Renata, bu Wayna , Rey dan Dea yang berada di sana. Keluarga yang lain sudah pulang beberapa saat setelah makan malam.


Bu Wayna tersenyum menatap ke arah sang anak, ''memang sangat enak ya?'' Tanya bu Wayna.


''Enak banget mah, aku sampai nambah loh. Lebih enak malah dari masakan chef di restoran mama'' ujar Rey membuat ibunya tersenyum.


''Itu masakan istri kamu'' ujar oma Renata yang sedang membaringkan kepalanya di pangkuan bu Wayna.


Rey terkejut mendengar ucapan omanya, selama ini ia tak pernah memakan apapun yang di masak oleh Dea sehingga ia tak tahu jika Dea pandai memasak.


Setelah tahu itu masakan Dea, entah kenapa ia merasa enggan untuk makan lagi meski masakan Dea memang sangat enak.


''Dea, Rey kalian istirahat sana sudah malam. Ingat Dea ngak boleh sering begadang biar sehat dan cepat kasi mama cucu'' ujar bu Wayna.


''Iya mah, ayo sayang kita tidur'' ujar Rey menggandeng sang istri menuju ke kamarnya.


Setelah sampai di dalam kamar Rey segera melepas gandengannya dan duduk si atas tepi ranjangnya.


''Di dalan lemari itu ada selimut dan kasur lantai, kamu ambil dan pakai tidur. Aku tidak mau tidur satu ranjang denganmu, aku tidak mau ranjang ku di kotori oleh wanita sepertimu'' ujar Rey.


''Iya tuan'' ujar Dea menuju ke arah lemari yang di tunjuk Rey, ia mengambil satu buah selimut dan kasur tipis kemudian ia gelar di lantai dekat lemari.


Dea melihat ke arah Rey yang sudah berbaring di atas kasurnya sembari memainkan ponselnya.


"Selamat malam tuan" ujar Dea setelah berdoa. Meski ia tahu Rey tak akan mendengarkan apa lagi membalas apa yang ia ucapkan.


"Mmm" ujar Rey yang terus membelakangi Dea.


Meski hanya satu huruf saja yang keluar dari bibir Rey, Dea sudah sangat bersyukur.


Ketika hendak menutup mata, tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu kamar mereka.

__ADS_1


"Sana kamu buka siapa tahu ibu" ujar Rey tanpa melihat Dea.


"Iya tuan" segera Dea menuju ke pintu dan membukanya. Alangkah terkejutnya ia melihat sang mertua yang berdiri di sana.


"Ma-mama" ujar Dea, ia khawatir jika mertuanya akan melihat keadaan kamar mereka.


"Ma-masuk mah" ujar Dea membuka pintu karena ia tahu jika sang mertua ingin masuk.


Bu Wayna masuk ke dalam kamar dengan membawa dua gelas susu di tangannya. Rey yang belum menyadari keberadaan sang ibu masih terus memainkan ponselnya.


"Bagus ya kamu main ponsel" ujar sang ibu mengejutkannya, segera ia menyembunyikan ponselmya di bawa bantal.


"Mamah, mama ngapain di kamar aku?" Tanya Rey.


"Emang ngak boleh mama kesini? Tadi mama nyuruh kamu buat tidur kenapa malah main ponsel? Ini lagi kenapa ada kasur di lantai, kalian ngak tidur seranjang?"


"Tidur koq mah, ya kan sayang? Kita cuma gelar buat nonton tv mah" ujar Rey berbohong.


"Benar Dea?"


"I-iya mah"


"Ya sudah kalau begitu. Kalian minum susu dulu sebelum tidur ya" ujar bu Wayna meletakkan dua gelas susu itu di atas nakas samping tempat tidur.


"Kalian minum dulu deh susunya, sekalian mama bawa keluar gelasnya" ujar bu Wayna memberikan gelas pada Dea dan Rey.


Mau tidak mau keduanya segera menghabiskan susu yang di berikan bu Wayna, setelah habis bu Wayna tersenyum puas.


Rey dan Dea tak tahu jika di dalam minuman Rey sudah bu Wayna campurkan sesuatu yang akan membuat Rey menjadikan Dea istri sepenuhnya.


''Bagus, semoga mama bisa cepat dapat cucu'' ujar bu Wayna yang membuat Dea merasa malu.


Setelah memastikan keduanya berbaring di ranjang yang sama bu Wayna segera keluar dari kamar Rey.


''Pintunya mama kunci ya Rey'' ujar bu Wayna yang membuat Rey kesal. Bukan tanpa sebab ia kesal, ia tahu jika sang ibu sudah merencanakan ini semua. Meski begitu, ia tak tahu jika susu yang tadi ia minum sudah di campur sesuatu.


''Sekarang kamu turun, aku mau istirahat'' ujar Rey , ia tak tahu jika Dea sudah berbaring di kasur lantai.


Merasa tak mendapatkan jawaban apapun dari Dea ia segera menoleh ke sampingnya dan tak mendapati Dea disana.

__ADS_1


''Baguslah kalau kamu sadar diri'' ujarnya.


Dea hanya bisa menangis dalam diam, ia menutup matanya dan berdoa dalam hati sebelum ia benar-benar terlelap.


Sekitar pukul 2 dini hari Dea terbangun karena merasa jika ada sesuatu yang salah pada dirinya. Ia merasa jika badannya terasa dingin dan ada benda berat yang menindih tubuhnya.


Awalnya ia berpikir jika ia sedang bermimpi, namun alangkah terkejutnya ia setelah membuka matanya dan melihat Rey berada di atas tubuhnya.


''Tu-tuan apa yang tuan lakukan?'' Ujar Dea dengan nafas yang tak beraturan ia merasa sangat takut melihat wajah Rey, terlebih saat ini ia tak mengenakan sehelai kainpun sama halnya dengan Rey.


''Diam'' Ujar Rey dengan nada membentak yang membuat Dea semakin takut.


''Tu-tuan tolong jangan seperti ini'' ujar Dea.


''Diam, kamu itu istri ku apapun boleh aku lakukan padamu. Tidak usah pura-pura takut, aku sudah tahu jika kamu sudah melakukannya dengan banyak pria. Jangan berpura-pura menjadi wanita polos yang tak tahu apa-apa, aku tahu kau sudah ahli dalam melakukan hal ini''


''Ti-tidak tuan'' ujar Dea dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.


Rey membungkam mulut Dea dengan tangannya, Dea semakin merasa ketakutan dengan apa yang Rey lakukan. Ia kini hanya bisa diam, ia tak bisa berbuat apa-apa terlebih lagi kini ia berada di bawah kungkungan tubuh kekar Rey. Badan Dea yang kecil membuat perlawanan yang ia lakukan tak berarti lagi, terlebih lagi kini ia sudah menjadi istri Rey dan Dea sangat tahu jika itu sudah menjadi kewajibannya


Dea hanya bisa menangis dalam diam sepanjang kegiatan panas malam itu sampai saat ia benar-benar merasa lelah dan tertidur.


Ketika ia bangun pagi harinya, ia terkejut karena mendapati Rey masih berbaring di sebelahnya dengan tubuh polos. Dea segera menyelimuti Rey dan memungut pakaiannya yang berserakan di lantai kemudian masuk ke kamar mandi.


Dengan langkah yang sangat hati-hati Dea melangkah menuju ke kamar mandi, di dalam sana ia menumpahkan segala rasa sesak yang ia tahan sejak semalam.


''Tuhan kenapa aku harus mengalami ini semua? Kenapa engkau berikan cobaan yang begitu berat, rasanya aku sudah tak sanggup untuk menjalaninya'' ujar Dea menangis di bawah guyuran air.


Setelah merasa jika tubunnya sudah bersih Dea segera ke luar dari kamar mandi dan berganti pakaian kemudian keluar dari kamar menuju ke dapur.


Meski bagian bawah tubuhnya terasa sakit akibat perbuatan Rey, Dea tetap berusaha berjalan normal meski ia tahu jika cara jalannya tak seperti biasanya.


''Pagi mah'' ujar Dea melihat ibu mertuanya sudah duduk di kursi meja makan.


''Pagi sayang, eh kamu sudah bangun sayang, Rey mana?'' Tanya sang mertua berbasa-basi padahal ia tahu apa yang terjadi, pasti putranya masih tertidur lelap karena kelelahan.


''Kak Rey masih tidur mah'' ujar Dea ikut duduk di samping sang mertua.


''Gimana semalam?'' Tanya sang mertua membuat Dea kembali memikirkan apa yang ia alami. Tentu saja itu menjadi hal yang membiat Dea merasa trauma.

__ADS_1


Malam pertama yang memberikan kenangan buruk untuk Dea, menyisakan banyak hal buruk untuk di kenang.


Pipi Dea bersemu merah mendengar ucapan sang mertua, hal itu membuat Dea sadar jika apa yang terjadi adalah rencana sang mertua dan Rey melakukan itu dalam keaadaan yang tidak sepenuhnya sadar.


__ADS_2