
Keduanya berjalan dengan perasaan bahagia, mereka tak tahu jika sedari tadi Devina terus memperhatikan keduanya. Rasa cemburu membuat ia merencanakan hal yang buruk untuk Dea.
''Siap sayang'' ujar Marvel.
''Iya pak'' ujar Dea, mulai berpegangan pada pundak Marvel.
''Pegang di pinggang aja De, aku merasa seperti tukang ojek kalau kamu berpegangan di pundak'' ujar Marvel.
Dea memindahkan tangannya berpegangan pada pinggang Marvel, setelahnya motor mulai berjalan pelan meninggalkan sekolah.
Tak ada pembicaraan yang berarti selama perjalanan, hanya Marvel yang terus menggoda Dea. Ia selalu merasa bahagia ketika berhasil membuat pipi Dea bersemu merah.
''Siang mang Ardi'' ujar Dea saat memasuki kedai milik mang Ardi.
''Siang neng, wah.. kelihatannya neng Dea bahagia sekali'' ujar mang Ardi.
''Iya mang, Dea pesan mie ayamnya dua ya, sama teh hangatnya dua'' ujar Dea pada mang Ardi yang sedang menyiapkan pesanan beberapa pelanggan.
''Neng Dea habis tuh makan dua mangkok?'' Tanya istri mang Ardi yang datang membawa mangkok.
''Ngak teteh, ada yang menemani Dea'' ujar Dea pada istri mang Ardi.
''Oh gitu neng, pacarnya?''
''Iya teh'' jawab Dea.
''Siang mang Ardi'' ujar Marvel yang baru saja masuk ke dalam kedai menghampiri Dea yang masih berdiri di samping gerobak.
''Siang den Marvel, ternyata aden yang mau menemani neng Dea makan?''
''Iya mang, ayo Dea''
''Saya duduk di tempat biasa ya teh''
''Ok neng''
Marvel dan Dea duduk di kursi yang menghadap ke taman bunga yang ada di samping kedai mang Ardi. Itu adalah tempat kesukaan Dea jika sedang makan di kedai mang Ardi, ia merasa nyaman saat duduk disana.
''Kayaknya kamu akrab banget sama mang Ardi dan istrinya?''
''Iya pak, saya kenal mereka sejak masih duduk di kelas 5 sekolah dasar pak. Dulu saya pernah kerja disini sepulang sekolah, saat itu bibi sakit dan tak ada yang membantu nenek mencari nafkah. Karena kasihan jadi Dea kerja deh disini bantu-bantu motong sayur dan cuci piring'' ujar Dea.
Ia ingat betul bagaimana sulitnya hidup mereka saat itu, bibinya sakit dan nenek juga kadang sehat kadang tidak. Meski nenek dan bibinya melarang untuk bekerja, namun Dea tetap bersikeras untuk bekerja karena tak mungkin sang nenek yang banting tulang mencari nafkah.
''Silahkan dinikmati neng, aden'' ujar mang Ardi membawa dua mangkok mie ayam serta dua gelas teh hangat.
''Makasih mang'' ujar Dea tersenyum memperlihatkan kedua lesung pipinya.
''Sama-sama neng''
''De, aku ke depan sebentar ya, mau nambah kerupuk''
''Iya pak'' ujar Dea mulai mencium aroma mie miliknya, ia mendekatkan wajahnya ke arah mangkuk dan menghirup asap mie ayam yang masih panas.
__ADS_1
''Kamu milik ku sekarang'' ujar Dea terus menghirup bau wangi mie dari mangkoknya.
Marvel yang melihat itu tersenyun, 'hanya melihatmu tersenyum seperti ini saja, aku sudah bahagia melihatnya De'' batinnya kemudian menemui mang Ardi.
Tujuan sebenarnya ia menemui mang Ardi adalah untuk membeli semua dagangan mang Ardi hari itu. Ia merasa jika semua kebahagiaan yang ia rasakan sekarang berkat mie ayam mang Ardi, tempat pertama ia dan Dea jalan berdua.
''Mang'' ujarnya melihat mang Ardi.
''Ia den, ada yang mang Ardi bisa bantu?''
''Kira-kira mie ayam mang Ardi masih ada berapa mangkok?'' Tanya Marvel.
''Kurang lebih masih da 120 mangkok den, ada apa?''
''Saya beli semua boleh?'' Tanya Marvel yang membuat mang Ardi heran.
''Boleh pak, apa bapak punya acara?''
''Tidak mang, kemarin saya dan Dea baru saja lamaran. Jadi saya ingin membeli semua dagangan mang Ardi sebagai rasa terimakasih saya. Sejak saya dan Dea makan mie di kedai mang Ardi, saya mulai dekat dengan Dea dan akhirnya kemarin saya bisa melamarnya setelah Dea membuka hatinya untuk saya'' ujar Marvel dengan air mata haru.
''Saya turut bahagia den, selamat atas pertunangannya'' ujar mang Ardi.
''Mang Ardi hitung semuanya berapa, saya bayar sekalian sebelum kembali ke tempat Dea. Jangan beritahu Dea hal ini, ini menjadi rahasia kita berdua saja. Soal mienya mang Ardi mau sumbangkan atau apa, terserah mang Ardi saja''
''Semuanya 1 juta 200 ribu den, aden yakin?''
''Tentu saja mang, ini uangnya terimakasih sekali lagi mang. Betkat mie ayam mang Ardi akhirnya saya bisa memiliki Dea, meski belum seutuhnya''
''Saya minta kerupukya mang, tadi saya bilang sama Dea kalau mau ambil kerupuk. Takutnya dia curiga kalau saya kesana ngak bawa apa-apa''
''Silahkan den''
Marvel mengamabil beberapa kerupuk kemudian kembali menemui Dea ditempat mereka duduk tadi. Ia terkejut ketika ia tiba disana, ia melihat Dea sedang menutup matanya. Segera ia menghampiri Dea, ia pikir Dea sedang pingsan seperti saat di kelasnya waktu itu.
''Dea, sayang'' ujarnya menepuk pelan pipi Dea.
''Eh.. pak. Maaf Dea ketiduran'' ujar Dea terkejut. Tadinya ia hanya ingin menutup matanya, tak tahunya dia malah tertidur lelap.
''Kamu habis tidur?'' Tanya Marvel dan hanya di jawab oleh cengiran Dea.
''Udah ada kerupuknya pak?''
Marvel memperlihatkan kerupuk yang ia bawa, dengan riang Dea mengambil salah satunya.
''Minta satu ya pak, nanti saya bayar kalau sudah kerja'' ujarnya mulai memakan makanannya.
''Saya mau bayarannya pake ini'' ujar Marvel menunjuk pipinya.
''Nah sudah kan'' ujar Dea mencubit pipi Marvel.
''Bukan itu Dea'' ujar Marvel gemas.
''Terus?'' Tanyanya sambil terus mengunyah makanannya.
__ADS_1
''Nantilah, ayo makan dulu'' Marvel mulai memakan mie ayam miliknya, sesekali ia melirik ke arah Dea yang terlihat sangat bahagia saat menyuap mie yang ada di hadapannya.
''Kenyangnya'' ujar Dea mengusap perutnya yang terasa penuh.
Marvel yang melihatnya tersenyum bahagia, ia bahkan membayangkan jika Dea sedang mengusap perutnya yang berisi calon bayi mereka.
''Ngapain bapak senyum-senyum liat perut saya?''
''Saya ngebayangin aja De''
''Bayangin apa?''
''Ya ngebayangin jika kita sudah nikah nanti terus kamu hamil, pasti habis makan begitu gayanya ngusap-ngusap perut sambil ngomong, kenyang ya sayang?''
Pipi Dea bersemu merah karena ucapan Marvel, ia segera melepas tangannya dari perut.
''Ini tuh udah kebiasaan saya pak, habis makan pasti pegang perut''
''Kenapa ngak dihabiskan mienya pak? Sayang loh kalau di sisain?''
''Kan aku sudah kenyang sayang''
''Hy Marvel, wah lagi makan juga ya?'' ujar Devina yang datang entah dari mana sekarang sudah berada di sampingnya.
''Hm'' hanya itu jawaban Marvel.
''Pulang yuk sayang'' ujar Marvel.
Devina terhenyak mendengar panggilan Marvel, ia berpikir jika itu panggilan untuknya.
''Ayo sayang'' ujarnya percaya diri mengamit lengan Marvel.
Marvel dan Dea menoleh ke arah Devina berbarengan.
''Ngapain kamu pegang-pegang saya?'' Marvel melepas tangan Devina.
''Katanya mau pulang ayo''
''Yang saya ajak pulang itu Dea, bukan kamu. Ayo sayang kita pulang, pasti nenek udah nunggu'' ujar Marvel menggenggam tangan Dea.
''Maksud kamu apa Vel, kenapa kamu panggil sayang sama anak kampung ini?'' Tanya Devina.
''Jaga ya ucapan kamu, Dea ini calon istri aku jadi jangan berani-berani kamu ganggu dia. Jika kamu berani menyentuhnya sedikit saja, aku akan beri perhitungan sama kamu''
'Satu lagi pengganggu' batin Dea.
Devina terpaku di tempatnya, tak pernah Marvel semarah itu padanya. 'Apa tadi katanya? Calon istri? Apa Marvel pacaran dengan anak kampung itu? Tidak, ini tidak boleh terjadi aku harus ngomong sama bibi Valen, biar anak kampung itu dimarahi sama bibi. Tunggu saja kamu Dea, jika bibi Valen tahu kamu pacaran sama Marvel habis kamu' batin Devina.
''Terimakasih mang''
''Sama-sama den, neng Dea. Semoga bahagia selalu''
''Terimakasih mang'' ujar Dea dan Marvel bersamaan.
__ADS_1