
Setelah menyelesaikan doanya dan hendak mengusap air mata di pipinya, ia terkejut karena ada tangan lain yang memegang pipinya, segera ia membuka mata dan ia terkejut mendapati Marvel sudah menghapus air matanya.
''Bapak belum tidur?'' Tanya Dea dengan menahan rasa malu karena ketahuan menangis.
''Bagaimana aku bisa tidur jika bidadari ku sedang menangis'' ujar Marvel mulai mendekat ke arah Dea.
Jantung Dea berdegup semakin kencang saat Marvel semakin mendekat ke arahnya.
''Bapak mau ngapain?''
Marvel tak menjawab pertanyaan Dea, ia semakin mendekat ke arah Dea dan langsung memeluknya. Dea hanya terdiam mendapatkan perlakuan seperti itu dari Marvel namun tak urung air matanya terus menetes.
''Menangislah sayang jika itu bisa membuatmu merasa lebih baik, aku siap menjadi tempat kamu membagi duka yang kamu rasakan sayang'' ujar Marvel yang terus memeluk Dea dan merebahkan kepala Dea di dada bidangnya.
Meski tak terdengar suara tangisan Dea namun bahunya terguncang menandakan ia sedang menangis.
Dea membalas memeluk Marvel dan menangis menumpahkan segala sesak yang selama ini ia simpan sendiri.
Ia berusaha agar suara tangisannya tak terdengar oleh orang lain selain Marvel.
''Maaf kan saya pak'' ujar Dea setelah ia merasa agak baikan setelah cukup lama menangis.
''Tidak apa sayang, ingatlah untuk berbagi pada ku jika kamu merasa sedih sayang. Aku siap jadi tempat kamu untuk berbagi''
''Iya pak''
''Kalau begitu kita tidur sekarang?'' Tanya dan Marvel dan di angguki oleh Dea.
Dea berbaring sembari terus menatap Marvel yang juga ikut berbaring di sebelahnya. Bantal guling yang tadi berada di antara mereka kini sudah berada di belakang Marvel.
''Tidurlah sayang'' ujar Marvel ia menjadikan tangannya sebagai bantal untuk kepala Dea.
''Pak''
''Tak apa sayang tidurlah''
''Tapi nanti tangan bapak bisa pegal''
''Tenang saja sayang aku cukup kuat sayang. Sekarang tidurlah biarkan seperti ini malam ini''
Dea mengangguk kemudian mulai menutup matanya yang sudah sembab karena terus menangis dari tadi. Marvel dengan lembut mengusap kepala Dea dengan dan membuat Dea segera menutup mata karena merasa nyaman.
''Selamat tidur sayang, aku akan selalu ada di sampingmu, aku harap ini air mata kesedihan terakhir yang aku liat darimu sayang. Selanjutlan aku hanya ingin melihatmu menangis karena merasa bahagia'' ujar Marvel ikut memejamkan matanya dan memeluk Dea.
Mereka tertidur dengan posisi saling berpelukan, mereka merasakan kenyamanan dengan posisi tidur mereka.
Dea terbangun karena ingin buang air kecil, ia melihat jam yang ada di dinding kamarnya ternyata sudah menunjukkan pukul 4 pagi.
__ADS_1
Saat ia ingin bangun dari tempatnya ia baru sadar saat merasakan jika ada tangan yang melingkar di perutnya.
Dia menoleh ke samping kirinya dan menemukan wajah teduh Marvel yang masih tertidur lelap menurut Dea padahal sedari tadi Marvel sudah membuka mata saat menyadari pergerakan Dea.
Dea terus memandangi wajah Marvel hingga tiba-tiba ia terkejut saat Marvel membuka matanya.
''Pagi sayang, udah jangan terlalu lama natapnya nanti bisa tambah cinta sama aku'' ujar Marvel mengeratkan pelukannya pada Dea.
''Eh'' Dea jadi salah tingkah di tatap oleh Marvel apa lagi saat ini Marvel masih memeluknya. Ia bersembunyi di dada Marvel karena merasa malu ketahuan sedang menatap Marvel.
''Udah jangan malu-malu''
''Maaf ya pak, saya udah bangunin bapak. Bapak tidur lagi aja aku mau ke dapur buat sarapan dulu''
''Sebentar lagi ya, lima menit lagi aku mau peluk kamu sebentar'' ujar Marvel.
Dea mengangguk dan membiarkan Marvel memeluknya beberapa saat.
''Sudah, terimakasih sayang'' ujar Marvel melepas pelukan dari badan Dea.
''Iya pak sama-sama. Saya mau menyiapkan sarapan dulu pak''
''Iya sayang aku ikut ya'' ujar Marvel ikut bangun.
''Apa bapak sudah tidak ngantuk?''
''Tidak sayang, ayo kita masak''
Mereka berjalan bersama-sama menuju ke dapur, Dea mulai mencuci beras dan mulai menyalakan tungku untuk mereka memasak nasi. Ketika tungku sudah menyala Dea segera menaikkan belanga untuk memasak nasi.
''Kamu duduk aja sayang biar aku yang jaga apinya'' ujar Marvel menarik tangan Dea agar duduk di sampingnya.
Dea menurut dan ikut duduk di bangku kecil yang ada di samping Marvel.
''Terimakasih untuk semalam pak, saya merasa sedikit lega sekarang''
''Tidak masalah sayang, aku selalu siap menjadi temanmu, ceritalah pada ku jika kamu sedang ada masalah. Aku tak ingin melihat air matamu lagi sayang, aku sangat sedih jika melihat air matamu menetes''
''Maaf kan saya pak''
''Tak apa sayang aku sangat bahagia bisa menjadi tempatmu berbagi''
Mereka terus berbicara berdua dan tak menyadari kehadiran Lastri di belakang mereka.
''Aku tak akan membiarkan kamu bahagia Dea, karena kamu Devina merasa sakit hati. Aku tak akan membiarkan kamu bahagia di atas penderitaan sahabat baik ku itu'' gumam Lastri.
Entah rencana seperti apa yang di siapkan oleh Lastri untuk membuat Dea dan Marvel berpisah.
__ADS_1
Lastri, Marvel, Boy, Nico dan Devina adalah teman baik saat mereka kuliah dulu. Lastri dan Devina memang sangat akrab karena ibu Devina dan ibu Lastri masih memiliki hubungan keluarga.
Ketika mendengar dari Devina jika Marvel bertunangan dengan Dea dan membuat Devina sakit hati, ia memutuskan untuk membantu Devina merebut kembali Marvel.
''Aku akan bantuin kamu Dev, aku akan buat Marvel menjadi milikmu'' ujarnya meninggalkan Dea dan Marvel sebelum Marvel menyadari keberadaannya.
''Bapak mandi gih habis itu kita sarapan''
''Iya sayang, aku mandi dulu ya'' ujar Marvel meninggalkan Dea di dapur.
Dea mengangguk dan mulai menata alat makan dan juga nasi serta lauk pauk untuk mereka sarapan nanti.
''Kamu dah masak De?'' Tanya bi Tina yang melihat semua sudah tertata rapi dia atas meja.
''Iya bi''
''Aku panggil Lastri sama suaminya dulu ya''
''Iya bi''
Dea segera mencuci tangan kemudian masuk kamar dan menyiapkan pakaian untuk Marvel, setelahnya ia kembali ke ruang makan.
''Marvel mana nak?'' Tanya nek Diah saat Dea menjemputnya di kamarnya.
''Pak Marvel masih mandi nek tadi habis bantuin Dea di dapur''
Nek Diah hanya mengangguk tanda mengerti ucapan Dea, setelah membantu nenek duduk dan mengambilkan makanan untuknya, Dea segera mengambil minuman hangat yang masih berada dalam panci di atas tungku.
Dea memindahkan minuman itu ke dalan teko kemudian membawanya keruang makan.
Marvel sudah duduk di samping nek Diah ketika Dea tiba disana, ia juga mulai menyendok nasi dan lauk pauk untuknya.
Seperti biasa, setelah sarapan Dea akan memetik sayuran di kebun belakang rumah, mengikatnya dan menyusunnya di kios sebelum dia mandi dan berangkat ke sekolah.
Marvel sedang membaca materi juga mengecek beberap tugas yang harus ia nilai.
''Kamu mau ganti baju sayang?'' Tanya Marvel melihat Dea masuk ke kamar dan membuka lemari pakaian.
''Saya ganti baju di kamar mandi saja, bapak lanjutkan saja pekerjaan bapak'' ujar Dea kemudian keluar dari kamar membawa seragam sekolahnya.
Lastri yang melihat Dea sudah keluar dari kamarnya berinisiatif untuk menjalankan rencana pertamanya untuk membuat Dea dan Marvel berpisah.
''Maafkan bibi Dea, tapi bibi tidak bisa melihat sahabat bibi menderita karena cintanya kamu rebut'' gumam Lastri.
Tepat saat ingin melangkah masuk ke kamar Dea, Roy menghampirinya.
''Mau kemana sayang?'' Tanya Roy.
__ADS_1
''Aku ingin mencari Dea ke kamarnya sayang'' ujar Lastri berbohong.
Rencananya untuk membuat Dea dan Marvel berpisah tak di ketahui oleh Roy. Ia tak memberitahu Roy, karena ia tahu Roy tak akan pernah menyetujuinya.