
Setelah mandi Marvel meminta Dea untuk mandi juga, sementara dirinya menggantikan Dea menjaga tungku api agar apinya tetap menyala.
Nasi dan sayur sudah selesai Dea masak, kini tinggal olahan ayam saja yang masih berada di atas tungku.
Setelah Dea masuk ke kamar mandi Marvel meneteskan air matanya, ia tak bisa membayangkan bagaimana jika dia yang berada di posisi Dea.
Jika ia berada di posisi Dea saat ini, mungkin ia akan membenci orangtuanya namun berbeda dengan Dea, ia sangat sabar.
Dia mengambil ponselnya dan mulai merekam rumah tempatnya bersama Dea saat ini. Ia akan menjadikan itu kenang-kenangan buat dirinya dan Dea di masa yang akan datang.
Setelah puas merekam seluruh bagian rumah, ia mengecek kembali apakah masakannya sudah matang atau belum, sambil menunggu Dea keluar dari kamar mandi.
''Loh bapak ngak istirahat?''
''Ngak sayang, aku jagain masakan kamu''
''Ya ampun pak, masakan Dea ngak perlu di jagain, itu nanti matang sendiri karena tadi udah hampir matang pas Dea tinggal. Tapi tak apalah hitung-hitung biar badan bapak hangat, terimakasih pak''
''Sama-sama sayang. Ini baru jam 3 kita mau kemana dulu nih?''
''Emang bapak ngak capek?''
''Ngak sayang, jadi kemana?''
''Kita ke rumah ibu saja pak, aku mau ketemu sama adik bungsu ku''
''Ok sayang''
Ketika mereka berdua siap-siap untuk pergi tiba-tiba saja hujan turun sangat deras.
''Ya.., hujan''
''Ya udah besok aja kita kesana pak'' ujar Dea kembali masuk ke dalam rumah.
Kini mereka berdua duduk di atas tikar yang ada di ruangan depan, tempat mereka akan tidur nantinya.
''Bapak benar ngak apa-apa bermalam disini?'' Tanya Dea.
''Ngak apa-apa sayang? Memangnya tidak boleh ya?''
''Bukan begitu pak, tapi.. bapak liat sendiri kan gimana keadaan rumah ini''
''Ngak apa-apa sayang, aku justru senang bisa bersama kamu disini. Apa setiap ke kampung ibu kamu tidur disini sayang?''
''Iya pak, jika bermalam saya akan tidur disini. Bagi saya tak apa tak serumah dengan ibu yang penting saya bisa melihat ibu tiap hari. Jika sedang di kampung ibu, tiap hari aku akan ke rumah ibu entah itu buat bersih-bersih rumah atau masak buat mereka'' ujar Dea dengan senyuman di wajahnya.
''Jadi kamu sendirian disini?''
__ADS_1
''Tidak pak, kalau malam kadang sepupu-sepupu saya datang, ayah juga sering datang''
''Oh gitu, aku kira cuma kamu sendiri sayang''
''Tidak pak, memang waktu baru awal-awal aku sering sendirian pak, karena mama tak mengatakan pada orang jika aku bermalam disini. Tapi setelah ayah tahu, sering kali ayah menemani ku disini''
Marvel tak bertanya lagi, ia tak ingin membuat Dea bersedih dengan mengingat kejadian-kejadian menyedihkan di masa lalunya.
Karena tak tahu harus melakukan apa, keduanya memutuskan untuk baring-baring sambil bercerita. Saat tengah asik bercerita mereka berdua di kagetkan dengan suara gedoran di pintu.
''Siapa ya sayang, datang hujan-hujan begini?'' Tanya Marvel.
''Tidak tahu pak, saya buka dulu ya'' Dea melangkah ke arah pintu dan membuka pintu yang terus di gedor dari luar.
Plak
Sebuah tamparan langsung melayang ke pipi Dea saat pintu sudah terbuka. Dea langsung memegangi pipinya yang terasa perih.
''Ada apa ini?'' Tanya Marvel menghampiri Dea.
''Nah benarkan ucapan saya, Dea bawa laki-laki ke rumah ini'' ujar orang yang menampar Dea tadi.
''Ada apa pak?'' Tanya Marvel lagi.
''Kamu siapa dan kalian ngapain disini? Mau berbuat mesum ya?'' Tanya pemuda yang tadi menampar Dea. Ia kembali melayangkan tangannya hendak menampar Dea tapi berhasil di tahan oleh Marvel. Marvel melayangkan satu tamparan di pipinya persis seperti yang ia lakukan pada Dea.
''Kami tidak berbuat mesum, memang ada apa? Dan anda-anda ini siapa?''Tanya Marvel sedikit kesal.
''Tapi kami tidak berbuat seperti itu, lagi pula...''
''Sudah ngak usah basa-basi, ayo kita bawa mereka berdua ke rumah pak David biar dia tahu kelakuan anaknya'' ujar seorang warga.
''Eh kalian jangan tarik-tarik ya'' ujar Marvel.
''Emang kenapa?'' Tanya pemuda itu dengan sorot mata menantang.
''Saya telpon ayah David dulu'' Marvel menarik tangan Dea dari genggaman pemuda itu.
''Apa maksud kamu panggil ayah Dea dengan panggilan seperti itu?''
''Beliau kan sudah jadi ayah saya juga, oh iya nama bapak siapa?'' ujar Marvel mulai melakukan panggilan dengan ayah Dea.
''Barto'' ujar pemuda itu dengan nada kesal.
''Halo nak Marvel ada apa?''
''Ini yah, ada orang yang datang di rumah katanya namanya pak Barto juga ada beberapa orang lainnya'' ujar Marvel.
__ADS_1
''Heh jangan pikir kami percaya kamu lagi ngomong sama ayah Dea, sini biar saya yang ngomong sama penipu itu'' ujar seorang bapak-bapak mengambil ponsel dari tangan Marvel.
''Halo jangan pura-pura jadi ayah Dea, kamu tak bisa menipu kami dasar penipu'' ujar orang itu hendak menutup panggilan namun tak jadi karena suara orang yang berada di ujung panggilan sangat ia kenali.
''Ada apa pak Lui? Siapa yang penipu?'' Tanya ayah Dea.
''I-ini..ini benar pak David ayahnya Dea?''
''Iya emang siapa lagi?''
''Apa bapak kenal dengan pemilik hp ini? Dan kenapa dia bisa berduaan sama Dea di rumah neneknya?''
''Saya kenal pak Lui, dia menantu saya namanya Marvel. Dia memang sudah melamar Dea dan sudah resmi secara adat sebagai suami Dea. Apa ada masalah pak Lui?''
''Ti-tidak ada apa-apa pak, kalau begitu saya tutup dulu''
''Iya pak, tolong katakan pada Dea nanti setelah hujan reda saya baru kesitu''
''Baik pak''
Setelah menutup panggilan pak Lui memberikan ponsel Marvel kemudian menatap keduanya.
''Maaf ya neng Dea atas kesalah pahaman ini''
''Apa maksud pak Lui, kita harus bawa mereka ke rumah pak David''
''Kamu mau kita malu''
''Maksudnya apa pak Lui?''
''Sudahlah nanti saya jelaskan ayo pulang, buat malu saja. Maaf ya neng Dea, pak...''
''Marvel pak'' ujar Marvel memperkenalkan namamya.
''Pak Marvel maaf atas gangguannya''
''Tidak apa-apa pak''
Setelah ke-lima orang itu pulang, Dea dan Marvel kembali masuk ke dalam rumah.
''Kamu ngak apa-apa sayang'' ujar Marvel melihat Dea yang tak berbicara sejak tadi.
Dea tak berbicara namun terlihat bahunya terguncang, Marvel langsung memeluknya karena dia tahu kalau Dea sedang menangis.
''Menangislah sayang jika itu bisa membuatmu lega''
''Maafkan saya pak, bapak jadi terbawa-bawa''
__ADS_1
''Tidak sayang, ini bukan salah kamu''
Setelah puas menangis, Marvel mengajak Dea untuk makan malam karena jam sudah menunjukkan pukul 6 sore.