
Setahun sudah usia Sion, hari ini Dea, Jessy, mbok Namu dan juga Ana sedang menyiapkan acara ulang tahun untuknya, dibantu oleh beberapa tetangga.
Keempatnya sibuk memasak dan menghias ruang tamu yang akan di jadikan tempat untuk perayaan pesta ulang tahun Sion. Acara pesta ulang tahun Sion akan di laksanakan sore nanti sekitar pukul 3, Dea mengundang para tetangga untuk datang menikmati hari bahagia Sion.
''Kak Dea, ini sudah siap nih hiasannya. Ada yang perlu Jessy dan Ana bantuin lagi ngak?''
''Ngak ada lagi Jes, kalian berdua istirahat saja dulu. Nanti kalau kakak butuh bantuan kalian pasti kakak panggil koq. Oh iya panggil ibu juga ya Jes biar istirahat kakak mau bantuin ibu-ibu masak dulu di dapur''
''Ok kak'' ujar Jessy.
Jessy dan Ana segera ke kamar untuk betistirahat mereka juga mengajak mbok Namu.
''Ibu istirahat saja dulu di sini, jangan terlalu lelah nanti kak Dea bisa khawatir'' ujar Jessy dan di angguki oleh mbok Namu.
''Kalian ngak istirahat juga?'' Tanya mbok Namu melihat dua perempuan itu tidak tidur.
''Ngak bu kita ngak ngantuk, kita mau jagain adek Sion saja''
''Baiklah nak''
Ana dan Jessy segera menuju ke kamar dimana Sion sedang bermain-main dengan mainannya, ia sangat bahagia ketika melihat Jessy dan Ana.
''Es..es-i, na-na'' ujar Sion. Jessy dan Ana sangat gemas mendengar celoteh Sion mencoba memanggil nama keduanya.
''Adek kakak Esy, mau apa sayang?'' ujar Jessy menggendong Sion.
''Ca-ma-cu'' ujar Sion yang membuat Ana dan Jessy binggung.
''Kakak ngak paham sayang, adek Sion mau mimi susu?'' Tanya Ana membuat Sion menggeleng.
''Terus adek mau apa?''
''Ca-ma-cu''
''Mau mimi sama mama?'' Tanya Jessy dan si angguki oleh Sion.
Jessy dan Ana tertawa terbahak-bahak, menertawakan keduanya yang terkadang masih tak paham dengan apa yang Sion ucapkan.
''Adek Sion main sama kakak Ana dulu ya, kakak Esy mau panggil mama''
__ADS_1
Jessy segera keluar dari kamar Sion mencari dimana Dea berada, '' kak Dea'' ujar Jessy ketika menemukan Dea di ruang tamu.
''Loh kamu ngak tidur dek? Ada apa?''
''Sion mau mimi kak'' bisik Jessy.
''Ohw, sebentar saya kesana, mau bawa ini dulu ke dapur''
''Ok kak'' ujar Jessy berjalan kembali ke kamar Sion.
''Mana kak Dea?''
''Ada koq An, bentar lagi kemari'' ujar Jessy.
''Loh koq malah tidur?''
''Iya tadi kamu baru aja keluar dari kamar dia sudah nguap-nguap, aku gendong eh malah tidur'' ujar Ana.
''Dasar si embul'' Jessy mencium gemas pipi Sion.
Setelah mengantarkan kotak makanan ke dapur, Dea bergegas ke kamar Sion.
Dea menyelimuti ketiganya sebelum meninggalkan mereka untuk melanjutkan membantu ibi-ibu yang sedang membuat masakan.
"Mama Sion, ayam goreng sama nasinya udah matang nih" ujar seorang ibu.
"Kalau begitu semua istirahat saja dulu makan siang, nanti baru di lanjut lagi masaknya" ujar Dea.
"Sambil makan siang aja kita lanjut masak ikannya, kalau nanti ngak keburu"
"Ya sudah terserah ibu-ibu saja yang penting ngak kerepotan makan sambil masak"
"Ya ngak dong, kan kita udah biasa hehehe" ujar seorang ibu muda.
Mereka semua menikmati makan siang sembari bercengkrama dan menggorrng ayam juga ikan mas. Dea juga ikut membantu menggoreng ikan, ia tak ingin duduk saja melihat orang-orang bekerja meski ia sebenarnya sudah membayar ibu-ibu yang membantunya memasak.
Sekitar pukul 3 sore, semua masakan mereka sudah matang dan juga sudah terbungkus rapi dalam kotak kemasan. Dea segera mandi sebab beberapa tamu sudah datang dan acara ulang tahun Sion juga akan segera di mulai.
Setelah mandi dan berpakaian Dea juga segera menuju ke ruang tamu tempat dimana acara ulang tahun Sion dirayakan.
__ADS_1
Acara ulang tahun Sion berlangsung dengan sangat lancar semua orang yang hadir turut meraskaan kebahagian yang Dea dan Sion rasakan.
Ada begitu banyak anak-anak yang hadir memeriahkan pesta perayaan ulang tahun Sion membuat Dea merasa sangat bahagia.
"Terimakasih sudah hadir dan ikut berbahagia di hari bahagia anak saya, terimakasih untuk semua yang sudah membantu menyiapkan segala sesuatu untuk keperluan acara ini" ujar Dea pada semua orang setelah acara selesai di laksanakan.
*
Di tempat lain ada seorang laki-laki yang sedang duduk termenung di ranjang rumah sakit dengan beberapa peralatan medis yang melekat di tubuhnya.
"Nak" ujar seorang wanita masuk ke dalam ruang rawat yang di tempati laki-laki itu.
Ia menarik kursi dan duduk di samping ranjang, dengan air mata yang menetes ia mengajak laki-laki itu untuk berbicara. Meski ia sudah berusaha berbicara apa saja, namun ia tak mendapatlan respon apapun dari laki-laki itu. Dia hanya duduk diam menatap lurus kedepan dengan pandangan kosong pada tembok ruangan.
"Rey, jangan seperti ini nak. Ibu, ibu tidak tahu harus berbuat apa jika kamu terus seperti ini nak" ujar bu Wayna.
Laki-laki yang sedang sakit itu adalah Reyland, mantan suami Dea. Ia sangat terpuiul dengan kepergian Sofi bersama Gilang, juga sangat sedih ketika ia mengetahui jika Gilang bukanlah putranya.
Sudah lebih dari tiga bulan ia berada di rumah sakit karena depresi kehilangan Sofi dan juga ia merasa bersalah pada Dea sebab ia selalu membuat dea sebagai pelampiasan amarahnya. Selain itu ia juga merasa sudah sangat jahat pada Dea setelah ia tahu dari sang ibu tentang Dea, ternyata penilaiannya pada Dea sangat keliru.
"Bu" ujar Rey menyentuh tangan sang ibu membuat ibunya tersentak kaget sebab sudah sekitar 4 bulan ini dia tak berbicara apapun.
"Nak, kamu bicara sama ibu?"
"Bu" ujar Rey mulai meneteskan air matanya. Ia yang selama ini terlihat sangat tegar kini meneteskan air matanya, air mata penyesalan karena sudah menyia-nyiakan Dea dan lebih memilih Sofi yang ternyata malah membuatnya kecewa.
Bu Wayna segera memanggil dokter karena merasa sangat bahagia, sang anak kini mau berbicara kembali. Sekitar 5 menit kemudian bu Wayna kembali bersama dua orang perawat dan seorang dokter wanita.
"Bagaimana kabarnya pak Rey?"
"Rey hanya terdiam mendengar ucapan sang dokter membuat sang ibu kembali khawatir"
"Nak, dokter tanya apa kamu sudah baikan?"
"Aku sudah baik-baik saja bu, tapi aku tidak mau bertemu siapa-siapa" ujar Rey.
"Kalau begitu kami keluar dulu bu, pak Rey" ujar dokter. Ia sangat mengerti keadaan Rey sehingga ia memaklumi apa yang baru saja Rey lakukan.
"Terimakasih dokter" ujar bu Wayna.
__ADS_1
"Nanti ibu keruangan saya, ada yang perlu saya sampaikan" bisik dokter pada bu Wayna dan di angguki oleh bu Wayna.