
Setelah menimbang cabai yang akan di beli oleh bu Tiwi, aku segera menghitung harganya tak lupa ku berikan diskon untuk tetangga ku yang baik ini. Sementara bibi segera masuk ke dalam rumah karena hari mulai senja.
''Kamu mandi duluan aja De, bibi masih mau masak dulu'' ujar bibi saat aku juga sudah ikut masuk ke dalam rumah dan menemuinya di dapur.
''Bibi saja yang mandi duluan, biar Dea yang masak makan malam buat kita'' ujar ku mengambil alih sayuran yang ada di tangan bibi.
''Ya sudah kalau begitu'' ujar bibi. Ia tahu jika aku sudah mengatakan jika aku yang akan masak maka tak boleh lagi bibi membantu. Ia segera menyambar handuk yang tergantung di samping kamar mandi.
''Bibi mau di masakkan apa?'' Tanya ku sebelum bibi masuk ke dalam kamar mandi.
''Apa aja De. Sepertinya ayam yang semalam masih ada di kulkas kamu goreng aja terus sayurnya kamu buat sayur bening saja di kulkas juga masih ada labu siam satu"
''Baik bi''
Aku mulai mengeluarkan beberapa potong daging ayam dari kulkas kemudian mulai menggorengnya, sambil menunggu ayam matang aku juga menyiangi sayur bayam, aku juga memtong-motong kacang panjang dan labu siam.
Setelah membalik ayam goreng, aku juga mulai memasak sayur yang sudah aku cuci tadi. Saat ayam goreng sudah matang dan sayur juga hampir matang bi Tina sudah selesai mandi.
''Sudah matang De?''
''Sudah bi, tinggal sayurnya aja nih''
''Ya udah biar bibi yang lanjutkan, ayo kamu mandi dulu''
''Baik bi''
Aku mengambil handuk dan berjalan menuju ke kamar mandi, saat hendak masuk ke kamar mandi aku mendengar suara motor berhenti di halaman rumah.
''Aku ambil baju dulu deh, siapa tahu itu tamu, kan ngak enak kalau keluar kamar mandi cuma pake handuk'' ujar ku kembali ke kamar dan mengambil pakaian ganti ku.
Dinginnya air dari keran mampu membuat badan ku yang terasa lelah kembali segar, setelah mandi aku langsung menuju ke dapur memcari bibi.
Tidak ada siapa-siapa yang terlihat si dapur, masakan yang tadi aku buat juga sudah terhidang di atas meja makan.
Aku menuju ke kamar bibi tapi tak juga aku temui siapapun disana. Saat aku melihat ke luar rumah ada sebuah motor yang terparkir di halaman rumah juga dua buah mobil.
''Itu motor dan mobil siapa?'' Tanya ku pada diri sendiri.
__ADS_1
Aku berjalan ke luar rumah, namun tak ku dapati siapapun disana keadaan sangat sepi bahkan lebih sepi dari biasanya.
''Ada apa neng Dea?'' Tanya bu Mira yang tiba-tiba berada di samping ku dan membuat aku terlonjak kaget.
''Aku nyari bibi bu, apa bu Mira liat bibi saya?''
''Oh nyari bi Tina, bibi kamu lagi ke rumah pak Yos nganter tamunya pak Yos''
''Pak Yos?''
''Iya neng, pak Yos sepupu bibi kamu''
''Oh yang dekat rumah bu Weni ya bu?''
''Iya neng''
''Syukurlah kalau gitu, tadi aku pikir bibi kemana bu, soalnya aku baru selesai mandi tadi''
''Oalah jadi neng Dea panik gitu nyariin bi Tina?''
''Iya bu''
''Terimakasih ya bu sudah ngasih tahu Dea, kalau ngak Dea bisa pusing nyariin bibi''
''Sama-sama neng, saya ke rumah dulu ya mau ngangkat dandang nasi kayaknya nasinya sudah matang''
''Iya terimakasih bu''
Aku duduk di teras sambil menunggu bibi pulang, tak lama aku menunggu, bibi dan beberapa orang terlihat berjalan ke arah rumah.
Aku berdiri dari duduk ku tapi tak mendekat ke arah mereka, aku tak mengenal siapa orang-orang yang bersama bi Tina. Aku hanya tersenyum ke arah orang-orang itu karena mereka juga langsung masuk ke mobil dan berlalu meninggalkan halaman rumah ini.
Tak ada satupun dia antara mereka yang menyapa ku, aku pun juga tak menyapa mereka karena tak ingin mereka berpikir jika aku sok akrab dengan mereka.
Setelah kedua mobil dan motor itu pergi bi Tina segera menghampiri ku yang masih berdiri di teras rumah.
''Ada apa nak?'' Tanyanya menepuk pundak ku.
__ADS_1
''Ngak apa-apa bi, tadi aku panik karena tidak melihat bibi''
''Oh gitu, maaf ya tadi bibi pergi tanpa memberitahu kamu, soalnya orang tua Lastri minta di antar ke rumah paman Yos. Oh iya katanya Lastri juga masuk penjara De'' ujar bi Tina yang membuat aku terkejut.
Kasus apa yang di lakukan oleh bi Lastri sampai ia masuk ke penjara? Karena tak ingin terus penasaran, aku kemudian menyakannya pad bi Tina setelah kami duduk di dalam ruang tengah.
''Emang tersangkut kasus apa bi Lastri?''
''Katanya sih, dia ikut dalam kasus yang menjerat Devina, entah kasus apa, bibi juga tidak tahu De" ujar bi Tina.
''Oh gitu bi, terus buat apa orang tua bi Lastri ke rumah pakde Yos?"
''Entahlah nak, tapi yang ibu dengar, ia mau meminta bantuan pakde Yos buat bebasin Lastri dari penjara. Kata ibunya juga Lastri sudah bercerai dari suaminya karena ketahuan telah berbuat kejahatan''
Aku tak bisa berkata-kata lagi mendengar ucapan bi Tina, sedikit perasaan lega timbul dalam hati ku mengetahui jika bi Lasttri juga ikut tertangkap karena dari rekaman suara yang aku dengar ia akan melakukan apapun agar aku dan pak Marvel berpisah.
''Ayo kita makan malam De, setelah itu kita buat anyaman tas yang di pesan pakde kemarin''
''Iya bi''
Aku dan bi Tina menuju ke meja makan, saat tiba disana betapa terkejutnya kami berdua sebab makanan yang tadi kami masak sudah berhamburan di atas meja.
Aku dan bi Tina di buat heran, aneh tapi nyata masakan kami tumpah berserakan tapi mangkuk dan piring tersusun rapi, sepertinya seseoarang sengaja menumpahkan makanan kami.
''Ini kenapa De?'' Tanya bi Tina.
''Entahlah bi, mungkin tadi ada kucing liar atau tikus got yang masuk ke rumah kita'' ujar ku dengan8 suara yang agak keras karena aku merasa pelakkunya masih berada di sekitar rumah kami.
''Mana ada kucing liar De, disekitar sini tidak pernah ada kucing apa lagi tikus got aneh-aneh saja kamu'' ujar bi Tina tak mengerti maksud ucapanku.
''Ada bi dia punya 2 kaki dan 2 tangan, kalau ngak punya tangan, mana mungkin ia bisa nyusun mangkok dan piring rapi begini. Kalau kucing atau tikus biasa kan ngak mungkin bi'' ujar ku menaik turunkan alisku memberi kode pada bi Tina.
Melihat ku yang mulai terkikik geli, bi Tina langsung mengerti apa arti ucapan ku tadi.
''Kamu benar De, sepertinya kucing liar yang ngak pernah mandi, baunya kayak habis berendam di bak sampah'' ujar bi Tina.
''Iya bi, semoga aja kucing liar itu, perutnya kembung karena sudah membuang-buang makanan''
__ADS_1
''Iya bi, ayo kita ke mang bakso di depan jalan saja. Sudah lama juga kan kita ngak keluar rumah''
''Iya De, ayo''