
''Pak, apa boleh saya disini saja?'' Tanya Dea saat kami memasuki gedung.
''Kenapa Dea?''
''Aku.. rasanya tidak pantas berada disini pak'' ujar Dea menunduk.
''Hey.. siapa yang bilang kamu tidak pantas Dea. Dengar ya Dea, di antara orang-orang disini kamu berbeda kamu spesial untuk ku'' ujar ku berusaha menghiburnya.
''Tapi bagaimana jika keberadaan saya di samping bapak membuat bapak malu'' ujarnya meneteskan air mata.
''Tidak Dea, kamu tidak membuat saya malu, justru kamu membuat saya bangga jika kamu berada di samping saya'' ujar ku mengusap air matanya.
''Maaf pak''
''Tidak apa-apa Dea, tetaplah bersama ku dan tetap tersenyum''
Aku bahagia ketika melihat dia tersenyum lagi, aku menggenggam tangannya sambil berjalan mencari keberadaan ibu ku.
''Marvel'' ujar bi Desi menghampiri ku. Bibi Desi adalah teman ibu semasa sekolah.
''Halo Bibi'' ujar ku menyalam tangannya.
''Devina, sini sayang ada Marvel nih'' ujar bi Desi memanggil anaknya.
''Hai Vel, kita ketemu lagi. Sepertinya kita memang berjodoh'' ujar Devina yang membuat ku tak enak hati pada Dea.
''Oh.. hy''
''Sama siapa? Ini murid kamu yang kemarin kan? Kamu ajak juga ke acara ini?'' ujar Devina menatap Dea dari atas sampai bawah.
Aku melihat Dea seperti tak nyaman dengan situasi ini dan ingin segera membawa Dea pergi.
''Siapa nama kamu?'' Tanya bi Desi.
''Saya Dea bu'' ujar Dea mengulurkan tangannya namun tak di sambut oleh bi Desi.
Hal itu membuat ku terluka, aku tahu pasti Dea merasa tak dihargai disini.
''Oh'' hanya itu yang di katakan bi Desi.
Saat hendak membawa Dea dari hadapan bi Desi dan Devina, ada seseorang yang menarik ku hingga tangan ku terlepas dari tangan Dea.
''Om Joy''
''Iya Vel, bisa bicara sebentar?''
Aku menatap Dea dan ia mengangguk.
''Kamu duduk di sini dulu ya, aku mau bicara sama om Joy sebentar''
Aku mengikuti kemana arah om Joy, aku sempat melihat ke arah Dea saat aku berjalan mengikuti om Joy.
__ADS_1
Ternyata bu Desi dan Devina juga ikut duduk di situ, mereka terlihat sedang berbicara dengan Dea. Dea masih tersenyum ke arah ku sebelum aku sibuk berbicara dengan om Joy.
Saat aku melihat lagi bu Desi dan Devina masih duduk di tempat dimana Dea duduk. Dea terlihat menunduk sedangkan bu Desi dan Devina terus berbicara. Aku kembali berbicara dengan om Joy, namun saat aku melihat kesana lagi, tak ku lihat lagi Dea disana hanya tersisa bi Desi dan Devina.
Tanpa basa-basi lagi aku langsung mencari Dea, bahkan panggilan om Joy tak lagi ku hiraukan.
''Bibi kemana Dea?''
''Siapa?''
''Dea bi''
''Oh anak kampung itu, sepertinya udah balik tuh, tadi dia lari keluar''
''Apa?'' Aku langsung berlari ke luar mencari keberadaan Dea.
''Ben, kamu dimana kesini segera, aku ada di taman depan gedung'' ujar ku pada Ben lewat panggilan telpon.
''Ada apa Vel, kamu kayaknya panik banget''
''Dea hilang Ben''
''Koq bisa hilang?''
''Ayo kita cari'' ujar ku.
Kami berpencar mencari keberadaan Dea, entah kemana dia pergi di tempat yang sebesar ini.
''Gimana Ben?'' Tanya ku saat kami sudah mencari selama 15 menit.
''Di gedung ngak ada Vel, di taman juga ngak ada. Koq bisa hilang sih Vel, kamu kemana?''
''Tadi aku ngobrol ama om Joy, terus Dea aku tinggal ngobrol sama bi Desi dan Devina. Dua kali aku noleh Dea masih ada pas ketiga kalinya dia udah hilang''
''Kamu bodoh banget sih ninggalin Dea sama dua mak lampir itu. Jelas aja mereka udah ngehina dan rendahin Dea, seperti yang sudah-sudah. Kamu kan tahu Devina itu suka sama kamu, jadi dia ngak mau kamu dekat-dekat sama cewek lain''
''Terus gimana ini Ben, dimana Dea?'' ujar ku Frustasi karena tak menemukan Dea.
''Kita cari lagi Vel''
''Kalau Dea ngak ketemu aku ngak akan mau jadi pengiring pengantin, lebih baik aku pergi cari Dea''
Aku dan Ben kembali mencari Dea namun hingga kami bertemu kembali kami tak juga menemukannya. Aku bahkan bertanya pada security di tempat itu, namun dia mengatakan belum ada orang yang keluar dari lokasi gedung itu. Sudah satu jam kami mencarinya namun tak ada tanda-tanda keberadaannya.
''Gimana ini Ben, kemana Dea'' ujar ku mulai menangis.
''Aku juga ngak tahu Vel''
''Aku bodoh Ben, aku gagal menjaga Dea''
''Kamu ngapain disini Vel?'' Tanya Ibu ku yang turun dari sebuah mobil.
__ADS_1
''Mama'' aku menangis di pelukan ibu ku.
''Koq nangis kamu kenapa?''
''Dea hilang mah, aku gagal jagain Dea''
''Dea ngak hilang Vel, udah ngak usah nangis begitu malu tahu di liatin Dea'' ujar ibu ku yang membuat ku seketika berhenti menangis.
''Mama liat Dea? Dimana? Bagaimana mama tahu itu Dea?''
''Iya mama liat, Dea kemari nak'' ujar ibu ku.
Aku melihat Dea turun dari mobil yang sama dengan ibu ku, namun kali ini bajunya sudah ia ganti dengan gaun putih bukan dress yang ia kenakan dari rumah tadi.
''Dea'' aku berlari dan memeluknya erat-erat.
''Pak, saya ngak bisa nafas''
''Kamu dari mana Dea? Saya sangat khawatir kamu kenapa-kenapa. Kamu ngak apa-apa kan?'' ujar ku memperhatikan Dea.
''Udah sana kamu ngak bisa jaga wanita, biar Dea sama mama saja'' ujar ibu ku menggandeng Dea menuju ke gedung.
''Mah'' ujar ku mengikuti langkah kedua wanita spesial dalam hidup ku itu.
Setelah tiba di depan gedung ibu melepaskan gandengannya pada tangan Dea.
''Jangan tinggalkan Dea lagi, awas kamu kalau kamu ninggalin Dea lagi. Ibu akan biarkan kamu menangis sampai air matamu kering'' ujar ibu menyerahkan tangan Dea pada ku.
Dengan gembira aku menyambut tangan Dea.
''Nih, tisu hapus air mata kamu, bikin malu saja laki-laki koq nangis. Iyakan Dea?'' ujar ibu yang di angguki oleh Dea.
''Bentar lagi pengantin sampai, kamu tunggu disini jangan kemana-mana'' ujar ibu ku menarik tangan Ben untuk ikut bersamanya.
Terdengar suara sirine motor polisi yang mengawal mobil pengantin memasuki halaman gedung. Beberapa anak kecil berpakaian adat turun dari mobil, mereka berbaris di pintu masuk gedung.
''Vel ayo kemari'' ujar om Joy memanggil ku.
Aku menggenggam tangan Dea dan membawanya ikut serta dengan ku.
''Bunga kalian mana?'' Tanya bu Yahya.
''Kami ngak ada bunga'' ujar ku.
Bu Yahya masuk ke mobil kemudian keluar dengan sebuah rangkaian bunga dan sebuah bunga kecil yang ia tempelkan pada jas bagian dada sebelah kiri yang aku kenakan.
''Nah bunga ini kamu yang pegang, kalian akan berjalan di depan pengantin. Itung-itung latihan siapa tahu kalian juga cepat nyusul'' ujar bu Yahya memberikan rangkaian bunga itu pada Dea. Aku dapat melihat pipi Dea bersemu merah mendengar ucapan bu Yahya, sedangkan aku diam-diam mengaminkan dalam hati.
Pengantin turun dari mobil ketika kami sudah bersiap untuk memasuki gedung, anak-anak kecil yang memakai baju adat berjalan pelan di hadapan kami dengan iringan musik yang indah.
Dengan mengikuti langkah-langkah kecil anak-anak di depan kami, ditambah dengan gandengan tanganku dan Dea juga bunga dan gaun putih yang Dea kenakan, aku merasa jika ini bukan hari pernikahan Bram sepupu ku itu, tapi pernikahan ku dan Dea.
__ADS_1
Senyum tak pernah lepas dari bibir kami berdua bahkan terkadang tatapan mata kami saling bertemu. Aku bisa mendengar ucapan beberapa tamu undangan yang hadir saat ini, beberapa berpikir jika ini adalah pernikahan kembar, mereka mengira aku dan Dea juga sepasang pengantin.