MELODY CINTA DEA DAN MARVEL

MELODY CINTA DEA DAN MARVEL
PULANG KE RUMAH BIBI DAN NENEK (POV AUTHOR)


__ADS_3

Dea menyiapkan sarapan dan mencuci serta merapihkan kembali alat-alat masak yang sudah ia gunakan. Rencananya hari ini setelah sarapan mereka akan kembali ke tempat tinggal Dea yaitu rumah bibi dan neneknya. Setelah memastikan semuanya rapi, Dea segera memanggil Marvel agar mereka sarapan.


Mereka menikmati sarapan dengan perasaan bahagia, Marvel sangat menikmati setiap momen bersama Dea di rumah ini. Setelah sarapan, Dea mencuci piring bekas makan mereka sedangkan Marvel memasukkan selimut dan tikar ke dalam karung karena Dea akan membawanya ke rumah untuk di cuci.


Setelah memastikan tak ada barang mereka yang tertingal, Dea dan Marvel berjalan meninggalkan rumah yang mereka tempati selama dua hari terakhir.


Beras dan bumbu dapur yang masih tersisa, Dea simpan di dalam sebuah guci besar agar tak di makan semut. Ia akan meminta bi Warni untuk mengambilnya jika beliau ingin.


Setelah memasukkan barang-barang mereka ke mobil, Marvel dan Dea berpamitan pada bu Klusia, pemilik rumah dimana Marvel menyimpan mobilnya.


''Terimakasih bu sudah mengijinkan kami memakir mobil disini'' ujar Dea sambil memberikan beberapa lembar uang yang ia selipkan ke tangan bu Klusia saat ia menyalaminya.


''Ini apa neng?''


''Itu ucapan terimakasih karena sudah di ijinkan parkir disini bu'' ujar Marvel.


''Tapi ini terlalu banyak pak''


''Tidak apa-apa bu, anggap saja ini rejeki buat ibu''


''Baiklah terimakasih pak, neng Dea. Semoga tiba dengan selamat'' ujar bu Klusia.


''Sama-sama bu, kami pamit''


Dea dan Marvel naik ke mobil kemudian menuju ke rumah bi Warni untuk berpamitan sekalian mengembalikan kunci rumah nenek yang memang di simpan di rumah bi Warni, saudara sepupu dari ibu Dea.


''Loh Dea kamu ngak ikut sama orang-orang?'' Tanya bi Warni melihat mereka.


''Tidak bi, Dea harus pulang karena ngak lama kami masuk sekolah lagi. Kebun juga cuma bibi yang urus, kalau aku disini terus kasian bibi nanti lelah'' ujar Dea.


''Oh gitu, ya sudah hati-hati di jalan ya Dea nak Marvel, maaf bibi ngak punya apa-apa buat oleh-oleh''


''Terimakasih bi, tidak perlu repot-repot. Oh ya bi, di rumah nenek masih ada beras dengan bumbu dapur, kalau bibi ke kebun masak saja beras dan pakailah bumbu-bimbu itu. Mungkin lama baru Dea datang lagi, soalnya akan sibuk karena banyak kegiatan di sekolah''


''Iya nanti bibi masak jika ke kebun, kalian hati-hati di jalan nak''


''Iya bi'' ujar Dea memeluk bi Warni.


Marvel juga ikut berpamitan pada bi Warni tak lupa ia menyelipkan beberapa lembar rupiah pada tangan bi Warni ketika ia menyalaminya.


''Jangan di tolak bi, itu rejeki buat adik bayi'' ujar Marvel saat bi Warni akan menolak.


''Baik nak terimakasih'' ujar bi Warni.


Bi Warni memang sedang mengandung dan sudah memasuki usia kandungan 9 bulan tak lama lagi beliau akan melahirkan.


Marvel menyusul Dea kedalam mobil setelah berpamitan pada bi Warni.

__ADS_1


Saat mobil mulai berjalan meninggalkan kampung dan melewati area rumah ibu Dea, Dea melihat sekilas kemudian memalingkan wajahnya ke arah lain. Setetes air mata membasahi pipinya.


Marvel yang melihat hal itu menatap sendu sang kekasih, ia tak tahu harus apa saat ini. Marvel melajukan mobil dengan kecepatan yang lumayan sedang ketika mobil belum sepenuhnya menjauh dari kampung. Setelah memasuki kampung lain barulah Marvel memelankan laju kendaraannya.


''Jangan sedih sayang'' ujar Marvel mengusap air mata yang tersisa di pipi Dea. Ia menghentikan mobilnya di tepi jalan karena tak tega melihat air mata Dea.


''Maaf pak''


''Tidak apa sayang, aku hanya tak bisa melihatmu menangis''


Dea kemudian tersenyum, meski hatinya tetap merasa sedih, 'apa sebegitu tak berartinya aku untuk ibu dan keluarga ibu?' Tanya Dea dalam hati.


''Kamu tidur saja sayang, nanti aku bangunkan kalau kita sudah sampai''


''Baik pak, terimakasih'' ujar Dea memeluk Marvel.


Dea mulai menutup matanya setelah melepas pelukannya pada Marvel.


''Tidurlah sayang, aku akan bangunkan kalau kita sudah sampai'' ujar Marvel hendak mencium pipi Dea.


''Pak'' ujar Dea dengan mata yang terbuka.


''Maaf sayang'' ujar Marvel namun tetap mencium pipi Dea.


''Bapak''


''Koq bapak cium lagi?''


''Kan aku sudah bilang jangan panggil bapak, aku bukan bapak kamu''


''Eh, hehehe lupa'' ujar Dea kemudian mulai menutup matanya pura-pura tertidur.


''Tidur ya kalau ngak nanti aku cium lagi''


''Iya, iya bapak'' ujar Dea meledek Marvel yang mulai melajukan mobilnya kembali.


Dea tertawa kemudian memalingkan wajahnya ke arah jendela agar tak dilihat oleh Marvel.


''Awas kamu ya berani godain aku, liat aja kalau kita sampai nanti aku cium kamu sampai kamu minta ampun'' ujar Marvel.


Dea hanya terkekeh mendengar ucapan Marvel, tapi ia juga merasa khawatir jika Marvel benar-bemar melakukannya.


Dua jam perjalanan akhirnya mereka tiba di rumah nek Diah, Marvel menurunkan barang-barang mereka dari mobil sementara Dea masih tertidur.


''Siang nek, siang bi'' sapa Marvel pada nek Diah dan bi Tina yang sedang duduk di teras.


''Siang nak Marvel. Loh nak Marvel sendirian? Dea mana?''

__ADS_1


''Dea masih tidur di mobil nek, biarkan saja mungkin dia masih lelah karena menangis tadi''


''Dea menangis?'' Tanya bi Tina.


''Iya bi, nanti Marvel cerita kan semuanya''


''Baik nak, masih banyak ngak barangnya?''


''Ngak banyak bi hanya ini saja''


''Ya udah duduk dulu nak Marvel, bibi ambilkan minum''


''Terimakasih bi, tidak perlu aku tidak haus bi, nanti aku ambil sendiri bibi tak perlu repot-repot''


''Tidak apa-apa nak'' bi Tina tetap mengambilkan minum untuk Marvel.


''Terimakasih bi padahal Marvel bisa ambil sendiri''


''Tak apa nak, bibi bangunkan Dea dulu kalau begitu''


''Jangan bi, Dea masih lelah biarkan dia istirahat''


''Baiklah, coba cerita apa yang kamu maksud tadi?''


''Sebenarnya di kampung ibu, Dea......'' Marvel menceritakan semua hal yang terjadi di kampung ibu Dea.


Bi Tina dan nek Diah yang mendengarnya merasa sangat terkejut, sebab Dea tak pernah bercerita apapun pada mereka tentang apa yang ia alami di kampung sang ibu.


Dea tak pernah menceritakan jika ia tak tinggal di rumah ibunya, ia selalu bilang jika ia tinggal bersama ibunya dan bahagia disana.


Nek Diah meneteskan air mata mendengar cerita Marvel, ia semakin kasihan pada cucunya itu.


''Nak Marvel jika Dea sudah selesai sekolah, nenek ingin kalian segera menikah. Maaf jika permintaan nenek ini terlalu cepat, nenek hanya ingin Dea bersama orang yang bisa menjaganya dan menyayanginya jika aku dan bibinya sudah tak bersamanya lagi''


''Jangan bicara seperti itu nek, Marvel selalu mendoakan nenek dan bi Tina berumur panjang. Dan soal pernikahan, tanpa nenek minta aku memang akan segera menikahi Dea setelah dia lulus'' ujar Marvel menggenggam tangan nek Diah.


''Kami baru tahu jika Dea di perlakukan seperti itu oleh ibunya, jika saja bibi tahu, bibi tak akan mengijinkan Dea kesana. Sakit hati bibi mendengar Dea di perlakukan seperti itu'' ujar bi Tina.


''Dea sudah bangun bi, tolong jangan ceritakan jika aku sudah mengatakannya pada kalian. Aku hanya tak ingin Dea menanggung beban sendirian'' ujar Marvel melihat Dea keluar dari mobil dan menghampiri mereka.


''Siang nek, siang bi'' sapa Dea kemudian mencium tangan sang nenek dan bibinya.


Nek Diah segera mencium pipi Dea setelah memeluknya dengan berurai air mata.


''Nenek kenapa menangis?'' Tanya Dea.


''Tidak apa-apa nak, nenek hanya rindu sama kamu nak'' ujar nek Diah berbohong.

__ADS_1


__ADS_2