MELODY CINTA DEA DAN MARVEL

MELODY CINTA DEA DAN MARVEL
RENCANA DEVINA, LASTRI DAN IBU DEA (POV AUTHOR)


__ADS_3

Berbagai perpsiapan untuk pernikahan Marvel dan Dea telah selesai disiapkan, hari pernikahanpun juga semakin dekat. Kini tinggal sebulan lagi pernikahan antara Dea dan Marvel akan di gelar, semua menyambut bahagia hari pernikahan itu terkecuali Lastri, bibi Dea.


Lastri begitu sedih saat mengetahui jika Dea dan Marvel akan segera menikah, ia dan Devina kembali membuat rencana untuk menggagalkan pernikahan Marvel dan Dea.


Seperti hari ini Lastri berkunjung ke rumah Devina, disana ia dan Devina kembali menyusun rencana jahat untuk menggagalkan rencana pernikahan Dea dan Marvel. Ya, Devina kini sudah bebas. Ada seseorang yang membebaskannya tapi bukan ayahnya. Ia juga kini tidak tinggal di rumah orang tuanya, melainkan di sebuah apartemen milik seorang laki-laki yang ia kenal saat di dalam tahanan.


Pak Haris bahkan tak mengetahui jika sang anak sudah bebas dari penjara, yang ia tahu anaknya dalam tahanan sedang menjalani masa hukumannya.


''Jadi gimana Lastri, berita apa yang kamu dapat?'' Tanya Devina pada Lastri. Mereka berdua kini duduk di beranda sembari menikmati cemilan dan secangkir teh.


''Ngak ada yang begitu penting sih say, tapi aku tahu apa-apa saja kegiatan mereka beberapa hari kedepan'' ujar Lastri kemudian menyereput teh hangat yang ada di hadapannya.


Devina tersenyum mendengar ucapan sahabatnya, ''Kalau gitu kita bisa buat rencana untuk mereka berdua. Jika Marvel tak bisa aku miliki maka Dea juga tak bisa'' ujar Devina dengan wajah penuh dendam dan amarah


''Kamu benar Dev, meski dia keluarga ku, tapi aku begitu benci padanya'' ujar Lastri.


Semenjak ia ketahuan ikut dalam rencana jahat Devina, ia di ceraikan oleh suaminya saat masuk penjara dan hal itu membuat Lastri begitu dendam pada Dea. Terlebih lagi saat ia sudah keluar dari penjara dan berharap bisa bersama dengan sang suami ternyata suaminya sudah menikah lagi.


Sembari menikmati cemilan dan teh mereka berdua mulai menyusun rencana bagaimana caranya mereka berdua bisa membuat pernikahan Dea dan Marvel batal di laksanakan.


"Rencana yang bagus Dev, aku akan bantu kamu apapun resikonya, lagi pula sekarang sudah tak ada yang bisa menghalangi kita lagi, si Roy payah itu juga sudah kembali ke keluarganya" ujar Lastri dengan seyum yang penuh arti.


"Iya Lastri, semoga tak ada lagi yang menghalangi kita"


Mereka berdua terus menyusun rencana demi rencana yang akan mereka lakukan di hari yang menurut mereka sudah tepat. Mereka tak ingin kali ini gagal dalam memisahkan Marvel dan Dea.


Di sisi lain Marvel dan Dea tengah sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing, Dea dengan kegiatannya mendaftar kuliah dan Marvel dengan kegiatannya menyiapkan segala keperluan pernikahan mereka.


Mereka berdua tak mengetahui jika di tempat lain beberapa orang sudah mulai menjalankan rencana untuk memisahkan keduanya.


Hari ini rencananya Dea akan berkunjung ke kampung halaman sang ibu utnuk mengantarkan baju yang akan sang ibu pakai saat acara pernikahannya nanti.


Kali ini ia akan berangkat seorang diri karena Marvel memiliki kesibukan yang tak bisa ia tinggal.


"Maaf ya sayang aku ngak bisa nganterin kamu ke rumah mama" ujar Marvel melalui sambungan telpon ketika Dea sudah berada di atas mobil.


"Ia kak, ngak apa-apa lagi pula Dea juga cuma sebentar koq nanti sore pulang lagi"

__ADS_1


"Kamu hati-hati di jalan ya sayang"


"Iya kak" ujar Dea kemudian mematikan sambungan telpon karena beberapa orang sudah naik ke atas mobil angkutan.


Dea tak pernah menggunakan ponsel saat berada di atas kendaraan umum, hal itu ia lakukan agar tak mengganggu pengguna kendaraan yang lain.


Sekitar satu jam empat puluh lima menit berada di atas kendaraan akhirnya Dea tiba di kampung halaman sang ibu. Setelah membayar ongkos pada supir angkutan yang ia naiki, ia kemudian melanjutkan dengan berjalan kaki menuju rumah sang ibu.


Dari jalan raya hingga ke rumah ibu Dea, berjarak sekitar 700 meter dan tak ada kendaraan umum yang lewat di tempat itu jadi Dea harus berjalan kaki.


Saat ia tiba di halaman rumah sang ibu, ia melihat sebuah motor yang tak asing baginya. Ia melihat motor Lastri terparkir rapih di halaman rumah sang ibu.


''Siang ayah'' ujar Dea membuat sang ayah terkejut namun tetap berusaha tersenyum menyambut sang putri tercinta.


''Siang nak, tumben kesini tidak mengabari ayah'' ujar ayah David berdiri dari duduknya dan memeluk putrinya.


''Iya ayah, aku ada urusan mendadak dengan ayah dan ibu'' ujar Dea juga membalas pelukan sang ayah.


''Apa ada hal penting yang ingin kamu bicarakan dengan ibu dan ayah nak?''


''Iya ayah, ibu dimana?''


Dea mengamati postur tubuh sang ayah yang semakin hari semakin bertambah kurus.


''Apa ayah sakit? Dea merasa ayah agak kurusan'' ujar Dea memijat tangan sang ayah.


''Ngak nak, ayah baik-baik saja''


''Itu motor siapa ayah? Seperti motor bi Lastri?''


''Itu memang motor bibimu nak, dia ada di kamar dengan ibumu. Katanya ada yang ingin mereka bicarakan'' ujar ayah David.


Dea merasa aneh dengan apa yang di katakan oleh sang ayah, untuk apa bibinya itu menemui sang ibu setelah masalah yang terjadi beberapa waktu lalu? Entah mengapa Dea merasakan firasat buruk dengan kedatangan Lastri di rumah ibunya.


''Kamu sudah makan siang nak?''


''Sudah ayah, apa ayah sudah makan?''

__ADS_1


''Sudah nak''


''Ini Dea bawakan beras merah buat ayah'' ujar Dea meletakkan 1 karung kecil beras merah dengan berat 5 kilogram.


Ayah Dea memang di diagnosis oleh dokter terkena penyakit diabetes dan sudah setahun belakangan dia hanya mengkonsumsi beras merah atau ubi singkong sebagai pengganti nasi, untuk mencegah kadar gula darahnya.


''Beras yang kamu bawa saat datang dengan Marvel saja masih banyak nak''


''Tidak apa-apa ayah, jika Dea ada rejeki Dea akan terus belikan untuk ayah'' ujar Dea memeluk tubuh sang ayah yang sudah meneteskan air mata tanpa Dea sadari.


''Kamu mau minum apa nak, biar ayah buatkan?''


''Tidak usah repot-repot yah, aku ngak haus koq. Nanti Dea ambil sendiri jika mau'' ujar Dea.


Saat keduanya tengah berbincang-bincang, Lastri dan ibu Dea berjalan beriringan keluar dari rumah. Keduanya terkejut melihat Dea namun beberapa detik kemudian keduanya berusaha bersikap normal.


''Aku pulang dulu David'' ujar Lastri kemudian melajukan motornya meninggalkan kediaman ibu Dea.


''Sudah lama datangnya nak?'' Tanya sang ibu yang membuat Dea sangat bahagia.


Bagaimana ia tak bahagia, ini pertama kalinya sang ibu menyapa dirinya dengan lembut seperti itu.


''Tidak bu, baru saja Dea tiba, Dea ada perlu dengan ibu dan ayah'' ujar Dea.


''Kalau begitu ayo masuk duduk di dalam rumah'' ujar Snag ibu membawa Dea masuk ke dalam rumah, Dea hanya mengikuti sang ibu, ia sangat bahagia di perlakukan sangat manis oleh sang ibu. Ia tak tahu jika di balik itu semua ada sebuah rencana besar yang akan menghancurkan kebahagiannya.


''Terimakasih bu'' ujar dea.


''Ada perlu apa nak?'' Tanya ibunya


''Aku bawa baju yang akan ayah dan ibu pakai di hari pernikahan ku nanti'' ujar Dea menyerahkan sebuah paper bag ke hadapan sang ibu''


''Tentu saja sayang ibu dan ayah pasti akan datang. Ibu tak akan melewatkan hari bahagia dan bersejarah buat anak ibu'' ujar ibu Dea memeluk Dea erat.


Dea meneteskan air mata haru mendapat perlakuan yang begitu manis dari sang ibu, sementara sang ibu tersenyum jahat karena rencana yang ia buat dengan Lastri mulai berjalan mulus.


Ayah David, Dea dan ibunya berbincang-bincang sebelum akhirnya Dea pamit untuk pulang. Dea merasa sangat bahagia mendapat perlakuan baik dari ibunya, ia bahkan terus meneteskan air mata haru saat ia sudah tiba di rumahnya.

__ADS_1


Saat malam tiba sebelum tidur ia berdoa pada Tuhannya agar sang ibu dan ayah di berikan umur panjang, ia juga berterimakasih karena sang ibu sudah baik kepadanya.


__ADS_2