MELODY CINTA DEA DAN MARVEL

MELODY CINTA DEA DAN MARVEL
DEA SADAR (POV AUTHOR)


__ADS_3

Malampun tiba Marvel dengan tetap setia menunggu di depa ruang ICU dimana Dea masih terbaring lemah.


Nico juga dengan setia menemani sang sahabat, ia tak tega meninggalkan Marvel sendirian dalam keadaan seperti itu.


''Kalau kamu lelah pulang saja Nic, kamu kan harus kerja besok''


''Ngak koq Vel, lagi pula aku ngak mungkin ninggalin kamu dalam keadaan seperti ini''


''Terimakasih Nic''


''Sama-sama Vel, ohw iya bagaimana keadaan papa kamu?''


''Papa sudah agak baikan saat aku dari sana Nic, mudah-mudahan aja beliau cepat sehat kembali''


''Amin, oh iya aku keluar sebentar ya Vel''


''Iya Nic, hati-hati''


Nico berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang terhubung dengan kantin. Ia membeli beberapa bungkus roti juga dua kotak nasi, setelah membayar semuanya ia menemui Marvel lembali.


Marvel menatap aneh sahabatnya yang menenteng sebuah kantong plastik dengan ukuran yang lumayan besar.


''Ayo makan dulu'' ujar Nico meletakkan sekotak nasi ke atas pangkuan Marvel.


''Aku ngak lapar Nic''


''Ngak usah bohong, aku tahu kamu sudah lapar. Kamu mau kalau Dea bangun terus liat kamu kayak begini pasti Dea akan sedih'' ujar Nico agar Marvel mau makan dan benar saja, Marvel langsung menyuap nasi yang ada di dalam kotak.


'Cepatlah sadar Dea, kasian Marvel yang begitu khawatir padamu, semoga kalian selalu diberkati' batin Nico.


Selama ia bersahabat dengan Marvel baru kali ini ia melihat sahabatnya itu benar-benar menyayangi seorang wanita. Ia bahkan sempat terkejut saat mengetahui jika Marvel akan segera melamar kekasihnya yang tak lain adalah murid di tempatnya mengajar.


Selama ini Nico dan Boy selalu mencoba untuk menjodohkan Marvel dengan berbagai macam wanita namun semua di tolak oleh Marvel. Suatu waktu Nico mengenalkannya pada seorang mahasiswa, Marvel mengatakan jika ia tak ingin wanita yang sangat muda darinya, tapi entah kenapa sekarang ia malah mencintai wanita yang berusia bahkan hampir separuh dari umurnya.


''Cinta memang rumit'' gumamnya.


''Ngomong apa Nic?'' Tanya Marvel yang menyadari jika temannya itu sedang mengatakan sesuatu.


''Ngak ngomong apa-apa Vel, kamu lanjut aja makannya''


''Kamu ngak makan?''


''Aku makan koq, nih aku juga beli satu bungkus buat aku''


Setelah keduanya selesai makan, Nico pamit pulang untuk berganti pakaian, ia meninggalkan roti yang ia beli tadi untuk Marvel.


''Dasar Nico, di pikir aku anak kecil pake di belikan cemilan segala'' ujar Marvel terkekeh melihat tingkah sahabatnya itu.


Pukul 22:15 seorang perawat memanggil Marvel karena Dea sudah sadar.


''Bagaimana keadaan Dea sus?''


''Dea sudah sadar pak, jika bapak mau menemui silahkan''


''Baik sus, terimakasih. Apa sudah bisa di pindahkan?''


''Nanti saya tanya dokter dulu pak''

__ADS_1


''Baiklah terimakasih sus''


Dengan senyum merekah Marvel masuk dan menghampiri Dea yang sedang menutup matanya.


''Sayang'' panggil Marvel dengan mata yang berkaca-kaca.


Mendengar ada suara yang sangat familiar baginya, perlahan-lahan Dea membuka matanya untuk mematiskan apakah ia berhalusinasi atau tidak.


Ia mengedip-ngedipkan matanya berusaha untuk membuat ia yakin jika yang ada di depannya saat ini adalah Marvel.


''Pak'' ujarnya lirih.


''Iya sayang ini aku'' Marvel menggenggam tangan Dea dengan sangat lembut. Matanya yang tadi berkaca-kaca kini mulai meneteskan beberapa bulir air mata.


''Jangan menangis pak'' ujar Dea, ia ingin mengangkat tangan dan menghapus air mata Marvel namun tenaganya tak cukup kuat.


''Permisi pak, pasien sudah boleh di pindahkan jika bapak ingin segera dipindahkan karena disana juga cukup lengkap fasilitasnya''


''Baik sus, sayang kita pindah ke ruang perawatan ya''


''Iya''


Setelah siap Dea segera di pindahkan ke ruang perawatan yang sudah di minta oleh Marvel. Dengan dibantu oleh dua orang perawat, Marvel mendorong tempat tidur Dea. Nico dan Boy sudah berada di ruangan itu saat Dea dan Marvel masuk kesana.


Marvel sendiri heran dengan kedua sahabatnya itu yang sudah berada di sana lebih dahulu.


''Kalian koq sudah ada disini?''


''Ia dong kita kan bisa ngilang dan muncul dimana aja, ya ngak Boy?''


''Iya dong kitakan jin kampus hahaha'' ujar Boy diiringi tawa oleh keduanya.


''Gimana perasaan kamu Dea? Apa kamu merasa mual atau pusing?''


''Sudah lebih baik dokter, saya juga tidak mual hanya bagian kepala saya sakit sama bagian dada''


''Baguslah kalau begitu, kalau kepala kamu sakit itu wajar saja karena ada bagian kepala kamu yang dijahit, juga bagian dada itu karena jahitan bekas oprasi yang masih sakit''


''Saya di oparsi dok?'' Tanya Dea terkejut.


''Iya, sayang'' ujar Marvel menggenggam tangan Dea.


''Tapi kenapa pak?''


''Ada pembekuan darah di bagian dada kamu sayang, jadi harus di bersihkan darah membekunya sayang biar tak terjadi infeksi''


Dea hanya mengangguk kecil menanggapi ucapan Marvel kemudian ia tiba-tiba menangis.


''Loh koq nangis sayang?'' ujar Marvel, ia khawatir jika Dea sedang kesakitan.


''Aku khawatir sama nenek'' ujar Dea lirih.


''Ngak apa-apa sayang nenek sudah tahu, nenek juga baik-baik saja'' ujar Marvel membuat Dea seketika menatapnya.


''Gimana kalau kita telpon bibi sekarang?''


Marvel mengeluarkan ponsel dari sakunya kemudian mencari dan memanggil nomor ponsel bi Tina.

__ADS_1


Tut...


Tut...


Tut...


''Halo nak Marvel''


''Hllo bi, ini Marvel mau ngabarin kalau Dea udah sadar, Dea juga sudah baik-baik saja. Bibi dan nenek istirahat saja kalau mau menemui Dea besok saja kalian kesini karena sudah malam. Bagaimana keadaan nenek bi?''


''Iya nak Marvel terimakasih tolong jaga Dea. Nenek baik-baik saja, baru saja tidur''


''Syukurlah, saya tutup dulu ya bi''


''Iya nak''


Setelah panggilan terputus Dea tersenyum karena ia tahu jika neneknya baik-baik saja.


''Terimakasih pak''


''Sama-sama sayang'' ujar Marvel mencium tangan Dea.


''Ngak usah mesra-mesraan dihadapan gue, gue ngak akan baper meski gue jomblo'' ujar Nico.


''Biarin sirik aja jomblo'' ujar Marvel.


''Dea kamu sitirahat ya, kamu belum pulih betul harus banyak istirahat ngak usah peduliin omongan Marvel. Mending kamu tutup mata terus tidur dari pada nemanin dia yang ada kamu begadang kalau sama dia'' ujar Nico kemudian berlari keluar dari ruangan itu.


''Awas kau Nic'' ujar Marvel.


''Cepat sembuh ya Dea, biar bisa sekolah lagi'' ujar Boy meletakkan keranjang buah yang ia bawa dia atas meja.


''Terimakaish pak sudah jenguk saya''


''Sama-sama, bapak pulang dulu ya besok harus masuk soalnya''


''Iya pak terimaksih''


''Vel aku balik dulu ya, jagain Dea dengan benar nanti aku laporin sama bibi kalau kamu ngak jagain dengan benar''


''Iya bawel, udah sana pulang''


''Iya,iya. Aku pulang ya''


''Hati-hati'' ujar Marvel.


Setelah kepergian dua orang itu Marvel kembali menatap dalam kedua manik mata Dea. Dea yang ditatap seperti itu langsung saja menutup matanya, jantungnya berdetak lebih kencang dan ia merasa pipinya menghangat.


''Kamu ngantuk sayang?''


''Ngak pak'' ujar Dea dengan mata tertutup.


''Trus kenapa matanya kamu tutup, kamu pusing?''


''Ngak pak?''


''Terus kenapa?''

__ADS_1


''Aku malu di tatap sama bapak'' ujar Dea yang membuat Marvel tertawa.


''Dea..Dea kamu itu bikin aku gemas, andai saja kamu sehat udah aku peluk kamu'' ujar Marvel yang merasa gemas dengan Dea. Bisa-bisanya Dea masih merasa malu di tatap oleh Marvel, ia tak tahu saja jika Marvel sangat cemas dengan keadaannya.


__ADS_2