MELODY CINTA DEA DAN MARVEL

MELODY CINTA DEA DAN MARVEL
KEMBALI KEPADA YANG MAHA KUASA (POV AUTHOR)


__ADS_3

Kebahagiaan yang Dea rasakan bersama Sion sirna ketika dua hari setelah pesta perayaan ulang tahunnya, Sion mengalami muntah-muntah dan demam tinggi.


Saat itu Dea tengah menjemur pakaian di halaman belakang, ketika Ana datang membawa Sion yang terus muntah-muntah dalam dekapannya. Dea yang terkejut langsung saja melepas pakaian yang ia jemur kemudian mengambil alih Sion dari dekapan Ana.


''Sion tiba-tiba muntah kak badannya juga panas, kita bawa ke rumah sakit sekarang biar aku nyalakan motor'' ujar Ana masuk ke rumah dan mengambil kunci motor kemudian segera menyalakan mesin motor. Setelah mesin motor menyala, Ana segera mengendong Sion sedangkan Dea mengambil beberapa surat- surat yang sekiranya ia butuhkan di rumah sakit. Tak lupa ia mengambil dompet dan ponselnya kemudian memasukkannya kedalam tas yang memang ia siapkan jika ada keadaan darurat.


''Ayo dek'' ujar Dea naik kemotor di susul oleh Ana yang menggendong Sion, Dea segera mengemudikan motornya ke rumah sakit terdekat. Sekitar 10 menit berkendara, akhirnya mereka tiba di rumah sakit, Dea segera membawa Sion masuk ke ruang IGD sedangkan Ana memarkirkan motor mereka sebelum menyusul Dea ke ruang IGD.


''Doktet tolong anak saya dok'' ujar Dea panik. Ia meletakkan Sion di ranjang rumah sakit sembari mencoba mengajak sang anak berbicara.


''Saya periksa dulu ya bu'' ujar seorang dokter mulai memeriksa keadaan Sion.


''Apa keluhan adek?'' Tanya seorang perawat kepada Dea.


''Dia tiba-tiba deman dan muntah-muntah'' ujar Dea.


Setelah dokter memeriksa keadaan Sion ia segera memberitahu Dea jika Sion harus dirawat dan harus di pasang infus untuk mempermudah pemberian obat.


''Pasien harus dirawat inap bu, kita harus melakukan tes darah untuk mengetahui penyakitnya. Jika tidak ada masalah serius dan keadaan pasien sudah baik-baik saja dan demamnya juga turun, besok sudah boleh pulang'' ujar dokter.


''Baik dokter'' ujar Dea.


Dokter kembali ke tempat duduknya dan menuliskan resep obat yang harus Dea ambil di apotik.


Saat Ana sudah masuk ke ruangan IGD, Dea sedikit lega sebab kini ada yang bisa menjaga Sion sementara ia pergi mengambil obat ke apotik.


''Dek, kakak mau ambil obat Sion di apotik,kamu jaga Sion dulu ya''


''Kakak saja yang jaga Sion biar aku yang ambil obatnya'' ujar Ana.


''Baiklah'' ujar Dea menyerahkan resep obat beserta kartu jaminan kesehatan milik Sion.


Ana bergegas menuju ke apotik untuk mengambil obat milik Sion, beruntung saja saat itu tak banyak orang yang mengantri untuk mengambil obat sehingga Ana tak perlu menunggu terlalu lama.

__ADS_1


Setelah mendapatkan obat milik Sion, Ana bergegas kembali ke ruang IGD. Setibanya disana Sion sudah terpasang infus, Ana segera menghampiri Dea dan menyerahkan plastik berisi obat.


''Kakak kasih obat ke perawat dulu, tolong jaga Sion dek''


''Iya kak'' ujar Ana.


Dea bergegas ke tempat perawat menyerahkan obat, dengan telaten dan cepat para perawat mulai memasukkan obat ke dalam spoit kemudian menuju ke ranjang tempat Sion berbaring dan menyuntikkan beberapa jenis obat ke dalam cairan infus Sion.


Sejak masuk ruang IGD tadi, Sion belum merespon apapun yang Dea katakan, matanya bahkan tak berkedip sama sekali dan badannya sangat panas.


''Obatnya sudah masuk ya bu, sebentar lagi pasien akan bisa merespon ucapan ibu'' ujar perawat membuat hati Dea sedikit tenang.


Benar saja apa yang perawat itu katakan tak lama berselang Sion mulai merengek membuat Ana dam Dea langsung tersenyum.


''Terimakasih Tuhan anakku sudah lebih baik'' ujar Dea memeluk Sion.


''Kak Dea, aku pulang dulu ya buat ngambil baju ganti buat kakak sama Sion''


''Baik kak, aku pulang sekarang ya kak''


''Iya kamu hati-hati ya dek, ini ongkos buat kamu dek'' ujar Dea menyerahkan beberapa lembar uqng dua puluh ribuan pada Ana.


''Tidak usah kak, Ana masih ada uang'' ujar Ana.


Ana belum berani membawa kendaraan bermotor melalui jalan-jalan protokol kota sehingga ia lebih memilih untuk naik kendaraan umum dari pada membahayakan keselamatan dirinya dan orang lain.


Malampun tiba kini Sion sudah mulai bisa bermain meski ia masih sering merasa mual.


''Kak Dea istirahat saja dulu biar aku yang jaga Sion'' ujar Ana melihat Dea yang terlihat pucat.


''Kakak belum ngantuk dek, kamu saja yang istirahat oh iya besok ngak usah jualan dulu dek''


''Aku juga belum ngantuk kak, tapi wajah kakak pucat kakak istirahat saja dulu biarpun cuma sebentar'' ujar Ana yang sedang sibuk mengotak-atik ponselnya.

__ADS_1


Keduanya saling diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing, hingga keduanya tersentak kaget ketika mendapati Sion yang kejang-kejang.


''Dek panggil dokter'' ujar Dea.


''Iya kak'' ujar Ana segera berlari ke ruangan dimana dokter jaga berada.


Tidak lama berselang Ana kembali dengan seorang dokter dan dua orang perawat, dokter segera memeriksa keadaan Sion yang kini tubuhnya sudah lemas.


''Silahkan ibu keluar kami akam melakukan yang terbaik untuk pasien'' ujar perawat.


Meski enggan akhirnya Dea keluar juga meninggalkan dokter dan perawat yang sedang berusaha menyelamatkan Sion.


''Sion dek'' ujar Dea dengan derai air mata yang sudah mengalir deras di pipinya.


''Sabar kak kita berdoa semoga adek sion baik-baik saja'' ujar Ana berusaha menenangkan Dea.


Cukupa lama keduanya menunggu hingga akhirnya dokter keluar dari ruang perawatan Sion dengan wajah yang lesu membuat Dea semakin merasa sedih.


''Bagaimana kondisi anak saya dok?'' Tanya Dea.


''Maafkan kami bu, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, namun Tuhan berkehendak lain adek Sion sudah kembali kepada yang maha kuasa'' ujar dokter yang membuat Dea semakin histeris dan langsung berlari kedalam ruang rawat Sion.


Dea memangis sekencang yang ia bisa ia tak peduli lagi dengan keadaan sekitarnya, bahkan ia tak mendengar apa yang Ana ucapakan.


''Nak... bangun nak ini mama nak, ayo nak bangun, mama tau kamu sedang bercanda kan sama mama? Ayo sayang bangun kita beli susu coklat, tadi Sion bilang mau susu, ayo sayang kita beli susu'' ujar Dea terus menggoyang-goyangkan tubuh Sion yang kini sudah tak bernapas lagi.


Ana menghubungi adiknya untuk mengabarkan pada pak rt jika Sion sudah meninggal dunia. Setelah berbicara dengan adiknya, Ana segera mengurus segala admistrasi rumah sakit agar Sion bisa segera di bawa pulang setelahmya ia kembali berusaha untuk menguatkan Dea.


''Kakak harus sabar kak, ikhlaskan adek Sion. Sekarang adek Sion sudah tidak sakit lagi kak ia sudah tenang bersama bapa di surga'' ujar Ana memeluk Dea yang masih terus menangis.


Dunianya terasa runtuh dan gelap gulita mengetahui satu-satunya keluarga yang selalu bersamanya kini sudah di panggil Tuhan. Ada rasa sesak yang begitu hebat dalam dadanya membuat ia beberapa kali tak sadarkan diri membuat Ana sangat khawatir.


Didalam mobil ambulans yang membawa jenasah Sion, Dea terus menangis meratapi kepergian putra tercintanya. Ia masih belum bisa menerima kenyataan jika sang anak telah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.

__ADS_1


__ADS_2