
Marvel tidur dengan sangat nyaman hingga tak terasa hari sudah sore ketika ia terbangun.
''Dea kemana ya? Ternyata sudah jam 5'' ujarnya melihat jam yang berada di pergelangan tangannya.
Tok..tok...tok..
''Bapak sudah bangun?'' Tanya Dea dari balik pintu yang masih tertutup.
''Iya'' ujar Marvel mulai turun dari tempat tidur Dea.
''Dari mana De?'' Tanya Marvel melihat Dea memakai baju yang berbeda dengan yang ia pakai tadi.
''Habis dari rumah bu Tiwi pak''
''Oh gitu''
''Iya pak, ada ibadah syukuran nanti malam di rumah bu Tiwi jadi Dea bantu-bantu disana tadi. Saya mau ngajak bapak tadi tapi pas saya lihat bapak masih tidur saya ngak tega bangunin bapak jadi saya tinggal deh hehehe''
''Iya pak, bapak mau pulang atau nginap lagi?''
''Ngak apa-apa kalau aku nginap?''
''Ya ngak apa-apa pak, bapak kan bisa tidur di kamar aku. Kalau aku, bisa tidur sama nenek atau bibi, atau kita bobo di ruang tengah lagi ramai-ramai. Lagi pula kalau bapak mau pulang paling nanti jam 9, soalnya jalan depan rumah ada tenda buat acara syukuran pak dan tak ada jalan lain''
''Tapi aku ngak ada baju ganti buat besok sama baju untuk malam ini''
''Bapak lupa ya kalau tempo hari baju bapak yang bapak pake masih disini?''
''Oh iya'' Marvel menepuk keningnya.
''Ya udah aku ijin nenek dulu ya sekalian mau mandi''
''Iya pak''
Marvel keluar dari kamar dan menemui nek Diah. Ia kembali meminta ijin untuk bermalam.
''Nek''
''Iya nak ada apa?''
''Itu.. eh saya mau ijin nginap lagi nek''
''Iya nak, ngak apa-apa nak. Lagi pula kalau kamu mau pulang ngak ada jalan nak, jalannya ketutup sama tenda. Ada acara syukuran di rumahnya bu Tiwi jadi pasang tenda disana''
''Terimakasih nek, saya mau mandi dulu''
''Iya nak, mandilah sudah malam. Setelah itu kita makan malam sama-sama''
''Baik nek''
Dea menyiapkan pakaian ganti untuk Marvel, dengan senyuman ia menyiapkannya.
''Gini kali ya rasanya kalau kita berjodoh pak'' gumam Dea.
Setelah menyiapkan pakaian untuk Marvel Dea segera mengantarkan handuk untuk Marvel karena tadi ia lupa memberikannya.
''Pak bapak masih di dalam?'' Tanya Dea setelah mengetuk pintu kamar mandi.
__ADS_1
''Iya De, bapak boleh minta tolong ambilkan handuk?''
''Ini sudah Dea bawakan pak, mana tangan bapak?''
Marvel mengulurkan tangannya agar Dea bisa memberikan handuk apadanya.
''Baju bapak sudah saya siapkan di atas kasur, setelah pakai baju kita makan pak''
''Iya De, terimakasih'' ujar Marvel sebelum menutup rapat pintu kamar mandi. Ia tersenyum menatap handuk yang Dea berikan padanya tadi, 'aku harap suatu hari nanti kita akan melalui ini setiap hari' doanya dalam hati.
Dea segera menuju ke dapur menyiapkan makan malam mereka, tadi bu Tiwi memberikan opor ayam juga ikan bakar pada Dea saat Dea hendak pulang.
Dea menggelar tikar dan menyusun semua menu makan malam mereka di atas meja yang berada di tengah. Setelah siap ia segera memanggil nenek untuk makan malam, bi Tina masih berada di rumah bu Tiwi katanya ia akan pulang setelah acara selesai.
''Ayo makan nek'' ujar Dea menghampiri nek Diah yang sedang asik menonton acara telivisi.
''Iya, pak Marvel mana?''
''Masih ganti baju nek''
Dea membantu sang nenek untuk berdiri karena umur yang sudah tua dan kondisi tubuh nenek yang akhir-akhir ini sering drop membuat nenek tak kuat untuk berdiri setelah duduk lama.
''Kamu panggil nak Marvel De''
''Iya nek'' ujar Dea setelah menyendokkan nasi dan lauk ke piring nenek.
Dea beranjak menuju ke kamarnya untuk memanggil Marvel makan malam, namun baru berada di ruang tengah Marvel sudah muncul dengan senyum di wajahnya.
''Ternyata istriku sudah sangat pandai menyiapkan keperluan ku, terimakasih sayang'' ujar Marvel hampir saja mencium pipi Dea.
''Sama-sama pak, ayo makan nenek sudah makan lebih dulu karena sebentar lagi harus tidur''
''Ayo makan nak Marvel jangan sungkan-sungkan''
''Iya nek''
Mereka menikmati makan malam dengan perasaan bahagia, mereka sesekali bercanda sambil menikmati makan malam.
Setelah makan malam, nek Diah duduk-duduk sebentar sebelum pergi tidur. Marvel menghampiri nek Diah yang sedang menikmati serial tv kesukaannya.
Dea sendiri membereskan bekas makan mereka kemudian ikut bergabung dengan Marvel dan neneknya.
''Nak Marvel tidur di kamar Dea aja nanti ya''
''Apa tidak akan apa-apa nek saya tidur di kamar Dea? Nanti Dea tidur dimana?''
''Tidak apa-apa nak, Dea nanti kamu sekamar sama Marvel ya'' ujar nek Diah melihat Dea datang menghampiri mereka.
''Tapi nek''
''Tidak apa-apa nak, nenek percaya pada kalian berdua. Lagi pula nenek akan tidur dengan bibimu nanti, kamar bibi mu akan di tempati Lastri dan suaminya.
Lastri adalah bibi dari Dea saudara dengan bi Tina dan ayah Dea hanya saja berlainan ibu.
''Baik nek'' ujar Marvel.
''Nenek tidur dulu ya Dea nak Marvel''
__ADS_1
Dea hanya mengangguk menatap punggung nek Diah yang mulai berbaring di atas kasur miliknya, setelah Dea membantu menuntunnya berjalan menuju kamarnya Dea langsung membaringkan sang nenek di atas kasur dan menyelimutinya.
''Serius pak kita mau tidur sekamar?''
''Iya sayang''
''Tapi..''
''Tapi kenapa sayang?''
''Kamar Dea cuma ada satu kasur''
''Ngak apa-apa kita berbagi dua saja, tenang aku ngak akan ngapa-ngapain kamu''
''Iya saya tahu pak, tapi saya merasa aneh aja tiba-tiba ada yang temani saya tidur''
''Ngak aneh sayang, lagian kalau ada apa-apa aku bisa langsung ada kalau kamu butuh sayang''
''Baiklah pak, tapi maaf kalau kamar saya kecil''
''Ngak apa-apa sayang aku merasa sangat nyaman saat berada di kamar kamu''
Mereka berdua masih duduk di ruang tengah sembari menonton acara tv hingga pukul 09:45 malam.
''Loh kalian belum tidur'' ujar bi Tina yang baru pulang dari rumah bu Tiwi bersama dengan bi Lastri dan suaminya.
''Belum bi, nungguin bibi pulang'' ujar Dea.
''Ayo masuk bi Lastri''
''Iya nak. Kami mau istirahat ya nak Marvel, Dea'' ujar bi Lastri.
''Baik bi'' ujar Marvel.
Bi Lastri seumuran dengan Marvel, dia juga salah satu teman kuliah Marvel dulu, jadi tentu saja ia mengenal Marvel selain karena Marvel bertunangan dengan keponakannya.
''Kalian juga tidur, sudah malam bibi mau langsung tidur. Malam ini kamu berbagi kamar dengan Marvel ya De'' uajr bi Tina sebelum masuk ke kamarnya.
''Baik bi''
Setelah semua orang masuk ke kamar kini hanya tinggal Dea dan Marvel yang ada disana.
''Bapak sudah ngantuk?'' Tanya Dea.
''Iya sayang''
''Kalau begitu ayo kita juga tidur pak lagi pula ini sudah cukup larut''
''Iya sayang, aku matikan tvnya dulu ya'' ujar Marvel mengekor di belakang Dea setelah mematikan televisi.
Jadilah malam ini mereka tidur di kamar Dea, kasur milik Dea memang hanya pas untuk dua orang, untung saja badan Dea kecil jadi tak masalah jika ia harus berbagi kasur dengan Marvel.
''Koq aku jadi deg-degan gini sih? Kenapa pula aku harus tidur sekamar bahkan satu kasur dengan pak Marvel?'' Tanya Dea dalam hati saat ia mulai berbaring di atas kasur dimana Marvel sudah lebih dulu berbaring.
''Kenapa dengan jantung ku ini? Kenapa aku gugup seperti ini? Apa begini rasanya jika kami menikah nanti dan tidur sekamar? Semoga aku tak melakukan hal-hal buruk pada Dea malam ini. Tuhan tolong bantu aku menjaga wanita ku'' ujar Marvel dalam hati, ia mulai menutup matanya meski itu dilakukannya hanya untuk menghindari menatap Dea.
Dea sendiri memilih untuk berdoa terlebih dahulu sebelum tidur, ia mengira jika Marvel sudah tertidur. Ia berusaha untuk tak bersuara, meski kali ini ia berdoa dalam hati namun tetap saja isakan kecil terdengar dari bibir mungilnya ketika ia mengadu kepada Tuhannya.
__ADS_1
Dea tak memyadari jika sedari tadi Marvel terus menatap ke arahnya dan saat setetes air mata jatuh di pipinya, Marvel ingin segeea memeluknya namun ia tahan dan membiarkan Dea menyelesaikan doanya.
Air mata yang jatuh di pipi Dea membuatnya merasa sangat sakit entah mengapa jika ia melihat air mata Dea maka ia akan ikut merasakan rasa sakitnya.