MELODY CINTA DEA DAN MARVEL

MELODY CINTA DEA DAN MARVEL
TUHAN LEBIH SAYANG PADA IBUMU (POV AUTHOR)


__ADS_3

Bi Tina merangkul Dea yang mulai terisak, ia tahu jika Dea akan sangat syok mengetahui hal ini. Meski ia juga merasa sangat sedih karena kepergian sang ibu, namun dia tak bisa terus larut dalam kesedihannya ada Dea yang harus ia jaga seperti permintaan sang ibu sebelum menutup mata.


''Jika ibu sudah tidak kuat lagi, tolong jaga Dea nak, hanya kamu dan Marvel yang ia punya'' ujar nek Diah sebelum benar-benar pergi untuk selamanya. Kata-kata itu selalu terngiang-ngiang di dalam pikiran bi Tina. Sehingga meski ia sangat sedih karena kehilangan satu-satunya orangtua yang ia miliki selama hidupnya, ia harus menjadi orang yang kuat karena masih ada Dea yang menjadi tanggung jawabnya.


Bi Tina sudah menganggap Dea sebagai anaknya, sehingga ia akan merasa sangat khawatir jika sesuatu yang buruk terjadi padanya.


''Kamu harus kuat nak, jika kamu sedih ibu juga akan sedih disana'' ujar bi Tina terus memeluk Dea.


''Jangan bohong padaku bi, tadi nenek baik-baik saja, bahkan nenek masih bercanda dengan ku dan kak Marvel'' ujar Dea.


''Ini semua sudah takdir nak, kamu harus ikhlas menerima semuanya jika kamu bersedih nenek akan ikut sedih''


''Tidak bi nenek baik-baik saja'' ujar Dea berlari ke arah ranjang dimana tubuh kaku sang nenek terbaring.


''Nek, ayo bangun jangan main-main seperti ini, Dea tahu nenek orang yang kuat. Nek, ayo bangun nek'' Dea terus menggoyang-goyangkan tubuh sang nenek, ia bahkan memeluk dan mencium wajah sang nenek.


''Sayang'' Marvel mengusap pelan punggung Dea.


''Nenek masih sehat kan kak ? Nenek ngak apa-apa kan?'' Ujar Dea dengan mata yang sudah di penuhi oleh air mata, ia menatap ke arah Marvel dan membuat Marvel ikut meneteskan air mata.


''Kamu harus ikhlas sayang, nenek sudah pergi. Dia sudah bahagia di surga nenek sudah tidak merasakan sakit lagi nenek sudah sembuh'' ujar Marvel.


''Ngak, kakak bohong. Nenek baik-baik saja, nenek ngak mungkin ninggalin Dea'' ujar Dea mendorong tubuh Marvel menjauh darinya.


''Sayang'' ujar Marvel kembali mendekat ke arah Dea, ia membawa sang kekasih ke dalam pelukannya.


''Nak tolong bawa Dea keluar, tolong tenangkan dia'' ujar bi Tina pada Marvel.


''Tidak bi, aku akan disini sama menek, sebentar lagi nenek pasti bangun, aku ngak mau kalau nenek bangun aku ngak ada di sampingnya'' ujar Dea.


''Sayang dengarkan bibi, nenek sudah pergi nenek ngak akan bangun lagi. Kita harus iklas nak, jangan biarkan nenek menderita disana karena kamu tidak ikhlas'' ujar bi Tina mengusap kepala Dea yang berada di dalam pelukan Marvel.


''Sayang kita keluar ya, kita urus administrasi nenek setelah itu kita bawa nenek pulang'' ujar Marvel membawa Dea luar dari ruangan itu, mereka menuju ke bagian administrasi.


Di dalam ruangan itu tinggal bi Tina yang ada di samping ranjang nek Diah.

__ADS_1


''Ibu kenapa tinggalkan aku dan Dea, kami harus apa tanpa ibu'' ujar bi Tina menangis memeluk tubuh sang ibu.


Beberapa penjaga pasien yang berda satu ruangan dengan nek Diah ikut merasakan kesedihan yang di alami oleh bi Tina. Beberapa di antaranya mencoba untuk menguatkan bi Tina, meski mereka tak mengenal bi Tina tapi mereka merasa simpati melihat apa yang di alami oleh bi Tina.


''Yang sabar nak, Tuhan lebih sayang pada ibumu'' ujar seorang ibu pada bi Tina.


Bi Tina hanya bisa terus menangis, ia tak tahu bagaimana kehidupannya akan ia lanjutkan setelah ini. Orang yang selalu ada di sampingnya sebagai panutannya kini telah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.


Tak lama setelah kepergian Dea dan Marvel mengurus administrasi, tiga orang perawat datang dan mendorong tempat tidur yang di tempati oleh nek Diah.


''Permisi bu, pasien akan segera di bawa pulang karena keluarga sudah menyelesaikan administrasinya'' ujar seorang perawat.


''Tapi saya be..'' ucapan bi Tina tertahan oleh kedatangan Marvel.


''Ayo kita bawa pulang nenek bi'' ujar Marvel.


Bi Tina hanya mengangguk, ia merasa tak enak hati karena Marvel yang megurus semua biaya rumah sakit nek Diah.


''Bi ayo'' ujar Marvel membantu memapah bi Tina yang sudah agak lemas karena terus menangis.


''Tidak bi, Marvel tidak mersa di repotkan, lagi pula nenek juga keluarga Marvel sama seperti Dea dan bibi'' ujar Marvel.


''Dea mana nak?''


''Dea sudah ada di mobil ambulans bi, dia sudah menunggu disana'' uajr Marvel.


Setelah jenasah nek Diah di naikkan ke atas mobil, Marvel juga segera naik ke motornya dan mulai melaju mendahului mobil ambulans untuk menunjukkan arah ke rumah nek Diah.


Tak butuh waktu lama mobil ambulans memasuki halaman rumah nek Diah, beberapa tetangga keluar dari rumah karena terkejut mendengar suara serine mobil ambulans.


Tepat saat mobil berhenti di depan rumah nek Diah, tetangga yang ada di sekitar rumah itu berbondong-bondong datang ke rumah nek Diah.


Marvel dengan sigap membuka pintu rumah dan menggelar tikar di ruang tengah, setelahnya ia membantu beberpaaaa petugas menurunkan jenasah nek Diah dari atas mobil.


Ketika para tetangga melihat hal itu, mereka makin terkejut dan langsung ikut masuk ke dalam rumah nek Diah. Beberapa orang di antara mereka langsung menangis sementara yang lainnya membantu menenanagkan bi Tina dan Dea yang menangis semakin histeris saat jenasah nek Diah sudah berada di ruang tengah rumah itu.

__ADS_1


Setelah mengantar para petugas kembali ke mobil, Marvel segera menghubungi ayah Dea juga kedua orangtuanya.


Setelah selesai ia kembali masuk ke dalam ruang tengah dimana sang kekasih sudah tak sadarkan diri, ia menjadi sangat khawatir.


''Nak Marvel tolong panggilakan dokter atau apa saja, Dea harus di periksa. Bibi tidak mau kehilangan Dea juga'' ujar bi Tina terus menggoyang-goyangkan tubuh Dea berharap Dea segera membuka matanya.


Marvel segera menghubungi Nico sahabatnya, ia meminta Nico segera ke rumah Dea.


Beruntung rumah Nico berada tak jauh dari sana dan juga ia tidak sementara bertugas jadi ia bisa segera datang ke rumah Dea.


''Ada apa Vel kenapa begitu ramai?'' Tanya Nico setelah sampai di rumah nek Diah.


''Dea pingsan Nic, dari tadi belum sadarkan diri,coba kamu periksa dulu'' ujar Marvel.


Kini Dea sudah dibaringkan di atas kasur di dalam kamarnya, Nico segera memeriksa keadaan Dea.


''Gimana Nic?''


''Ngak apa-apa Vel, mungkin Doa sedang syok saja, apa ada Vel kenapa kamu begitu sedih? Dea tidak apa-apa koq Vel, hanya syok saja'' Nico menepuk pundak Marvel. Ia berpikir jika Marvel sedih karena Dea pingsan saja padahal karena kepergian nek Diah juga.


''Nenek Dea meninggal Nic'' ujar Marvel memeluk Nico kemudian menangis.


Marvel memang sangat menyayangi nek Diah, ia sudah menganggap nek Diah seperti neneknya sendiri.


Nico terkejut dengan apa yang di katakan Marvel, saat ia masuk tadi memang ramai orang di ruang tengah rumah itu bahkan banyak di antara orang-orang itu yang sedang menangis.


Awalnya Nico berpikir itu karena Dea yang pingsan namun ternyata ia salah itu karena nek Diah yang meninggal.


''Sabar Vel, kamu harus menguatkan Dea. Jika kamu sedih seperti ini bagaiaman dengan Dea dan bi Tina'' ujar Nico. Ia mencoba membuat sahabatnya itu kuat menerima semua ini.


''Kamu benar Nic, tetimakaish sudah datang''


''Sama-sama Vel, apa ada yang bisa aku bantu Vel?''


''Sudah tidak ada Nic terimakasih'' ujar Marvel memeluk Nico kembali.

__ADS_1


__ADS_2