
''Yang tadi itu loh''
''Yang tadi apa sih?''
''Ya tadi waktu kami datang, koq ada pak Marvel, ngapain pak Marvel disini?''
''Oh itu, tadi katanya pak Marvel lagi kurang sehat trus datang nyari obat''
''Apa iya? Tapi kan tempat obat ada di luar ruangan ini''
''Iya, emang ada apa?''
''Ngak apa-apa tadi aku sempat dengar sih pak Marvel bilang sesuatu?''
''Hah??'' ujar Dea yang membuat kedua temannya itu tertawa.
''Hahahaha kamu lucu banget sih Dea, aku cuma bercanda loh, aku ngak dengar apa-apa koq cuma aku lihat kalian tatap-tatapan'' ujar Tini.
''Ng-ngak koq, kami ngak tatap-tatapan''
''Ngan usah bohong nih aku punya buktinya'' ujar Tini memperlihatkan rekaman video dimana Marvel dan Dea sempat bertatapan selama beberapa detik tadi.
''Itu..''
''Ngak usah di pikirin dulu yang penting kamu sehat dulu, kalau udah sehat baru kamu harus jelasin semuanya sama kami''
''Jelasin apa?''
''Aduh Dea kamu itu pintar tapi bodoh juga kadang-kadang. Maksud aku kamu harus jelaskan apa yang terjadi, sebab aku curiga jika kamu dan pak Marvel itu sudah saling kenal terlebih tadi di kelas aku liat kamu dan pak Marvel matanya sama-sama berkaca-kaca'' ujar Tini membuat Dea terdiam.
'Apa Tini memperhatikan aku dan pak Marvel sampai sedetail itu?' tanya Dea dalam hati.
''Itu cuma perasaan kamu saja koq, aku..''
''Udah ngak usah di pikirin. Gimana keadaan kamu sudah baikan?''
''Sudah lebih baik koq, oh iya Mel, kalau kamu pulang duluan tolong angkatin jemuran aku ya soalnya aku masih ada kegiatan sampai sore''
''Ok''
''Kita balik ke kelas yok'' ajak Tini.
''Ayo, Mel ayo ikut ke kelas kami juga''
''Ngak ah, aku ada janji sama bu Gebi mau ngerjain tugas yang belum aku kerjain dari minggu lalu'' ujar Amelia.
''Ya ampun, ya udah kamu hati-hati ya nanti pulangnya''
''Ok''
Mereka berpisah di depan ruangan klinik kampus, Tini dan Dea kembali ke kelas mereka, Amelia mencari dosennya, di tengah perjalanan Dea mendengar bisik-bisik dari beberapa mahasiswi.
''Liat deh, itu bukannya yang ada di video?''
''Mana sih?''
''Yang itu yang lagj jalan berdua yang panjang rambutnya''
''Mahasiswi baru yang katanya pura-pura sakit saat pak Marvel ngajar di kelasnya?''
''Iya, terus ini ngapain pak Marvel sama dia di ruang kesehatan?''
''Ya ngak tahu, mungkin dia memcoba merayu pak Marvel''
Dea berpura-pura tidak mendengar apapun yang mereka katakan, ia menulikan telinganya.
''Kamu ngak apa-apa Dea?''
''Ngak apa-apa koq. Ayo kita lanjut ke kelas lagi, oh iya kira-kira video apa yang di lihat mreka ya?'' Tanya Dea.
''Nanti aku coba cek pasti ada yang bagikan di grup'' ujar Tini.
Saat sampai di kelas Dea terkejut kala melihat tas dan buku-bukunya sudah berserakan di atas meja dan juga di lantai.
__ADS_1
''Kalian apa-apaan?'' Tanya Tini.
''Teman kamu tuh yang apa-apaan. Pura-pura sakit lagi biar pak Marvel simpati, dasar munafik diam-diam tapi kelakuan...''
''Diam kalian'' ujar Tini kesal, Dea hanya diam dan merapikan buku-bukunya ke dalam tas.
'Apa kejadian sewaktu di kampung akan kembali terulang di kampus ini? Apa aku memang tidak pantas berada dekat dengan kak Marvel?' batin Dea.
''Kamu ngak apa-apa Dea?'' Tanya Tini yamg membantu Dea memasukkan alat tulisnya ke dalam tas.
''Ngak apa-apa koq'' ujar Dea yang berusaha terlihat baik-baik saja.
''Ya sudah kita ke taman dari pada di kelas sama orang-orang bego'' ujar Tini yang membuat teman sekelasnya kesal.
''Siapa yang lu bilang bego?''
''Emang kenapa lu marah kan gue ngak bilang itu elu, kenapa marah kakau lu ngak berasa bego'' ujar Tini menarik tangan Dea keluar dari kelas itu.
Kini Dea dan Tini sudah ada di salah satu bangku taman di kampus itu, dari kejauhan ada sepasang mata yang terus mengawasi Dea. Hatinya begitu bahagia ketika melihat Dea tadi, ia bahkan hampir tak bisa menahan diri untuk memeluk Dea.
''Entah rencana apa yang Tuhan rencanakan untuk kita sayang, sehingga Tuhan kembali mempertemukan kita di saat kita sudah mulai menjalani kehidupan masing-masing. Jika Dea kuliah disini, bagaimana dengan anak dan suaminya? Aku kan mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Dea ku'' ujar Marvel mengambil ponselnya dari saku celana dan menghubungi seseorang.
''Aku mau kamu cari informasi tentang....''
''Baik tuan'' ujar seorang lelaki di ujung panggilan.
''Terimakasih''
Setelah memutuskan sambungan telpon Marvel kembali memperhatikan Dea yang sedang duduk termenung di bangku taman.
Dea melanjutkan kelasnya sekitar pukul 2 dan selesai pukul 3:15 sore, setelah kelas terakhirnya usai ia bergegas untuk pulang.
''Sampai besok ya Dea''
''Sampai besok juga Tin, hati-hati di jalan''
''Kamu juga hati-hati di jalan''
''Iya''
''Syukurlah aku ingat sebelum sampai di rumah'' ujar Dea setelah menemukan jam tangannya yang ia simpan di atas mejanya.
Dea keluar dari ruang kelasnya kemudian menuju ke pintu gerbang samping kampus yang memang selalu ia lewati, sangat jarang Dea masuk lewat pintu gerbang depan kampusnya itu.
Saat melewati ruangan seni musik, ia terkejut saat seseorang menariknya dan menutup mulutnya. Badannya gemetar dan matanya tertutup karena ketakutan, membuat orang yang menariknya langsung memeluknya.
''Maaf aku sudah membuatmu takut'' suara itu langsung membuat Dea tenang, ia membuka matanya perlahan dan melihat jika ia sedang berada di dalaaam pelukan Marvel.
''Maaf pak tidak seharusnya kita seperti ini'' ujar Dea ingin berlalu namun di tahan oleh Marvel.
''Maaf Dea, tapi aku..''
''Maaf pak, kita sudah berada di jalan masing-masing. Bapak dengan keluarga bapak dan aku dengan keluarga kecil ku'' ujar Dea berlari menjauh.
''Tapi aku...'' Marvel tak sempat menyelesaikan kalimatnya namun Dea sudah menghilang di balik pintu gerbang.
''Maafkan aku kak, meski kakak sekarang sudah berpisah dengan istri kakak dan aku juga sudah berpisah dengan suami ku, tapi aku tidak berharap lagi untuk bisa bersama dengan kakak, aku sudah tidak pantas untukmu kak. Masih banyak wanita lain di luar sana yang bahkan lebih baik dari ku kak, kakak bisa mendapatkan yang mana saja'' ujar Dea dengan derai air mata di pipinya.
Ia terus berlari hingga ia tiba di depan pintu kamarnya ia segera masuk dan mengunci pintu. Di dalam kamarnya ia menangis, ia tak tahu apa yang ia rasakan saat ini, ia bahagia karena bisa melihat Marvel dalam keadaan baik-baik saja, namun ia juga bersedih karena ia masih menyimpan rasa untuk Marvel.
''Kenapa kakak datang lagi di hidup ku kak, aku.. aku sudah tidak pantas lagi untukmu kak. Lihatlah aku yang sekarang, aku bukan Dea yang dulu kak, aku Dea yang berbeda Dea yang sudah di sentuh oleh orang lain meski itu suami ku sendiri. Aku tidak ingin kakak kecewa karena aku tidaklah seperri yang kakak harapkan, aku sudah gagal menjaga diri ku kak'' ujar Dea memandangi fotonya dan Marvel yang ia simpan di salah satu bukunya.
''Dea..Dea... kamu kenapa?'' Ujar Amelia yang mengetuk pintu kamar Dea sebab ia mendengar Dea menangis.
''Aku ngak apa-apa Amel''
''Ngak apa-apa gimana? Kamu kenapa nangis ayo buka pintunya atau aku panggil orang buat dobrak'' ujar Amelia karena khawatir.
''Iya'' Dea segera menghapus air matanya kemudian membuka pintu kamarnya.
''Kamu kenapa memangis?'' Tanya Amelia khawatir.
''Aku ngak apa-apa koq cuma lagi ingat mendiang ayah saja''
__ADS_1
''Jangan bohong tadi aku liat kamu dari jalan sana udah nangis aku panggil kamu ngak dengar''
''Aku benar ngak apa-apa koq''
''Oh iya ini tadi ada kertas sama kalung yang jatuh dari tas kamu'' ujar Amelia memberikan kertas dan kalung milik Dea.
''Terimakasih'' ujar Dea meneteskan air matanya sebab kalung itu adalah kalung pemberian Marvel untuknya.
''Tuh kamu nagis lagi, ada ap sih, ayo cerita sama aku. Aku ngak akan pulang kakau kamu ngak cerita''
''Tapi....''
''Ayo masuk ke dalam kita cerita sambil makan keripik'' ujar Amelia memperlihatkan sebungkus plastik penuh keripik singkong.
''Hem.. Dea. Kamu ngak mau jujur nih sama aku?''
''Jujur soal apa?''
''Soal pak Marvel?''
''Itu.. aku..''
''Katakan saja Dea, aku siap mendengarkan dengan setia sampai kamu bosan berbicara'' ujar Amelia membuat Dea menghela nafas.
''Dea minta minum dong'' ujar Amelia.
''Aku ambil dulu ya'' Dea berdiri dan masuk ke dapur kecilnya untuk mengambil air putih.
Sambil memakan keripik, Amelia menatap kamar Dea yang tertata rapi namun ia terkejut kala melihat foto Dea dengan gaun pengantin berfoto dengan seseorang yang sangat mirip dengan dosen baru di kampus mereka.
''Foto ah'' Amelia memotret foto yang ada di buku Dea itu.
''Nih Mel minumnya''
''Makasih ya, sekarang ayo cerita''
''Kamu ingat kan cerita aku yang tidak jadi menikah dengan tunangan ku karena perjodohan''
''Ingat terus apa hubungannya dengan pak Marvel?''
''Sebenarnya tunangan aku itu kak Marvel Mel'' ujar Dea kemudian menangis membuat Amelia panik.
''Hush jangan nangis nanti dikiranya aku ngapa-ngapain kamu. Jadi maksud kamu, Marvel yang kamu maksud itu dosen baru di kampus kita yang kayak pangeran itu?'' Tanya Amelia dan Dea mengangguk.
''Ya ampun, terus kenapa kamu nangis. Kan sekarang pak Marvel sudah duda kamu juga janda kan ngak apa-apa jika kalian berhubungan lagi. Lagi pula aku tahu jika kamu masih cinta sama pak Marvel begitupun sebaliknya''
''Ng-ngak koq''
''Tidak usah mengelak Dea nih ada buktinya'' ujar Amelia memperlihatkan foto yang ada di buku Dea''
Dea terkejut dan langsung menutup buku itu, ia begitu malu dan merasa sangat bodoh karena lupa menutupnya tadi.
''Aku tahu kamu masih cinta sama pak Marvel dan dia juga sepertinya masih cinta sama kamu Dea. Buktinya dia sudah beberapa bulan ngajar di kelas ku dan kelas-kelas lain bahkan jurusan lain tapi ngak ada tuh yang mampu membuat dia seperti tadi, bahkan saat aku dan Tini tadi masuk ke ruang kesehatan aku dan Tini dengar semua yang di ucapkan pak Marvel. Aku juga liat waktu pak Marvel meluk kamu tadi.'' Ujar Amelia terus terang membuat mata Dea membulat sempurna menatap temannya yang terus asik memakan keripik singkong tanpa peduli jika wajah Dea sudah memerah karena malu.
''Itu..'''
''Ayo mau ngelak apa lagi kamu...''
''Tali aku merasa sudah tidak pantas untuk kak Marvel Mel, aku dan dia bagaikan langit dan bumi yang tida akan mungkin bisa bersatu''
''Hush jangan ngomong gitu, kita tidak tahu rencana Tuhan, lihat saja setelah kalian terpisah selama beberapa tahun kini kalian di pertemukan kembali''
''Gimana caranya aku bisa menghindari kak Marvel ya Mel?''
''Kenapa mau menghindar?''
''Aku.. aku ngak mau berharap lagi buat bisa bersamanya Mel. Di luar sana masih banyak wanita lain yang pantas buat kak Marvel dibanding aku yang hanya seperti ini''
''Terserahmu sajalah Dea, tapi aku sarankan jangan menghindar karena semakin kamu berusaha menghindar maka kalian akan semakin di dekatkan, percaya deh''
Dea hanya tersenyum memdengar ucapan Amelia.
Di tempat lain Marvel sedang memandangi tangannya yang baru saja memeluk Dea, entah mengapa ia serasa tak percaya jika ia baru saja bertemu bahkan memeluk wanita pujaannya itu.
__ADS_1
''Maafkan aku Dea, jika aku sudah membuatmu takut tadi, tolong jangan benci aku'' ujar Marvel. Ia merasa sangat bersalah sebab membuat Dea ketakutan.