
Darmi dan Sukma terus menggoda Dea, mereka sangat bahagia karena mereka sangat suka menggoda Dea.
''Dea, boleh bicara sebentar'' ujar Marvel.
''Boleh pak''
Dea berdiri dan menghampiri Marvel yang berada tak jauh dari sana.
''Ada apa pak?''
''Kamu ngak apa-apa pulang sendiri nanti?''
''Ngak apa-apa pak, biasanya juga saya pulang sendiri''
''Iya sih hehehe''
''Emang ada apa pak?''
''Aku harus temani pak Bimo ke rumah ketua yayasan, jadi ngak bisa antar kamu pulang''
''Oh begitu, bapak pergi saja temani pak Bimo, lagi pula saya biasa pulang sendiri''
''Kamu hati-hati ya pulangnya nanti. Sekarang aku mau berangkat sama pak Bimo. Oh iya ada tugas buat kalian nanti, aku sudah taro di kelas tadi''
''Iya pak hati-hati'' ujar Dea.
Marvel berjalan menuju ruang kepala sekolah, namun baru beberapa meter dia kembali berbalik berjalan ke arah Dea dan membisikkan sesuatu. Pipi Dea bersemu merah mendengar apa yang Marvel bisikkan.
Dea sangat kesal pada Marvel karena lagi-lagi dia dengan berani menggodanya.
''Awas ya pak'' ujar Dea kesal.
Marvel yang mendengar teriakan Dea, hanya menoleh dan tersenyum. Ia selalu merasa bahagia setelah melihat pipi merah Dea jika ia menggodanya.
''Ada apa De?'' Tanya Darmi menghampiri Dea karena mendengar suara teriakan Dea.
''Eh, ng-ngak ada apa-apa koq'' ujar Dea sembari menggaruk kepalanya.
Tak mungkin ia mengatakan pada Darmi jika baru saja Marvel menggodanya.
''Terus ngapain kamu teriak-teriak sama pak Marvel, dia ngapain kamu?''
''Ngak ngapa-ngapin udahlah, yuk kita balik ke kelas. Oh iya pak Marvel ngak masuk kelas kita nanti katanya mau temani pak Bimo ke rumah ketua yayasan''
''Ohw''
''Tapi ada tugas sih yang dia kasih. Katanya sudah ada di meja di kelas''
''Oh gitu ya udah kita balik ke kelas yok''
''Ayok''
''Sukma mana?''
''Udah balik ke kelasnya katanya mau ngerjain tugas bareng Gema''
''Oh gitu''
''Btw tadi habis ngomongin apa sama pak Marvel?''
''Cuma ngomongin tugas yang mau di kerjain nanti koq''
''Yakin?''
__ADS_1
''Iya Mi''
Ketika bel tanda pelajaran dimulai berbunyi, Dea segera membagikan tugas yang ternyata Marvel letakkan di atas mejanya kepada teman-teman sekelasnya. Mereka mengerjakan tugas yang di berikan pak Marvel dengan sangat gembira, bukan karena mereka menyukai mata peljaran itu, tapi karena mereka memiliki waktu untuk menggoda Dea sebab tak ada Marvel di kelas itu saat ini.
Dea benar-benar merasa lelah menghadapi teman-teman kelasnya yang sedari tadi terus menggodanya.
''De, tugasnya kita kumpul dimana?''
''Kasi sama aku aja, nanti aku yang kasi sama pak Marvel''
''Baiklah bu Marvel'' ujar Leni dan di ikuti oleh tawa teman-teman sekelasnya.
Hingga bel tanda pelajaran berakhir berbunyi, tak pernah sekalipun teman-teman Dea berhenti menggodanya.
'Begini amat nasib ku jadi kekasihnya pak Marvel' batin Dea.
Ia hanya bisa tersenyum menjawab godaan dari teman-temannya, ia tak tahu apa yang harus ia katakan.
Setelah semua temannya pulang, Dea segera membawa tugas mereka ke meja pak Marvel di ruangannya.
''Dea'' ujar Boy melihat Dea berada di ruangan wakik kepala sekolah.
''Iya pak''
''Kamu cari siapa? Cari Marvel?'' Tanya Boy.
''Ngak cari siapa-siapa pak, saya mengantar tugas ini tapi tidak tahu mau taruh dimana? Takutnya nanti tercecer pak''
''Hm, aku telfon Marvel dulu kalau begitu''
''Baik pak, maaf merepotkan''
''Tidak apa-apa Dea''
''Ngak di angkat pak?''
''Ngak Dea, bentar ya bapak coba lagi''
Dipanggilan kedua akhirnya Marvel menjawab panggilannya.
''Halo Boy, ada apa?''
''Ada Dea di ruangan kamu bawa tugas. Dia bingung tugasnya mau di simpan dimana''
''Oh gitu, bilang bawa aja dulu ke rumah, simpan di kamar, nanti kalau aku kesana ambil baju ku yang kupakai semalam baru aku ambil'' ujar Marvel yang membuat bola mata Boy melebar sempurna.
''Hah? Maksudnya kamu rumah siapa?''
''Ya rumah Dealah Boy, ngak mungkin kan rumah aku''
''Emang kamu ngapain di rumah Dea?''
''Ada aja mau tahu aja kamu, udah kasih tahu Dea bawa aja ke rumah simpan di meja di kamar, nanti habis dari sini aku pulang''
''Ok''
Boy mengakhiri panggilannya dengan Marvel kemudian memberitahu Dea apa yang di ucapkan Marvel.
''Gimana pak, mau di simpan dimana?'' Tanya Dea.
''Kata Marvel kamu bawa pulang saja dulu simpan meja belajar di kamar, nanti Marvel kesana ambil sekalian ambil baju yang dia pakai semalam'' ujar Boy dengan sedikit menggoda Dea.
Dea yang mendengar ucapan Boy tersipu malu, bagaiamana tidak Marvel dengan entengnya ngomong sama Boy seperti itu.
__ADS_1
'Pasti pak Boy mikir yang ngak-ngak nih, liat aja mukanya seperti sedang meledek ku' batin Dea.
''Baik pak, kalau begitu saya permisi''
''Iya Dea, hati-hati''
''Terimakasih pak''
Ketika Dea sudah berjalan meninggalakan ruangan itu, bu Siska menghampiri Boy yang menutup pintu ruangan Marvel.
''Ada apa dengan Dea Boy? Kamu gangguin dia ya?'' Tanya Siska melihat Dea yang berjalan semakin menjauh.
''Ngak koq aku cuma godain dia tadi waktu aku habis telfon Marvel. Kamu tahu ngak sayang kalau semalam Marvel nginap di rumah Dea''
''Hah? Serius kamu, jadi mereka bobo bareng gitu? Wah si Marvel ngak ngomong-ngomong sama kita''
''Ngapain dia mau ngomongin hal begitu sayang, masa ia dia mau menceritakan apa yang ia lakukan semalam sama Dea, ngak kan?''
''Hehehe iya juga sih''
''Ayo kita pulang juga'' ujar Boy menarik tangan Siska untuk pulang bersama.
''Loh koq tugas kita masih ada sama kamu?'' ujar Rosa yang melihat Dea masih memegang tugas-tugas mereka tadi.
''Ia pak Marvel minta aku bawa pulang, besok baru di ambil soalnya takut tercecer kalau di tinggal di sekolah ngak ada yang jaga''
''Oh gitu''
''Iya, kamu perasaan dari tadi udah pulang?''
''Iya tadi udah di jalan eh lupa kalau hp aku ketinggalan di kelas''
''Astaga kamu koq bisa sampai lupa sih Ros, mana hp bagus lagi sayang kan kalau hpnya hilang''
''Kalau hilang ya berarti minta baru De'' ujar Rosa kemudian tertawa.
Dea hanya geleng-geleng kepala melihatnya, Rosa memang merupakan anak dari keluarga yang cukup berada. Ayahnya seorang pemilik toko swalayan dan ibunya seorang guru sekaligus pemilik toko kue.
''Tumben kamu jalan Ros, biasanya di jemput sama papa kamu?''
''Iya hari ini papa ke kota M, katanya mau beli sesuatu, aku sih kurang tahu juga apa itu''
''Oh gitu''
''Iya lagi pula kita searah jadi aku ada temannya buat jalan. Kapan-kapan aku ke rumah kamu ya De''
''Boleh-boleh saja Ros, tapi rumah aku kecil ngak kayak rumah kamu''
''Ngak apa-apa kali, aku malah suka rumah-rumah yang sederhana karena mengingatkan aku pada rumah nenek di kampung''
''Datang saja kalau kamu mau, aku ada di rumah koq tiap hari''
''Iya, oh iya aku duluan ya De'' ujar Rosa berbelok masuk ke lorong menuju rumahnya.
''Iya Ros''
Dea melanjutkan perjalanan ke rumahnya dengan perasaan yang aneh, ia merasa jika sedari tadi ada yang mengawasinya, namun saat ia melihat ke sekitarnya tak ada siapapun disana.
''Lebih baik aku cepat-cepat jalannya, perasaan aku ngak enak'' ujar Dea mempercepat langkah kakinya.
Saat tiba di depan rumahnya ia baru merasa aman, jantungnya masih berdetak sangat kencang.
''Ada apa neng? Kenapa neng Dea lari-lari?''
__ADS_1
''Ngak apa-apa bu, tadi waktu lewat di jalan yang dekat kebun sayur bu Weni saya merasa ada yang liatin saya terus'' ujar Dea dengan nafas yang masih ngos-ngosan.