MELODY CINTA DEA DAN MARVEL

MELODY CINTA DEA DAN MARVEL
AKTA CERAI (POV AUTHOR)


__ADS_3

Bagaikan angin segar yang membawa kesejukan kedamaian menghampiri Dea ketika ia mendengar ucapan dari dokter yang memeriksanya.


Hatinya begitu bahagia ketika mengetahui jika ia tidak sedang sakit dan dokter itu juga mengatakan jika kemungkinan Dea sedang mengandung saat ini. Dokter menyarankan agar Dea,memeriksakan diri ke dokter kandungan atau bidan.


Dea semakin yakin jika dirinya sedang mengandung, terlebih tespek yang ia coba menunjukkan dua garis merah meski garis merah yang satu masih samar-samar, ingin rasanya ia segera memeriksakan diri, namun ia tak tahu dimana tempat praktek bidan atau dokter kandungan, selain itu ia juga sudah berjanji jika ia akan pulang cepat.


''Terimakasih dokter'' ujar Dea sebelum meninggalkan ruangan dokter.


Dengan hati yang gembira Dea pulang ke rumah, ia ingin segera memberitahu kabar gembira ini pada mertua dan suaminya, ia tak tahu jika di rumah sudah menantinya sebuah kabar yang akan membuatnya kembali bersedih bahkan lebih sedih dari biasanya.


Setelah membayar ongkos taksi, ia segera menelan bel yang ada pintu gerbang dan tak lama seorang sekurity membuka gerbang.


''Silahkan masuk nona'' ujarnya Ramah.


''Terimakasih pak'' ujar Dea.


Ia terkejut melihat mobil suaminya sudah terparkir rapih di depan pintu rumah, juga ada mobil milik mertuanya dan dua buah mobil yang ia tak ketahui siapa pemiliknya.


''Siang'' ujar Dea ketika masuk ke dalam rumah. Ia melihat ada banyak orang yang sedang duduk di ruang tamu.


''Siang'' jawab orang-orang yang duduk disana.


Dea merasa jika tatapan mata dari Rey dan mertuanya kini sama persis yaitu tatapan tajam yang membuat siapapun yang melihatnya akan merada terintimidasi.


''Dea, sini duduk'' panggil bu Wayna.


''Iya bu'' ujar Dea kemudian duduk di kursi yang di tunjuk oleh mertuanya.


''Karena semua sudah ada di sini, kita mulai saja pembicaraannya' ujar seorang laki-laki parubaya.


Semua yang ada di ruangan itu mengangguk terkecuali Dea yang kebingungan dengan apa yang sedang terjadi.


''Sebagai orang tua dari Sofi kami disini meminta pertanggung jawaban dari saudara Reyland Hamington yang sudah membuat putri kami mengandung'' ujar laki-laki itu yang membuat Dea yang sedari tadi diam mendengarkan terkejut.


Ia memandang semua orang yang ada di ruangan itu, terutama sang suami dan ibu mertuanya yang kini hanya bisa tertunduk.


''Me-mengandung'' beo Dea.


''Iya, sekarang aku sedang mengandung anak dari Rey dan itu mengharuskan kami untuk menikah'' ujar Sofi dengan senyum kemenangan.


Dea menoleh ke arah sang mertua yang hanya diam tak mengatakan apapun, bu Wayna juga bingung bagaimana ia harus bersikap. Di satu sisi ia sangat menyukai Dea, tapi di sisi lain ia sangat menginginkan cucu, hal yang belum bisa Dea penuhi.


''Mah'' Ujar Dea lirih.

__ADS_1


''Maaf Dea, mama tidak bisa berbuat apa-apa, semuanya mama serahkan pada Rey'' ujar bu Wayna yang membuat Dea menjadi kecil hati.


''Bagaimana nak Reyland, apa keputusan nak Rey?'' Tanya lelaki yang berbicara sejak tadi.


''Saya akan tetap memilih Sofi om Burhan, saya mencintai Sofi. Meski gadis itu istri saya, tapi saya tidak pernah mencintainya, kami menikah karena paksaan dari ibu saya. Saya akan menikahi Sofi dan menceraikan istri saya'' ujar Rey yang membuat hati Dea semakin hancur.


Setetes air mata jatuh di pipinya tapi dengan cepat ia menghapusnya, ''Apa nak Rey yakin?''


''Tentu saja om, saya bahkan sudah menyiapkan berkas-berkasnya dan hanya perlu tanda tangan darinya, setelah itu aku bisa menikah dengan Sofi'' ujar Rey yang duduk berdampingan dengan Sofi.


''Lalu bagaimana dengan saya?'' Tanya Dea.


''Rey akan menceraikan kamu karena kamu itu mandul ngak bisa punya anak'' ujar Sofi yang membuat Dea sedikit emosi.


''Bagaimana kau bisa mengatakan aku mandul?'' Tanya Dea.


''Kalau kau tidak mandul terus apa? Sampai sekarang kau belum mengandung'' ujar Sofi lagi yang membuat semua orang menatap remeh ke arah Dea.


''Dea, saya akan menceraikanmu. Kamu tinggal menandatangani berkas ini dan semuanya selesai'' ujar Rey menyodorkan dua lembar kertas yang merupakan akta cerai.


''Tapi tuan, bagaimana bisa tuan mengatakan jika saya tak bisa mengandung? Apa tuan sudah membuktikannya?'' Tanya Dea yang membuat Rey terdiam dan Sofi yang menoleh ke arah Rey.


''Tentu saja karena sampai saat ini kau belum mengandung. Segera tanda tangani akta cerai itu dan tinggalkan rumah ini, karena besok aku akan menikah dengan Sofi'' ujar Rey.


''Berapa yang kamu minta agar kamu mau menandatangi akta cerai itu? Aku tahu kamu menikah dengan ku hanya ingin harta kan? Sebutkan saja berapa, akan aku berikan, aku tahu gadis yang terbiasa menjual dirinya akan melakukan hal ini'' ujar Rey.


''Baiklah, saya akan tanda tangan. Saya juga tidak butuh uang tuan dan satu hal yang harus tuan tahu saya tak pernah menjual diri saya. Oh iya selamat atas kehamilan selingkuhan tuan, semoga berbahagia. Lagi pula saya juga tidak pernah mencintai tuan karena saya hanya mencintai pria, bukan laki-laki. Anda tahukan beda antara pria dan laki-laki?'' Ujar Dea sembari menandatangani akta cerai.


''Nah, sudah selesai tuan. Sekarang kita sudah resmi bercerai, oh ia apa tuan yakin saya tidak mengandung setelah perbuatan tuan malam itu? Ops, tapi maaf sekarang kita sudah berpisah, saya mengandung atau tidak itu bukan urusan tuan lagi. Saya permisi tuan saya ingin membereskan baju-baju saya'' ujar Dea melangkah meninggalkan ruang tamu.


Dea sudah tidak heran lagi dari mana Rey mendapat akta cerai secepat itu, ia yakin jika Rey sudah mempersiapkannya sejak awal ataupun Rey menggunakan harta kekuasaannya untuk mendapatkannya secepat iti.


Dea tak meneteskan air mata sedikitpun meski hatinya hancur mendengar segala hinaan dari Rey dam Sofi. Ia juga kecewa karena mertuanya tak membela dirinya sedikitpun.


''Segera bereskan barang-barang murahan sepertimu jangan sampai ada yang tertinggal. Oh iya jangan bawa apapun yang di belikan Rey'' ujar Sofi yang membuat langkah Dea terhenti dan berbalik menatap Sofi.


''Maaf apa saya tidak salah dengar? Anda menyebut saya wanita murahan, lantas wanita yang berhubungan dengan laki-laki beristri bahkan sampai mengandung disebut apa?'' Tanya Dea yang membuat wajah Sofi merah padam karena malu dan marah.


''Oh iya, saya akan membawa semua barang-barang saya, karena yang harus kalian ketahui selama saya menjadi istri Rey tak pernah sekalipun saya meminta barang ataupun nafkah darinya. Jadi tak akan ada satu rupiahpun harta Rey yang akan saya bawa'' ujar Dea kemudian melanjutkan langkahnya menuju ke lantai dua untuk mengemas semua pakaiannya dan beberapa barang kecil miliknya.


Bi Marni, Eca dan pelayan lainnya ikut menangis melihat nona mereka di perlakukaan seperti itu. Hinaan yang keluar dari mulut Rey dan Sofi membuat mereka menangis.


''Tega sekali mereka pada nona Dea, ayo kita bantu nona Dea berkemas'' ujar bi Marni pada Eca.

__ADS_1


Keduanya ikut naik ke lantai atas dan masuk ke kamar Dea, mereka melihat Dea sedang membereskan beberapa lembar bajunya kedalam sebuah kotak kardus.


''Nona'' ujar bi Marni dengan deraian air mata. Ia begitu sedih melihat apa yang dialami oleh Dea.


Melihat bi Marni yang menangis, Dea segera mendekat kemudian memeluk bi Marni. Eca juga mulai meneteskan air mata mendengar suara tangisan bi Marni, Eca segera keluar dari kamar itu dan menuju ke kamarnya. Tak lama ia kembali dengan sebuah ransel di tangannya.


''Nona, jangan pakai kardus itu, pakailah ransel Eca'' ujar Eca.


Dea tersenyum mendengar ucapan Eca yang sudah ia anggap sebagai saudaranya.


''Terimakasih Eca, tak apa aku pakai kardus saja, suatu saat kamu akan butuh itu'' ujar Dea.


''Tidak nona, nona tidak boleh menolak, anggap saja ini kenang-kenangan dari Eca. Mungkin saja kita tak akan pernah bertemu lagi'' ujar Eca kemudian berhambur memeluk Dea dan menangis tersedu-sedu.


Bi Marni dan Eca membantu Dea membereskan pakaiannya, Dea hanya membawa beberapa lembar pakaian saja selebihnya ia berikan pada Eca sebggai kenang-kenangan.


Ia juga memberikan sepasang anting emas pada Eca dan sepasang untuk bi Marni. Perhiasan emas itu memang sudah Dea siapakan sejak lama karena ia tahu jika ia tak akan lama berada di rumah itu. Ia tak membiarkan bi Marni dan Eca menolak pemberiannya.


Setelah semua pakaian Dea masuk ke dalam ransel, ia segera keluar dari kamar itu di ikuti oleh bi Marni dan Eca dengan mata yang sembab.


Dea kembali menghampiri orang-orang yang berada di ruang tamu, semua mata tertuju padanya ketika ia melangkah menuruni anak tangga.


Dea mendatangi ibu mertuanya yang tertunduk di kursinya, ia duduk dibawah kaki mertuanya, ''terimakasih sudah menjadi ibu mertua yang baik buat Dea mah, terimakasih sudah menjaga Dea. Sekarang Dea mau pamit, semoga mama selalu sehat'' ujar Dea kemudian memeluk bu Wayna yang sudah meneteskan air mata.


''Maafkan mama Dea'' ujar bu Wayna.


''Tidak ada yang perlu di maafkan mah, semuanya sudah terjadi, Dea permisi'' ujar Dea berdiri dan berlalu dari ruangan itu.


''Tunggu'' ujar Rey saat Dea sudah berada di halaman rumah.


''Iya tuan, tuan tenang saja tak ada sedikitpun harta tuan yang saya bawa''


''Bukan itu, ambil akta cerai ini mungkin kamu akan butuh suatu hari nanti''


''Tentu saja tuan, saya akan butuh jika saya menikah nanti'' ujar Dea mengambil akta cerai dari tangan Rey.


''Soal malam itu, anggap saja itu tak pernah terjadi dan kamu juga tak akan mungkin mengandung karena kita hanya melakukannya sekali'' ujar Rey.


''Apa tuan yakin jika saya tak akan mengandung?''


''Tentu saja dan kalaupun kamu mengandung itu bukan lagi urusan saya karena kita sudah bercerai dan saya juga tak mengharapkan anak itu'' ujar Rey kemudian meninggalkan Dea di halaman.


Semua pelayan dan petugas keamanan yang berada di rumah itu sangat sedih atas apa yang menimpa Dea.

__ADS_1


Mereka semua mengantarkan Dea hingga keluar gerbang, bahkan hingga taksi yang Dea naiki pergi menjauh dari kediaman Hamington mereka masih setia berdiri disana.


__ADS_2