
Hari terus berganti, ujian semester kenaikan kelas telah selesai di laksanakan. Meski begitu kami tetap harus datang ke sekolah karena ada beberapa kegiatan yang akan di kaksanakan.
''Kamu koq kurusan De'' ujar Marni.
''Masa sih Mar, rasanya sama aja koq berat badan ku''
''Serius De, iya ngak Mi?''
''Benar De, kamu kurusan. Kamu ngak lagi sakit kan?''
''Ngak koq aku sehat-sehat aja'' ujar ku.
Sebenarnya sudah beberapa hari ini aku merasa kurang sehat, terlebih jika malam tiba terkadang kepalaku terasa sangat sakit.
Aku merasa takut untuk memeriksakan diri ke dokter, aku takut jika aku menderita suatu penyakit dan aku tak bisa menghadapinya.
''Tapi kamu benar-benar kurusan De, coba kamu periksa ke dokter''
''Aku ngak apa-apa Mi''
Karena ujian semester telah selesai di laksanakan jadi kami hanya datang untuk melihat hasilnya dan melakukan pengulangan jika nilai kami tak mencukupi.
Hari ini aku, Darmi dan Marni di mintai tolong untuk membantu panitia penerimaan siswa baru untuk menyusun nama-nama calon siswa dan siswi yang sudah mendaftar.
Nama di urutkan menurut abjad, rasanya baru kemarin aku masuk di sekolah ini tak terasa aku sudah mau naik ke kelas sebelas.
Aku sangat bahagia saat mengetahui nilai ku di ulang semester kemarin semuanya di angka 90 ke atas.
Sudah banyak calon murid baru yang mendaftar ke sekolah kami, ada sekitar 300 siswa.
''Kira-kira tahun ini banyak yang daftar ngak ya?'' Tanya Darmi.
''Banyaklah Mi, liat aja nih daftarnya sudah ada 300-an siswa baru. Jadi ingat masa-masa kita jadi murid baru ya disini, rasanya baru kemarin'' ujar Marni.
''Iya ya hehehe. Apa nih yang paling berkesan buat kalian saat masa-masa menjadi murid baru?'' Tanya ku.
''Aku sih malu-malu mau nyapa guru saat berpapasan'' ujar Darmi.
''Kalau aku, apa ya? Yang berkesan itu waktu aku liat kamu di gendong ama pak Marvel, ingat ngak yang waktu kamu jatuh itu loh'' ujar Marni.
''Ish koq malah ngomongin pak Marvel sih'' ujar ku.
''Ya itu kan yang berkesan buat aku'' ujar Marni.
''Emang ngak ada yang lain gitu?''
''Ngak ada''
__ADS_1
Aku hanya bisa menghela nafas, entah sampai kapan aku harus menghadapi teman-teman ku yang tak pernah habis bahan jika menggoda ku.
''Kalau kamu De?'' Tanya Darmi
''Dea mah ngak usah di tanya Mi, pasti banyak apa lagi kalau berhubungan sama pak Marvel'' ujar Marni dan di ikuti tawa oleh Darmi.
''Pak Marvel lagi, pak Marvel lagi''
''Jadi bagaimana nih, kita habis ini mau kemana? Pulang atau kemana dulu?'' Tanya Darmi.
''Aku sih mau pulang, kalau kalian?''
''Gimana kalau kita makan mie ayam yang di lapangan De. Udah lama loh kita ngak makan disana''
''Hem, gimana ya''
''Ayo saya yang traktir'' ujar pak Marvel menghampiri kami yang sedang merapihkan pekerjaan kami yang sudah selesai.
''Tapi pak'' ujar Marni.
''Ngak apa-apa sekali-kali saya traktir makan mie ayam. Naik apa kita?''
''Kami rencana mau naik angkot saja pak, kalau bapak mau naik motor sama Dea ngak apa-apa'' ujar Darmi.
''Ngak, aku juga mau naik angkot kalau bapak mau ikut naik angkot atau motor silahkan'' ujar ku.
Beberapa hari ini aku sering menghindar dari pak Marvel, entah kenapa rasanya aku sangat malas berada di dekatnya.
''Bapak yakin?'' Tanya Darmi.
''Tentu saja, saya ke ruangan saya dulu ya ngambil tas, kalian tunggu di gerbang saja''
''Baik pak'' ujar Darmi dan Marni.
''Ngapin sih dia ikut'' kesal ku.
''Kamu kenapa sih De, cuek banget sama pak Marvel? Kalian lagi berantem?'' Tanya Marni.
''Ngak koq, ngak tahu kenapa aku rasanya kesal aja sama pak Marvel'' ujar ku dan membuat Darmi dan Marni tertawa.
''Kesal koq ngak tahu karena apa? Jangan-jangan kamu mau datang bulan De? Atau jangan-jangan...'' Darmi menjeda ucapannya.
''Jangan-jangan apa?'' Tanya Marni.
''Ngak ada apa-apa, aku cuma bercanda. Yuk ah kita ke gerbang jangan sampai pak Marvel nungguin kita disana'' Marni mengambil tasnya dan mulai melangkah keluar dari ruang guru, aku dan Darmi juga melakukan hal yang sama.
''Tadi aku liat ngak ada motor pak Marvel di parkiran'' ujar Marni.
__ADS_1
'Gimana mau ada, orang motornya ada duduk diam di rumah ku' batin ku.
Motor pak Marvel memang ada di rumah ku, pagi tadi pak Marvel menjemput ku untuk berangkat bersama namun karena terlanjur janjian sama teman-teman jadi kami jalan kaki ke sekolah alhasil motornya di simpan di rumah ku.
''Iya, tadi juga pak Marvel datang jalan kaki'' ujar Darmi menoleh ke arah ku.
Aku mengerti arti tatapan Darmi, ia pasti melihat ku tadi pagi. Mungkin benar kata Darmi, kalau aku akan datang bulan, karena akhir-akhir ini aku sudah seperti orang ngidam. Pengen makan ini itulah, suka marah-marahlah, kalau pengen sesuatu tapi ngak kesampaian jadi kesel.
Jika akan datang bulan biasanya aku memang seperti itu, bahkan terkadang aku menangis hanya karena tak sengaja menginjak semut atau rumput.
Aneh kan tapi ya begitulah aku juga bingung bagaiamana harus menjelaskan.
''Sukma sama Gema ikut ngak?'' Tanya ku.
''Pasti dong, mereka udah ada di gerbang nungguin kita, katanya udah ada pak Marvel disana'' ujar Darmi.
Kami berjalan menuju gerbang sekolah, ternyata benar kata Darmi jika Gema, Sukma dan pak Marvel sudah menunggu di gerbang. Ketiganya duduk-duduk di bangku yang ada di gerbang sekolah.
''Aku stop angkot dulu ya'' ujar Gema.
Kami semua berangkat menggunakan mobil angkot, teman-teman sibuk bercerita sedangkan aku sibuk menatap pak Marvel yang duduk di debelah ku.
''Ada ap sayang? Kenapa natap aku begitu?''
''Eh, ngak apa-apa pak. Aku cuma heran saja''
''Heran kenapa?''
''Beberapa hari ini aku selalu kesal tanpa sebab, bahkan aku kesal liat bapak rasanya pengen mukul bapak'' ujar ku dan membuat pak Marvel tertawa.
''Mungkin kamu rindu sama saya''
''Ngak tuh''
''Serius''
''Iya, aku cuma pengen mukul bapak aja''
''Ya udah nanti sampai rumah baru kamu pukul aku di kamar, kamu pukul yang mana aja boleh''
''Apa sih, aku tambah kesal sama bapak tahu'' ujar ku memukul lengan pak Marvel.
''Jangan bikin kita-kita baper dong pak, kita kan jomblo sejati pak'' ujar Gema.
''Maaf ya anak-anak, habis kalau lagi kesal begini Dea tambah imut loh, benar ngak?''
''Betul pak''
__ADS_1
Untung di mobil ini hanya pak supir yang orang lain, jika tidak aku akan merasa sangat malu. Perjalanan yang hanya menempuh waktu kurang lebih 10 menit terasa sangat lama bagi ku.
Hingga kami tiba di kedai mang Ardi, pak Marvel dan teman-teman terus menggoda ku.