MELODY CINTA DEA DAN MARVEL

MELODY CINTA DEA DAN MARVEL
TANGISAN DEA (POV AUTHOR)


__ADS_3

Sepanjang perjalanan dari rumah sakit hingga sampai ke rumah, Dea tak berhenti menangis membuat Ana yang berada di sampingnya tak kuasa untuk menahan air matanya sehingga keduanya menangis sambil berpelukan.


Suara sirine mobil ambulans membuat warga sekitar tempat tinggal Dea keluar dari rumah dan berkumpul di halaman rumah Dea.


''Ada apa ini?'' Tanya seorang ibu pada yang lain.


''Saya juga tidak tahu bu Susi'' ujar ibu yang lain.


Mereka masih terus bertanya-tanya hingga Dea turun dari mobil sambil menggendong Sion dengan suara tangis yang memilukan.


Semua tetangga akhirnya menyadari jika telah terjadi sesuatu yang sangat buruk pada Sion. Mereka semua mengikuti Dea ke dalam rumah, mereka ingin memastikan apa yang sudah terjadi.


Beberapa tetangga yang sudah mengetahui berita kematian Sion dari pengumuman yang di sampaikan pak rt langsung membantu menyusun tenda dan kursi guna tempat duduk orang yang datang melayat.


Ditengah suasana duka yang Dea alami, ia terkejut dengan kedatangan seorang yang ia rindukan.


''Nak'' ujar bi Tina yang kini sudah berdiri di ambang pintu rumah Dea.


''Bi..bibi'' ujar Dea di sela isak tangisnya.


Bi Tina langsung menghampiri Dea yang kini masih duduk di samping jenasah Sion, ia merasa tak memiliki tenaga bahkan hanya untuk berdiri menghampiri bi Tina.


''Kamu yang sabar nak, kini anakmu sudah tenang di alam sana. Dia sudah bahagia bersama bapa di surga.'' Ujar bi Tina memeluk Dea.


Bi Tina melihat Dea di rumah sakit saat ia sedang mengunjungi sahabatnya tadi, jadi ia mengikuti ambulans yang Dea naiki.


Bi Tina terus menguatkan Dea, meski ia juga merasa sangat sedih. ''Kamu harus kuat nak, jangan meratapi kepergiannya itu hanya akan membuat hatimu semakin sakit. Ikhlaskan dia nak, jangan membuat jalannya sulit karena kamu tidak ikhlas'' ujar bi Tina.


Jenasah Sion segera di mandikan kemudian di pakaikan baju setelan jas berwarna biru. Sepanjang malam itu, Dea tak henti-hentinya menangisi putranya, ia belum siap kehilangan putra yang sangat ia sayangi.


Sekitar pukul 9 malam pada ke esokan harinya, dilaksanakan ibadah sebelum memasukkan Sion ke dalam peti. Kini Dea sudah mulai bisa mengontrol emosinya meski terkadang air matanya masih terus menetes dengan sendirinya ketika melihat jenasah putranya yang sudah terbaring kaku di dalam peti mati.

__ADS_1


Dihari ketiga kematian Sion, Sion di makamkan di makam yang ada di kampung halaman Dea. Saat itu juga Dea baru mengetahui jika sang ayah ternyata sudah meninggal.


Dea sangat sedih mengetahui jika sang ayah yang sangat ia sayangi sudah pergi menghadap sang pencipta. Ia menangis tersedu-sedu di hadapan makam ayahnya sebab Sion juga di makamkan di makam yang sama dengan ayah Dea.


Setelah prosesi pemakaman selesai dilaksanakan Dea langsung kembali ke rumahnya sebab akan di adakan ibadah penghiburan malam harinya.


Beberapa orang tetangga yang melihat Dea di kampung halamannya sempat berbisk-bisik sebab mereka sudah lama tak melihat Dea dan kini ia kembali ke kampung halaman hanya untuk menguburkan anaknya. Banyak di antara mereka yang berspekulasi jika apa yang di katakan oleh ibu Dea benar, bahwa Dea telah kabur bersama seorang laki-laki yang membuat pernikahannya dan Marvel batal sehingga membuat ayah Dea sakit dan akhirnya meninggal dunia.


Ibadah penghiburanpun telah selesai dilaksanakan dan berjalan dengan lancar, bi Tina sekeluarga juga turut hadir bahkan bermalam di rumah Dea.


Bi Tina dan suaminya terus menguatkan Dea dan mencoba untuk membuat Dea tidak terlalau berlarut-larut meratapi kepergian sang anak. Ana dan adik-adinya juga turut serta menghibur dan menguatkan Dea.


Sekitar dua minggu Bi Tina sekeluarga tinggal di rumah Dea, mereka pulang setelah memastikan jika Dea sidah lebih baik dan bisa menerima kepergian putranya.


''Pagi kak Dea'' ujar Ana yang masuk dari pintu ruangan dapur rumah Dea.


''Pagi juga dek''ujar Dea yang kini sudah mulai menata kue-kue dan lauk pauk ke dalam wadah. Hari ini hari pertama Dea kembali berjualan setelah beberapa bulan tak berjualan.


''Jadi kita jualan hari ini kak?''


Setelah beberapa bulan tak ada tawa dari bibir Dea, ini kali pertama Ana kembali mendengar tawa Dea.


'Sepertinya kak Dea sudah bisa berdamai dengan dirinya' batin Ana yang terus memperhatikan senyum di wajah Dea.


''Aku senang liat kakak ketawa lagi'' ujar Ana memeluk Dea.


''Terimakasih ya dek, kamu sudah menemani kakak. Tanpa kamu, mbok Namu, Jessy dan bi Tina, kakak ngak tahu akan jadi apa kakak setelah kepergian Sion. Terimakasih karena kalian sudah setia memberi kakak semangat untuk kembali menjalani hidup'' ujar Dea.


''Sama-sama kak''


Dea dan Ana mulai menata jualan mereka di warung tak lama para pembeli mulai berdatangan dan membeli dagangan Dea. Hanya sekitar satu jam semua dagangan mereka habis terjual.

__ADS_1


Ketika malam tiba, Dea memanggil Ana dan adik-adiknya sebab ada yang ingin ia sampaikan pada kakak beradik itu.


''Ada apa kak Dea ngumpulin kita, sepertinya ada yang penting?'' Tanya Ana.


''Jadi begini dek, rencanya kakak akan lanjut kuliah, jadi kakak tidak akan tinggal disini lagi. Kakak ingin kalian yang tinggal di rumah ini, kalian tidak usah tinggal di kontrakan lagi, cukup kalian rawat saja rumah ini''


''Tapi kakak akan kemana dan kuliah dimana?''


''Kakak akan ke kota M dek, kakak sudah mendaftar online dan puji Tuhan kakak di terima. Rencananya minggu depan kakak akan berangkat kesana, kakak ingin memperbaiki nasib kakak dengan melanjutkan sekolah''


''Lalu bagaimana dengan warung kita kak?''


''Kamu saja yang lanjutkan dek, kakak masih ada cukup modal buat kamu pakai''


''Tapi aku tidak pandai memasak kak'' ujar Ana.


''Kalau begitu apa kamu mau jika aku buatkan kios sembako saja, cukup kamu jaga dan kelola saja. Hasilnya buat biaya kalian dan buat sekolah adik-adik, kakak tidak mau adik-adik kakak putus sekolah. Kalau perlu kamu juga lanjut sekolah dek, nanti kakak akan bantu biayanya''


''Tidak kak terimakasih, cukup adek-adek Ana saja yang kakak biayai. Ana hanya ingin adek-adek Ana sukses kak''


''Baiklah dek, jadi kesepakatannya kita buat kios sembako saja?''


''Iya kak, karena saya tidak yakin jika meneruskan usaha warung sementara saya tidak bisa memasak kak''


''Ya sudah kalau begitu, besok kan hari sabtu kalian liburkan?'' Tanya Dea pada Hansen dan Yosen adik-adik Ana.


''Iya kak''


''Ya sudah besok kalian ikut kak Dea sama kak Ana ke toko grosiran, kita beli bahan buat di jual di kios, bagaimana?''


''Iya kak, pasti kami ikut'' ujar Yosen.

__ADS_1


Setelah cukup lama berbincang-bincang akhirnya mereka memutuskan untuk tidur. Dea memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya setelah berpikir selama beberapa bulan. Hal itu juga ia lakukan agar ia memikirkan hal lain selain memikirkan mendiang anaknya.


Ke esokan harinya Dea, Ana, Hansen dan Yosen berangkat ke toko grosir dimana orang-orang membeli barang yang akan mereka jual kembali.


__ADS_2