
Setelah kepulangan kami dari kampung ibu Dea, aku dan Dea jarang bertemu, bahkan sudah 2 minggu ini kami tak bertemu, di karenakan aku harus mengantar ayah untuk berobat ke kota G.
Hingga hari libur usai, aku masih berada di kota G, aku dan Dea berkomunikasi lewat ponsel saja. Setiap hari tak lupa aku mengabari Dea.
''Nak kamu belum mau kembali?'' Tanya ibu masuk ke kamar.
''Belum mah, nanti kalau papa sudah lebih baik aku akan kembali mah. Lagi pula proses belajar mengajar belum di mulai'' ujar ku yang sedang menulis beberapa materi yang akan aku ajarkan saat aku kembali nanti.
''Oh gitu?''
''Iya mah''
''Kamu sudah ngabarin Dea belum hari ini? Jangan sampai Dea khawatir'' ujar mama.
''Belum mah''
''Mama yang telpon ya Vel''
''Iya mah''
Setelah mama keluar dari kamar aku melanjutkan pekerjaan ku. Selama di sini, aku selalu teringat pada Dea, aku selalu mengabarinya untuk memastikan jika ia baik-baik saja. Semenjak kepulangan kami dari kampung ibunya, Dea lebih banyak murung tak seperti biasanya yang selalu ceria, itu yang aku dengarkan dari Boy dan teman-teman Dea.
Sudah dua minggu kami berada di kota G, penyakit jantung ayah kambuh dan harus di rawat di kota ini. Selama itu pula aku tak bertatap muka dengan Dea, hal itu membuat aku sangat merindukan Dea.
Meski setiap hari aku berbicara dengannya lewat sambungan telpon, tapi aku benar-benar merindukannya.
''Marvel''
''Iya mah ada apa?''
''Tadi mama telpon Dea, tapi kata bi Tina, Dea ada di rumah sakit nak. Kamu ngak mau pulang jenguk Dea?'' Ujar mama masuk ke kamar ku dengan raut wajah panik.
''Mama serius?''
''Iya sayang mama serius, kamu pulang saja temani Dea disana, lagipula di sini ada mama dan kakak-kakakmu''
''Tapi mah..''
''Marvel ada berita buruk'' ujar kak Josep masuk ke kamar.
''Ada apa kak?''
''Em, itu ehm, Dea masuk rumah sakit'' ujar kak Josep.
''Aku sudah tahu kak'' ujar ku berusaha santai meski hati ku sedang sangat khawatir.
''Terus kenapa masih disini, kamu ngak tahu kalau Dea lagi kritis?''
__ADS_1
''Kritis'' ujar ku dan mama bersamaan.
''Maksudnya apa kak? Dea kritis?''
''Iya Marvel, ada orang yang nabrak Dea. Sekarang Dea sedang kritis di rumah sakit''
''Mah aku pulang sekarang ya, kak Jos bisa tolong pesankan aku tiket pesawat''
''Bersiaplah Vel, tadi kakak sudah pesankan untukmu''
''Terimakasih kak'' ujar ku memeluk kak Jos.
Setelah menyiapkan barang-barang, aku menemui ayah dan meminta ijin untuk pamit.
''Pergilah nak, sampaikan pada Dea jika papa belum bisa menjenguknya'' ujar papa.
Setelah berpamitan aku segera menuju ke bandara dengan di antar oleh mama dan kak Febi.
''Jaga menantu mama Marvel, katakan padanya maaf mama belum bisa datang menjenguknya''
''Iya mah, aku berangkat dulu, kak Febi aku titip mama ya''
''Baik dek, hati-hati''
''Iya kak''
Aku segera masuk ke dalam bandara karena pesawat tak lama lagi akan lepas landas. Untung saja kak Josep langsung memesankan aku tiket saat mendengar kabar dari Siska tadi.
''Tuhan tolong jaga Dea, jangan biarkan dia menderita'' ujar ku sambil memeluk foto Dea di ponselku.
Setelah kurang lebih 3 jam perjalanan udara, akhirnya aku tiba di kota tempat tinggalku.
Aku segera memesan taksi yang akan langsung membawaku ke rumah sakit dimana Dea di rawat. Di dalam taksi aku mulai menangis, aku tak tahu apa yang akan aku lihat nanti namun hatiku terasa sangat sakit terlebih tadi kak Josep mengatakan jika Dea sedang kritis.
''Kita langsung ke rumah sakit Mutiara kasih pak'' ujar ku pada sopir taksi yang baru saja aku naiki.
''Iya pak''
''Kalau bisa tolong cepat pak, ini keadaan darurat''
''Baik pak''
Seperti ayang aku minta sopir taksi menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan sedang, hanya butuh waktu 20 menit aku tiba di rumah sakit.
Setelah membayar ongkos taksi aku segera masuk ke rumah sakit dan menuju ke bagian informasi untuk menanyakan ruangan dimana Dea dirawat.
''Selamat malam sus, saya mau menanyakan ruang rawat atas nama Dealova Melody'' ujar ku pada seorang perawat yang sedang berjaga.
__ADS_1
''Baik pak tunggu sebentar saya cek dulu'' ujarnya mulai mengotak-atik tombol keyboard di depannya.
Setelah menunggu skeitar 2 menit akhirnya aku mendapatkan informasi, namun aku kembali syok mengetahui ruangan dimana Dea berada saat ini.
''Nona Dealova Melody dirawat di ruang ICU pak'' ujar perawat itu membuat aku sangat terkejut.
''Terimakasih sus'' ujar ku kemudian berjalan dengan cepat ke ruangan dimana Dea dirawat. Aku tak tahu bagaimana keadaan Dea sampai ia harus di rawat di ruang ICU.
''Semoga kamu ngak akan ninggalin aku sayang'' gumam ku yang mulai berlari ke arah ruang ICU. Segala kemungkinan buruk sudah memenuhi kepala ku.
Disana aku melihat Darmi, Sukma dan Gema sedang duduk di bangku yanga ada di depan ruang ICU.
Mereka bertiga masih memekai seragam sekolah namum baju mereka penuh dengan noda darah yang sudah mengering. Darmi dan Sukma masih terus menangis sedangkan Gema menenangkan kedua sahabatnya.
Saat melihat baju mereka entah kenapa rasanya aku sudah tak memiliki kekuatan lagi untuk berdiri. Semua tulang-tulang ku tak bisa lagi menahan berat badan ku, aku terduduk di lantai.
''Pak Marvel'' ujar Gema menghampiri ku.
Aku segera berdiri dan memeluk Gema, aku bahkan tak malu lagi menagis di hadapan murid-murid ku.
''Maaf kan kami pak, kami tak bisa menjaga Dea dengan baik'' ujar Gema juga dengan air mata yang mengalir di pipinya.
''Tak apa nak, bagaimana keadaan Dea?'' Tanya ku.
Gema menghembuskan nafas kemudian memandang ke arah keduanya temannya yang sedang menatap kami dengan mata yang sudah sangat sembab.
''Bapak bisa langsung melihatnya, ayo saya antar bapak ke ruang perawat buat minta ijin melihat Dea'' ujar Gema.
Aku mengikuti langkah Gema menuju keruang perawat, setelah mendapat ijin dan memakai pakaian khusus aku segera masuk dan melihat keadaan Dea.
''Bapak yang sabar'' ujar Gema, aku mengangguk dan masuk kedalam ruangan dimana Dea terbaring dengan berbagai alat medis di tubuhnya.
Dengan berlinang air mata aku mendekati ranjang dimana Dea terbarimg, tak ada tanda-tanda ia akan menyadari kehadiran ku.
Aku melihat kepala Dea yang terbungkus perban dan hanya menyisakan bagian mata hidung dan mulut saja, bagian lehernyapun dipasang sesuatu seperti alat penyangga.
''Sayang'' panggi ku lirih dengan air mata yang tak bisa lagi aku hentikan terus berjatuhan.
Ku genggam tangannya yang terasa sangat dingin, aku bahkan melihat pada layar monitor jika detak jantungnya sangat lemah.
''Sayang, jangan begini sayang. Kamu harus bangun, lihatlah aku sudah pulang, katanya kamu mau makan mie ayam di kedai mang Ardi. Ayo bangun kita makan mie ayam sekarang'' ujar ku berusaha membuat Dea merespon ucapan ku, namun tak ada reaksi apapun darinya.
Aku hanya di beri waktu 10 menit berada di ruangan itu. Tak ada reaksi apapun dari Dea saat aku berada di dalam ruangannya tadi.
''Bagaimana ini bisa terjadi?'' Tanya ku pada Gema.
''Ada mobil yang sepertinya memang sengaja buat nabrak Dea pak'' ujarnya.
__ADS_1
Aku geram mendengar ucapan Gema, dengan segera aku menghubungi teman ku yang seorang polisi. Aku ingin dia mencari pelaku yang sudah membuat kekasihku menderita seperti ini.
Dari lorong rumah sakit aku melihat nenek dan ni Tina berjalan tergopoh-gopoh. Air mata tak terbendung lagi di wajah keduanya, aku kembali memetesan air mata melihatnya.