MELODY CINTA DEA DAN MARVEL

MELODY CINTA DEA DAN MARVEL
RUMAH MERTUA (POV AUTHOR)


__ADS_3

Rey dan Dea segera berangkat kerumah bu Wayna ketika Rey mendapatkan panggilan dari bu Wayna.


''Di rumah ibu berusahalah berbaur dengan keluarga yang lain jangan menyendiri apa lagi mengikuti kemana aku pergi. Satu hal lagi jangan ceritakan apapun tentang surat perjanjian itu dan jangan sampai mereka tahu jika aku ke luar negeri dengan Sofi'' ujar Rey pada Dea yang duduk di kursi yang ada di sampingnya.


Sama seperti dulu, sampai sekarang Rey tak pernah memandang Dea saat ia berbicara, ia masih sangat benci pada Dea.


''Iya tuan'' ujar Dea kemudian mengalihkan pandangan ke luar jendela.


''Jangan panggil aku tuan di hadapan keluarga ku'' ujar Rey.


''Saya harus panggil apa tuan?''


''Terserah kamu, yang jelas jangan panggil saya tuan. Kamu bisa panggil saya mas, abang atau apa saja terserah kamu'' ujar Rey.


Dea berpikir sejenak kemudian dengan hati-hati ia berbicara pada Rey, ''apa boleh saya panggil kakak saja?'' Tanya Dea.


''Terserah kamu saja'' ujar Rey yang tetap fokus pada jalanan.


Kurang lebih 45 menit berada di atas kendaraan akhirnya mereka berdua tiba di sebuah halaman rumah yang sangat luas.


Rey memarkirkan mobilnya di sebuah garasi dimana ada beberapa mobil yang tak kalah mewah dari mobil Rey.


''Ayo turun kita sudah sampai, nanti bibi yang akan bawa barang kita'' ujar Rey turun lebih dulu dari mobil.


Setelah membuka sabuk pengaman, Dea juga ikut turun dari mobil dan ia terkejut saat melihat sang suami sudah berdiri di hadapannya, ''ayo kita harus akting di hadapan mereka'' ujar Rey menggenggam tangan Dea namun masih tak menatap wajah Dea.


Keduanya masuk ke dalam rumah dengan bergandengan tangan dan tersenyum, "selamat sore" ujar Dea dan Rey bersamaan.


"Wih yang masih anget-anget sudah datang" ujar seorang pemuda.


Dea hanya tersenyum menanggapi ucapan pemuda itu sedangkan Rey terlihat kesal.


"Na, kenali dong menantu kamu sama kita-kita, masa iya kamu ngak kenalin anggota baru di keluarga kita" ujar Seorang ibu-ibu pada bu Wayna.


Bu Wayna menghampiri Dea yang masih berdiri di samping Rey dan membawanya ikut duduk di sampingnya, sedangkan Rey langsung pergi begitu saja.


"Semuanya, paman, bibi dan saudara-saudari ku, perkenalkan ini Dea menantu ku sekaligus juga putri ku" ujar sang mertua. Ia memang sangat menyayangi Dea meski dulu ia sempat tak begitu peduli tapi melihat kesabaran dan ketulusan Dea menghadapi putranya ia menjadi sangat menyayangi Dea.


"Ayo nak salam semua keluarga barumu" ujar bu Wayna.

__ADS_1


Dea segera berdiri dan menyapa semua yang ada disana tanpa terkecuali setelahnya ia kembali duduk di samping sang mertua.


"Mah, apa boleh kalau Dea bantu-bantu masak di dapur? Dea ngak tahu mau buat apa disini" ujar Dea pada ibu mertuanya.


Semua yang ada di ruangan itu sibuk membahas bisnis dan tak ada satupun pembahasan mereka yang Dea mengerti. Dari pada ia disana dan berdiam diri lebih baik ia ke dapur dan membantu mengerjakan sesuatu.


"Kenapa nak, apa kamu tidak lelah? Kamu disini saja kita duduk-duduk sambil ngemil"


"Dea hanya tidak tahu mau berbuat apa mah, semua bicara soal bisnis dan Dea ngak ngerti apa-apa tentang bisnis" ujar Dea.


"Oh gitu, ya sudah ayo kita ke dapur" ujar bu Wayna pada menantunya yang diangguki oleh Dea.


"Semuanya kami permisi dulu ya, kami berdua ingin kembuat menu makan malam spesial untuk kita semua. Putri saya pintar masak dan kalian pasti akan suka masakannya'' ujar bu Wayna.


Bicara soal masak memasak, Dea memang pandai dalam hal itu, meski terkadang ia hanya membuat masakan sederhana tapi rasanya memang sangat lezat.


Selama Rey berada di luar negeri, setiap hari Dea akan membuat maskan dan mengirimkannya ke rumah sang mertua, sebab itulah bu Wayna tahu jika masakan Dea sangat enak.


"Emang gadis kampung bisa masak?" Celetuk seorang hadis yang mungkin seumuran dengan Dea.


Semua orang memandang risih ke arah gadis itu bahkan ada seorang ibu yang mencubit pahanya, mungkin itu ibunya dan membuat ia merengut kesal.


"Ayo sayang" ujar bu Wayna.


Di dapur terlihat ada sekutar 6 orang pelayan yang sedang sibuk menyiapkan bahan masakan. Mereka menghentikan aktifitas mereka sejenak sat melihat sang majikan masuk ke dapur.


"Apa nyonya butuh seauatu?" Tanya seorang di antara mereka.


"Tidak bi Seli, menantu saya ingin membantu kalian semua untuk masak apakah boleh?" Tanya bu Wayna.


"Tentu saja bu, tapi apa tidak merepotkan?"


"Tentu saja tidak, saya suka memasak, oh iya nama saya Dea, salam kenal semuanya" ujar Dea pada ke enam pelayan itu.


Mereka semua tersenyun ramah pada Dea, awalnya mereka mengira jika Dea tak akan ramah pada mereka mengingat dia juga anggota keluarga pemilik rumah ini.


"Silahkan nona" ujar seorang pelayan memberikan apron pada Dea.


"Mamah ke depan saja biar Dea sama teman-teman yang buat masakan disini.

__ADS_1


"Teman-teman?"


"Iya mah, anggap saja mereka semua teman-teman Dea" ujar Dea.


"Baiklah kalau begitu, kamu hati-hati ya sayang jika lelah biarkan bibi saja yang kerjakan kamu istirahat"


"Baik mah"


"Titip putri saya ya semuanya"


"Baik nyonya"


Bu Wayna kembali ke ruang tamu bersama dengan keluarga yang lainnya sementara Dea mulai sibuk di dapur membantu para pelayan.


"Ini kita mau masak apa bu?" Tanya Dea pada seorang pelayan yang mungkin seumuran dengan bi Marni.


"Rencananya mau buat sayur sop, ayam kecap, telur balado, capcai, ayam bakar sama tuna bakar nona"


"Oh gitu bu, ya sudah Dea bantu. Oh iya panggil Dea saja bu, ngak usah panggil nona, saya bukan pemilik rumah ini'' ujar Dea.


"Tapi non"


"Ngak apa-apa bi, panggil Dea saja, tapi kalau ibu takut kena marah mamah panggil nona kalau ada mama saja, kalau ngak ada panggil Dea saja" ujar Dea.


"Baiklah"


Dea dan para pelayan sibuk berkutat dengan segala peralatan masak hingga dua jam lamanya sampai semua menu yang mereka masak matang sempurna.


Para pelahan tersenyum karena masakan mereka telah siap untuk di nikmati, mereka menata semuanya di atas meja makan yang sangat panjang.


"Nona Dea sangat pandai memasak ya, rasanya tak kalah enak dengan menu yang di sajikan di restoran" ujar seorang pelayan bernama Heni.


"Iya Hen, rasanya sangat enak" ujar Lisa.


Heni dan Lisa seumuran dengan Dea dan mereka sangat menyukai hasil masakan Dea. Bagi mereka masakan Dea adalah masakan terenak yang pernah mereka makan selain masakan buatan ibu mereka.


"Jangan terlalu memuji saya hanya membantu selebihnya kalianlah yang masak" ujar Dea tak mau berbangga diri.


"Tapi nona Dea yang meracik bumbunya, bu Seli aja bilang mau belajar masak dari nona Dea"

__ADS_1


"Hehehe kalian bis aja nanti kepalaku bisa jadi besar loh kalau kalian terus muji-muji begitu" ujar Dea kemudian tertawa.


Setelah semua sudah tertata rapi di atas meja makan Dea segera menemui sang mertua untuk mengatakan jika semua makanan sudah siap terhidang.


__ADS_2