MELODY CINTA DEA DAN MARVEL

MELODY CINTA DEA DAN MARVEL
DOSEN BARU (POV AUTHOR)


__ADS_3

Lima bulan sudah berlalu sejak hari pertama kedatangan Dea di kota M, ia kini mulai membuka usaha kecil-kecilan di depan kamar kosnya. Ia mulai menjual beberapa jenis lauk pauk di sore hari ketika ia pulang dari kampus, juga di hari-hari liburnya.


Awal mulanya ia ragu sebab di sekitar tempat tinggalnya itu ada banyak penjual lauk pauk dan juga warung serta restoran. Ia ragu jika jualannya akan laris namun ternyata dugaannya salah justru masakannya selalu laris manis dan tak pernah tersisa.


''Kamu hebat banget Dea, bisa masak seenak ini. Andai saja aku juga bisa seperti ini'' ujar Amel ketika mereka sedang makan malam bersama.


''Kamu bisa aja Mel, oh iya besok aku ada kelas pagi sampai sore. Kamu gimana?''


''Aku sih cuma pagi saja''


''Oh gitu''


''Iya, oh ya giman dengan pak Tio?'' Tanya Amel.


''Apanya yang gimana Mel?''


''Maksud ku kamu sama pak Tio gimana?''


''Ya ngak gimana-gimana aku kan ngak suka sama pak Tio ngak ada perasaan apa-apa''


''Tapi pak Tio kan suka sama kamu Dea''


''Tapi aku kan ngak suka sama beliau. Oh ya beberapa hari yang lalu pak Tio nyuruh aku ke ruangannya tapi pas sanpai disana malah ngak ada orang terus pintu di kunci dari luar untung saja ada kakak senior yang lewat jadinya aku di tolongin''


''Hah?? Serius kamu?''


''Iya Mel aku serius. Aku takut Mel, entah kenapa aku merasa jika saat itu ada yang mau berbuat jahat sama aku'' ujar Dea.


''Kamu harus hati-hati Dea, aku jadi khawatir. Lain kali jika pak Tio manggil kamu jangan pergi sendirian ajak teman kelas kamu''


''Iya Mel''


Setelah makan malam keduanya memutuskan untuk tidur sebab besok adalah hari yang panjang buat Dea lalui, dari pagi hingga sore hari ia ada kelas.


''Pagi Dea, kamu berangkat jam berapa?'' Tanya Amel melihat Dea sedang ada di taman belakang kosan mereka sedang menjemur pakainnnya.


''Pagi Mel, aku masuk jam 8, habia ini udah mau siap-siap buat berangkat''


''Oh gitu, kamu berangkat sendiri saa ngak apa-apa kan?''


''Ngak apa-apa Mel, aku siap-siap dulu ya''


''Ok''


Setealh bersiap-siap Dea segera berangkat ke kampus seorang diri sebab Amelia akan masuk kuliah jam 9 nanti.


''Kenapa ya aku deg-degan begini, ada apa ya?'' Ujar Dea di tengah-tengah perjalanannya ke kampus.


Setelah tiba di kampus Dea segera menuju ke kelasnya karena jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 7:45.


''Pagi Dea'' sapa Tini teman satu kelasnya.


''Pagi juga Tin, cepat sekali kamu datangnya?''


''Iya, katanya ada dosen baru yang akan masuk nanti gantiin pak Tio''


''Oh ya? Emangnya pak Tio kenapa?''


''Katanya sih udah di keluarkan dari kampus soalnya ada kasus dengan salah satu mahasiswi jurusan hukum''


''Oh ya, terus yang gantiin siapa?''


'''Ngak tahu juga Dea, aku belum tahu gimana orangnya. Tapi kata kakak senior kita orangnya ganteng banget mirip pangeran dari negeri dongeng''


''Hahaha masa sih?''


''Katanya, entar aja kita lihat kalau sudah masuk ke kelas'' ujar Tini mulai merapihkan rambutnya dan memakai riasan pada wajahnya.


Dea hanya geleng-geleng kepala melihat temannya itu, hampir semua perempuan yang ada di kelas Dea memakai riasan terkecuali Dea sebab ia memang tidak terlalu cocok memakai riasan karena ia alergi pada beberapa jenis bahan pembuatan make up.


''Pagi anak-anak, hari ini kelas pagi tidak ada sebab dosen baru yang akan mengajar masih ada di kelas lain. Sekarang kalian boleh istirahat dulu jam 11 baru dosen masuk''


''Kalau begitu kita ke kantin yuk Dea, aku belum sarapan tadi karena buru-buru mau ketemu dosen ganteng'' ajak Tini.


''Dasar kamu Tin, ya sudah aku juga mau baca-baca buku sambil ngemil''


''Ya sudah ayo kita berangkat''


Dea dan Tini berjalan ke arah kantin sembari membahas materi apa yang sekiranya akan mereka pelajari selanjutnya sebab bukan pak Tio lagi yang akan mengajar mereka.


''Dea, kira-kira gimana ya tampilan dosen baru kita yang katanya tampan itu?''


''Aku ngak tahu Tin, kita kan belum ketemu sama beliau''


''Katanya dia duda loh, tapi masih muda dan tampan. Katanya sekarang jadi idola di kampus kita banyak kakak-kakak senior yang naksir dan coba pedekate namun tidak di tanggapi. Aku mau juga ah pedekate sama tuh dosen kali aja aku jodohnya hehehehe'' ujar Tini kemudian tertawa bersama Dea.


''Amin'' ujar Dea.


Keduanya menikmati waktu di kantin sambil membaca buku dan bercerita, sekitar pukul 10 keduanya kembali ke kelas mereka dan bersiap untuk memulai pelajaran.

__ADS_1


''Ngak sabar aku nungguin dosen baru itu?'' ujar Tini dan di iyakan oleh teman-teman sekelas mereka.


Dea hanya menyimak kehebohan teman-teman sekelasnya yang sibuk membicarakan dosen baru mereka itu. Sekitar 10 menit menunggu akhirnya ada seorang dosen yang masuk ke kelas mereka dan di ikuti oleh seorang laki-laki yang cukup membuat Dea terkejut.


Matanya langsung membulat sempurna melihat siapa yang ikut di belakang dosen bernama pak Budi itu.


''Selamat siang anak-anak''


''Siang pak''


''Tentu kalian sudah tahu jika pak Tio sudah tak bisa mengajar di kampus ini lagi, jadi mulai sekarang kalian akan di ajari oleh dosen baru, silahkan pak'' ujar pak Bima.


''Wah, ganteng sekali''


''Udah punya pacar pak?''


''Mau ngak sama saya?''


''Duren alias duda keren''


''Ternyata memang seperti pengeran''


''Siapa ya jodohnya?''


Itulah ucapan beberapa mahasiswi melihat laki-laki yang berdiri di depan mereka yang akan menjadi pengganti pak Tio.


Jika teman-temannya yang lain sibuk mengangumi dosen baru mereka, berbeda halnya dengan Dea ia sedang keringat dingin dan tak bisa berkata apa-apa karena terkejut.


''Dea, kamu kenapa?'' Tanya Tini melihat Dea yang tak berkedip memandangi dosen barunya itu.


''Eh ngak apa-apa. Kamu ada masker ngak aku kayaknya mau flu nih, aku boleh minta ya?''


''Oh ada nih'' ujar Tini mengambilkan masker dari dalam tas dan memberikannya pada Dea.


Setelah memakai masker Dea segera bersikap normal namun ia tak berani menatap ke arah dosen barunya itu.


''Semuanya diam dulu, biarkan dosen baru kalian memperkenalkan diri. Ingat kan ada pepatah mengatakan tak kenal maka tak sayang'' ujar pak Budi kemudian tertawa.


''Silahkan pak''


''Terimakasih pak, perkenalkan nama saya Marvel Geraldi. Saya menggantikan pak Tio untuk mengajar di kelas ini terimakasih''


''Selamat datang pak'' ujar semua yang ada di dalam kelas.


''Baiklah silahkan pak di mulai kelasnya saya akan kembali ke ruangan saya''


''Terimakasih pak''


''Baiklah karena saya baru masuk di kelas ini, jadi saya akan mengabsen nama kalian semua agar kita bisa saling mengenal, yang saya panggil namanya silahkan berdiri ya''


''Baik pak''


''Baiklah saya mulai dari Abbas, Asni, Beni, Brigita, Cintia, Dayat, Dani, Dealova Melody...'' ketika melihat nama Dea di buku absensi itu Marvel segera meliht ke arah mahasiawa dan mahasiswi itu dan mencari keberadaan orang bernama Dealova Melody itu. Ia sangat berharap jika Dealova Melody itu adalah orang yang selama ini dia rindukan.


Dea yang mendengar namanya di panggil masih tak berani untuk berdiri ia malah berpura-pura tidak mendengar.


''Dea, nama kamu di panggil tu, ayo berdiri'' ujar Tini.


''Eh iya''


''Dealova Melody'' ujar Marvel lagi, matanya berkaca-kaca saat melihat seorang gadis bertubuh mungil yang sangat ia kenal berdiri dari kursinya yang berada di barisan ketiga dari depan yang berjarak tak jauh dari tempatnya.


''Sa-saya pak'' ujar Dea pelan.


''Bisa tolong buka maskernya'' ujar Marvel.


Dengan pelan Dea melepas maskernya kemudian menatap ke arah Marvel dengan mata yang juga berkaca-kaca.


Dea segera memakai kembali maskernya setelah melihat wajah Marvel kemudian ia langsung duduk kembali, ia merasa jika air matanya sudah mau menetes.


'Maafkan aku Tuhan, aku tak bisa melupakan kak Marvel. Aku tahu aku salah karena masih mencintainya meski dia sudah menjadi milik orang lain' batin Dea.


Marvel kembali melanjutkan kegiatannya mengabsen namun pandangan matanya tak lepas dari Dea.


'Jangan menangis Dea, kamu tahu aku tak bisa melihat air matamu' batin Marvel saat melihat Dea menghapus air matanya yang dengan lancang menetes di pipinya.


''Kamu kenapa Dea?'' Tanya Tini melihat Dea menghapus air matanya.


''Ngak apa-apa koq Tin, tadi aku kelilipan makanya mataku perih''


''Oh gitu tapi udah baikan kan? Tapi wajah kamu pucat loh kita ke klinik kampus yuk''


''Ngak usah aku udah baikan koq''


Setelah proses saling mengenal telah selesai Marvel melanjutkan dengan memberi materi pada mereka semua.


Beberapa dari teman kelas Dea tak fokus dengan apa yang di jelaskan oleh Marvel mereka fokus mengagumi ketampanan Marvel.


Beberapa di antara mereka sengaja bertanya terus menerus agar Marvel menghampiri mereka dan menjelaskan apa yang mereka tanyakan sedangkan yang bertanya sibuk mengagumi wajah sang dosen.

__ADS_1


Dea yang biasanya aktif bertanya kini malah diam seribu bahasa membuat Tini merasa jika temannya itu sedang kurang sehat.


''Pak, saya boleh ijin ke klinik kampus ngak pak?''


''Boleh silahkan, apa kamu kurang sehat?'' Tanya Marvel.


''Bukan saya pak, tapi teman saya nih yang sepertinya kurang sehat dari tadi saya lihat matanya berkaca-kaca mukanya juga pucat'' ujar Tini menunjuk Dea membuat Dea yang sedang sibuk menulis menoleh padanya.


''Aku ngak apa-apa Tin, kita lanjut belajar saja'' ujar Dea.


''Silahkan jika mau bawa temannya ke ruang kesehatan''


''Aku ngak apa-apa Tin''


''Udah ayo ikut aku, muka kamu pucat gitu koq ya ngak apa-apa'' ujar Tini.


''Iya Dea muka kamu pucat, ke ruang kesehatan aja istirahat'' ujar teman kelas Dea yang lain.


Akhirnya mau tak mau Dea ikut saja sebab ia juga merasa jika kepalanya pusing dan tidak ada satupun materi yang di sampaikan oleh Marvel masuk ke dalam pikirannya. Ia sibuk memikirkan bagaimana ia harus menghindari Marvel.


''Permisi pak'' ujarnya pelan ketika lewat di depan Marvel.


Ingin rasanya Marvel yang menemani Dea di ruang kesehatan karena ia sangat khawatir melihat wajah pucat Dea tadi.


'Semoga kamu baik-baik saja sayang' batin Marvel melihat Dea yang berjalan keluar ruangan.


Setelah sampai di ruang kesehatan, Tini membantu Dea berbaring di atas ranjang kemudian memberinya air hqngat.


''Terimakasih Tin, kamu kalau mau ke kelas ngak apa-apa koq, mungkin aku cuma kecapean saja''


''Ngak ah aku mau disini aja temani kamu, kalau kamu butuh sesuatu trus aku ngak ada gimana?''


''Ngak apa-apa koq, aku cuma mau istirahat sebentar baru balik ke kelas. Kalau kamu ngak ada di kelas aku mau nyontek catatan siapa coba?'' ujar Dea.


''Baiklah kalau begitu, benar nih ngak apa-apa aku tinggal?''


''Ngak apa-apa koq. Makasih ya Tin''


''Sama-sama Dea. Aku ke kelas dulu ya nanti kalau dosen ganteng itu habis ngajar bari aku kesini lagi''


''Iya''


Tini kembali ke kelas sedangkan Dea berbqring sambil memikirkan kira-kira apa yang harus ia lakukan agar tak selalu bertemu dengan Marvel, meski pertemuan itu tak akan mungkin ia hindari. Di dalan hatinya masih tersimpan cinta yang begitu besar buat Marvel, ia khawatir jika sering bertemu maka ia akan kembali berharap pada Marvel.


''Tuhan bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Kenapa di saat aku ingin melupakannya dia kembali datang di kehidupan ku?'' Ujar Dea kemudian terisak.


Marvel yang berada di kelas Dea berusaha untuk fokus memberikan materi meski sebagian pikirannya sudah di penubi oleh rasa khawatir akan keadaan Dea.


Setelah kelas usai, ia langsung menuju ke ruang kesehatan untuk menemui Dea.


Tok..tok..tok.


''Masuk'' ujar Dea mendengar ketukan pada pintu, ia mengira jika yang datang pasti Tini.


''Kamu ngak apa-apa sayang?'' Tanya Marvel yang membuat Dea langsung terbangun.


Ia terkejut melihat Marvel sudah berada di depannya, ''pak Marvel'' ujar Dea lirih. Kini air mata kembali menggenang di pelupuk matanya.


''Iya kamu ngak apa-apa? Apa ada yang sakit?'' Tanya Marvel.


''Saya tidak apa-apa pak, terimakasih.''


''Jangan menangis, kamu lupa kalau aku tidak pernah bisa melihat air matamu'' ujar Marvel menghapus air mata Dea yang mulai menetes.


Mereka bertatapan cukup lama hingga Dea mengakhirinya sebab ia masih tak sanggup melihat mata Marvel yang sedang berkaca-kaca itu.


''Banyak yang ingin aku bicarakan denganmu, jika ada waktu datanglah di kantin jam 3 sore nanti. Jika kamu tidak sempat ini nomor ponsel ku, masih sama dengan yang lama, aku keluar dulu ya, tak enak bila ada yang melihat kita berduaan disini nanti di kiranya kita ngapa-ngapain, padahal juga ngak masalah kita kan belum pu..''


''Dea'' panggil seseorang dari luar ruangan membuat Dea panik.


''Pak ada orang''


''Ya ngak apa-apa bilang saja saya juga sedang kurang sehat''


''Dea kamu ngak ap...'' Amelia tak melanjutkan ucapannya ketika melihat Marvel berdiri di samping Dea.


''Siang pak'' Sapa Amel dan Tini.


''Siang, saya permisi dulu ya''


''Iya pak'' ujar Dea, Amel dan Tini.


''Cepqt sehat ya sa.. Dea''


''Terimakasih pak'' ujar Dea.


''Wahhh.. ada apa nih?'' Tanya Amelia.


''Apanya?'' Tanya Dea.

__ADS_1


__ADS_2