
''Pak Marvel awas ya'' ujar Dea dengan kesal melemparkan bantal pada Marvel yang sudah berlalu dari kamar Dea, alhasil hanya pintu yang terkena lemparannya.
Marvel merasa sangat senang karena mampu membuat sang kekasih kesal karena ulanhnya.
Malam ini bu Valencia dan Marvel bermalam di rumah Dea, Marvel sebenarnya ingin pulang namun sang ibu memintanya untuk ikut bermalam juga.
''Tapi mah Marvel sudah bermalam kemarin-kemarin''
''Ngak apa-apa sayang''
''Iya nak, bermalamlah lagi ngak baik ninggalin ibu kamu'' ujar nek Diah.
''Baik nek''
''Bu Valencia, nak Marvel nenek ke kamar dulu ya nak, nenek mau baring-baring''
''Iya nek, mari aku bantu'' Marvel membantu nek Diah untuk berdiri dan berjalan ke kamarnya. Setelahnya ia kembali menghampiri sang ibu yang ada di ruang tengah.
Dea tiba di ruang tengah dengan tatapan tajam pada Marvel, ''mah tadi pak Marvel gangguin aku''.
''Marvel!''
''Ngak mah, Dea bohong aku ngak gangguin dia koq''
''Benar mah, tadi...'' Dea tak melanjutkan ucapannya, tak mungkin dia mengatakan pada bu Valencia jika tadi dia sudah di cium oleh Marvel.
''Kalian ini kalau ada mama udah kayak kucing sama anjing aja berantem terus'' ujar bu Valencia.
''Habis pak Marvel ngeselin mah''
''Ngak''
''Iya''
''Ngak''
''Iya''
''Ngak''
''Mah, tuh lihat dia mulai lagi''
''Marvel jangan ganggu anak mama'' ujar bu Valencia menarik Dea ke dalam pelukannya.
''Kan yang anak mama aku''
Dea menjulurkan lidahnya ke arah Marvel, Marvel semakin gemas melihat tingkah Dea.
Dia sangat senang melihat keakraban Dea dan ibunya, ia bahkan menangis haru melihat mereka berpelukan.
''Mah, pak Marvel nangis tuh karena aku anak mama bukan dia'' ujar Dea melepas pelukan.
Bu Valencia melihat ke arah Marvel kemudian tertawa, ''hahaha kamu lucu banget sayang''.
Marvel yang mendengar ucapan ibunya juga ikut tersenyum dan memandang Dea dengan tatapan penuh cinta.
''Makasih ya mah sudah mau menerima hubungan kami''
''Tentu sayang, mama sayang sama kalian berdua. Sini peluk mama'' ujar bu Valencia merentangkan kedua tangannya.
Dea dam Marvel mendekat ke arah bu Valencia dan memeluknya.
__ADS_1
Setelah makan malam mereka semua berkumpul di ruang tengah, Dea sudah menggelar tikar dan alas tidur mereka nantinya.
Marvel, Dea, bu Valencia, bi Tina dan nek Diah akan tidur di ruang tengah lagi, seperti saat pertama kali Marvel menginap di rumah ini.
Bu Valencia, nek Diah dan bi Tina bercerita tentang pengalaman hidup, mereka sementara Marvel membantu Dea mencuci peralatan makan mereka tadi. Awalnya Dea sudah menolak bantuan Marvel namun dengan alasan dia tidak mau ikut bergabung bergosip dengan para wanita di ruang tengah akhirnya Dea biarkan saja.
Lastri dan Roy sendiri memilih berada di dalam kamar setelah selesai makan malam. Lastri tak ingin bergabung dengan orang-orang itu karena dia sedang menyusun rencana bagaiamana cara memisahkan Dea dan Marvel. Sedangkan suaminya tak ikut bergabung karena sedang kurang sehat, itulah juga yang menyebabkan mereka bermalam disini karena jarak rumah mereka yang jauh dan tak mungkin Roy mengendarai kendaraannya dalam keadaan sakit.
Setelah meminum obat yang di berikan oleh istrinya, Roy segera berbaring dan tak lama ia tertidur karena merasa sangat mengantuk.
Kembali ke dapur dimana Dea dan Marvel masih sibuk dengan cucian piring.
''Kalau kita nanti berjodoh apa bapak akan tetap membantu saya seperti ini?''
''Tentu saja sayang. Kenapa kamu bertanya seperti itu?''
''Ngak apa-apa pak, hanya saja saya melihat beberapa orang yang ketika sudah menikah mereka tak mau lagi membantu istrinya mengerjakan pekerjaan rumah''
''Kamu tenang saja sayang, aku akan usahakan membantu kamu meski tak banyak''
Dea hanya tersenyum mendengar ucapan Marvel, ia tak tahu harus mengatakan apa.
'Semoga kita benar-bemar berjodoh pak' batin Dea kemudian melanjutkan pekerjaannya.
'Semoga kita berjodoh sayang, aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantumu' ujar Marvel menatap Dea.
''Nah selesai'' ujar Dea setelah merapihkan hasil pekerjaannya dan Marvel.
''Bapak masuk duluan saja, saya mau ke toilet dulu''
''Ngak mau ah, aku tunggu kamu aja nanti aku kesana cuma jadi obat nyamuk buat mereka''
''Udah sana pak, nanti aku kesana''
''Iya deh'' ujar Marvel melangkah ke arah ruang tengah dimana ibunya dan bi Tina masih duduk.
Nek Diah sendiri sudah pergi ke kamarnya untuk tidur, karena jam dinding juga sudah menunjukkan pukul 9 malam.
''Mamah dan bibi belum tidur?''
''Belum nak, ayo duduk disini. Ada yang bibi mau bicarakan''
''Ada apa bi?'' Tanya Marvel setelah duduk di samaping sang ibu, ia melihat raut wajah serius pada wajah bi Tina.
''Tunggu sebentar ada yang mau bibi perlihatkan'' bi Tina berjalan menuju ke kamarnya dan tak lama ia kembali dengan sebuah kartu memori di tangannya.
''Boleh pinjam hp nak Marvel ponsel bibi rusak. Ada yang mau bibi tunjukkam dalam kartu ini''
''Boleh bi, silahkan''
Setelah memasukkan kartu memori itu ke dalam ponsel milik Marvel, bi Tina segera mencari sesuatu yang akan ia perlihatkan pada Marvel.
''Nah ini dia'' ujarnya ketika menemukan apa yang ia cari.
''Coba kamu lihat ini'' ujar bi Tina memperlihatkan sebuah rekaman video dimana Lastri dan Devina saling bertemu.
''Inikan Devina sama Lastri'' ujar Marvel.
''Iya ternyata dia berteman sama Lastri''
''Iya dulu kami satu kampus tapi beda jurusan. Ini mereka ngomongin apa bi?''
__ADS_1
''Bibi tidak tahu nak, yang bibi dengar mereka membicarakan kamu dan Dea. Bibi rasa mereka sedang merencanakan sesuatu yang buruk untuk kamu dan Dea, kalian harus hati-hati''
''Benar Vel, kamu harus hati-hati dan ingat jangan lepas pengawasan kamu dari Dea, mama ngak mau anak mama kenapa-kenapa'' ujar bu Valencia.
''Iya mah'' ujar Marvel.
Ia juga mulai merasa khawatir dengan Dea terlebih saat ini ada yang membantu Devina.
''Jangan beritahu ini pada Dea ya nanti dia bisa kepikiran terus sakit'' ujar bi Tina.
''Iya bi''
Marvel menyalin rekaman itu ke laptopnya kemudian memberikan kartu memori itu kembali pada bi Tina.
''Terimakasih bi''
''Sama-sama nak, tolong jaga Dea''
''Pasti bi''
''Kalian istirahatlah, aku mau melihat ibu dulu'' ujar bi Tina berjalan ke arah kamar nek Diah.
Awalnya mereka semua berencana untuk tidur di ruang tengah namun nek Diah tiba-tiba merasa sakit pada kakinya. Oleh sebab itu nek Diah diminta tidur di kamar saja oleh bu Valencia, ia merasa kasihan jika nek Diah harus ikut tidur di lantai bersama mereka.
''Mamah tidur duluan gih, Marvel masih mau duduk dulu ngerjain tugas''
''Dea mana sayang?''
''Tadi ke toilet mah, koq dia lama sekali ya? Apa Dea sakit perut?''
''Kamu cek sana jangan sampai anak mama kenapa-kenapa?''
''Iya mah'' Marvel bergegas menuju ke arah kamar mandi. Mendengar ucapan sang mama ia menjadi sangat khawatir dengan Dea.
Ia terburu-buru hingga tak sadar jika Dea sudah berada di depannya dan membuat dia menabrak tubuh Dea.
''Ada apa pak?'' Tanya Dea kebingungan.
''Kamu ngak apa-apa sayang?'' Bukan menjawab pertanyaan Dea, Marvel malah bertanya balik sambil memutar-mutar tubuh Dea, dia menatap Dea dari atas sampai bawah.
''Bapak kenapa?'' Dea memegang kening Marvel.
'Ngak panas koq' batinnya
''Kamu ngak apa-apa kan sayang?''
''Iya aku ngak apa-apa pak. Memangnya kenapa?''
''Ngak apa-apa sayang, aku hanya khawatir saja karena kamu lama di toilet''
''Oh i-itu karena aku cuci baju dulu pak. Mama sudah tidur?''
''Belum dia belum tidur, dia nunggu anak kesayangannya''
''Kalau gitu, ayo kita tidur''
''Tidur seperti malam itu?''
''Ngak kali ini aku mau sama mama, bapak tidur sendiri'' ujar Dea meninggalkan Marvel.
''Jahat banget sih sayang'' ujar Marvel mengekor di belakang Dea.
__ADS_1