
Sudah seminggu Dea hanya berada di sekitaran hotel saja, ia dan Marvel belum di ijinkan untuk pulang. Keduanya di minta untuk menikmati masa pengantin baru mereka di hotel, keduanya hanya menghabiskan waktu untuk sekedar membahas hal-hal yang sudah mereka lalui sejak mereka tak pernah bertemu dahulu hingga kini mereka sudah bersama lagi.
Dea yang mendengar kisah Marvel meneteskan air mata manakala Marvel bercerita jika dirinya sempat beberapa kali drop saat terus mencoba mencari Dea yang tak di ketahui dimana keberadaannya. Dea juga terharu sebab cinta yang Marvel tunjukkan saat ini masih sama seperti yang ia lihat ketika mereka baru berkenalan dulu tak pudar sedikitpun.
Beberapa kali Marvel terlihat meneteskan air matanya sata ia mengingat kembali saat-saat dimana ia sangat putus asa ketika kehilangan Dea.
Dea sendiri bercerita banyak tentanng apa yang sudah ia lalui selama ini, meski sebagian kesusahan ia tak ceritakan namun ia tahu jika Marvel pasti sudah tahu segalanya karena bi Tina pastinya akan bercerita pada Marvel.
Seperti yang Dea duga jika Marvel akan tahu jika ia tak menceritakan semuanya, tepat setelah Dea selesai bercerita Marvel langsung memeluknya dengan erat.
''Aku tahu sayang banyak kesusahan yang sudah kamu lewati selama ini, maafkan aku yang tak bisa memenuhi janjiku dulu''
Dea tak menjawab ucapan Marvel hanya saja ia membalas pelukan Marvel tak kalah erat. Ia merasa sangat beruntung sebab dapat menikah dengan laki-laki sebaik Marvel.
''Terimakasih kak sudah mau menjadikan aku bagian dari hidup kakak, semoga aku bisa menjadi seperti yang kakak inginkan''
''Sama-sama sayang, jadilah diri kamu sendiri dan jangan berubah tetaplah seperti ini karena aku mencintaimu apa adanya''
Setelah membersihkan diri keduanya kini akan pulang ke rumah mereka, mereka meninggalkan beberapa lembar uang sebagai ucapan terimakasih kepada pegawai hotel yang selama ini selalu sigap membantu mereka.
''Sudah siap sayang?''
''Sudah kak''
Marvel melajukan mobil membelah jalanan kota menuju ke sebuah kawasan perumahan yang cukup elit. Marvel sudah membeli sebuah rumah disana, ia ingin memberikan yang terbaik untuk sang istri. Namun sebelum itu mereka terlebih dahulu singgah ke kosan Dea.
''Loh kak ini bukan jalan pulang ke rumah kita loh? Ini arah ke kampus, apa kita mau ke kampus?''
''Ini udah benar koq jalan sayang, kita akan ke rumah kita yang baru. Rumah itu ngak jauh koq dari kampus hanya butuh waktu 10 menit untuk sampai ke kampus''
''Tapi barang-barang aku gimana kak?''
''Kita singgah di kosan kamu buat ambil''
''Tapi..''
''Tapi kenapa sayang?'' Marvel menghentikan laju mobilnya di tepi jalan.
''Tapi aku takut kak''
''Takut?''
''Iya kak, aku takut sama ibu-ibu yang tempo hari marah-marah''
''Jangan takut sayang, sekarangkan ada aku yang akan menemani kamu, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu lagi'' ujar Marvel menggenggam tangan Dea.
__ADS_1
''Kita lanjut sayang''
''Iya kak''
Mobil kembali berjalan perlahan menyusuri jalanan, saat mobil berbelok menuju ke arah kos-kosan Dea, ia meremas tangan Marvel dengan cukup kuat membuat Marvel langsung menoleh. Ia merasa sangat bersalah sebab semua trauma yang Dea alami saat ini itu karena dirinya.
''Jangan takut sayang, aku ada bersamamu'' Marvel mengusap tangan Dea dengan lembut setelah mobilnya berhenti tepat di halaman kosan Dea.
Banyak pasang mata yang menatap mobil itu karena mobil yang Marvel gunakan memang cukup mewah sedangkan kos-kosan Dea berada di kawasan yang di huni oleh masyarakat kelas menengah kebawah.
''Kak, banyak yang liat kita''
''Ngak apa-apa sayang, yuk kita turun'' Marvel turun lebih dulu kemudian memutari badan mobil dan membuka pintu untuk Dea.
''Ayo sayang'' Marvel mengulurkan tangannya pada Dea dan disambut hangat oleh Dea meski jantungnya kini berdetak tak karuan karena ia masih takut bertemu dengan tetangga sekitarnya.
Beberapa ibu-ibu yang sedang berkumpul kini mendekat ke arah mobil saat melihat seorang pria tampan berdiri disana.
''Itu siapa bu? Nyari siapa cowok tanpan itu disini?'' Tanya bu Waty tetangga Dea.
''Ngak tahu Wy, coba kita tanya?''
''Gantengnya, milik siapa sih?''
''Aduh, mau ngak ya dia jadi suami kedua aku? Hahaha''
''Siang ibu-ibu'' ujar Marvel menggandeng tangan Dea.
''Si-siang''
''Loh, De-Dea, Dea kan ya?'' Tanya bu Jamilah memperhatikan wajah Dea, ia satu-satunya tetangga yang membela Dea ketika ia di kucilkan oleh tetangga yang lain karena berstatus janda.
''Iya bu, masak ibu sudah lupa sama Dea''
''Ya namanya juga ibu dah tua nak, hehehe. Ini siapa nak?''
''Kenalkan bu, saya Marvel suami Dea''
''Su-suami? Loh bukannya Dea ini janda ya?'' Tanya bu Helmy tetangga yang bebrapa hari yang lalu peranh memusuhi Dea karena status janda yang ia sandang.
''Sekarang tidak lagi bu, Dea sudah jadi istri saya''
''Syukurlah kalau begitu, selamat ya neng''
''Terimakasih bu''
__ADS_1
Semua tetangga Dea memberikan selamat atas pernikahan Dea meski ada yang bersungut-sungut karena Dea mempunyai suami yang sangat tampan melebihi suami mereka. Ya, selama ini banyak tetangga Dea yang diam-diam suka menjadikan Dea bahan gunjingan mereka dan mereka selalu berdoa agar kelak Dea mendapat suami yang biasa-biasa saja.
''Cepat sekali nikahnya?'' Tanya seorang wanita dengan gincu merah menyala yang mewarnai bibirnya, dengan bedak dan pewarna pipi sangat tebal membuat Marvel yang melihatnya bergidik ngeri.
''Ngak koq bu, saya dan Dea sudah saling mengenal sejak enam tahun yang lalu'' ujar Marvel, ia sengaja mengatakan hal itu agar tak ada lagi yang berbicara hal buruk tentang Dea.
''Dea'' ujar Amel ketika melihat Dea berada di halaman rumah kos mereka. Saat itu Amelia baru saja pulang dari kampus dan melihat mobil milik Marvel terparkir di halaman kos. Betapa bahagianya ia ketika melihat Dea disana.
''Amel'' Dea berlari menghampiri Amelia dan memeluknya dengan erat, meski baru seminggu ini mereka tak bertemu tapi Dea begitu rindu dengan Amelia.
''Pak'' sapa Amel sopan pada Marvel.
''Ayo pak, Dea silahkan masuk'' Amel mempersilahkan keduanya masuk ke dalam kamar kos Dea yang kini di huni oleh Amelia, sedangkan kamar Amelia ia jadikan dapur.
''Terimakasih Mel'' ujar Dea melangkah masuk ke dalam kamar yang selama ini ia tempati.
''Leganya bisa balik ke sini lagi'' ujar Dea yang langsung berbaring di kasurnya sambil memeluk bantal gulingnya dengan erat. Ia lupa jika kini ada Marvel disana, Marvel yang melihat tingkah Dea menjadi gemas ingin memeluk istrinya itu.
''Dea aku ke kamar sebelah dulu ya, pak Marvel saya permisi pak'' ujar Amelia ingin memberikan waktu Dea dan Marvel di kamar itu.
Dea masih tak menyadari keberadaan Marvel disana ia seakan lupa dengan Marvel, ia sibuk berguling kesana kemari di atas kasur lantai tipis kesayangannya itu.
Puk
Marvel ikut berbaring di sebelah Dea membuat Dea terperanjat kaget, '' astaga kak, aku kaget''
''Habis kamu terlalu asik dengan kasur dan gulingmu sampai lupa sama aku'' ujar Marvel memeluk Dea.
''Hehehe maaf kak, aku terlaku rindu dengan kasur dan gulingku ini. Amelia mana kak?''
''Dia pamit ke kamar sebelah''
''Loh koq ngak bilang sama aku''
''Tadi dia udah ngomong sayang, kamu aja yang terlalu sibuk dengan guling kamu. Sepertinya guling itu akan jadi saingan aku kalau malam''
''Emang kenapa kak?''
''Ya karena kamu sangat sayang dengan guling itu''
''Tapi kan aku lebih sayang kakak''
''Sudah pintar menggombal ya kamu sekarang'' ujar Marvel membuat Dea menyadari ucapannya barusan dan membuat pipinya merona.
'Ini mulut pake jujur lagi kan malu aku' batin Dea memukul-mukul bibirnya.
__ADS_1
''Udah jangan malu, aku tahu koq kamu sangat sayang padaku'' Marvel meraih tangan Dea dan mengecupnya.