
Sudah beberapa hari ini Marvel tak mendapatkan kabar dari Dea membuat ia merasa jika ada sesuatu yang tak beres.
Marvel juga berusaha ke rumahnya namun dia tak mendapti siapupun di sana bahkan kebun yang biasanya bersih kini tak terurus bahkan semua tanamannya sudah hampir kering.
Marvel mencoba mencarinya ke dalam rumahnya namun sayang Marvel juga tak menemukan petunjuk apapun tentang keberadaan Dea.
Ketika Marvel sedang pusing karena tak menemukan keberadaan Dea, tiba-tiba saja ada seorang ibu-ibu masuk kedalam rumah.
"Permisi nak kamu sedang apa disini?" Tanyanya kemudian langsung duduk di kursi yang ada di dekat Marvel.
"Saya sedang mencari Dea bu, maaf apa ibu tahu dimana Dea berada sekarang?" Tanya Marvel.
"Beberapa hari yang lalu saya liat Dea pergi dari rumah dalam keadaan menangis dan semenjak itu ia tak pernah terlihat lagi. Bahkan orangtuanyapun tak tahu keberadaannya, banyak rumor yang beredar jika Dea sudah menikah dengan seorang pengusaha karena membutuhkan uang untuk beronat sang ayah" ujar ibu itu.
"Menikah? Lalu ayah Dea sakit apa? Karena kemarin saya sempat mengirim pesan dan katanya ayah David baik-baik saja" ujar Marvel mendengar penuturan ibu itu.
"Iya nak, menurut berita yang tersebar Dea menikah dengan seorang pengusaha bernama Rey. Orangtuanya bahkan tak diberi tahu jika Dea menikah, mereka tahu setelah ada seorang kerabat yang mengetahui pernikahan Dea dari sahabatnya" ujar ibu itu yang membuat Marvel sangat terkejut, namun ia tak percaya begitu saja karena ia tahu betul bagaiamna Dea.
"Maaf bu, tapi saya tidak yakin dengan apa yang ibu katakan, karena setahu saya Dea tidak akan pernah merendahkan sirinya hanya demi lembaran rupiah" ujar Marvel.
"Maaf nak, ibu hanya menyampaikan apa yang ibu dengar. Minumlah dulu nak, pasti kamu lelah mencari Dea" ujar ibu itu menyodorkan sebotol air pada Marvel.
Awalnya Marvel ragu untuk mengambilnya karena ia merasa aneh dengan ibu itu namun karena rasa haus yang melanda akhirnya ia menerima botol air itu.
"Terimakasih bu" ujar Marvel kemudian meneguk habis air di botol itu. Setelah meminumnya tiba-tiba saja Marvel merasa jika ada yang salah pada dirinya.
"Nak" suara seseorang terdengar di telinga Marvel.
"Iya" ujar Marvel lemah, ia seperti orang yang tak bertenaga.
"Nama kamu siapa dan sedang apa kamu disini?" Tanya orang itu.
"Nama saya Marvel dan saya tidak tahu sedang apa disini" ujar Marvel.
"Kalau begitu pulanglah dan ingat kamu hanya akan menikah dengan putri ku yang bernama Regina. Lupakan siapapun yang pernah kamu cintai, sekarang kamu harus menikah dengan putri ku yang bernama Regina dan tidak boleh ada yang menghalanginya. Ingat Dea sudah menjual dirinya pada laki-laki kaya buang dari pikiran kamu segala sesuatu yang berhubungan dengannya" ujar orang itu memberi perintah dan bagai kerbau di cucuk hidungnya Marvel langsung melakukan apa yang di perintahkan.
Marvel pulang ke rumahnya dengan perasaan yang biasa saja seperti tak pernah terjadi apa-apa. Ia juga tak ingat apapun yang ada di pikirannya sekarang adalah ia harus menikah dengan wanita bernama Regina. Dalam pikirannya hanya ada nama Regina saja ia bahkan tak ingat lagi dengan Dea.
Saat tiba di rumah semua keluarga terkejut melihat Marvel yang pualng dengan tatapan kosong.
"Marvel, nak" ujar ibunya menyapa sang anak yang masuk ke rumah tanpa bicara sepatah katapun tak seperti biasanya.
__ADS_1
"Dek" panggil Josep yang juga merasa heran dengan sikap sang adik yang tak seperti biasanya.
Marvel mengabaikan panggilan semua orang, ia masuk ke kamarnya dan memasukkan semua benda yang berhubungan dengan Dea kemudian membawanya keluar dan membuangnya di tempat sampah.
Hal itu semakin membuat keluarganya terkejut, mereka yakin jika ada yang sedang terjadi antara Dea dan marvel.
"Ada apa nak, kenapa kamu membuang semua barang-barang kamu dan Dea?"
"Aku tidak mau melihat barang-barang ini lagi, Dea sudah menikah dengan orang lain"
"Apa???" Semua orang terkejut mendengar ucapan Marvel.
"Bagaimana mungkin Marvel, kamu dan Dea sudah bertunangan bahkan tinggal menghitung hari kalian akan menikah. Lagi pula untuk apa Dea menikah dengan orang lain sedangkan kalian saling mencintai" ujar Imelda pada sang adik.
"Pokoknya jangan sebut nama itu lagi, aku sangat membencinya. Dia sama saja denga perempuan lain yang aku kenal semuanya meninggalkan ku demi orang yang lebih kaya dari ku. Pernikahan akan tetap terlaksana tapi bukan dengan wanita itu, aku akan menikah dengan Regina" ujar Marvel yang semakin membuat keluarganya bingung.
"Siapa Regina nak?"
"Dia wanita yang akan aku nikahi bu, dia yang akan menggantikan wanita itu di hari pernikahan kami" ujar Marvel.
"Tapi dia siapa nak dan kamu kenal dimana?"
"Yang pasti dia wanita baik-baik mah, dan mau menggantikan wanita murahan yang pergi meninggalkan aku karena harta" ujar Marvel dengan nada marah.
"Baiklah nak, tapi bagaimana kita bisa mengatur ulang semuanya secepat ini" ujar sang ibu yang pasrah menikahkan Marvel dengan Regina demi nama baik keluarga mereka. Jika tak ada pernikahan maka semuanya akan menjadi berantakan dan keluarga besar akan merasa malu.
"Ibu tenang saja Marvel yang akan mengurus semuanya, dan besok Marvel akan membawa Regina ke rumah bertemu dengan ibu dan kakak" ujar Marvel kemudian membakar semua barang kenangannya bersama Dea setelah menyalakan api dia masuk ke kamarnya.
Ibu Valencia, Imelda dan Josep menatap bingung Marvel sedangkan di sudut lain di dalam rumah sang ayah tersenyum penuh kemenangan.
"Semua berjalan lancar, sekarang kamu persiapkan Regina untuk datang ke rumah besok pagi" ujar ayah Marvel pada seseorang melalui sambungan telpon.
"Baiklah" ujar wanita itu.
"Ada apa dengan Marvel bu, kenapa tiba-tiba ia berubah seperti itu? Apa benar Dea melarikan diri dan menikah dengan laki-laki lain?" Tanya Josep.
"Entahlah nak, tapi ibu tidak yakin jika Dea akan melakukan hal serendah itu. Kita mengenal Dea tak hanya beberapa hari tapi sudah hampr tiga tahun dan kita sudah tahu bagaimana karakternya" ujar ibu Valencia.
"Iya mah, aku juga tak yakin, tapi tidak mungkin Marvel melakukan hal ini jika apa yang di katakannya tak benar" ujar Josep.
Ketiga orang itu sibuk menerka-nerka apa yang terjadi, sedangkan ayah Marvel sedang berada di kamar mandi kamarnya sambil bersanandung ria karena rencananya untuk membatalkan pernikahan Dea dan putranya berjakan lancar.
__ADS_1
Sama seperti Marvel ia juga berubah saat seorang wanita datang padanya dan memberinya sebotol air. Sepertinya air itu sudah di campur sesuatu yang membuat keduanya mau mengikuti perintah sang wanita yang memberikan mereka minum.
Saat berada si dalam kamarnya entah mengapa Marvel merasa jika ada sesuatu yang hilang tapi ia tak tahu apa itu. Beberapa kali ia mengamati cincin di jari manisnya, entah mengapa hatinya sakit melihat cincin itu akhirnya ia melepaskannya dan menyimpannya di laci kecil di lemarinya.
Di tempat lain Dea sudah mulai sibuk dengan kegiatannya membersihkan rumah sang suami, ia mengerjakan apa saja yang ia bisa kerjakan bersama dengan para pelayan di rumah itu.
Sesungguhnya para pelayan tak tega, namun apa boleh buat itu perintah dari majikan mereka sehingga mereka hanya bisa terus membantu Dea mengerjakan pekerjaan rumah.
"Kasian ya nona Dea, di jadikan pembantu di rumah suami sendiri" ujar seorang pelayan bernama Ecy.
"Hus, itulah kalau menikah bukan karena cinta tapi karena uang" ujar Ika yang juga pelayan di rumah itu. Ia tak tahu jika menikah dengan tuannya juga bukan keinginan Dea.
Saat malam tiba, Dea dan para pelayan lainnya duduk di bangku taman yang berada di belakang rumah, tempat dimana semua pekerja di rumah itu menghabiskan waktu untuk bersenda gurau setelah lelah bekerja seharian.
"Dea, kamu ikut saya sebentar" ujar Reyland dari arah pintu.
"Iya tuan" ujar Dea kemudian melangkah mengikuti langkah sang suami.
Rey dan Dea masuk ke sebuah ruangan dimana penuh dengan buku-buku dan beberapa perangkat komputer.
"Duduk" perintah Rey.
Dea segera duduk sebelum mendapat amarah dari sang suami, "sekarang kamu tanda tangani surat perjanjian ini, tapi kamu boleh baca dan boleh tulis apa yang kamu inginkan pada bagian kosong di bagian bawah kertas itu"
Dea mulai membaca isi dari surat perjanjian itu. Poin pertama, mereka tak akan tidur sekamar jika tak ada keluarga di rumah. Poin kedua, Rey tak akan menyentuh Dea selama proses perjanjian ini berjalan. Poin ketiga, Rey dan Dea kan bercerai setelah satu tahun pernikahan dan mereka tak punya anak. Poin ke empat, Rey hanya akan memberikan uang kepada Dea sebesar 50 ribu sehari untuk kebutuhannya. Poin kelima, Dea tak perlu melakukan tugas sebagai istri dia hanya perlu menjadi pelayan di rumah itu. Poin ke enam, Dea tak boleh marah jika Rey dan Sofi tinggal di kamar Rey. Poin ketujuh, Dea tak boleh memberitahu hal ini pada oma maupun ibu mertuanya.
Setelah membacanya Dea kemudian menuliskan sesuatu di bagian bawa kertas sebelum menandatanganinya dan membuat Rey mendecih.
"Benar-benar murahan" ujarnya pelan namun masih bisa di dengar oleh Dea.
Dea hanya bisa menahan tangisnya, ia tak mau terlihat lemah di hadapan orang lain ia tak mau di kasihani, terlebih di hadapan suami yang selalu menghinanya.
"Sudah saya tanda tangani tuan dan ada yang saya tambahkan" ujar Dea menyerahkan kertas itu pada Rey yang terus membelakanginya, sejak pertama bertemu ia tak pernah menatap wajah Dea meski hanya sebentar.
Rey membaca ulang apa yang sudah Dea tulis kemudian ia tertawa, "apa ini, kamu hanya minta untuk diijinkan berkebun dan menjual hasilnya di pasar? Apa kamu pikir saya tak mampu membiayai kamu? Kamu juga menolak uang nafkah dari ku?"
"Maaf tuan saya hanya tidak ingin memiliki hutang piutang dengan tuan jika kita berpisah nanti"
"Cih, sok polos, terserah kamu saja. Ini ada uang 1 juta rupiah kau gunakanlah untuk modalmu berkebun. Ingat jika kau keluar dan menjual hasil kebunmu jangan katakan pada orang jika kau istri ku dan gunakan masker agar tak ada yang mengenalimu"
"Iya tuan, tapi saya tidak bisa terima ini. Saya masih punya sedikit tabungan untuk modal usaha" ujar Dea meletakkan kembali amplop berisi uang yang diberikan Rey ke atas meja.
__ADS_1
"Ya sudah terserah kamu, sana keluar. Bawa satu surat ini untukmu dan satu untuk ku"
Dea mengambil lembaran surat perjanjian itu kemudian berlalu dari ruangan itu dengan air mata di pipinya.