MELODY CINTA DEA DAN MARVEL

MELODY CINTA DEA DAN MARVEL
TERJADI KERIBUTAN (POV AUTHOR)


__ADS_3

Devina memutuskan untuk pulang ke rumahnya untuk istirahat sebelum menemui bu Valencia. Ia berpikir jika bu Valencia akan membenci Dea seperti wanita-wanita lain yang pernah Marvel kenalkan padanya.


Devina sudah membayangkan wajah sedih Dea, ketika di marahi oleh bu Valencia. Devina berpikir jika bu Valencia akan tetap menjodohkan Marvel dengannya.


''Aku jadi tidak sabar menemui bibi'' ujar Devina berbaring di atas ranjangnya sembari menatap fotonya bersama Marvel saat masih kuliah dulu.


''Lebih baik aku ke rumah gadis kampung itu dulu, aku beri dia pelajaran agar tak kecentilan sama Marvel. Sekalian aja aku ajak ibu, biasannya ibu punya banyak ide untuk membuat orang susah''


Devina segera menemui ibunya dan keduanya berangkat menuju rumah Dea.


Setelah mengantarkanDea, Marvel bergegas untuk pulang, dia harus segera menemui ibunya.


Dengan memacu motornya pada kecepatan yang lumayan laju, tak butuk waktu lama hingga ia tiba di rumah ibunya.


''Siang mah'' ujarnya menemui ibunya yang sedang bersantai di taman belakang rumah.


''Ada apa nak?'' Tanya ibu Valencia melihat putranya yang datang dengan keadaan kacau.


''Ada Devina bu'' ujarnya yang membuat bu Valencia memperbaiki duduknya menghadap Marvel.


''Kamu ketemu dimana?''


''Di sekolah bu, mulai tadi dia jadi guru di sekolah yang sama dengan ku. Aku khawatir bu, jika sewaktu-waktu dia kembali berbuat jahat pada Dea''


''Yang benar kamu? Devina anaknya bu Desi kan?''


''Iya bu, kan ngak ada Devina yang lain''


''Astaga, kamu harus jaga Dea baik-baik, kamu tahu kan senekat apa dia. Ibu tidak ingin menantu ibu kenapa-kenapa, dengar kamu?''


''Iya ma'' ujar Marvel masuk ke kamarnya dan berganti pakaian.


Di rumah Dea terjadi keributan, bu Desi beserta Devina datang bersama dua orang preman bayaran. Kedua preman itu mengacak-ngacak dagangan Dea dan neneknya yang berada di samping rumah mereka.


Dari mana Devina tahu rumah Dea? Tentu saja, dengan mengikuti Dea saat Marvel mengantarnya tadi.


Beberapa tetangga yang melihat, langsung melaporkan hal itu kepada rt setempat. Kebetulan pak rt adalah seorang anggota kepolisian.


''Ada apa ini?'' Tanya pak rt yang baru datang. Ia terkejut melihat kios serta isinya berhamburan kemana-mana.


Nek Diah sudah menangis dalam pelukan Dea, ia terkejut sekaligus sedih melihat barang dagangannya terhambur.


''Pak rt, ibu ini datang bawa preman dan merusak kios nek Diah pak'' ujar bu Mira.


''Sekarang kalian ikut ke rumah saya'' ujar pak rt.


Devina dan ibunya tentu saja takut, apa lagi yang mereka hadapi seorang petugas. Devina memberikan kode pada kedua preman bayarannya untuk lari, dan mereka juga bersiap untuk lari.

__ADS_1


''Kalian mau kemana?'' Ujar beberapa warga yang sudah memegangi ke empatnya.


''Bawa mereka ke rumah saya, jika mencoba melarikan diri ikat saja. Dea ikut bapak juga ya'' ujar pak rt berjalan mendahului semuanya.


''Iya pak'' ujar Dea.


Kedua preman itu di pegang oleh bapak-bapak yang ada di tempat itu, sedangkan Devina dan ibunya di giring oleh bu Mira dan bu Tiwi.


'Gimana bu? Apa yang akan kita lakukan aku tidak mau di perlakukan seperti ini bu' seperti itulah arti tatapan Devina saat ini pada ibunya.


Mereka tak bisa melarikan diri karena mereka di kelilingi oleh warga.


Setelah tiba di rumah pak rt, mereka berempat di dudukkan di sofa ruang tamu, Dea sendiri duduk di kursi plastik yang ada di samping bu rt.


''Maaf kalian berempat siapa? Ada hal apa sampai kalian merusak kios milik nek Diah?'' Tanya pak rt.


''Saya Devina dan ini ibu saya bu Desi. Saya adalah calon istri Marvel'' ujar Devina dengan bangga memperkenalkan dirinya.


Semua warga yang ada di rumah pak rt terkejut mendengar ucapan Devina, setahu mereka Dealah tunangan Marvel.


''Maksud anda Marvel siapa dan apa hubungannya dengan Dea dan keluarganya?''


''Maksud saya Marvel Geraldi, dan hubungannya dengan perempuan kampung ini adalah karena dia sudah berani mendekati calon suami saya. Jadi saya memberi sedikit pelajaran buat dia agar tak dekat-dekat dengan calon suami saya. Masih kecil sudah belajar jadi perebut, gimana besarnya coba?''


''Bagaimana ini Dea? Apa kita panggil pak Marvelnya kemari?''


''Silahkan pak'' ujar Dea.


''Tapi akan lebih baik jika pak Marvelnya hadir disini agar semuanya bisa di selesaikan dengan baik. Apa ibu tahu jika perbuatan ibu tadi bisa dilaporkan dan ibu bisa di penjara''


''Saya rasa Marvel tak perlu hadir pak, saya sudah disini sebagai bukti jika Marvel memang calon menantu saya'' ujar bu Desi.


''Baiklah kalau begitu, bu tolong buatkan tamu kita minum'' ujar pak rt pada istrinya dan memberi kode untuk menelfon Marvel.


Baru saja bu rt hendak berdiri, mereka di kagetkan dengan suara riuh ibu-ibu dari luar rumah.


''Siang pak rt'' sapa Marvel di ambang pintu.


Matanya langsung tertuju pada Devina dan ibunya, ia sangat benci kepada kedua orang itu semenjak kejadian di pernikahan Bram.


''Siang pak Marvel silahkan duduk''


Bu rt berdiri dan memberikan kursinya pada Marvel, awalnya Dea yang hendak berdiri namun di tahan oleh bu rt.


''Ada apa pak, saya dengar ada yang merusak kios nenek?''


''Benar pak Marvel, apa bapak kenal dengan dua ibu ini?''

__ADS_1


''Kenal pak sangat kenal. Beliau bu Desi teman sekolah ibu saya dan anaknya Devina''


''Baiklah apa hubungan bapak dengan mereka?''


''Hubungan?''


''Iya pak Marvel, beliau berkata jika anaknya adalah calon istri pak Marvel''


Devina dan ibunya tertunduk tak berani menatap mata Marvel yang sedari tadi menatapnya dengan amarah. Ingin rasanya ia memaki kedua orang di hadapannya, namun Dea menggenggam tangannya seolah memberitahu agar dia tak melakukan apapun.


''Tentu saja bukan pak, bapak kan tahu sendiri jika saya sudah mempunyai calon istri dan bahkan sudah resmi secara adat karena saya dan keluarga besar sudah datang melamarnya. Jadi untuk apa lagi saya punya calon yang lain'' ujar Marvel membuat Devina dan bu Desi mengangkat wajahnya, mereka terkejut mendengar ucapan Marvel.


''Maksud kamu apa Marvel? Ibu kamu dulu menjodohkan kamu dengan Devina dan kamu belum melamarnya? Siapa yang kamu lamar? Omong kosong apa yang sedang kamu bicarakan?'' ujar bu Desi emosi.


''Itu dulu bu, sekarang tidak lagi. Saya sudah bertunangan, lagi pula saya tak pernah memiliki perasaan pada Devina dan kami tak pernah memiliki hubungan selain berteman'' ujar Marvel.


''Tapi tidak mungkin'' ujar Devina histeris.


''Apa kamu bertunangan dengan anak kampung itu?'' Bu Desi menunjuk wajah Dea.


''Jangan bersikap seperti orang tak pernah sekolah bu, jangan pernah mengatakan hal buruk tentang Dea dan kamu Devina, apa kau tak ingat apa yang aku katakan tadi? Apa kau ingin merasakan dinginnya lantai penjara? Kalau iya, aku akan segera membuat laporan tentang pengrusakan yang sudah kau lakukan''


''Apa dia benar-benar tunangan kamu?'' Tanya Devina.


''Tentu saja'' ujar Marvel mengangkat tangannya dan Dea yang masing-masing di jari manis keduanya melingkar cincin yang sama.


''Siapa yang sudah melakukan perusakan itu pak?''


''Mereka berdua'' tunjuk pak rt pada kedua preman yang duduk diam di sudut ruangan.


Marvel memandang mereka dengan tatapan yang penuh dengan amarah, ingin rasanya ia membuat kedua orang itu babak belur.


''Maafkan kami pak, kami hanya dibayar untuk melakukan itu. Itupun saya lakukan karena terpaksa, istri saya di oprasi karena melahirkan dan saya tidak punya cukup biaya jadi saya menerima tawaran ibu itu'' ujar salah satu di antaranya.


''Apapun alasannya hal itu tidaklah baik, tapi ya sudahlah urusan dengan kalian nanti saja. saya masih punya urusan dengan dua orang ini'' ujar Marvel menatap Devina dan ibunya.


''Sekarang kalian minta maaf pada Dea dan keluarganya terutama nenek dan ganti kerugiannya, jika tidak kalian akan aku laporkan ke pihak yang berwajib. Bukan begitu pak rt?''


''Benar pak Marvel''


''Aku harus minta maaf sama orang kampung? Ngak level, bisa malu aku''ujar Devina yang mendapat sorakan dari warga.


''Huuuuu..........''


''Kalau begitu bersiap-siaplah masuk penjara, pak rt tolong bantu saya buat laporan''


''Baik pak Marvel''

__ADS_1


''Tunggu, kami akan minta maaf pada Dea dan keluarganya dan memberikan ganti rugi'' ujar bu Desi. Ia tak bisa membayangkan bagaimana dirinya jika berada di penjara meski hanya beberapa detik saja.


Ia takut jika sampai teman-teman sosialitanya tahu ia tak akan punya muka lagi.


__ADS_2