
Kabar buruk yang Dea dengar hari ini menjadi awal petaka dalam hidup Dea. Dengan berderai air mata Dea terus menyusuri jalanan berharap ia akan segera menemukan angkutan umum.
Ia mencoba menghentikan beberapa angkutan umum yang lewat namun semuanya penuh oleh penumpang. Setelah cukup jauh berjalan akhirnya Dea menemukan sebuah pangkalan ojek. Dengan segera ia meminta salah satu tukang ojek untuk mengantarkannya ke rumah sakit.
Saat tiba di halaman rumah sakit, Dea segera berlari masuk ke dalam rumah sakit dan menuju bagian informasi untuk mencari tahu keberadaan sang ayah. Begitu ia mendapatkan informasi dimana sang ayah berada dia segera bergegas ke ruangan itu karena ia sudah sangat khawatir dengan keadaan ayahnya.
''Ayah Dea sudah disini, ayah harus kuat'' ujar Dea setengah berlari menuju ke ruang ICU dimana sang ayah berada.
Di depan ruang ICU sang ibu sudah menunggu Dea, dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
''Dea'' ujarnya lirih membuat hati Dea semakin sakit.
''Bagaiamna keadaan ayah bu?'' Tanya Dea memeluk sang ibu.
''Ayahmu koma nak'' ujar ibu Dea di sela-seka isak tangisnya.
''Jangan menangis ibu, ayah pasti kuat. Dea tahu ayah orang yang sangat kuat'' ujar Dea menghapus air mata di pipi sang ibu.
''Apa Dea bisa melihat kondisi ayah?'' Tanya Dea pada seorang perawat yang sedang ada di dekat mereka saat itu.
''Boleh silahkan tapi harus ganti baju dulu'' ujar perawat itu.
Dea mengikuti langkah perawat untuk berganti pakaian agar ia bisa segera melihat kondisi sang ayah tercinta.
Setelah berganti pakaian, Dea segera masuk keruabg ICU dimana sang ayah kini sedang terbaring lemah dengan berbagai alat medis yang melekat di tubuhnya, Dea di beri waktu hanya 5 menit berada di ruangan itu.
''Ayah Dea sudah disini, Dea mohon ayah bangun'' ujar Dea menggenggam tangan sang ayah.
Dea begitu sedih melihat keadaan sang ayah, bahkan ia dapat melihat pada layar monitor jika detak jantung sang ayah sangat lemah.
__ADS_1
Ia terus berbicara kepada sang ayah berharap sang ayah segera membuka matanya namun nihil tak ada respon apapun dari ayahnya.
Setelah berdoa, Dea segera keluar dari ruang perawatan sang ayah dengan perasaan yang tak karuan. Ingin rasanya ia menangis namun ia tak bisa melakukannya di hadapan sang ibu, ia ingin terlihat kuat agar bisa menguatkan ibunya.
Dea ingin mengabari Marvel namun saat ia mencari ponselnya ternyata ponselnya tidak ada di dalam tas. Ia kemudian bertanya pada sang ibu karena sebelum masuk melihat sang ayah tadi, ia menitipkan tasnya pada sang ibu.
''Bu, apa ibu lihat ponsel Dea?''
''Tidak nak, ibu tidak lihat'' ujar ibu Dea berbohong, karena sebenarnya dia sudah menyembunyikan ponsel Dea, srbab ia memiliki rencana untuk Dea.
''Oh gitu, apa Dea lupa bawa ya? Tapi seingat Dea, tadi Dea masukin ke tas'' ujarnya mencari kembali di dalam tasnya.
''Dea, ada yang ingin ibu bicarakan'' ujar ibu Dea.
''Bicara saja bu, Dea akan dengarkan'' ujar Dea menatap mata sang ibu yang terlihat gugup.
''Boleh bu'' ujar Dea. Ia mengerti jika apa yang akan di sampaikan oleh ibunya pasti hal yang tak boleh di dengar oleh orang lain.
''Ada apa bu?'' Tanya Dea. Kini mereka berdua sudah duduk di kursi di taman samping rumah sakit.
''Begini nak, kata dokter kondisi ayahmu sudah semakin menurun dan tidak akan lama lagi ayahmu akan pergi meninggalkan kita. Ayahmu sangat ingin melihat kamu menikah nak, tapi dengan orang pilihannya'' ujar ibu Dea yang membuat Dea sangat terkejut.
''Tapi bu, bagaiaman mungkin? Apa lagi Dea sudah tinggal menghitung hari akan menikah dengan pak Marvel'' ujar Dea bingung akan semua yang sedang terjadi.
''Tapi nak, ini permintaan ayahmu. Selain itu ayahmu juga punya utang kepada orangtua calon suamimu nak. Jika ayahmu masih di beri umur panjang dia akan berada di penjara sedangkan jika Tuhan mengambilnya maka ibu yang akan menggantikan ayahmu di penjara. Lalu bagaimana dengan kakak dan adik-adikmu? Apa kamu mau mereka hidup terlantar?'' Ujar ibu Dea dengan nada bicara yang cukup keras menandakan ia sedang marah.
''Tapi Bu, Dea akan segera menikah bagaimana mungkin Dea membatalkannya lagi pula Dea mencintai pak Marvel'' ujar Dea.
''Jadi kamu lebih memilih ayah atau ibu mu di penjara dari pada kamu batal menikah dengan si Marvel''
__ADS_1
''Tidak bu''
''Mau atau tidak, kamu harus mau, karena ini semua sudah jadi tanggung jawab kamu. Sekarang kamu ikut sama ibu, hari ini juga kamu harus menikah jika tidak besok ibu akan berada di penjara'' ujar ibu Dea menarik Dea menuju ke sebuah mobil yang terparkir di dekat mereka.
Dea mencoba memberontak namun tenaganya kalah kuat dengan ibunya dan seorang laki-laki lainnya yang sedari tadi bersama dengan ibunya.
Beberapa petugas keamanan mencoba untuk menghentikan mereka namun ibu Dea berbohong jika Dea sedang kurang sehat makanya ia berontak.
Saat berada di dalam mobil Dea merasa jika kepalanya tiba-tiba terasa pusing dan tak lama penglihatannya mulai gelap.
''Sekarang kalian urus semuanya, saya akan mengurus kepindahan ayah Dea setelah itu mereka akan menikah'' ujar seorang ibu yang sebaya dengan ibu Dea.
''Baik nyonya'' ujar beberapa wanita yang memakai seragam pelayan.
Setelah mobil yang membawa Dea perlahan menjauh meninggalakn area taman dan rumah sakit, ibunya dan wanita itu masuk ke dalam rumah sakit.
Mereka berdua mengurus kepindahan ayah Dea, mereka akan memindahkannya ke rumah sakit yang jauh lebih bagus dari rumah sakit yang sekarang. Semua biaya pengobatan akan di tanggung oleh wanita yang bersamanya yang tak lain adalah calon mertua Dea.
Sebenarnya ayah Dea tak memiliki hutang piutang pada siapapun, akan tetapi sang ibu berbohong agar Dea mau menikah dan ia mendapatkan uang untuk mengobati sang suami juga untuk kebutuhannya dan anak-anaknya yang lain.
Ia hanya memikirkan dirinya dan anak-anaknya yang lain juga sang suami, ia tak memikirkan bagaiaman nasib Dea selanjutnya karena dengan kata lain dia menjual Dea.
Setelah semua pengurusan selesai ia segera membawa sang suami ke rumah sakit terbaik yang berada di kota lain.
''Dea saya serahkan sama ibu, terserah ibu mau berbuat apa padanya'' ujar ibu Dea sebelum naik ke ambulan dimana sang suami berada.
Wanita yang bersamanya bernama ibu Wayna hanya bis terdiam mendengarkan ucapan ibu Dea. Ia tak menyangka jika masih ada orang seperti ibu Dea yang rela mengorbankan anaknya demi uang.
Sejujurnya bu Wayna juga tak ingin melakukan hal ini andai saja sang anak Reyland mau meninggalkan kekasihnya.
__ADS_1