
Saat mereka tiba di rumah sang suami Dea memutuskan untuk langsung menuju ke kamarnya begitupun dengan Rey.
Tak ada lagi pembicaraan di antara keduanya ketika mereka tiba di rumah, mereka berdua bak orang asing yang tak saling mengenal.
Ecy, bi Marni dan pelayan yang lainnya menyambut hangat kepulangan tuan dan nona mereka.
''Bi Marni katakan pada Dea untuk menemui saya nanti malam di ruang kerja saya. Jangan ada yang mengganggu saya hari ini saya mau istirahat''.
''Baik tuan'' ujar bi Marni.
Bi Marni segera menuju ke kamarnya yang selama ini ia tempati bersama Dea untuk memberitahu pada nonanya itu pesan Rey.
''Nona Dea, apa sedang tidur?'' Tanya bi Marni mengetuk pintu kamar yang tertutup.
''Tidak bu, masuk saja'' ujar Dea dengan suara pelan.
Ia masih merasakan sakit di bagian bawah tubuhnya namun ia merasa malu untuk mengatakannya.
''Apa nona sedang kurang sehat, wajah nona terlihat pucat'' ujar bi Marni.
''Tidak apa-apa bu, Dea hanya agak lelah dan sakit perut, mungkin karena sedang datang bulan'' ujar Dea berbohong .
''Oh gitu, nanti bibi buatkan teh jahe supaya perutnya agak enakan''
''Iya bu, terimakasih'' ujar Dea.
''Ada pesan dari tuan Rey, nona di minta datang ke ruang kerja tuan Rey setelah makan malam nanti''
''Iya bu, boleh Dea istirahat dulu'' ujar Dea, ia ingin istirahat sejenak sebelum kembali memacu adrenalinnya untuk bertemu dengan sang suami.
Semenjak kejadian semalam, Dea merasa takut dan ada rasa trauma untuk bertemu sang suami. Ia masih dapat megingat jelas wajah menyeramkan Rey tadi malam.
''Silahkan nona, saya buatkan teh dulu nanti bibi taruh di atas meja sini ya''
''Iya bu, maaf Dea merepotkan''
''Tidak apa-apa nona sudah tugas bibi'' ujar bi Marni keluar dari kamar.
Bi Marni segera menuju ke dapur dan membuatkan teh jahe hangat untuk Dea, ia khawatir melihat wajah pucat Dea.
__ADS_1
''Buat siapa bu teh jahenya?'' Tanya Eca.
''Ini untuk nona Dea Ca'' ujar bi Marni.
''Emang nona Dea kenapa bu, apa nona Dea sakit?'' Tanya Eca khawatir.
''Wajahnya pucat Ca, katanya perutnya sakit karena datang bulan'' ujar bi Marni yang membuat Eca merasa agak tenang.
Setelah jadi bi Marni mengantarkan teh hangat ke kamar dan melihat Dea yang tebaring meringkuk di atas kasur, matanya terlihat bengkak membuat bi Marni curiga jika telah terjadi sesuatu pada nonanya itu.
''Semoga kamu baik-baik saja nak'' gumam bi Marni.
Haripun berlalu begitu cepat, kini hari sudah mulai gelap. Setelah makan malam Dea menemui sang suami di ruang kerjanya, dengan perasaan berdebar-debar, Dea mengetuk pintu ruang kerja Rey.
"Tuan ini saya" ujar Dea.
"Masuk"
Dea dengan hati-hati membuka pintu ruang kerja Rey kemudian berdiri di pintu, ia masih merasa takut untuk berada satu ruangan dengan Rey.
"Tutup pintunya" perintah Rey.
"Apa kamu tahu saya memanggil kamu kesini karena ada hal yang ingin saya bicaraka?" Tanya Rey.
"Tidak tuan" ujar Dea.
"Mulai hari ini kamu akan tidur di kamar yang berada di lantai atas di samping kamar saya. Ibu sudah memantau apa saja yang terjadi di rumah ini dan ternyata ibu tahu jika aku menyuruhmu tidur di kamar pelayan. Aku tak mau berselisih dengan ibu hanya karena kamu, jadi aku minta kamu tidur di kamar yang ada di samping kamar ku.
"Baik tuan"
"Satu hal lagi jangan pernah kamu masuk ke kamar ku. Apa kamu sudah paham, jika sudah paham silahkan keluar" ujar Rey dan di jawab anggukan kepala oleh Dea.
"Saya permisi tuan" ujar Dea kemudian keluar dari ruang kerja suaminya. Dengan segera ia menuju ke kamar bi Marni, kamar yang ia tempati selama beberapa bulan ini. Ia membereskan pakaiannya dan juga barang-barang miliknya untuk ia pindahkan ke kamar di samping kamar Rey.
"Nona mau kemana, koq beres-beres?" Tanya bi Marni.
"Saya di minta tuan pindah ke kamar lantai dua bu, terimakasih sudah mau berbagi kamar dengan Dea, maaf jika selama ini Dea ngerepotin ibu" ujar Dea memeluk bi Marni.
"Syukurlah kalau begitu non, suami istri memang harus tidur sekamar'' ujar bi Marni. Ia berpikir jika Dea akan pindah ke kamar Rey.
__ADS_1
Dea hanya tersenyum menanggapi ucapan bi Marni, setelahnya ia mulai memindahkan barangnya ke lantai atas.
Dua bulan berlalu semenjak Dea pindah kamar ke lantai atas, bukannya semakin akrab dengan Rey, hubungannya malah semakin merenggang.
Bisa di hitung dengan jari berapa kali ia dan Rey berinteraksi dan itupun jika ada hal penting yang ingin ia sampaikan pada Dea.
Entah mengapa pagi ini Dea merasa jika ada sesuatu yang salah, firasatnya mengatakan jika sesuatu yang buruk akan terjadi.
"Nona Dea kenapa?" Yanya bi Marni yang melihat Dea melamun.
"Ngak apa-apa bi, Dea hanya merasa jika ada sesuatu yang buruk akan terjadi" ujar Dea.
"Mungkin itu hanya perasaan nona saja, berdoa saja semoga tidak ada hal buruk yang terjadi" ujar bi Marni.
"Iya bu" ujar Dea.
*
Di sebuat tempat di rumah sakit yang cukup besar, suara tangis yang sangat memilukan terdengar. Suara tangis karena kehilangan orang yang di cintai membuatnya sangat terpukul.
Seorang lelaki paru baya sudah terbaring kaku di ranjang rumah sakit, wajah pucat yang sedang tersenyum membuatnya terlihat seperti hanya sedang tertidur saja.
"Kenapa kamu ninggalin aku pa, apa yang akan aku dan anak-anakmu lakukan? Kenapa kamu harus pergi secepat ini, lihatlah anakmu Geral dia masih butuh kasih sayangmu" ujar wanita itu.
''Sabar mah, ini semua sudah takdir, ikhlaskan ayah supaya ayah bisa pergi dengan tenang" ujar seorang Gadis bernama Gita.
"Ini semua salah anak pembawa sial itu, seharusnya ia tak pernah lahir ke dunia ini. Mama harap dimanapun ia berada ia akan selalu menderita" ujar wanita itu yang tak lain adalah ibu dari Dea.
Ia merasa sangat benci pada Dea, semua hal buruk yang terjadi pada keluarganya semuanya ia limpahkan pada Dea, ia menganggap Dea adalah penyebabnya.
"Sudahlah mah, kita sedang berduka tak usah pikirkan anak itu" ujar Gita kakak Dea.
Setelah mengurus semua administrasi rumah sakit, mereka segera membawa jenasah ayah Dea pulang ke rumah. Merek tak mengabari Dea tentang kepergian ayahnya bagi mereka kini Dea bukanlah siapa-siapa.
Hanya dua hari ayah Dea berada di rumahnya kemudian ia di makamkan, banyak pelayat yang datang mencari keberadaan Dea namun sang ibu mengatakan jika Dealah penyebab kematian sang ayah. Ia mengatakan jika Dea sudah kawin lari dan membuat keluarga mereka malu sehingga sang ayah terkena serangan jantung, banyak di antara mereka yang tak percaya dengan ucapan ibu Dea tapi banyak juga yang percaya.
Yang tak percaya pada ucapan ibu Dea adalah para tetangga Dea saat masih tinggal di rumah mendiang nek Diah dan juga ketiga sahabat Dea yang selama ini terus mencari keberadaan sahabat mereka yang tiba-tiba saja menghilang tanpa jejak.
Mereka sangat yakin jika sesuatu yang buruk sudah terjadi pada sahabat mereka itu, katena bukanlah kebiasaan Dea menghilang tanpa kabar.
__ADS_1