MELODY CINTA DEA DAN MARVEL

MELODY CINTA DEA DAN MARVEL
MAKAN RUJAK (POV AUTHOR)


__ADS_3

Beberapa kali Robin mencoba melakukan panggilan pada nomor ponsel bu Mery namun tak ada jawaban.


''Panggilannya ngak di angkat bu''


''Biar saya yang coba hubungi pak, barangkali beliau tidak mau mengangkat jika nomor baru''


''Iya bu''


Mbok Namu mulai melakukan panggilan pada nomor ponsel bu Mery, setelah dua kali mencoba akhirnya terhubung juga.


''Siang dek, apa kabar?'' Sapa bu Mery dari ujung panggilan.


''Kabar baik kak, Kakak apa kabar?''


''Kami juga baik disini dek, ada apa kamu menelpon siang-siang? Tidak biasanya kamu telpon siang''


''Di rumah ada orang kak, katanya rumah kakak sudah ia beli, sertifikat tanah dan rumah juga sudah ada sama dia kak''


''Rumah mana dek?''


''Rumah yang di samping kak, yang di tempati oleh nak Dea''


''Di jual? Siapa yang jual dek? Aku tidak pernah menjual rumah itu'' ujar bu Mery.


Dari nada suaranya terdengar jelas jika beliau sangat terkejut mendengar ucapan mbok Namu.


''Apa saya bisa bicara sama yang beli dek?''


''Iya kak'' ujar mbok Namu memberikan ponselnya pada Robin.


''Selamat siang bu, nama saya Robin yang membeli rumah ibu.


''Siang pak, maaf saya tidak pernah menjual rumah itu. Dari siapa bapak membelinya?''


''Dari bu Sarina yang tinggal di kota K''


''Oh begitu, berapa bapak bayarkan rumah itu?''


''Saya beli 76 juta bu, semuanya sudah lunas dan sertifikatnya juga sudah ada sama saya''


''Maaf sebelumnya pak, saya tidak pernah menjual rumah itu, sepertinya bapak sudah di tipu sama Sari''


''Jadi bagaimana bu, apa yang harus saya lakukan karena saya juga tidak mau membeli rumah yang tidak di jual oleh pemiliknya''


''Jadi bagimana bapak yakin membeli rumah itu dari Sari?''


''Dia bilang kalau pemilik rumah ini sudah meninggal dan juga tidak memiliki keturunan jadi ia menjualnya kemudian akan menggunakan uangnya untuk di sumbangkan ke panti asuhan''


''Maaf pak tapi anda sudah di tipu sama Sari, apa bisa saya membeli kembali rumah saya?'' Tanya bu Mery.

__ADS_1


Ia ingin membeli kembali rumahnya itu karna sampai kapanpun ia tak akan pernah menjual rumah itu, sebab itu rumah pertamanya dimana ia menghabiskan masa kecil bersama kedua orangtuanya.


''Tentu saja bu. Bagaimana dengan bu Sari?''


''Jika mau bapak bisa melaporkannya pada polisi, karena sudah menipu bapak. Tapi saya tetap akan membayar rumah itu dengan harga yang sama saat bapak membelinya''


''Baik bu''


Robin dan bu Mery sudah sepakat jika rumah itu akan di beli lagi oleh bu Mery dengan harga yang sama saat Robin membelinya. Namun Robin tetap akan melaporkan bu Sarina karena sudah menipunya dengan menjual rumah yang bukan miliknya dan bu Mery juga tak peduli dengan hal itu meski Sari adalah adiknya sendiri.


Dea menghela nafas lega saat rumah itu tak jadi di beli oleh Robin, sebab dia tak tahu harus kemana jika saja bu Mery setuju untuk menjual rumah itu.


''Terimakasih sudah meluangkan waktunya, bu Mery sudah mengirim uangnya saya serahkan sertifikat ini pada ibu untuk di kembalikan pada bu Mery'' ujar Robin menyerahkan map berisi sertifikat pada mbok Namu.


''Sama-sama nak, terimakasih sudah mengembalikan rumah bibi saya''


''Kalau begitu saya pamit bu, nona''


''Iya tuan, hati-hati di perjalanan'' ujar Dea yang di angguki oleh Robin.


Setelah mobil berjalan meninggalkan halaman rumah, Dea dan mbok Namu masuk ke dalam rumah. Keduanya duduk di ruang tamu, mereka masih memikirkan hal yang baru saja terjadi.


''Nak, mbok mau ke rumah dulu ya, mau siapin makan siang buat anak mbok''


''Dea ikut ya mbok, Dea ngak tahu mau ngapain disini''


''Boleh nak, ayo''


Dea membantu mbok Namu menyiapakan menu makan siang, awalnya mbok Namu melarangnya karena ia takut Dea merasa lelah, namun Dea tetap membantunya karena ia memang tak bisa berdiam diri jika melihat orang bekerja.


''Nanti kamu bawa ya sebagian sayurnya buat makan malam nanti'' ujar mbok Namu.


''Ngak usah mbok terimakasih, Dea jarang makan kalau malam''


''Ngak boleh begitu nak, kamu sekarang ngak sendiri loh'' ujar mbok Namu mengingatkan Dea.


''Astaga, maaf mbok Dea lupa'' ujar Dea.


Mereka berdua memasak sambil berbincang-bincang, dari cerita mbok Namu Dea jadi tahu jika mbok Namu juga memiliki nasib yang hampir sama dengannya.


Mbok Namu juga seorang janda yang di tinggalkan suamimya demi wanita lain, mbok Namu juga di jodohkan dengan suaminya, bedanya jika Dea tak di cintai suaminya maka mbok Namu dan mantan suaminya saling mencintai meski mereka menikah karena di jodohkan. Akan tetapi karena tergiur dengan harta, ia meninggalkan mbok Namu beserta anak mereka yang saat itu baru berusia 2 tahun.


Sekitar satu jam berkutat dengan peralatan masak, akhirnya menu sederhana untuk makan siang mereka sudah terhidang.


''Siang ini kamu makan disini saja ya nak''


''Iya mbok'' ujar Dea.


''Mbok apa Dea boleh makan ikan keringnya nanti?''

__ADS_1


''Tentu saja nak, kenapa kamu bertanya? Ini semua untuk kita makan''


''Dea pernah dengar jika orang hamil tidak boleh makan ikan kering''


''Itu tidak benar nak, semuanya boleh di makan selagi tak berbahaya buat kesehatan juga jangan terlalu berlebihan''


''Terimakasih ya mbok''


Setelah anak mbok Namu pulang dari sekolah ketiganya menikmati makan siang bersama. Mbok Namu hanya memiliki seorang anak perempuan yang kini berusia 15 tahun bernama Jessy. Selesai makan siang, Dea dan Jessy membereskan bekas makan siang mereka yang kemudian di cuci oleh Jessy.


Sore hari sekitar pukul 3, Dea, mbok Namu dan Jessy berangkat ke pasar. Hanya butuh waktu 10 menit dari rumah untuk sampai di pasar, Dea sangat bahagia saat melihat seorang penjual rujak.


''Mbok, aku mau beli rujak itu dulu. Jika mbok mau belanja aku tunggu disana saja''


''Iya nak, Jessy kamu temani kakak kamu ya''


''Iya bu, siap'' ujar Jessy sambil mengangkat tangannya memberikan hormat pada sang ibu membuat ibunya dan Dea tertawa.


''Ya sudah ibu mau liat kios dulu'' ujar mbok Namu.


Di pasar itu mbok Namu memiliki dua kios sembako yang di jaga oleh dua pekerjanya. Mbok Namu hanya akan datang untuk mengecek pemasukan pada hari itu ketika sore menjelang, selebihnya ia percayakan pada pegawainya.


''Bu, bawain Jessy kue ya''


''Iya nak, kamu jagain kakak kamu ya''


''Iya bu beres, aku akan jaga kak Dea dengan sepenuh hati'' ujar Jessy merangkul Dea kemudian tertawa.


Dea dan Jessy menghampiri penjual rujak kemudian memesan 3 porsi rujak untuk di makan dan tiga lagi untuk di bawa pulang.


''Kaka Dea apa ngak muntah-muntah?'' Tanya Jessy.


''Kenapa muntah-muntah dek?''


''Kata orang, biasanya orang yang hamil muda itu muntah-muntah kak, bahkan ngak bisa makan apa-apa''


''Setiap orang berbeda-beda dek, seperti kakak ini semua yang kakak makan tidak pernah di tolak sama si dedek'' ujar Dea mengusap perutnya.


''Oh ya Dek, dipasar ada ngak yang jual bibit-bibit sayuran?''


''Ada kak, kenapa?''


''Aku mau nanam sayur dek di belakang rumah''


''Beneran kak, aku ikutan boleh ya?''


''Tentu saja boleh, nanti hasilnya kita jual di pasar ini. Lumayan buat jajan kamu di sekolah.''


''Iya kak, selama ini aku ngak pernah jajan karena aku ngak mau ngebebanin ibu buat beli jajan''

__ADS_1


''Anak yang baik'' ujar Dea mengusap rambut Jessy.


Setelah makan rujak Dea dan Jessy segera ke kios milik mbok Namu, disana mereka membantu beberapa karyawan menata barang di rak-rak yang ada di kios.


__ADS_2