MELODY CINTA DEA DAN MARVEL

MELODY CINTA DEA DAN MARVEL
TRAUMA MASA LALU (POV AUTHOR)


__ADS_3

Sebenarnya mereka tidak benar-benar kembali ke rumah melainkan ke sebuah hotel berbintang milik keluarga Geraldi. Dea dan Marvel menuju ke sebuah kamar yang berada di lantai 15 hotel itu.


Marvel masuk ke dalam lift di ikuti oleh Dea, Marvel membantu Dea mengangkat gaun pernikahannya agar Dea tak terlalu kerepotan.


''Ini kita mau ngapain disini kak?''


''Kita akan istirahat di sini dulu sayang, malam nanti kita akan melakukan resepsi di hotel ini juga''


''O'' Dea membulatkan mulutnya membentuk huruf o membuat Marvel gemas dan segera mencium bibir Dea.


Dea sangat terkejut dengan apa yang Marvel lakukan terlebih Marvel agak lama menciumnya, ia khawatir jika ada yang masuk ke dalam lift.


Melihat Dea yang tak merespon apapun membuat Marvel melepas ciumannya dan menatap wajah Dea yang menatapnya.


''Ada apa sayang? Apa yang kamu pikirkan? Apa kamu tidak suka aku cium?''


''Bu-bukan begitu kak, aku hanya khawatir jika ada yang tiba-tiba masuk''


''Tenang saja sayang, ini lift khusus jadi tidak akan ada yang masuk sampai kita tiba di lantai tujuan'' ujar Marvel membuat Dea sedikit tenang.


Ting


Pintu lift terbuka Marvel kembali berjalan keluar lift terlebih dahulu kemudian membantu Dea dengan gaunnya. Marvel menekan beberapa angka pada tombol yang ada pintu kamarkemudian pintu itu terbuka dengan sendirinya.


Setelah sampai di dalam ruangan, Dea melihat tempat tidur dan lantai yang sudah di taburi dengan kelopak-kelopak mawar juga ada lilin-lilin kecil yang menyala di sudut ruangan.


''Kamu duduk dulu ya sayang, aku mau ke kamar mandi sebentar'' ujar Marvel dan di angguki oleh Dea.


Dea duduk di sebuah sofa yang ada di samping tempat tidur sementara Marvel berlari agak tergesa-gesa masuk ke dalam kamar mandi. Sedari di perjalanan tadi Marvel sudah sangat ingin buang air kecil namun ia menahannya agar mereka bisa cepat tiba di hotel.


''Aku juga ingin bersih-bersih, apa ada baju ganti untuk ku disini?'' Gumam Dea, ia ingin mandi dan berganti pakaian namun ia ragu karena tak melihat lemari apapun di dalam ruangan itu.


'Apa disini ngak ada baju ganti' batin Dea.


Marvel sudah keluar dari dalam kamar mandi dan sudah terlihat segar, ia sudah mandi. Dea terkejut melihat Marvel yang hanya memakai handuk yang dia lilitkan hanya sebatas pingganggnya hingga menampakkan tubuh atletis dan dada bidangnya berjalan mendekatinya.


''Kamu kenapa melamun sayang?''


''A-aku mau mandi kak, tapi aku ngak lihat ada baju ganti untuk kita disini'' ujar Dea mencoba menetralkan degup jantungnya, ia malu sudah ketahuan sedang mengagumi tubuh sang suami.


''Mandi saja, lagi pula tak masalah jika kita tidak memakai baju'' goda Marvel membuat Dea merasa deg-degan dan malu. Ia sampai mengalihkan pandangannya ke arah lain namun dengan cepat Marvel menarik dagunya hingga kini tatapan mereka kembali bertemu.


''Mandilah sayang, nanti akan aku tunjukan padamu dimana baju gantinya. Aku akan mengambil baju untuk ku dulu'' ujar Marvel berjalan menjauh dari Dea yang jantungnya kini berdegup kencang dan menghilang di balik tembok samping ranjang.


Dea mencoba membuka gaun yang ia kenakan, namun karena gaun itu memakai beberapa kancing di bagian belakangnya sehingga menyulitkan dirinya untuk membukanya.


''Duh gimanan ini, mana ini baju ngak bisa lepas lagi'' gumam Dea. Marvel memperhatikan Dea yang kesulitan membuka beberapa kancing berinisiatif untuk membantu istrinya.


Dea merasakan ada yang menyentuh punggunggnya, awalnya ia ingin teriak karena terkejut namun melihat pantulan Marvel di cermin ia diam.


''Ka-kakak ngapain?''

__ADS_1


''Aku mau bantu kamu buka kancingnya, sudah ya kamu diam biar gampang bukanya''


''Em''


Dengan perlahan Marvel mulai membuka satu persatu kancing di bagian belakang gaun Dea, ia begitu terpukau melihat punggung Dea yang terlihat bersih bahkan tanpa sadar ia mengecupnya membuat Dea terkejut.


''Kak''


''Maaf sayang, nih aku sudah buka semua kancingnya sekarang kamu buka gaunmu terus mandi'' ujar Marvel sebenarnya ia masih ingin menikmati punggung cantik sang isrtri.


''I-iya kak. Em kak''


''Iya sayang''


''Apa kakak boleh balik belakang aku mau lepas gaunnya''


''Baiklah sayang'' ujar Marvel.


''Jangan mengintip kak''


''Iya, tapi kalau aku lihat dikit ngak apa-apa kan?''


''Ish, jangan kak''


''Iya, iya''


Marvel pura-pura berbalik badan padahal sebenarnya ia masih bisa melihat Dea dari pantulan cermin di hadapannya. Marvel sampai menelan air liurnya beberapa kali saat melihat Dea sudah melepas gaunnya dan tinggal memakai pakaian dalamnya saja.


''Iya'' ujar Marvel.Dea segera berlari masuk ke kamar mandi dan hal itu tak luput dari penglihatan Marvel.


''Kamu lucu'' gumam Marvel berbalik badan saat bunyi pintu kamar mandi yang ditutup terdengar.


Sekitar 10 menit Dea keluar dari kamar mandi, ia mengenakan handuk yang sebatas dada dan hanya menutupi sebagian paha mungilnya.


Marvel yang melihat Dea baru saja keluar dari kamar mandi dengan tampilan seperti itu membuatnya tak bisa menahan diri untuk menghampiri Dea yang berdiri kaku di tempatnya.


''K-kak, kakak mau apa?''


''Kamu sangat cantik sayang'' ujar Marvel membelai lembut kepala Dea kemudian melabuhkan sebuah ciumaan di bibir sang istri.


Ia mulai ******* bibir mungil Dea dengan tangan yang mulai merayap dan mengusap-usap punggung Dea.


Dea kembali teringat dengan trauma masa lalu dimana dengan ganasnya sang mantan suami melakukan hubungan intim dengannya dulu. Badannya sampai bergetar bahkan air matanya mulai menetes membuat Marvel menghentikan pangutannya.


''Ada apa sayang, apa kamu sakit? Badanmu bergetar'' ujar Marvel khawatir terlebih kini Dea tak menjawab apapun hanya badannya yang bergetar dan air matanya yang menetes.


''To-tolong jangan lakukan ini tuan, tolong, jangan lakukan ini tuan, tolong'' ujar Dea dengan suara bergetar bahkan kini ia benar-benar menangis membuat Marvel sangat khawatir. Ia langsung menggendong Dea dan menidurkannya di atas ranjang, tak lupa ia segera mengambilkan sebuah baju untuk Dea kemudian menghubungi ibunya dan juga dokter.


Sekitar 5 menit berselang bu Valencia dan seorang dokter wanita juga Darmi dan Sukma masuk ke dalam kamarnya.


''Ada apa Vel?'' Tanya dokter Revania yang merupakan sepupu Marvel.

__ADS_1


''Ngak tahu Rev''


''Kenapa dia minta tolong Vel, kamu apain Dea sampai dia begini?''


''Aku ngak ngapa-ngapain mah'' ujar Marvel ia sangat khawatir melihat keadaan Dea.


''Yakin kamu ngak ngapa-ngapain Dea?'' Tanya Revania yang masih terus memeriksa keadaan Dea yang badannya masih bergetar namun tak mengatakan apa-apa.


''Sayang ini mama nak'' ujar bu Valencia yang memeluk kepala Dea.


''Vel ikut sebentar aku mau ngomong'' ujar Revania.


Marvel mengikuti Revania yang berjalan ke arah sudut ruangan, ''ada apa Rev?''


''Sebenarnya tadi kamu apain Dea sampai dia begitu?''


''Sebenarnya tadi aku nyium Dea tapi tiba-tiba saja dia bergetar dan menangis dia juga bilang, tolong jangan lakukan itu tuan. Aku bingung sebenarnya dia kenapa?''


''Apa dia punya trauma tentang hal itu?''


''Astaga aku lupa, dia memang mengalami trauma dengan mantan suaminya''


''Aduh ini bisa gawat Vel, sebaiknya jika kamu ingin melakukan hubungan intim apapun pada Dea jangan lakukan jika Dea tidak siap''


''Iya, astaga bagaimana aku bisa lupa. Jadi apa yang harus aku lakukan sekarang?''


''Sebaiknya kami keluar dulu dan coba kamu tenangkan Dea, peluk dia dan bicara padanya dengan lembut''


Revania, Sukma, Darmi dan bu Valencia keluar dari kamar sedangkan Dea kini berada dalam pelukan Marvel. Marvel mengusap lembut kepala Dea yang ia bawa dalam pelukannya.


''Maaf sayang'' ujar Marvel. Ia tak tahu jika apa yang dia lakukan bisa berpengaruh pada Dea.


Dea yang sudah tenang di dalam pelukan Marvel menatap wajah Marvel yang membuatnya bisa merasa tenang.


''Ka-kak''


''Iya sayang. Maafkan aku''


''Maafkan aku''


''Tidak sayang, aku yang harusnya minta maaf dengan kamu. Seharusnya aku menunggu sampai kamu ssiap''


Dea mengeratkan pelukannya pada Marvel, ia merasa bersalah belum bisa memberikan apa yang Marvel inginkan.


''Sekarang kamu istirahat sayang''


''Apa boleh minta peluk?''


''Tentu sayang''


Dea tertidur dalam pelukan Maevel, sedangkan Marvel tetap terjaga, ia merasa sangat bersalah pada Dea.

__ADS_1


Marvel terus meeutuki kebodohannya, ia sangat lupa dengan trauma yang pernah Dea alami.


__ADS_2