
Saat pengantin sudah duduk di kursi pelaminan, aku dan Dea juga mencari tempat untuk duduk.
''Vel kemari'' ujar ibu dari salah satu meja di sudut ruangan.
Aku dan Dea berjalan ke arahnya dan ikut duduk disana.
''Kalian makan dulu ya, habis itu ibu mau bicara sama kamu Vel, dengar?''
''Iya mah, ayo Dea'' ujar ku mengajak Dea ke meja yang berisi hidangan.
''Kami permisi bu, eh maaf mah'' ujar Dea gugup.
''Ia Dea sayang''
''Koq cuma Dea aku ngak?''
''Ibu bosan sama kamu'' ujar ibu ku yang membuat ku memanyunkan bibir.
''Kamu mau makan apa Dea?'' Tanya ku.
''Saya belum lapar pak, bapak saja yang makan lebih dulu''
''Kalau gitu saya juga belum lapar, gimana kalau kita ke taman?''
''Boleh pak''
Aku dan Dea berjalan menuju taman tempat ku mencari Dea tadi, kami duduk di ayunan yang ada di taman itu.
''Mas bisa tolong foto kami'' ujar ku saat melihat seorang pelayan lewat.
''Boleh tuan''
Aku memberikan ponselku padanya, aku mendekat ke arah Dea dan merangkulnya.
''Ayo senyum'' ujar ku.
Aku dan Dea tersenyum saat terdengar bunyi kamera pada ponselku.
''Wah pengantin yang sangat serasi'' ujar Ben yang datang dari arah samping.
''Mas sekali lagi ya fotonya, saya juga ingin foto dengan pasangan pengantin ini'' ujar Ben.
''Baik mas''
Dea terus tersenyum dan hal itu membuat ku bahagia.
''Vel dicariin mama ku tuh''
''Iya sebentar lagi kami kesana, aku mau ngobrol dulu sama Dea''
''Iya.. iya tahu pengantin baru'' ujar Ben kemudian berlari.
''Terimakasih mas'' ujar ku mengambil ponsel dari tangan pelayan itu, tak lupa ku selipkan beberapa lembar uang merah ke tangannya.
''Terimakasih tuan'' ujarnya berlalu dengan senyuman.
''Bagaimana ceritanya kamu bisa ketemu mama sayang?''
__ADS_1
''Itu tadi aku nangis disini pak'' ujar Dea menunduk.
''Kamu menangis kenapa sayang?''
''Ibu tadi sama anaknya nyiram saya air pak, katanya saya cuma gadis kampung dan tidak pantas ada di acara itu. Mereka juga bilang kalau saya tetap di situ saya bisa bikin bapak sekeluarga malu, mereka juga numpahin jus buah yang mereka minum ke baju saya pak. Karena merasa malu di liatin banyak orang jadi saya lari keluar terus nangis disini. Tidak lama ada ibu-ibu datang menghampiri saya, ya sudah saya cerita aja semuanya, terus dia nawarin buat bantu saya. Saya terima saja pak dari pada baju saya basah sama kotor, saya juga tidak tahu kalau ibu itu ibu bapak sebelum ibu ngomong sendiri'' jelas Dea.
''Maafin aku ya sayang sudah ninggalin kamu tadi, harusnya aku bawa kamu tadi''
''Iya pak ngak apa-apa pak''
''Waktu kita jalan masuk ke gedung tadi sama pengantin koq aku ngerasa kita yang nikah ya bukan mereka'' ujar ku dan membuat pipi Dea bersemu merah.
Dea hanya tersenyum dan menatap ku, hampir saja aku menciumnya jika Ben tak segera datang.
''Ayo kamu mau ngapain?'' Aku jadi salah tingkah karenanya.
''Ngak ngapa-ngapain''
''Alaaaa... alasan saja, ayo mama udah nunggu kamu tuh buat foto-foto''
''Kami juga ikut foto?''
''Tentu saja kalian kan juga pengantin.... suatu hari nanti. Udah ah ayo kalau kamu ngak mau, ayo Dea kita aja yang foto berdua'' ujar Ben hendak menarik tangan Dea.
''Enak aja kamu, ya udah ayo''
Aku dan Dea berjalan mengikuti Ben masuk ke dalam gedung, terlihat sudah ramai orang yang mengambil foto dan memberi salam kepada kedua mempelai.
''Vel, ayo sini nak, ayo kalian makan dulu. Nduk ayo makan'' ujar bi silvi orang tua Ben dan pengantin laki-laki.
''Namanya siapa cahayu?''
''Saya Dea bu'' ujar Dea mencium tangan bi Silvi.
''Ayu betul namamu nduk, ayo makan habis ini kita foto-foto keluarga''
''Apa saya juga ikut foto pak?'' bisik Dea.
''Iya sayang''
''Tapi saya bukan anggota keluarga''
''Siapa bilang? Kamu juga anggota keluarga ini karena kamu calon istri saya''
Setelah makan siang semua orang berfoto ria bersama kedua mempelai, Dea dan ibu ku asik bercerita entah apa yang mereka bicarakan.
''Vel, mama mau pulang duluan ya, mama mau istirahat sebentar sore sudah mau balik. Kamu kapan balik?''
''Kami juga nanti malam mah''
''Bareng mama aja, naik pesawat gimana?''
''Maaf mah sepertinya tidak bisa soalnya ada mobil jemputan dari sekolah''
''Oh gitu, ngak apa-apa, tapi hati-hati kalau pulang Vel. Jagain Dea baik-baik awas aja kalau mantu mama kenapa-kenapa, habis kamu sama mama'' ujar mama yang membuat ku bahagia.
Baru bertemu sekali dengan Dea bahkan itu secara tak sengaja tapi mama begitu menyayanginya, bahkan sudah menganggap Dea sebagai menantunya. Berbeda dengan Sinta dan beberapa wanita lain yang aku kenalkan pada mama semuanya di tolak.
__ADS_1
'Kamu memang spesial Dea, beruntung aku bisa memiliki mu' batin ku.
''Iya mama sayang, mantu mama akan aman sama aku. Hati-hati di jalan mamaku sayang'' ujar ku memeluk wanita hebat ku.
''Kamu hati-hati ya Dea sayang, kalau anak mama macam-macam bilang sama mama''
''Iya mah hati-hati'' ujar Dea berpelukan dengan ibu.
''Kita foto dulu boleh ya'' ujar ibu ku.
''Boleh dong mah''
Dea menjauh dari ku memberi jarak agar mama bisa berada di dekat ku.
''Sini Dea, kamu mau kemana? Ayo kita foto bersama Dea di tengah ya'' ujar ibu.
Dea berdiri di antara aku dan ibu, setelahnya ibu berada di antara aku dan Dea dan yang terakhir aku berada di tengah-tengah ke dua wanita spesial dalam hidup ku ini.Aku merangkul keduanya dan tersenyum ke arah kamera.
"Mama pulang duluan ya sayang" ujar Ibu mengusap pipi Dea.
"Iya mah, hati-hati" ujar ku dan Dea bersamaan.
Semua keluarga berfoto ria dengan pengantin di atas pelaminan, senyum menghiasi pelaminan itu.
''Pengantin yang satu lagi kemana? Ayo naik dan berfoto" ujar Ben dari atas pelaminan yang di ikuti oleh tawa seluruh keluarga.
"Ayo, ayo, ayo, ayo" ujar anggota keluarga yang lain.
"Ayo sayang" ujar ku menggandeng Dea yang tersipu malu menaiki pelaminan.
Dea dan Elsy istri Bram berdiri di antar aku dan Bram, aku dan Bram berdiri di samping pasangan masing-masing.
''Lihatlah ke dua pasangan ini terlihat sangat cocok bukan? Kita doakan hubungan keduanya langgeng. Nah sekarang ayo senyum'' ujar Ben.
Kami berempat tersenyum ke arah kamera, setelahnya Ben meminta ku dan Dea untuk duduk di kursi pelaminan untuk di foto sebagai kenang-kenangan.
Aku menurut saja apa yang dikatakan Ben, bagi ku tiap momen hari ini memang seharusnya di abadikan lewat foto.
Setelah berfoto dan memberikan hadiah pada kedua mempelai, kami pamit pada semua keluarga dan pulang untuk istirahat karena kami akan menempuh perjalanan jauh nanti malam.
Sepanjang jalan pandangan ku tak pernah lepas dari Dea, mungkin karena terlalu lelah, Dea tertidur saat mobil belum sampai di rumah. Aku menyandarkan kepalanya di bahu ku, agar tak membentur Pintu mobil.
Saat mobil memasuki halaman rumah Dea masih tertidur lelap, aku tak enak hati untuk membangunkannya tapi aku juga tak enak hati jika aku menggendongnya, aku merasa tak baik jika aku melakukannya.
Ku putuskan untuk membangunkannya saja.
''Dea, Dea bangun, Dea kita sudah sampai'' ujar ku menepuk pelan pipinya.
''Iya bi, Eya bangun. Dah jam berapa bi?'' ujar Dea mengusap-usap matanya.
Dia tampak lucu saat baru bangun begini.
''Dea, kamu masih mimpi? Ini bapak loh bukan bibi kamu'' ujar ku yang sukses membuat matanya terbuka lebar.
''Eh pak, kita sudah sampai ya'' ujarnya.
''Iya ayo turun'' ujar ku membuka pintu dan turun lebih dulu.
__ADS_1