MELODY CINTA DEA DAN MARVEL

MELODY CINTA DEA DAN MARVEL
AKU HANYA BISA BERTEMU AYAH DI MIMPI AYAH


__ADS_3

Hari yang di tunggu akhirnya tiba, aku merasa waktu begitu lambat berjalan. Ingin rasanya waktu segera beranjak sore agar aku bisa segera menemui wanita pujaan hati ku.


''Ngapain sih Vel mondar-mandir ngak jelas gitu?'' Tanya kak Josep.


''Ngak apa-apa kak'' ujar ku.


''Paling dia udah ngak sabar mau ketemu Dea'' ujar kak Imel dari dalam kamarnya.


Hari ini kami semua berkumpul di rumah ibu, keluarga besar ayah dan ibu juga sudah ada disini sejak pagi tadi.


Mereka ikut membantu menyiapkan segala keperluan untuk acara lamaran nanti sore. Di kota tempat tinggal ku, acara lamaran sangat penting dilakukan sebelum pernikahan, dikarenakan jika kita sudah melamar seorang wanita maka wanita itu sudah sah secara adat menjadi istri, namun tak boleh ada hubungan suami istri yang terjadi sampai keduanya mengikat janji suci pernikahan.


...****************...


Semalam aku bermimpi ada seorang gadis kecil mendatangi aku yang sedang duduk di taman. Gadis kecil itu sangat mirip dengan ku dan juga Dea, mata dan pipinya seperti Dea, sedangkan hidung dan bibirnya seperti aku.


Gadis kecil itu memeluk ku seraya berkata, 'aku hanya bisa bertemu ayah di mimpi ayah, kita tak akan pernah bertemu di dunia nyata' ujarnya memeluk ku. Tak lama berselang, Dea juga datang dan duduk ditengah-tengah kami berdua dengan menggendong bayi mungil di pangkuannya.


Aku meraih bayi itu dan menatap matanya, sorot mata teduh seperti mata Dea ketika sedang tertawa membuat ku merasa nyaman. Ketika kami sedang tertawa riang, tiba-tiba ada seorang wanita datang dan mengacaukan semuanya. Wanita itu mengaku sebagai istri ku, namun anehnya aku tak mengenalnya apa lagi sampai menikah dengannya.


Aku meninggalkan Dea bersama dua anak kecil itu dan aku pergi bersama wanita tadi. Aku tak tahu mengapa bisa demikian, dapat ku lihat gadis kecil itu menangis dan memanggil ku dengan panggilan ayah. Ingin rasanya aku berlari memeluknya namun aku tak memiliki ke kuatan untuk berjalan ke arahnya. Jarak di antara kami semakin jauh dan akhirnya aku tak melihat mereka lagi, namun suara tangisan Dea dan gadis itu masih dapat aku dengarkan.


Aku berusaha mencari mereka namun aku tak menemukananya hanya suara tangisan pilu Dea dan gadis itu yanag terdengar. Aku terus memanggil keduanya hingga rasanya aku kehabisan nafas dan semua menjadi gelap.


''Vel, bangun Vel'' ujar kak Imel kala itu membangunkan aku.


''Ada apa kak?'' tanya ku yang masih setengah sadar.


''Kamu kenapa tetriak-teriak panggil Dea'' ujar kak Imel yang membuat ku tersadar dari mimpi buruk itu.


''Ngak apa-apa kak'' ujar ku bangun dan berlalu ke kamar mandi untuk mencuci muka.


...****************...

__ADS_1


''Cieee.... yang sudah ngak sabar ketemu yayang'' Goda Bram.


Aku hanya tersenyum menanggapi ucapannya karena memang yang ia ucapkan benar adanya.


Suasana di rumah ibu kali ini begitu ramai, banyak kerabat yang datang juga tetangga rumah ibu.


''Selamat ya nak Marvel, akhirnya kamu mau juga melamar Selvy'' ujar bi Darsih kerabat ayah dan juga memiliki hubungan dengan keluarga Selvy.


''Bukan Selvy bi'' ujar ku.


''Lalu siapa? Apa Devina anaknya bu Desi?'' Tanyanya lagi.


''Bukan bu, namanya Dea'' ujar ku yang hanya ditanggapi bi Darsih dengan ber-O saja.


Aku juga mengajak Nico untuk hadir di acara lamaran nanti, aku tahu jika teman ku itu memliki rasa pada Sukma teman Dea.


Waktu terasa sangat lambat, aku tak sabar ingin bertemu dengan Dea.


(POV AUTHOR)


''Wah neng Dea, udah mau lamaran aja nih. Calonnya yang mana neng?''


''Iya bu, ini semua permintaan nenek waktu sakit, beliau tak ingin aku sendiri jika terjadi hal yang buruk padanya atau bibi. Sebenarnya Dea sama sekali belum memikirkan hal seperti ini'' ujar Dea.


Saat neneknya masih berada di rumah sakit dan dalam kondisi yang kurang baik, ia meminta Dea untuk mau menerima lamaran Marvel.


''Oh gitu neng, ibu terkejut waktu mendengar neng Dea akan dilamar. Emang calonnya siapa neng?''


''Nanti bu Mira juga tahu'' ujar Dea kemudian terkekeh.


''Wah neng Dea, masih aja kayak dulu suka main teka-teki'' ujar bu Weni.


Mereka semua terus menggoda Dea yang ikut membantu mereka memasak, Dea memang di kenal sangat tinggi jiwa sosialnya. Tetangga di sekitar rumahnya sangat sayang padanya,

__ADS_1


meski ada beberapa yang iri karena keberhasilan Dea ketika mengikuti lomba, terlebih yang anaknya di kalahkan oleh Dea dalam lomba.


''Dea teman-teman kamu sudah datang'' ujar bi Tina memanggil Dea.


''Iya bi, saya tinggal ya bu'' ujar Dea berlalu meninggalkan ibu-ibu yang ada di dapur.


''Wah... ini dia calon pengantin kita'' ujar Gema yang di sambut tawa oleh ke empatnya.


''Apa sih kalian ayo masuk'' ujar Dea.


Ia membawa ketiga temannya untuk duduk di ruang keluarga bersama nenek dan bi Tina yang sedang menyusun kue-kue basah dan air mineral ke atas nampan.


Dea bahagia melihat beberapa keluarga datang berkunjung, namun masih terasa ke kosongan di hati Dea manakala ia tak menjumpai ayah atau ibunya di rumah itu.


Ia berusaha tersenyum dihadapan semua orang, namun ketika ia pamit ke dalam kamarnya semua rasa sakit itu ia tumpahkan di atas tempat tidurnya.


Ia menangis sambil memeluk kedua lututnya, ''Sebenci itukah ayah dan ibu pada Dea, kenapa ayah dan ibu tak datang. Apakah kalian memang tak menginginkan kehadiran Dea?'' ujar Dea di sela-sela tangisnya.


Ia menatap foto kedua orang tuanya yang ia pajang di dinding kamarnya, hatinya begitu sakit mengetahui tak ada yang datang. Ia terus menangis sampai sebuah ketukan di pintu membuatnya segera mengusap air matanya dan berusaha menguasai diri. Ia tak ingin orang tahu kesedihan yang ia rasakan, ya seperti itulah Dea, ia akan menyimpan rasa sakitnya sendiri.


''Kamu di dalam De?'' ujar sebuah suara yang ia sangat rindukan.


Dengan cepat Dea membuka pintu kamar dan memeluk pemilik suara itu.


''Ayah'' ujarnya dengan tangis bahagia karena ayahnya datang.


''Iya nak, ini ayah. Maafkan ayah baru datang nak''. Ayah Dea memeluk putrinya itu sembari meneteskan air mata. Air mata bahagia sekakigus kesedihan karena hari ini ia akan memberikan putrinya kepada laki-laki lain untuk di jaga meski belum sepenuhnya.


Ibu Dea sendiri tak hadir, karena ia memang tak pernah peduli dengan apapun yang terjadi pada putrinya itu.


''Aku sangat senang ayah bisa datang'' ujar Dea masih memeluk sang ayah.


Ibu-ibu yang melihat adegan itu juga ikut meneteskan air mata, mereka sangat tahu bagaimana Dea sangat sayang dan rindu kepada kedua orangtuanya namun kasih sayang orang tua tak ia dapatkan.

__ADS_1


''Ayo ayah duduk di sana sama nenek dan bibi, Dea buatkan ayah minum'' ujarnya hendak berlalu namun di tahan oleh ayahnya.


__ADS_2