
Sambil merangkul Bian, Dea terus berjalan menuju kelasnya sembari menyapa teman-teman yang berpapasan dengan mereka.
''Akhirnya selesai juga, makasih ya Dea'' ujar Bian mengemasi buku-bukunya.
''Ok, jangan lupa ntar sore ke rumah ya?''
''Ok De''
Setelah kepergian Bian, Dea segera bersiap untuk memulai pelajaran.
''Dea......'' terdengar suara teriakan Darmi yang baru saja datang.
''Ada apa sih Mi?''
''Ada berita buruk'' ujar Darmi.
''Berita apa Mi?'' Tanya Dea yang tiba-tiba saja memikirkan Marvel.
''Tadi waktu baru tiba aku liat pak Marvel gandengan sama guru perempuan, tapi guru itu baru aku liat, sepertinya guru baru'' ujar Darmi.
''Oh gitu, mungkin temannya Mi'' ujar Dea tetap tenang meski hatinya merasa agak risau.
''Kamu gimana sih, calon su...'' ucapan Darmi terhenti karena Dea segera menutup mulut Darmi dengan tangannya.
Dea memberikan kode pada Darmi untuk tak melanjutkan ucapannya.
''Maaf De, habisnya aku geram liatnya tadi''
Dea hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan Darmi.
''Sudah ah, kita bahas yang lain saja. Tugas kamu dari pak Boy udah selesai belum?''
''Belum De, lagian pak Boy ngak masuk hari ini'' ujar Darmi yang membuat Dea menoleh ke arahnya.
''Emang kenapa pak Boy ngak masuk?'' Tanya Rosa yang mendengar ucapan Darmi.
''Pak Boy sakit, kemarin dia masuk rumah sakit. Kata ibu ku sih, pak Boy habis jatuh dari motor'' ujar Darmi.
''Oh gitu, semoga pak Boy cepat sembuh ya'' ujar Rosa.
''Jadi jam pertama hari ini kosong dong? Gimana kalau kita latihan nari aja, buat pertandingan minggu depan?'' Usul Leni dan di angguki oleh mereka.
''Tapi kita pake hp aja musiknya, karena kelas lain lagi belajar'' ujar Dea.
Rosa, Leni, Darmi, Oliv dan Dea mulai berlatih, selain pandai dalam berbagai mata pelajaran Dea juga sangat menyukai seni tari. Setiap ada kegiatan yang berhubungan dengan seni tari, Dea tak akan pernah tak ikut mengambil bagian.
Setelah berlatih sekitar 20 menit, mereka memutuskan untuk istirahat sebelum bel pertanda mata pelajaran yang kedua akan dimulai berbunyi.
__ADS_1
Saat tengah beristirahat setelah berlatih, Darmi mulai menggoda Dea.
''Gimana semalam?''
''Apanya yang gimana?''
''Ya kamu sama pak Marvel ngapain? Kan sudah resmi tuh, udah boleh tinggal bersama''
''Apa sih kamu nih sama aja sama Gema. Kalian mikir apa sih? Aku sama pak Marvel itu ngak tinggal bersama jadi buang jauh-jauh pikiran aneh kalian berdua. Kami akan tinggal bersama kalau sudah nikah''
''Kirain De, kan secara adat kalian udah resmi''
''Ngomongin apa sih kalian? Apa yang Resmi?'' Tanya Oliv.
''Ngak apa-apa liv, lagi ngomongin toko buku yang baru resmi di buka'' ujar Dea kemudian meminum air yang ada di botol milik Darmi.
''Oh gitu, aku kira hubungan kamu sama pak Marvel yang di resmikan'' ujar Oliv yang sukses membuat Dea tersedak air yang sedang ia minum.
Uhuk....uhuk....uhuk.....
Dea terbatuk-tabuk, Darmi menepuk pundak Dea secara perlahan-lahan.
''Kenapa De?'' ujar Oliv.
''Ngak apa-apa tadi cuma ngak hati-hati, minum terburu-buru jadinya tersedak'' ujar Dea yang membuat Darmi tersenyum, sebab ia tahu kalau bukan itu penyebabnya.
''Oh gitu, kita ke kantin dulu ya De, mau beli cemilan'' ujar Oliv berjalan keluar kelas bersama Leni dan Rosa.
''Jadi kalian masih tinggal terpisah dong?''
Belum sempat Dea menjawab, Gema masuk ke kelas mereka dengan terburu-buru.
''Loh Gem, ngapain ke kelas kami? Kamu ngak belajar?'' Tanya Dea.
''Kamu dipanggil pak Marvel ke kelas ku tuh, mau bantuin dia katanya''
''Bantuin apa?''
''Mana gue tahu De, tanya aja sama calon su...''
''Iya ayo''ujar Dea memotong ucapan Gema.
Dea berjalan bersama Gema menuju ke kelas Gema dan Sukma.
''Kalian lagi belajar tentang apa?'' Tanya Dea.
''Entalah aku bingung, kamu tahu kan kalau aku paling lemot kalau mata pelajaran pak Marvel'' ujar Gema.
__ADS_1
Setibanya disana, Dea langsung masuk bersama Gema, Dea merasakan ada berbagai tatapan yang ia dapatkan dari teman-teman kelas Gema.
'Apa disini banyak yang suka pada pak Marvel koq natapnya gitu?' batin Dea.
''Bapak panggil saya?'' basa-basinya pada Marvel yang terus tersenyum, sedangkan yang di tanya hanya menatapnya.
''Pak'' ujar Dea dengan suara agak keras.
''Iya sa.., iya Dea. Tolong kamu bantu saya buat tulis materi ini di papan dan sekalian jelaskan. Materi ini ada waktu lomba jadi saya kira kamu bisa, saya ada urusan dengan kepala sekolah''
''Baik pak'' ujar Dea.
''Saya ke ruang kepala sekolah dulu ya anak-anak, jika ada yang kalian ingin tanyakan, tanya saja pada Dea dan jika kalian tidak paham penjelasan Dea, nanti saya akan jelaskan''
''Baik pak''
Dea mulai menulis materi yang di berikan oleh Marvel, sesekali ia menjelaskan tentang apa yang sedang ia tulis. Ia juga menjawab beberapa pertanyaan yang di ajukan oleh teman-teman Gema. Sekitar 10 menit, Marvel kembali ke kelas, disana semua murid sedang mengerjakan tugas yang ia titipkan pada Dea tadi.
Dea sendiri sedang membantu teman-teman gema menyelesaikan tugas yang di berikan Marvel. Sesekali ada yang menggodanya perihal pengakuan pak Marvel jika Dea adalah tunangannya, Dea hanya menanggapinya dengan senyuman. Mau mengelak tetapi kenyataan, mau mengaku tak mungkin, jadi biarlah senyuman yang menjadi jawabannya, seperti itulah prinsip Dea saat ini.
Setelah Marvel kembali, Dea juga kembali ke kelasnya karena dia harus bersiap-siap untuk mata pelajaran kedua yaitu pelajaran olahraga.
Dea dan Darmi menuju ke kamar mandi untuk mengganti baju mereka, namun alangkah terkejutnya Dea ketika ia bertemu dengan Devina.
''Hy, masih ingat dengan saya?'' Tanya Devina.
''I...iya'' jawab Dea gugup.
''Baguslah, kamu masih ingat ucapan saya waktu di pesta kan? Sekarang saya juga mengajar disini, jadi jangan pernah ambil kesempatan ok. Saya mengawasi kamu'' ujar Devina berjalan dan dengan sengaja ia menginjak kaki Dea sebelum pergi.
''Aawwwwww''' rintih Dea.
''Ups.. maaf'' ujarnya kemudian berlalu.
''Kamu kenal dia De?'' Tanya Darmi.
Dea yang masih terkejut melihat Devina tak mendengar apapun yang Darmi katakan. Ia malah mengingat kejadian memalukan yang ia alami akibat perbuatan Devina.
''De...De..., kamu ngak apa-apa?'' Tanya Darmi khawatir melihat Dea yang diam bak patung sejak tadi.
Tepukan Darmi pada pipi Dea mampu membuat Dea kembali tersadar dari ingatan buruknya.
''Kamu kenal guru tadi De?''
''Iya Mi, nanti aku cerita ya'' ujar Dea masuk ke salah satu ruangan di kamar mandi dan mengganti pakaiannya.
Dea masih terus memikirkan tentang Devina, apa yang akan ia alami lagi setelah kehadiran Devina di sekolah.
__ADS_1
'Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apa aku bisa bertahan? Hari yang berat akan segera datang bersiaplah Dea' batin Dea.
Sepanjang pelajaran olahraga ia tak pernah fokus, bahkan beberapa kali bola voli mengenai kepalanya karena ia sedang menghayal. Teman-temannya merasa heran akan sikap Dea, terutama Darmi, tak biasanya Dea seperti itu. Dea akan selalu semangat ketika pelajaran olahraga apa lagi jika berhubungan dengan bola, entah itu bola voli atau bola kaki.