
Sekitar pukul 21:25 akhirnya tugas yang mereka kerjakan selesai juga. Sukma akan bermalam di rumah Dea karena tadi ibunya mengirimkan baju dan buku-buku yang akan dia gunakan besok di sekolah.
Setelah membereskan buku tugas mereka, mereka memutuskan untuk tidur karena hari juga sudah semakin malam.
''De, apa ngak apa-apa aku bermalam?''
''Ngak apa-apa Ma, lagian aku senang karena ada teman tidur''
''Emang kamu tidur sendiri disini De?''
''Iya Ma, mau sama siapa lagi?''
''Siapa tahu sama pak Marvel hehehe''
''Apa sih Ma, yuk ah kita tidur'' ujar Dea saat mereka sudah berbaring di kamar, Dea meraba pipinya yang mulai menghangat.
''Ya siapa tahu aja De, oh iya kalau pak Marvel datang, dia tidur dimana De?''
''Ya.. ya tidur disini sih'' ujar Dea.
''Serius De?'' Tanya Sukma yang langsung bangun dan duduk menghadap ke arah Dea.
''I-iya Ma, mau tidur dimana lagi''
''Jadi klaian tidur bareng gitu?''
''I-iya..iya Ma, tap-tapi kami ngak ngapa-ngapain koq'' ujar Dea dengan pipi yang memerah.
''Serius? Ah pasti kalian....'' Sukma sengaja tak melanjutkan ucapannya karena ia memang berniat menggoda Dea.
''Kami ngak ngapa-ngapain koq Ma, serius kami cuma tidur aja''
''Iya, iya aku percaya koq, lagi pula aku tahu pak Marvel pasti akan jaga kamu'' ujar Sukma yang mampu membuat Dea bernafas lega.
''Iya Ma''
''Kamu beruntung De, di pertemukan dengan orang seperti pak Marvel'' ujar Sukma kembali berbaring.
''Iya Ma, di balik kesulitan yang aku hadapi selalu ada dukungan dari pak Marvel, bibi dan juga nenek''
''Mudah-mudahan aku juga dapat jodoh seperti pak Marvel nanti''
''Amin, yuk ah kita tidur sudah malam''
''Iya De, selamat tidur''
__ADS_1
''Selamat tidur juga Ma''
Keduanya kemudian menutup mata setelah berdoa mengucap syukur atas segala yang terjadi hari ini.
Ketika Sukma terbangun karena ingin buang air, dia tak mendapati Dea di kamar, ia terkejut dan langsung keluar dari kamar. Di lihatnya langit masih nampak gelap karena jam memang masih menunjukkan pukul 03:35.
"Kemana Dea jam begini?" Tanya Sukma pada dirinya sendiri.
Saat akan kembali ke kamar, ia mendengar suara gaduh dari arah dapur, ia mengurungkan niatnya untuk kembali masuk ke kamar. Ia penasaran dengan suara gaduh dari arah dapur rumah Dea, saat mendekat ia terkejut melihat Dea sedang di ikat oleh dua orang yang memakai topeng.
Dengan perasaan takut dan tangan gemetar Sukma berjalan ke arah kamar Gema, namun ia kembali terkejut saat sampai disana. Ia melihat Gema juga terikat dan mulutnya di lakban.
Sukma segera melepaskan ikatan pada tangan dan kaki Gema kemudian melepas lakban pada mulut Gema.
"Sukma itu ada yang....."
"Suutttt diam Gem, ada orang di dapur dia sedang ikat Dea, ayo kita harus tolong Dea" ujar Sukma mencari sesuatu yang bisa ia gunakan sebagai senjata.
Meski ia bisa bela diri namun ia tak mau ceroboh apa lagi menghadapi orang yang badannya dua kali lipat dari badannya.
Ia tersenyum kala melihat sebuah stik golf di samping lemari, ia segera mengambilnya. Gema juga mencari sesuatu yang bisa ia gunakan dan pilihannya jatuh pada sebuah kayu yang biasa di gunakan untuk menumbuk jagung.
Dengan hati-hati keduanya keluar dari ruang tengah menuju dapur, suara gaduh masih terdengar jelas dari sana.
"Kamu siap Gem"
Sebenarnya mereka berdua bisa saja berteriak meminta pertolongan namun mereka tak ingin membuat Dea dalam bahaya, bisa saja orang-orang itu menyakiti Dea jika mereka berteriak.
Mereka berdua berjalan mengendap-endap ke arah dapur, disana terlihat jika tinggal kaki Dea yang tidak terikat.
Seorang diantara kedua orang yang memakai topeng sedang berusaha mengikat kaki Dea, sedangkan seorang lainnya membawa sebuah karung.
Sukma dan Gema berjalan semakin dekat ke arah kedua orang itu dan....
Bugh
Bugh
Bugh
Pukulan demi pukulan dari keduanya mengenai kedua orang itu, satu di antaranya bahkan langsung pingsan karena bagian tengkuknya yang terkena pukulan stik golf yang di bawa Sukma.
Gema tetus memukuli seorang lainnya yang masih terus berusaha berdiri sedangkan Sukma melepas ikatan di tangan Dea.
"Tolong, tolong, tolong" Teriak Gema yang membuat bi Tina dan nek Diah terbangun.
__ADS_1
Beberapa tetangga Dea juga ikut berdatangan masuk melalui pintu dapur, mereka terkejut melihat seseorang kini pingsan dan seorang lainnya masib terus di pukuli oleh Gema.
''Mereka siapa nak?''
''Tidak tahu bi, mereka tiba-tiba ada di dalam rumah. Aku juga ngak tahu mereka masuk lewat mana'' ujar Gema yang sedang mengikat orang yang dari tadi ia pukuli, orang itu juga sudah lemas dan hampir kehilangan kesadarannya.
Beberapa bapak-bapak yang ada di sana juga ikut mengikat kedua orang yang sudah tak beradaya itu.
Bu Mira segera menelpon pak rt dan tak lama setelahnya pak rt datang, kedua orang bertopeng itu kini sudah berada di ruang tamu.
Dea yang masih syok kini berada di kamarnya dalam pelukan nek Diah. Ia begitu syok hingga tak bisa berkata apa-apa.
''Siapa mereka nak Gema?'' Tanya pak rt.
''Kami ngak tahu pak, tadi pas saya keluar kamar mau buang air saya liat mereka ada di dalam rumah pak'' ujar Gema menunjuk meja yang ada di dekat pintu samping yang terbuka.
''Loh, itu ada kunci di pintu nak Gema, berarti salah satu dari orang-orang ini punya kunci rumah ini'' ujar pak rt melihat kunci yang masih menempel pada lubang kunci bagian luar.
''Buka saja topengnya pak rt biar kita tahu siapa mereka'' ujar bu Tiwi.
''Benar pak rt'' ujar warga yang lain.
Saat mereka membuka topeng kedua orang itu, mereka terkejut karena salah satu di antaranya adalah seorang wanita dan mereka sangat mengenalnya.
''I-itu bukannya bu Weni'' ujar seorang warga.
Anak bu Weni yang berada di situ sontak saja terkejut karena melihat ibunya babak belur di pukuli oleh Gema.
''Kalian apakan ibu ku'' ujarnya menangis memeluk sang ibu yang sudah tak sadarkan diri.
''Apa ada yang sudah menghubungi polisi?'' Tanya pak rt.
''Sudah pak mereka sedang dalam perjalanan kemari'' ujar seorang bapak-bapak.
''Chelsy sekarang panggil bapak kamu kemari, ingat jangan buat keributan'' ujar pak rt.
Chelsy anak bu Weni segera keluar dari rumah dan kembali ke rumahnya untuk memanggil sang ayah.
''Ada apa nak?'' Tanya sang ayah melihat putrinya membangunkannya dengan tergesa-gesa.
''I-itu pak ibu ada di rumah Dea, babak belur di hajar sama Gema''
''Koq bisa ada di rumah Dea ini baru jam 3 subuh loh''
''Aku ngak tahu pak coba bapak saja yang kesana, pak rt dan warga lainnya juga ada disana'' ujar Chelsy.
__ADS_1
Ia tak berminat lagi kembali ke rumah Dea karena sesungguhnya ia juga tahu jika ibunya akan ke rumah Dea, bahkan ia juga tahu jika sang ibu sedang menyusun rencana buat menjauhkan Dea dan Marvel.
Karena tak ingin ikut terseret ia lebih memilih tinggal di rumahnya tak kembali ke rumah Dea lagi.